NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02

Bai Dashan berdiri cemas, menatap lurus jalanan desa tanpa berkedip. Sesekali pria berusia tiga puluh tahun itu menyusutkan lehernya karena kedinginan atau kaget kala petir dan kilat menyambar.

Sedangkan Chen Muwan, berjalan mondar-mandir dengan mulut komat-kamit. Wajahnya pias di payungi kekhawatiran, bersama tangan yang bergerak acak memeluk raganya sendiri.

Si bungsu Bai Jinyu, duduk diam membelit lutut di bangku bambu ruang makan.

Di kejauhan, bayangan insan berkerumun mulai terlihat.

Bai Dashan menegakkan punggung, begitu juga Chen Muwan.

Netra suami istri itu memicing, guna memperjelas pandangan samar akibat tebalnya kabut yang membentang.

Semakin dekat, vishal itu jelas terlihat. dengungan suara yang sarat akan kepanikan juga terdengar ditelinga, membaur bersama ketukan air hujan.

"Apa yang terjadi...?" teriak Bai Dashan dan Chen Muwan bebarengan, melihat raga putri sulung mereka yang di gotong oleh paman Yan.

Pintu pagar setinggi pinggang orang dewasa di singkap oleh Bai Hanzi, seraya menangis tergugu memeluk keranjang yang semula digendong Bai Anshu.

"Ayah, ibu, kakak tersambar petir."

"Apa....!"

Chen Muwan limbung, mencengkram pundak sang suami untuk penopang.

Si kecil Bai Jinyu berlari, termangu membeliak ditengah ruangan.

"Putriku...!"

"Beri jalan, cepat ganti pakaian Shu-ya..!" intruksi kakek Su.

Chen Muwan mendapatkan kembali kesadarannya, bergegas kedalam mengambil selimut dan baju ganti.

Raga Bai Anshu dibaringkan keranjang kamar, lalu diseka bersih menggunakan air hangat dengan bantuan bibi Yan dan nenek Su.

"Bagaimana bisa kakakmu tersambar petir..?" tanya Bai Dashan bergetar takut.

Kakek Su menjelaskan kronologi kejadian, di timpali oleh paman Yan dan penduduk lainnya.

"Ganti bajumu dulu, nanti kau masuk angin." titah Dashan pada putra keduanya, sebelum berjalan tergesa mendekati pintu kamar sang putri kesayangan.

Bai Hanzi mengangguk lemah, melangkah pelan menuju keruang tidurnya.

Dari luar, teriakan panik terdengar.

Kakek-nenek Bai, serta Bai Sanlang meringsek masuk. Disusul oleh bibi Mei beserta kedua anaknya.

Mereka yang mendengar keributan saat kelompok orang itu melewati depan rumah, sempat melontarkan pertanyaan.

Begitu mendapat jawaban, keluarga kandung Bai Dashan itu gegas mencari mantel jerami lalu menyusul rombongan.

"A-Suji sedang memanggil tabib Yong, Shu'er pasti akan baik-baik saja." beritahu Bai Sanlang, menepuk bahu adik semata wayangnya.

Bai Dashan mengangguk "terimakasih...!"

Nenek Bai dan bibi Mei masuk kedalam kamar bersama Bai Lushi.

"Bagaimana Shu'er..? apa ada yang terluka..?" tanya takut nenek Bai.

"Beruntung tubuhnya tidak ada luka sedikit pun." jawab nenek Su.

Bai Lushi, kakak sepupu sekaligus sahabat Bai Anshu, naik keranjang, memegang lembut tangan saudara yang dua bulan lebih muda darinya.

"Shu-ya, bangun..! kita sudah berjanji untuk pergi menangkap ikan kesungai besok." isak Bai Lushi.

Chen Muwan turut tergugu, begitu juga bibi Mei dan nenek Bai.

Bibi Yan mengusap punggung Bai Lushi "jangan cemas, Shu-ya akan baik-baik saja."

Tak lama, tabib Yong datang bersama Bai Suji.

Para wanita lintas generasi dikamar menyingkir, memberi ruang pada dokter satu-satunya yang bersedia tinggal menetap di desa Huanshan.

Mimik wajah tabib Yong berubah-ubah, kala ia memeriksa nadi, nafas dan raga Bai Anshu.

"Tabib Yong, bagaimana keadaan putriku..?" tanya tak sabaran Bai Dashan melongok cemas menatap wajah pucat Bai Anshu.

"Meski tidak ada luka luar, tapi saraf dikepala serta pendengarannya mengalami cidera serius karena kerasnya sambaran petir. Kita hanya bisa menunggu keajaiban datang."

"Tidak, putriku...!"

Chen Muwan jatuh lemas disisi ranjang.

Bai Dashan limbung terhuyung, nyaris terjengkang.

Bai Hanzi, Bai Jinyu, kakek-nenek serta paman-bibi dan para sepupu bertambah tergugu.

"Paling cepat tiga hari, paling lama satu minggu. Jika Anshu tidak bangun juga maka kalian harus merelakannya." tambah dokter Yong menghela nafas berat.

"Omong kosong, cucuku tidak akan kemana-mana..!" pekik kakek Bai.

"Putriku...!"

"Kakak...!"

"Shu-ya, bangun. Jangan pergi...!"

Ratapan mengiris hati dengan isak tangis menguar pedih, terlontar dari para anggota keluarga Bai.

"Satu lagi, jika Anshu bangun, dia akan menjadi orang yang berbeda. Entah bodoh, atau malah sebaliknya."

"Kenapa bisa begitu..?" tanya keras kakek Bai.

"Karena kerusakan saraf otak yang diderita." jawab dokter Yong tanpa ragu.

"Ya Dewa, kenapa harus putriku..?" raung nyonya Muwan lemas, nyaris pingsan.

Bai Dashan yang duduk dibangku, menekan dadanya karena sesak terhimpit. Kepala tertunduk dalam dengan airmata mengucur deras.

"Ini semua salahku, aku ayah tak berguna." rancunya menatap kaki yang dibalut perban kain kasa kasar.

"Jangan bicara seperti itu, kita tidak tahu akan takdir masa depan. Perbanyak lah berdoa agar Shu'er baik-baik saja." balas kakek Su.

Hujan mulai mereda, penduduk datang menjenguk silih berganti. Mereka menggaungkan doa demi keselamatan Bai Anshu.

Desa Huanshan, dihuni oleh orang-orang berhati bersih. Meski suka ada yang bergosip namun soal solidaritas dan gotong royong tak perlu diragukan lagi.

Selama desa itu ada, yang namanya pertikaian antar tetangga, persaingan, iri dengki, tidak pernah terjadi.

Semua hidup rukun, guyup membaur dan toleran.

Dokter Yong meracik ramuan obat, menuliskan resep yang kalau mereka punya uang bisa nanti dibeli keapotik dikota.

"Kalau nanti Anshu bangun, rebus ramuan ini, minum tiga kali sehari."

Bai Dashan menerima bungkusan kain katun kasar yang disodorkan padanya.

"Tetap jaga ruangan ini agar selalu hangat, udara dingin bisa semakin melemahkan saraf dan cidera otot putri kalian." nasehat dokter Yong.

Bai Dashan dan Chen Muwan mengangguk "baik tabib, terimakasih..!"

Chen Muwan bangkit, menarik guci tanah liat kasar yang ada diatas lemari tua tanpa pintu.

Disana terdapat selusin koin tembaga.

"Tabib Yong, kami hanya memiliki ini. Untuk kekurangannya bisakah kami membayar dengan kelinci dan burung pegar..?" ucap parau Chen Muwan.

Dokter Yong tersenyum, mendorong tangan Chen Muwan yang menggenggam koin tembaga itu.

"Berikan saja aku satu kelinci, kebetulan cucuku sangat ingin makan kelinci panggang."

"Ah, baik...!"

Bai Hanzi gegas melesat kebelakang rumah, dimana kandang peliharaan berada.

Bocah itu mengambil kelinci yang paling gemuk untuk dokter Yong.

"Jika ada sesuatu terjadi, segera datang padaku. Kapan pun waktunya, jangan pernah ditunda."

"Baik tabib Yong, terimakasih...!"

Awan kesedihan tebal tetap awet memayungi kediaman keluarga Bai, meski dokter Yong sudah lama pergi.

Airmata itu terus meleleh deras, dengan kornea sayu memandangi wajah pucat Bai Anshu.

Dalam hati mereka semua berlomba, berdoa memohon kebaikan bagi gadis remaja cantik yang terkenal baik hati dan berbudi luhur itu.

Bibi Mei pulang kerumah, lalu datang lagi membawa selimut.

Maklum saja, kain yang kini membalut raga Bai Anshu amat tipis, aus dengan ukuran kecil.

Ditengah duka kepanikan, tak ada satu pun yang menyadari kalau sejak Bai Anshu tersambar petir sampai saat ini, tubuh gadis itu memancarkan sinar putih keemasan.

Batu bintang lima warna yang semula tersimpan dikantung dada, nyatanya telah melebur masuk, menyatu lekat dalam nadi, darah, raga dan jiwa Bai Anshu, lalu berhenti di pergelangan lengan menciptakan untaian indah tak kasat mata.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!