NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH BACA AWAL,BERES DI AKHIR

Dunia ini emang beneran gak ada habisnya. Masih pagi aja aku udah bikin pusing sendiri, dan kayaknya hari ini baru saja dimulai.

Setelah sadar tadi salah baca alamat yang seharusnya Jalan Anggrek No. 45 malah kubaca jadi Jalan Kenanga No. 54, makanya ketemu Bang Rian kami pun segera balik arah. Kali ini Nina yang pegang kertas alamatnya, biar gak ada lagi yang terbalik atau salah lihat.

Jalanan mulai rame, dan rasanya waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Jantungku berdetak kencang takut telat sampai, apalagi ini tugas langsung dari Pak Harun. Kalau sampai gagal, bisa-bisa aku disuruh bersihin gudang selama seminggu penuh.

“Kalian beneran bisa gak sih baca tulisan dengan bener?” omel Nina sambil menunjuk tulisan di kertas itu.

“Lihat ini jelas-jelas tulisannya Anggrek, bukan Kenanga. Nomornya 45, bukan 54. Hati-hati dong!”

“Santai aja Nin, namanya juga manusia tempatnya salah. Kalau udah takdirnya bingung, ya kadang huruf dan angka itu bisa berubah wujud di mata kita,” kata Ojak santai sambil menyetir.

“Dasar cari alasan aja terus.” balas Nina sambil geleng-geleng kepala.

Setelah muter jalan dan tanya arah ke satu orang warga, akhirnya kami sampai juga di Jalan Anggrek No. 45. Rumahnya besar, halamannya luas dan rapi, papan nama jalannya juga tergantung jelas di pagar. Napas kami baru terasa lega.

“Nah, ini kan bener. Ayo, cepat antar sebelum telat,” kata Kak Dedi sambil melangkah ke depan.

Aku yang memegang amplop itu segera mengetuk pintu dengan agak keras. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan yang muncul bukan orang satpam, tapi seorang wanita muda berpenampilan rapi, wajahnya tegas tapi terlihat ramah.

“Selamat pagi, ada keperluan apa ya?” tanyanya sopan.

“Pagi, Mbak. Kami dari kantor pak Harun & Rekan, mau antar dokumen penting sesuai perjanjian kemarin. Alamatnya di sini kan, Jalan Anggrek Nomor 45?” jawabku sambil menunjuk ke pagar.

Wanita itu melihat amplop dan alamatnya, lalu mengangguk yakin. “Betul, ini tempatnya. Terima kasih sudah diantar, saya kira tadi kenapa karna tumben agak lama datangnya.”

Dia menerima dokumen itu, membuka sebentar untuk memastikan isinya lengkap, lalu tersenyum. “Sudah bener semua. Sekalian saya titip surat balasan ini ya untuk pak Harun. Bilang saja saya akan datang sendiri nanti sore untuk bahas lebih lanjut soal kerjasamanya.”

Dia menyerahkan amplop lain yang sudah tertutup rapat. Aku menerimanya dengan kedua tangan, merasa lega bukan main karena kali ini gak ada kesalahan lagi.

“Baik, terima kasih banyak, Mbak. Maaf kalau agak lama di jalan tadi,” kataku sambil membungkuk sedikit.

Setelah pamit dan keluar dari halaman rumah itu, wajah kami langsung berseri-seri. Nina pun menarik napas panjang lega.

“Syukurlah, kali ini bener. Kalau masih salah juga, aku yang gak tahu harus bilang apa lagi,” katanya sambil tersenyum tipis.

“Nah kan, akhirnya beres juga. Tadi cuma salah baca jalan doang, bukan salah tujuan,” kata Kak Dedi menenangkan.

“Lihat kan? Dunia ini emang suka ngasih tes kecil. Salah sedikit, nanti ketemu jalan yang bener,” tambah Ojak santai.

Kami pun melaju kembali ke kantor dengan perasaan jauh lebih tenang. Begitu sampai di depan ruangan Pak Harun, aku mengetuk pintu, masuk bersama yang lain, lalu menyerahkan dokumen tanda terima dan surat balasan dari klien.

Pak Harun membaca sebentar, lalu mengangkat wajahnya menatap kami. Wajahnya masih terlihat serius, tapi gak sedingin tadi pagi.

“Jadi ceritanya tadi sempat salah baca nama jalan, tapi akhirnya ketemu juga ya?” tanyanya sambil mengangguk pelan.

“Iya Pak, maaf tadi kurang teliti. Tapi sekarang sudah selesai dan diterima dengan baik,” jawabku menunduk sedikit.

Pak Harun terdiam sebentar, lalu tiba-tiba tertawa kecil. “Ya sudahlah, saya udah gak kaget lagi sama kelakuan kalian. Yang penting tujuannya sampai dan gak merugikan kantor. Tapi ingat, lain kali lebih hati-hati lagi, jangan sampai salah jalan yang bikin klien menunggu lama.”

Dia meletakkan kertas di mejanya, lalu melanjutkan: “Karena hari ini tugas pertamanya sudah beres, saya kasih tugas tambahan yang lebih mudah. Kalian harus antar tiga berkas lagi ke alamat yang sudah saya tuliskan ini. Kalau kali ini sampai ada yang salah, minggu depan libur kalian saya potong setengahnya. Paham?”

“Siap, Pak! Kali ini kami janji bakal teliti banget!” jawab kami serempak.

Keluar dari ruangan, kami langsung ketemu Pak Joko yang sedang duduk di kursi jaga sambil menyeruput teh hangat. Dia melihat wajah kami yang sudah gak tegang lagi, lalu tersenyum bijak.

“Sudah selesai tugasnya? Dapat amanah baru lagi?” tanyanya santai.

“Iya Pak, tadi sempat salah baca jalan, tapi akhirnya ketemu juga. Sekarang tinggal antar tiga berkas lagi,” jawab Ojak.

Pak Joko mengangguk pelan. “Memang begitu hidup. Kadang salah belok dikit, bukan berarti sesat selamanya. Justru lewat situ kita jadi tahu mana jalan yang benar. Dunia ini emang suka ngasih ujian lewat hal-hal kecil.”

Belum sempat kami jawab, dari arah depan datang Sari dan Rara yang kebetulan lewat ke kantor sebelah. Rara melambaikan tangan sambil berteriak dengan nada menggoda:

“Wah Bima! Tadi dengar dengar sempat salah jalan ya? Tapi kali ini bener kan? Catatanku masih siap diisi kalau ada kesalahan lagi lho!”

Aku cuma bisa tersenyum kecut sambil memegang kertas alamat baru yang sudah ditulis rapi. Dalam hati aku berpikir: Ya sudahlah, namanya juga hidup. Salah dikit, bener lagi, terus jalan terus. Kalau emang dunianya begini, tinggal jalani saja dengan santai. Salah atau benar, yang penting tetap bisa tertawa dan gak bikin orang lain rugi.

Dan begitu kami melangkah keluar lagi, aku sudah bersiap-siap menghadapi kejadian apa pun yang bakal menunggu di perjalanan berikutnya.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!