Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Kala Raja Bangkit
"Dengar kalian semua!" Suara Raka menggema sampai ke lembah Matesih.
"Mulai malam ini... aku bukan lagi Raka Wiraatmaja!"
"Aku adalah... KALA RAJA!"
*KRAAAKKK!!!*
Petir merah menyambar puncak Candi Cetho.
Dan untuk pertama kalinya dalam 1000 tahun...
Bendera Majapahit berkibar lagi.
Api biru masih menjilat celah celah batu Candi Cetho.
Asap hitam ber campur bau amis darah menyengat ke hidung.
Empat Wali yang tersisa ber lutut. Rantai hitam Rajah Kala meremas pergelangan kaki mereka sampai tulang ber derit.
Darah mengalir dari mulut mereka. Bukan darah biasa. Darah hitam, kental, seperti tinta.
"Ampun... Kala Raja!"
Suara Sang Pemimpin Wali pecah. Wibawa 20 tahun sebagai ketua 7 Wali hancur dalam semalam.
"Kami khilaf! Kami hanya menjalan kan perintah dari atas!"
Raka berdiri di tengah lingkaran mayat. Keris Kyai Kala Naga di tangan kanan nya masih menetes.
Mata nya hitam pekat. Tidak ada lagi Raka Wiraatmaja yang dulu takut pada gelap.
"Perintah dari atas?"
Suara Raka bergema, bukan lagi manusia. Ber gaung dari dua arah sekaligus.
"Sejak kapan Majapahit tunduk pada pengecut yang ber sembunyi di balik nama '7 Wali'?"
Rantai hitam mendadak mengencang.
KRAAKK!!!
Salah satu Wali menjerit. Kaki nya patah di dua tempat. Tulang menonjol keluar, tapi tidak ada yang berani menolong.
"JAWAB!"
"D..Dari... dari Keturunan Sangkala!"
Sang Pemimpin Wali menjerit. Air mata dan darah bercampur di wajah nya.
"Andi Sangkala! Dia yang memerintah kami membunuh mu sebelum kau bangkitkan 9 pusaka!"
Nama itu membuat bayangan Macan Hitam di punggung Raka menggeram.
Kala Rahu. Andi Sangkala. Dua nama yang terikat darah dan kutukan.
"Begitu..." Raka mengangguk pelan.
"Jadi paman sendiri yang ingin aku mati."
Di atas langit, Nyi Blorong masih melayang. Wujud Naga Emas nya separuh menyatu dengan tubuh nya. Sisik emas di pipi nya ber kilau, tapi mata nya penuh ketakutan.
"Kala Raja..." Suara Nyi Blorong kini tidak lagi sombong.
"Kau sudah bangkit kan Candi. Kau sudah ambil darah 9 Wali. Sekarang... apa rencana mu?"
Raka menoleh.Senjata itu di arah kan ke Nyi Blorong.Tapi tidak langsung menyerang.
"Aku butuh 9 pusaka, Nyi."
"Dan kau... punya satu."
Nyi Blorong mundur setengah langkah.
"Kau gila? Kau pikir aku akan memberikan nya begitu saja?"
"Tidak."
Raka ter senyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Aku akan mengambil nya. Seperti aku mengambil nyawa 3 Wali itu."
Tanah bergetar lagi. Dari dalam Candi Cetho, suara ribuan bisikan semakin keras.
"RAJA... RAJA... RAJA SUDAH KEMBALI..."
Tiba tiba, angin berubah arah.
Dingin. Tajam. Bau amis darah hilang, diganti bau besi tua dan dupa basi.
Di ujung tangga candi, muncul sesosok pria.
Tubuh tinggi, jubah hitam, wajah ditutupi topeng perak berbentuk tengkorak.
"Lambat sekali kau, keponakan."
Suara itu datar. Tapi membuat udara di sekitar beku.
"Aku kira kau akan mati sebelum sampai ke sini."
Raka mengepal kan keris.
Bayangan Macan Hitam di punggung nya mengaum tanpa suara.
"Andi Sangkala..."
Raka berbisik.
"Akhirnya kau datang."
Pria bertopeng itu mengangkat tangan.
Di telapak tangan nya, melayang sebuah keris kecil. Bilah nya biru, berdenyut seperti jantung.
"Keris Kyai Kala Bayu."
Andi Sangkala memutar keris itu di jari.
"Pusaka kedua. Dan aku tidak akan memberikan nya pada mu dengan mudah."
"Kau pikir dengan menjadi 'Kala Raja' kau bisa melawan aku?" Andi tertawa pelan. Dingin.
"Kau baru bangkit. Aku sudah hidup 200 tahun dalam kegelapan."
Raka melangkah maju. Rantai hitam di kaki nya menyeret 4 Wali seperti boneka rusak.
"200 tahun bersembunyi itu bukan kekuatan, Paman."
"Itu pengecut."
"MULAI!"
Andi Sangkala berteriak.
Dua kekuatan gelap bertabrakan.
Keris Kyai Kala Naga vs Keris Kyai Kala Bayu.
Macan Hitam vs Angin Hitam.
Darah vs Bayangan.
*BUAAAKKK!!!*
Gelombang kejut kedua menghancurkan sisa sisa Candi Cetho.
Langit terbelah. Petir merah dan biru saling bertarung. Dan di tengah badai itu, Raka berteriak:
"INI BARU PERMULAAN!"
"MAJAPAHIT AKAN BANGKIT! DI ATAS MAYAT KALIAN SEMUA!"
*KRAAAKKK!!!*
Raka berdiri di tengah lingkaran mayat. Keris Kyai Kala Naga di tangan kanan nya masih menetes darah hitam kental. Wajah nya kosong, tapi aura pembunuh menyembur keluar dari tubuh nya.
"Perintah dari atas?" Suara Raka bergema, berat, seperti berasal dari dasar jurang. "Sejak kapan kalian jadi anjing yang manut tanpa otak?"
Rantai hitam Rajah Kala meremas lebih kuat. Tulang pergelangan kaki Sang Pemimpin Wali terdengar retak.
"KRAAKK!!!"
"AAAAAKHHH!!!"Jeritan itu memecah keheningan malam. Tapi Raka tidak berkedip.
"Katakan. Siapa yang menyuruh kalian membunuhku?"
Sang Pemimpin Wali gemetar. Darah hitam mengucur dari mulut nya. "A...Andi Sangkala... dia bilang... kau akan jadi ancaman bagi Majapahit baru..."*
Nama itu membuat bayangan Macan Hitam di punggung Raka mengaum pelan.
Kala Rahu berbisik di dalam kepala nya:
"BUNUH DIA. SEMUA YANG BERKHIANAT HARUS MATI."
Raka mengangkat keris tinggi tinggi. "Kalau begitu... mati kau, pengkhianat."
*SRRRAAAKKK!!!*
Kepala Sang Pemimpin Wali terpisah dari tubuh. Darah hitam menyembur ke batu candi, mengaktifkan ukiran kuno yang sudah mati 1000 tahun.
Tiga Wali lain nya gemetar ketakutan. Mereka merangkak mundur, tapi rantai hitam tidak memberi celah.
"Ampun! Kami hanya di perintah! Kami tidak tahu apa apa!"
Raka menoleh perlahan. Mata nya hitam tanpa putih. "Terlambat."
Api biru dari dalam Candi Cetho menyala semakin terang. Seluruh kompleks bergetar.
Suara ribuan orang berbisik dari dalam tanah:
"RAJA... RAJA SUDAH KEMBALI..."
Tiba tiba, angin berubah. Dingin menusuk tulang. Dari ujung tangga candi, muncul sesosok pria berjubah hitam. Wajah nya ditutupi topeng perak berbentuk tengkorak.
"Lambat sekali kau, keponakan." Suara itu datar, tapi membuat udara beku. "Aku kira kau sudah mati sebelum bisa membangkitkan Candi."
Raka mengepalkan keris. "Andi Sangkala..."
Pria bertopeng itu tersenyum di balik topeng.
Di tangan nya, melayang keris kecil berwarna biru yang berdenyut seperti jantung.
"Keris Kyai Kala Bayu. Pusaka kedua."
"Dan aku tidak akan memberikan nya pada mu dengan mudah."
"Kau pikir jadi Kala Raja kau bisa melawan ku?"
"Kau baru lahir. Aku sudah hidup 200 tahun dalam kegelapan."
Raka melangkah maju. Rantai hitam menyeret 3 Wali yang tersisa seperti boneka rusak.
"200 tahun ber sembunyi itu bukan kekuatan, Paman."
"Itu pengecut."
"MULAI!" Andi Sangkala berteriak.
Dua keris bentrok. Hitam vs Biru. Macan vs Angin.
*BUAAAKKK!!!*
Gelombang kejut menghancurkan sisa tangga Candi Cetho. Langit terbelah. Petir merah dan biru saling menggigit.
Raka terpental 10 meter, tapi dia langsung bangkit. Darah hitam mengalir dari sudut mulut nya.
Dia tertawa.
"INI LAH YANG AKU TUNGGU!"
"RASAKAN KEKUATAN SEJATI KALA RAJA!"
---
*[BERSAMBUNG]*