Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan
Kesabaran Sano yang selama ini dijaga di balik tirai dingin kekuasaan akhirnya benar-benar diuji, tersulut oleh bara emosi yang kian tak terkendali. Perdebatan sengit mengenai Tazam bukan sekadar masalah pelanggaran otoritas rumah tangga, melainkan sebuah tamparan keras yang membakar ego sang kepala keluarga Wiragata.
Sano merasa kendalinya atas rumah ini mulai goyah. Yang paling menghujam perasaannya adalah kenyataan bahwa Halra tidak pernah sekali pun menaruh rasa bergantung atau tunduk sukarela kepadanya; sebaliknya, wanita itu selalu memendam kebencian yang mendarah daging. Halra tahu betul siapa Sano—darah daging Joharo, sosok monster keji berdarah dingin yang dulu telah merenggut nyawa kedua orang tua kandungnya secara mengenaskan.
Di sisi lain, posisi Tazam sebagai pengawal pribadi Halra semakin mengakar kuat dan menjadi benteng pertahanan yang solid.
Pria itu menjalankan setiap instruksi rahasia Halra dengan kesetiaan mutlak, berdiri sebagai perisai hidup yang selalu siaga mendampingi Nyonya muda ke mana pun ia melangkah, baik di dalam maupun di luar tembok kediaman Wiragata.
Seiring berjalannya waktu, kedekatan profesional itu bergeser menjadi sesuatu yang lebih intim. Halra secara sengaja menunjukkan keakraban dan kemesraan tersendiri dengan Tazam di depan mata Sano—sebuah gestur provokatif yang dirancang khusus untuk memukul telak mental suaminya dan membuktikan bahwa ia sama sekali tidak gentar.
Setiap kali Sano menyaksikan pemandangan di mana istrinya tampak begitu nyaman dan akrab dengan pengawalnya sendiri, rahangnya mendadak mengeras hingga otot-otot di pelipisnya berdenyut menahan rasa sakit dan cemburu yang membakar.
Alih-alih melunak atau bertindak gegabah, otak dingin Sano sebagai seorang pemimpin yang cerdas langsung berputar cepat. Sano bukanlah tipe pria yang akan mengotori tangannya dengan kekerasan fisik murahan. Ia tahu persis bahwa kemesraan itu sengaja dipamerkan untuk memancing amukannya agar ia kehilangan kendali.
Sebaliknya, tantangan terbuka ini justru membangkitkan adrenalin Sano untuk melawan dengan kecerdasan. Sano mulai merancang strategi tingkat tinggi yang elegan dan terhitung matang: ia akan melumpuhkan ruang gerak Tazam secara perlahan melalui birokrasi internal rumah tangga serta kendali penuh atas sistem keamanan, tanpa memberi celah sedikit pun bagi Halra untuk merasa benar.
Sano akan membiarkan istrinya bermain-main dengan ilusi perlindungan tersebut, sebelum ia menarik ulur tali kendali permainan ini dan membuktikan siapa penguasa mutlak yang sebenarnya di dalam sangkar emas Wiragata.
Malam beranjak larut ketika Sano melangkah masuk ke dalam salah satu club malam terbesar dan paling eksklusif di kota ini—wilayah kekuasaan yang kerap menjadi tempat bagi para elite hitam berkumpul.
Dentum musik bas yang menghentak dan kelap-kelip lampu sorot yang liar langsung menyambut indra.
Di antara kerumunan tamu berduit dan para wanita pendamping, sosok Savhelicha tampak berdiri di dekat meja VIP, menemani sang taipan. Kedatangan Sano malam ini bukan atas kemauannya sendiri, melainkan dipicu oleh panggilan ancaman mutlak: Joharo terus mendesaknya untuk datang, bahkan melayangkan ancaman terbuka akan menghabisi nyawa Halra jika putranya itu berani mangkir.
Di sudut ruangan VIP yang temaram, Joharo duduk dengan postur penuh wibawa, memegang gelas wiski sambil menatap kedatangan Sano dengan senyum tipis yang meremehkan. Alih-alih datang dengan rasa takut atau tunduk, Sano melangkah tegak tanpa keraguan sedikit pun. Tatapan matanya beradu tajam dengan sang ayah, memancarkan aura dingin yang sama berbahayanya.
"Kau memanggilku dengan ancaman rendahan seperti itu? Menggunakan nyawa istriku sebagai alat tawar?" suara Sano memecah kebisingan musik, dingin, tajam, dan tanpa gentar sedikit pun. Ia berdiri tepat di hadapan meja Joharo, menolak untuk duduk.
Joharo terkekeh pelan, menyesap wiskinya dengan santai sebelum mendongak menatap putranya dengan tatapan predator.
"Ancaman? Itu bukan ancaman, Sano. Itu adalah pengingat agar kau tahu siapa yang memegang kendali penuh di garis keturunan ini. Wanita itu, Halra... darahnya terlalu berbahaya jika dibiarkan melawan. Dan kau, alih-alih menjinakkannya, malah membiarkannya menentangmu."
"Jangan mengatur rumah tanggaku!" potong Sano cepat dengan nada bergemerincing penuh amarah tertahan. Ia mendekatkan wajahnya, menatap lurus mata Joharo tanpa berkedip.
"Dengar baik-baik batasan ini. Jika kau atau siap pun orangmu berani menyentuh seujung kuku istriku... kau akan melihat kehancuranmu sendiri. Aku tidak sedang bermain-main. Sekali saja kau mencoba melukainya, aku akan langsung membongkar kartu as yang kumiliki—dokumen dan bukti mutlak yang akan meruntuhkan seluruh kekaisaran bisnis dan nama besarmu sampai ke akar-akarnya, membuatmu mati sebagai pecundang!"
Suasana di sekitar meja VIP mendadak membeku. Ekspresi meremehkan di wajah Joharo seketika lenyap, digantikan oleh sorot mata gelap penuh kemurkaan yang terkejut karena seorang anak berani menantangnya secara terang-terangan di depan para pengikutnya.
"Kau benar-benar anak kurang ajar," desis Joharo pelan penuh penekanan, rahangnya mengeras. "Beraninya kau menggertak ayahmu sendiri demi wanita pembenci itu!"
Para anak buah Joharo yang berdiri di sekeliling langsung bereaksi mendengar nada tinggi sang taipan; dalam hitungan detik, beberapa orang berbadan kekar maju serentak, hendak melayangkan pukulan telak untuk membungkam Sano yang dianggap sudah melewati batas.
Namun, sebelum tinju itu sempat menyentuh tubuh Sano, bayangan-bayangan bergerak cepat dari sudut-sudut gelap club.
Bodyguard tersembunyi andalan Sano langsung melompat keluar, menahan dan melumpuhkan para penyerang Joharo dalam bentrokan singkat yang ricuh.
Di tengah kekacauan meja VIP yang mulai menarik perhatian pengunjung lain, Sano tidak membuang waktu. Sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut, ia berbalik dan memecah kerumunan, berjalan keluar menuju mobilnya untuk segera pulang.
Tiba di kediaman Wiragata yang sepi, suasana terasa jauh lebih dingin. Ruang tengah rumah tampak gelap gulita, hanya disinari bias cahaya lampu luar yang menembus kaca jendela. Di tengah kegelapan itu, sesosok bayangan berdiri dengan tangan bersilang di dada—Halra menunggunya.
Begitu melihat Sano melangkah masuk, bibir Halra langsung melontarkan sindiran tajam dengan nada penuh tuduhan dan kebencian yang meluap-luap. Ia tahu ke mana suaminya pergi malam-malam begini.
"Baru pulang dari sarang monstermu, Sano?" cibir Halra tajam, matanya menatap tajam penuh kebencian dari dalam kegelapan. "Menemui ayahmu untuk merencanakan kebusukan apalagi di belakangku? Kalian berdua sama saja—pembunuh berdarah dingin yang suka mempermainkan hidup orang lain!"
Sano menghentikan langkahnya, menarik napas panjang untuk meredam gejolak di dadanya, lalu menatap sang istri lurus-lurus.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang baru saja kulakukan di sana, Halra," jawab Sano dengan suara rendah yang berat, menyimpan beban luar biasa.
"Aku tahu betul!" sergah Halra cepat, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Aku tahu kalian sedang merancang cara untuk menghancurkanku atau orang-orang di sekitarku! Jangan bersandiwara di depanku, Sano!"
Sano terdiam sejenak, menatap wanita yang sangat dicintainya sekaligus dibencinya itu dengan sorot mata yang sulit dibaca.
Tidak ada bantahan panjang yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menatap Halra lekat-lekat, sebelum akhirnya membuang muka, berbalik, dan melangkah pergi begitu saja menaiki tangga—meninggalkan Halra yang mematung dengan dada naik turun menahan amarah di tengah gelapnya ruang keluarga.