NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Ini Namanya Lilis

"Kanda..." panggil Dinda lembut.

​Suara merdu gadis itu mengalun begitu bening di tengah desau angin siang, bagai alunan musik magis yang sanggup membuat siapa pun yang mendengarnya akan terbuai dan memejamkan mata kedamaian.

​"Hem?" sahut Wira rendah tanpa mengalihkan fokusnya dari ikatan tali ijuk.

​"Kanda sebenarnya sedang membuat apa, sih?" tanya Dinda penasaran, menopang dagu dengan kedua tangannya sembari memperhatikan jajaran bambu yang mulai berdiri tegak.

​"Pasang tarub (tenda hajatan tradisional)," jawab Wira. Ia menyempatkan diri menoleh sekilas ke arah Dinda, lalu menyunggingkan seulas senyuman tipis yang teramat menawan khusus untuk wanitanya.

​Dinda mengangguk-angguk paham. Cukup lama gadis kota itu duduk manis di atas kursi rotan, setia menunggui dan memandangi punggung tegap prianya yang begitu cekatan merakit tenda bambu. Hingga beberapa saat kemudian, derap langkah kaki yang tergesa memutus keheningan di antara mereka. Nilam telah kembali.

​"Kang Wira, itu... Si Mbok di dapur menyuruh Dinda agar segera masuk ke dalam rumah untuk makan siang," ucap Nilam menyampaikan pesan setelah mencuat dari pintu samping.

​Wira menghentikan gerakannya di atas pijakan bambu, lalu menoleh ke bawah menatap Dinda. "Masuklah... Ikutlah bersama Nilam ke dalam. Di dalam rumah jauh lebih aman dan teduh untukmu," ucap pria itu dengan nada suara yang seketika berubah teramat lembut.

​Wira kemudian melompat turun dari atas rangka bambu dengan gerakan ringan yang tangkas. Begitu kakinya menapak tanah di depan Dinda, tanpa memedulikan puluhan pasang mata warga desa yang sedang memperhatikannya, Wira melangkah maju. Lengan kekarnya bergerak menarik lembut tengkuk kepala Dinda, lalu mendaratkan sebuah kecupan dalam yang hangat di kening gadis itu.

​Tindakan frontal nan berani dari sang pemburu tak pelak langsung menarik perhatian penuh dari orang-orang di sekitar pelataran. Bisik-bisik langsung menjalar seketika.

​Namun, bukan hanya warga di halaman yang mengunci pandangan. Jauh di atas sana, dari balik celah jendela kayu rumah panggung milik Ketua Kampung yang sedikit terbuka, sepasang mata elang lain tengah mengintai dengan saksama. Sosok pria muda di dalam kamar itu terpaku, menatap lurus ke arah Dinda yang baru saja dicium oleh Wira.

​"Siapa gadis asing itu...? Cantik sekali. Sampai-sampai bisa membuat pemburu terkuat di desa ini jatuh hati bertekuk lutut," gumam pria itu samar di dalam keheningan kamarnya, seulas senyum penuh ketertarikan terbit di wajah tampannya.

​Laki-laki di balik jendela itu tidak lain adalah Lintang, anak sulung Ketua Kampung yang baru saja keluar dari masa pingitan belajarnya.

​Sementara itu di bawah, Dinda refleks menunduk dengan wajah yang sudah sewarna buah tomat, benar-benar malu sekaligus berdebar akibat kecupan mendadak di depan umum tadi. Ia mengangguk pelan pada Wira.

​Gadis itu segera bangkit dari kursi rotannya, berjalan cepat mengekor di belakang Nilam menuju arah pintu samping agar bisa langsung masuk ke dalam area dapur luas milik rumah Ketua Kampung, menghindari tatapan-tatapan penasaran yang kian intens tertuju padanya.

Dinda berjalan beriringan bersama Nilam menyusuri selasar menuju area dapur luas yang terletak di bagian bawah rumah panggung milik Ketua Kampung. Sepanjang jalan, gadis itu tak henti-hentinya melemparkan senyuman lembut setiap kali berpapasan dengan anak-anak kecil maupun ibu-ibu desa yang menyapanya dengan ramah.

​Sesampainya di dapur, netra Dinda langsung menangkap sosok Mbok Ginem yang tengah asyik mengiris lembaran daging sembari mengobrol akrab dengan seorang gadis muda. Gadis di sebelah Mbok Ginem itu memiliki kulit hitam manis yang eksotis, dengan postur tubuh semampai yang terbilang tinggi untuk ukuran wanita desa.

​"Mbok, ini Dinda-nya sudah datang," seru Nilam memecah obrolan.

​Mbok Ginem beserta dua wanita paruh baya yang berada di sana serempak menolehkan kepala.

​"Kemari, Nduk," lambai Mbok Ginem dengan senyum merekah, menyuruh Dinda mendekat.

​Dinda mengangguk patuh lalu melangkah mendekat ke arah amben dapur.

​"Walah, Mbok... Jadi ini yang namanya Dinda? Ayu tenan yooo... (cantik sekali ya...)" puji Kartini seketika, matanya melebar terpesona menatap paras jelita Dinda yang berbalut kebaya bludru.

​Dinda menundukkan kepala, tersenyum malu-malu menerima pujian beruntun hari ini. "Terima kasih, Bulik," ucap Dinda sesopan mungkin.

​"Lis, ini loh gadis yang dari tadi Ibu dan Mbok Ginem bicarakan..." ucap Kartini kemudian, menepuk-nepuk pelan punggung tangan Lilis yang sedari tadi justru tertegun diam, terbengong-bengong memperhatikan kehalusan wajah Dinda dari dekat.

​Dinda melemparkan senyum ramah pada Lilis. Sebaliknya, Lilis membalas dengan senyuman canggung. Sorot mata gadis hitam manis itu menyiratkan gurat ketidaknyamanan yang kentara saat harus berhadapan langsung dengan Dinda.

​"Lilis, ini namanya Dinda... Dan Nduk Dinda, ini namanya Lilis," ucap Mbok Ginem memperkenalkan keduanya secara resmi.

​Dinda mengangguk sembari menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Tidak ada jabat tangan di antara mereka, sebab Dinda bisa merasakan dengan jelas bahwa Lilis tampaknya agak menjaga jarak dan merasa kurang nyaman dengan kehadirannya.

​"Mbok, ada yang bisa aku bantu tidak? Biar pengerjaannya cepat selesai," tanya Dinda menawarkan diri sembari melirik tumpukan bahan makanan.

​"Aduh, jangan! Kamu duduk manis saja di sana sama Nilam... Kasihan tanganmu, nanti bisa luka," cegah Mbok Ginem cepat, langsung melarang keras.

​"Tidak apa-apa, Mbok. Cuma bantu mengiris daging saja kok, aku bisa," kekeh Dinda bersikeras, ingin membaur dengan warga.

​"Benar apa kata Mbok Ginem, Nduk. Tanganmu itu mulus sekali, nanti lecet kalau tidak sengaja kena pisau dapur ini," timpal Kartini ikut menanggapi.

​Mendengar hal itu, Lilis secara refleks mengalihkan pandangannya pada jemari lentik milik Dinda. Matanya menatap lekat jari-jari itu; kuku-kuku jari Dinda tampak sangat jernih, bersih, dan mengkilat kemerahan, mencerminkan perawatan yang teramat baik.

​Lilis kemudian beralih menatap telapak tangannya sendiri yang berwarna gelap, dipenuhi kapalan dan terasa kasar di beberapa bagian. Semua itu adalah akibat dari kebiasaannya yang setiap hari harus mencengkeram erat busur panah kayu yang teramat berat. Perbandingan yang jenuh itu seketika menerbitkan rasa asing di hatinya.

​"Jadi aku benar-benar tidak boleh bantu, nih? Kalau begitu aku cuma jadi mandor dong di sini!" celetuk Dinda spontan, tertawa kecil mencairkan suasana.

​"Hah? Mandor? Mandor itu apa, Dinda?" tanya Nilam dengan dahi mengernyit bingung.

​Pertanyaan Nilam langsung disusul oleh tatapan penasaran dari Mbok Ginem, Kartini, dan ibu-ibu lainnya yang saling lempar pandang karena baru pertama kali mendengar kata tersebut.

​Dinda seketika merutuki lidah modernnya. Ia berdeham canggung, mencoba mencari padanan kata yang pas. "Oh, itu... emmm, maksudnya orang yang tidak punya pekerjaan tapi hobinya cuma melihat-lihat orang lain bekerja..." jawab Dinda salah tingkah.

​Mendengar penjelasan itu, mereka semua serempak mengangguk paham lalu terkekeh geli.

​"Sudah, sudah, tidak apa-apa... Lis, kamu juga sudah tidak usah bantu-bantu di Disini lagi. Lebih baik sekarang kamu ajak Dinda jalan-jalan keliling rumah panggung ini, ajak Nilam juga sekalian," perintah Kartini pada anak perempuannya.

​Lilis terdiam sejenak, menatap ibunya dengan tatapan datar sebelum akhirnya menghela napas pendek. "Baiklah, Buk," sahutnya pelan.

​Dinda menanggapinya dengan senyuman lembut yang tulus, berdiri sabar menunggu Lilis mencuci bersih tangannya di gentong air.

​"Mari kita keluar..." ajak Lilis pelan begitu selesai mengeringkan tangan.

​Dinda dan Nilam mengangguk kompak, lalu berjalan mengekor tepat di belakang langkah Lilis yang menuntun mereka keluar dari area dapur yang sumpek.

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!