NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: SEBUAH PERTANYAAN

Dua tahun sudah berlalu tanpa terasa, mengalir bersama ritme kedinasan ksatrian Bukit Raya yang kaku dan monoton. Waktu merayap senyap, membawa banyak perubahan fisik pada lingkungan asrama dan orang-orang di dalamnya. Di antara deretan rumah dinas perwira, sosok yang paling mencolok pertumbuhannya tidak lain adalah Arkan. Anak kecil yang dulunya kerap ringkih dan ringkih di dalam dekapan ibunya, kini telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia enam tahun yang aktif, bertubuh padat, dan memiliki sepasang mata bulat yang memancarkan rasa ingin tahu yang teramat besar.

Siapa yang menyangka bahwa interaksi di luar rumah, di antara jajaran barak dan lapangan terbuka asrama, bisa memberikan pengaruh yang luar biasa besar pada perkembangan psikologis dan cara berpikir anak seusianya. Di usia enam tahun ini, Arkan bukan lagi balita yang bisa ditenangkan hanya dengan sebatang cokelat atau janji mainan aki. Lidahnya sudah lincah berbicara, untaian kalimatnya mengalir lancar, dan dia sudah sama sekali tidak cadel lagi. Kejelasan artikulasinya ini justru menjadi pisau bermata dua ketika ia harus berhadapan dengan dinamika pergaulan anak-anak asrama yang usianya jauh di atasnya.

Sore itu, langit di atas lapangan bermain blok perwira tampak cerah, namun bagi Arkan, atmosfer di sekitarnya mendadak terasa menghimpit. Beberapa anak yang usianya beranjak sepuluh tahun ke atas—anak-anak bintara dan perwira pertama yang sudah mulai memahami struktur hierarki militer dengan cara yang kasar—sedang berkumpul di dekat pos ronda. Mereka mulai berpikir kritis dan tak jarang melontarkan ejekan tajam yang langsung menghantam mental kecil Arkan.

Setiap kali Arkan dengan bangga dan keras kepala mengatakan kepada teman-temannya bahwa Kolonel Victor sang Danpusdikmil adalah ayahnya, anak-anak yang lebih tua itu akan langsung tertawa meremehkan.

"Arkan, kamu itu jangan halusinasi terus," celetuk salah satu anak laki-laki berusia sebelas tahun dengan nada mengejek yang kental. "Kalau Komandan Besar itu beneran ayahmu, kenapa dia tidak tinggal satu rumah denganmu dan Ibumu? Lihat tuh rumah itu yang ada di depan, besar banget, dan komandan besar kamu itu tinggal disana. Kamu tinggalnya di rumahmu hanya bersama ibumu. Itu artinya Komandan Besar bukan ayahmu!"

Kalimat itu, yang dibarengi dengan tawa riuh anak-anak lain, langsung tertangkap oleh indra pendengaran Arkan dengan sangat jelas. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun hidupnya, sebuah keraguan yang besar menyelinap masuk ke dalam otak kecilnya yang cerdas. Benar juga apa yang dikatakan oleh kakak laki-laki itu, pikir Arkan. Pemikiran logis yang sederhana namun telak mulai merongrong keyakinannya.

Di sisi lain, anak-anak yang usianya berada di bawah Arkan justru menatapnya dengan penuh ketakjuban yang polos. Bagi mereka, memiliki seorang "ayah" yang menjabat sebagai komandan tertinggi di ksatrian, yang wajahnya terpampang di baliho depan Mako dan ditakuti oleh ratusan prajurit, adalah sebuah hal yang sangat keren. Namun, pujian dari anak-anak kecil itu tidak lagi mampu menghibur hati Arkan yang mendadak gundah.

Situasi semakin rumit bagi Arkan karena Alif, putra sulung dari Lettu Yunita yang kini sudah menginjak usia delapan tahun, ikut memberikan pemahaman yang realistis. Sebagai anak yang usianya dua tahun lebih tua dan sering bermain bersama karena kedekatan ibu mereka, Alif sudah mulai memahami struktur sosial di sekitarnya secara lebih matang.

Suatu sore, saat mereka berdua sedang duduk di atas pembatas jalan semen di depan rumah, Alif menepuk bahu Arkan dengan pelan, mencoba menasihati adiknya dengan bahasa anak-anak yang ia ketahui.

"Arkan, kamu jangan panggil Komandan Besar sebagai ayah lagi kalau di depan anak-anak," ucap Alif dengan nada serius, matanya menatap lurus ke arah lapangan. "Ibuku bilang, Komandan Besar itu ya Komandan Besar, pimpinan yang paling tinggi di sini. Dia bukan ayahmu. Nanti kalau kamu terus-terusan panggil begitu, kamu bakal terus diejek sama anak-anak yang badannya besar itu. Mereka itu tahu kalau kamu... kamu gak punya ayah di rumah."

Tentu saja, bukan Arkan namanya jika tidak mewarisi sifat keras kepala dan teguh pendirian yang diturunkan dari ibunya, atau mungkin dari sosok pria raksasa yang selalu ia sebut ayah itu. Arkan langsung merengut, melipat kedua tangannya di depan dada dengan kokoh, menolak mentah-mentah nasihat Alif.

"Tapi Alif, kalau Ayah Besar itu bukan ayahku, lalu di mana ayahku?" bantah Arkan dengan suara lantang yang bergetar menahan kekesalan. Dulu, seingat anak itu samar-samar merasakan bahwa sering melihat wajah seorang laki-laki di layar ponsel Ibunya. Tapi tiba-tiba sekarang sudah tidak ada lagi, Ibu sudah hapus semuanya dan tidak pernah ia lihat lagi. Itu berarti beneran Ayah Besar yang jadi ayahnya sekarang. Begitu kemungkinan dalam pikiran Arkan.

Logika anak-anak Arkan berputar mencari pembenaran atas kerinduan figur seorang ayah yang selama ini kosong di dalam rumahnya. Namun, benteng pertahanan argumennya kembali goyah saat bayangan ejekan anak-anak berusia sepuluh tahun ke atas itu kembali terngiang di kepalanya. Nada tertawa mereka yang merendahkan, yang mempertanyakan mengapa ayahnya tidak tinggal serumah, benar-benar menjadi beban pikiran yang berat bagi bocah yang baru saja akan menginjakkan kakinya di bangku Sekolah Dasar itu. Perdebatan kecil yang berujung ejekan di antara anak-anak asrama itu seolah menjadi sambutan yang keras bagi Arkan di ambang masa kanak-kanaknya yang mulai bersinggungan dengan realitas sosial yang tajam.

Rasa penasaran itu lambat laun berubah menjadi sebongkah batu besar yang menyumbat dada kecil Arkan. Di usianya yang baru menginjak enam tahun, ia dipaksa oleh keadaan untuk menelan bulat-bulat kebingungannya sendiri. Bocah itu sama sekali tidak berani berbicara, apalagi menanyakan langsung soal siapa sosok ayah kandungnya yang sebenarnya kepada Ayu. Walau masih sangat kecil, Arkan memiliki kepekaan emosional yang tinggi, ia tahu dan bisa merasakan bahwa setiap kali topik tentang "ayah" tidak sengaja tersenggol, raut wajah ibunya akan mendadak berubah redup, dingin, dan menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Arkan tidak mau menjadi penyebab air mata ibunya jatuh.

Siang berikutnya, setelah jam pulang sekolah dasar usai, Arkan berjalan perlahan menyusuri trotoar beton di samping gedung utama Markas Komando (Mako) Pusdikmil. Dari kejauhan, di balik bayang-bayang jajaran pohon beringin tua yang besar dan menjulang tinggi, sepasang mata bulat Arkan menatap lurus ke arah beranda depan gedung Mako.

Di sana, siluet tegap Kolonel Victor tampak baru saja keluar dari ruang kerja, didampingi oleh Sersan Satu Johan yang setia berdiri tegap di samping pintu kayu jati tersebut. Biasanya, setiap kali melihat mobil dinas atau sosok tegap sang komandan dari jauh, Arkan akan langsung berlari kencang sembari berteriak riang memanggil, "Ayah Besar!" tanpa memedulikan protokoler militer. Namun, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, Arkan justru memaku langkah kakinya. Ia bersembunyi di balik batang pohon besar, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rasa takut, ragu, dan asing yang tiba-tiba membentang lebar di dalam hatinya. Ia tidak berani menemui Victor, bahkan tidak berani sekadar melambaikan tangan menyapa Johan.

Di dalam batok kepala kecilnya, kalimat-kalimat ejekan dari kakak-kakak komplek tempo hari kembali berputar laksana kaset rusak. Sekali lagi, benar kata kakak laki-laki itu. Ayah Besar bukan ayahnya karena mereka tidak tinggal di bawah atap rumah yang sama.

Namun, dasar anak kecil yang keras kepala, otaknya yang cerdas mencoba merumuskan teori lain demi menyelamatkan harga dirinya. Ataukah Ayah Besar dan ibunya itu sebenarnya sedang bertengkar hebat, jadi mereka terpaksa tidak serumah? Pemikiran itu mendadak melintas di benak Arkan, memicu ingatan pada sisa percakapan anak-anak di dekat pos ronda kemarin sore. Saat perdebatan memanas, salah satu anak laki-laki yang usianya lebih tua sempat menyahut dengan nada sok tahu, "Mungkin saja ayah dan ibunya Arkan itu sedang berantem, makanya tidak satu rumah lagi."

"Maksud kamu?" Tanya Arkan polos.

"Maksud aku, ibu sama ayah kamu itu berpisah."

Pertanyaannya, dari mana anak-anak yang belum genap berusia belasan tahun itu bisa mempelajari kosakata seberat dan sedewasa itu di lingkungan asrama?

Jawabannya tentu saja tidak jauh dari meja-meja teras dan dapur rumah dinas. Di mana lagi jika bukan dari mulut ibu-ibu kompleks dalam lingkungan ksatrian itu sendiri? Di balik tembok-tembok asrama yang kaku, beberapa kelompok wanita Persit rupanya masih saja memelihara tabiat buruk. Mereka suka mengolok, menyindir, bahkan membicarakan status janda Kapten Ayu di belakang punggungnya dengan nada bumbu penyedap yang berlebihan.

Gorengan gosip itu kian hari kian bertambah kuat, bergulir laksana bola salju yang mengalir bagaikan air deras yang tak terbendung. Topik utamanya tidak jauh-jauh dari fakta bahwa Arkan kerap kali kedapatan dibelikan mainan mewah, serta kelancangan bocah itu yang secara konstan mengklaim dan menganggap Kolonel Victor sebagai ayahnya di depan umum.

Namun, ada satu hal yang unik sekaligus ironis dari narasi gosip yang beredar di seantero ksatrian Bukit Raya tersebut. Sosok Kolonel Victor sama sekali tidak pernah digambarkan buruk atau cacat dalam cerita-cerita miring tersebut. Tidak ada satu pun bibir yang berani mempertanyakan atau mengkritik, misalnya Kenapa seorang komandan besar sekelas Kolonel Victor harus tertarik atau mau menurunkan wibawanya demi seorang janda anak satu? Di mata mereka, sang Kolonel tetaplah sosok perwira suci, berwibawa, dan tanpa cela yang mungkin hanya sedang "dikasihani" atau "dimanfaatkan".

Sebaliknya, Kapten Ayu-lah yang selalu diposisikan sebagai antagonis utama dan topik paling renyah dalam setiap rasan-rasan siang hari. Rumornya bahkan mulai bergeser ke arah mistis dan tidak masuk akal. Beberapa oknum ibu-ibu dengan tega berbisik bahwa Ayu mungkin saja menggunakan susuk pikat atau ilmu pelet tertentu untuk menjerat dan menangkap perhatian penuh dari komandan besar mereka yang masih lajang itu.

Padahal, orang-orang luar yang bermulut tajam itu tidak pernah tahu seujung kuku pun mengenai fakta yang sebenarnya. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di balik seragam tegap dan tatapan kaku yang selalu ditunjukkan oleh Victor dan Ayu di kantor Satdik, keduanya pernah menjalin jalinan masa lalu yang teramat rumit dan sarat akan luka lama. Sebuah masa lalu yang pada akhirnya memaksa keduanya tidak bisa bersama, karena di masa muda dulu, salah satu di antara mereka yaitu Victor memilih untuk menyerah, mengalah pada keadaan, dan melangkah mundur demi kebaikan bersama.

Sementara di sisi lain, Ayu harus menelan pil pahit akibat keputusan sepihak itu, terjebak dalam lingkaran takdir kedinasan dan perjodohan keluarga yang sama sekali tidak dilandasi oleh rasa cinta, hingga akhirnya perjalanan hidup membawa mereka berdua pada titik yang sama saat ini, sama-sama sendiri, namun dipisahkan oleh benteng trauma dan ego yang teramat tinggi. Kini, imbas dari masa lalu yang belum usai itu justru mulai merayap naik, menggores hati kecil Arkan yang tidak tahu apa-apa di bawah terik matahari ksatrian.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!