SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERANG JEMPOL DAN SPANDUK SULTAN
H+1 Jam Pasca Invasi Kantin
Ruang OSIS SMA Pertiwi - Markas Besar "Surga"
Suasana di ruang OSIS yang ber-AC dingin itu terasa mencekam, mirip ruang operasi Pentagon sebelum meluncurkan nuklir.
Naura Louviera duduk di depan tiga monitor komputer sekaligus. Kacamatanya memantulkan kode-kode biner yang berjalan cepat (padahal cuma Command Prompt biar kelihatan keren). Di sebelah kirinya, ada tumpukan tisu bekas membersihkan Zuppa Soup yang tadi mendarat di wajahnya. Dendam Naura sudah di ubun-ubun.
"Status?" tanya Roseanna Vallerian. Dia duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar pulpen Montblanc seharga lima juta.
"Password Instagram official mereka lemah banget, Rose," lapor Naura sambil mengetik cepat. "Tebakan gue bener. Username: @vanguards_rajawali. Password: 'rajawali123'. Dasar primata purba. Nggak kenal Two-Factor Authentication."
Roseanna tersenyum miring. Senyum yang cantik tapi mematikan.
"Bagus. Hancurkan reputasi mereka. Bikin mereka malu seumur hidup sampai nggak berani keluar rumah tanpa topeng."
"Siap, Ratu. Gue lagi upload konten baru," jari Naura menari di atas keyboard.
Di sofa tamu, Lia sedang tiduran santai sambil maskeran wajah pake mentimun. Dia baru saja laundry seragamnya yang kena noda Thai Tea (bekas siram Ilham).
"Lia, lo nggak mau ikut bales dendam?" tanya Raisa yang sedang meninju-ninju bantal sofa (membayangkan itu muka Fattah).
"Males. Buang tenaga," gumam Lia dari balik irisan timun. "Biarin aja mereka main tanah. Gue mau glowing."
"Gue nggak terima lo disiram sup jamur, Nau!" seru Raisa. "Harusnya gue patahin tangan si Ilham tadi!"
"Tenang, Sa," kata Aqeela yang sedang menelepon seseorang di pojok ruangan. "Halo? Percetakan 'Maju Jaya'? Iya, saya Aqeela. Saya mau pesen spanduk ukuran 5x3 meter. Bahannya yang paling tebal, anti-air, anti-api, anti-peluru kalau ada. Iya, duitnya saya transfer sekarang. 10 juta cukup? Oke, kembaliannya buat Mas aja beli es cendol."
Aqeela menutup telepon dengan senyum puas. "Beres. Besok pagi mereka bakal dapet kejutan visual."
Bengkel STM Rajawali - Markas Besar "Neraka"
Sementara itu, di seberang tembok, suasana justru sedang pesta pora (sederhana).
Fattah Maverick dan pasukannya sedang menikmati "harta rampasan perang": Tiga kotak donat J.CO dan beberapa potong Pizza Hut yang berhasil mereka sikat dari meja kantin Pertiwi sebelum kabur.
"Gila, ini donat empuk banget, Bos!" seru Mohan dengan mulut penuh gula halus. "Rasanya kayak meluk awan!"
"Makan yang banyak, Han. Itu gizi perbaikan," kata Fattah sambil merokok santai. "Lumayan, makan siang gratis. Muka si Rose pas steak-nya gue makan itu... priceless."
Harry sedang menjilati sisa saus pizza di jarinya. "Tapi Bos, si Neng Aqeela tadi kaget banget liat gue. Gue jadi nggak enak ati. Dia kan bidadari."
"Bidadari matamu," cibir Ilham. Ilham duduk di atas ban bekas, wajahnya masih asem. Dia menggosok-gosok dadanya yang lengket bekas Thai Tea. Bau manis susu basi mulai tercium.
"Sumpah ya, tuh cewek headphone bener-bener nguji kesabaran gue," gerutu Ilham. "Gue udah teriak di kupingnya, gue udah ambil barangnya, dia malah nyiram gue?! Dimana letak takutnya?!"
"Mungkin dia psikopat, Ham," sahut Oliver yang sedang mengecek HP-nya.
Tiba-tiba, wajah Oliver berubah pucat. "Bos. Gawat."
"Kenapa? Polisi dateng?" tanya Fattah siaga.
"Bukan. Lebih parah," Oliver memutar layar HP-nya ke arah Fattah. "Cek Instagram kita."
Fattah mengambil HP-nya. Dia membuka akun kebanggaan mereka: @vanguards_rajawali. Akun yang isinya foto-foto motor keren, dokumentasi tawuran (yang disensor), dan quotes laki banget.
Tapi sekarang...
Foto Profil: Diganti gambar Barbie pake baju pink.
Bio: "Kami kumpulan cowok-cowok gemoy pecinta Hello Kitty. Meow~"
Postingan Terbaru: Foto Fattah yang lagi tidur mangap (diambil diam-diam oleh Harry dulu buat lucu-lucuan di grup WA), diedit pake filter bando kelinci dan blush on merah merona.
Caption: "Duh, aku cantik banget hari ini. Siapa mau jadi pangeran aku? #FattahCantik #VanguardsUwu"
"ANJING!!" teriak Fattah, HP-nya hampir dia banting. "SIAPA YANG NGE-HACK INI?!"
"Liat komennya, Bos!" seru Harry panik.
Kolom komentar sudah banjir.
"Wkwkwk ini akun STM apa salon?"
"Bang Fattah kok jadi cantik?"
"Fix Vanguards udah tobat jadi boyband."
Harga diri Rajawali, yang dibangun bertahun-tahun dengan darah dan keringat, hancur dalam hitungan menit gara-gara filter kelinci.
"Pertiwi," desis Fattah, matanya menyala merah. "Pasti kerjaan si Kacamata (Naura)."
"Balikin, Ver! Hack balik!" perintah Ilham.
Oliver mengetik cepat di laptop bututnya. "Nggak bisa, Bos. Mereka ganti password-nya jadi enkripsi tingkat tinggi. Dan... email pemulihannya diganti jadi: roseanna.cantik@gmail.com. Sialan."
"Kurang ajar," Fattah meremas kaleng soda sampai gepeng. "Mereka main kasar di dunia maya karena tau nggak bisa menang di aspal."
"Kita serang balik, Bos!" usul Harry. "Kita edit foto Rose jadi... jadi ondel-ondel!"
"Jangan," potong Fattah. Dia punya ide lain. "Kalau mereka main malu-maluin, kita bales lebih malu-maluin. Besok pagi, siapin 'hadiah' di depan gerbang mereka."
Keesokan Paginya - Pukul 06.30 WIB
Gerbang SMA Pertiwi yang megah pagi ini tampak berbeda.
Di tembok pagar sebelah kiri (yang menghadap jalan raya), terpasang sebuah Spanduk Raksasa ukuran 5x3 meter. Bahannya flexi jerman tebal, cetakannya HD.
Isinya:
Foto close-up wajah Fattah, Ilham, Harry, Mohan, dan Oliver yang diedit pake lipstick merah, bulu mata palsu, dan bando pita.
Tulisannya besar warna pink neon:
"STM RAJAWALI MEMBUKA PENDAFTARAN ANGGOTA BARU: KHUSUS YANG BERJIWA LEMBUT DAN SUKA MAIN BONEKA. MINAT? HUBUNGI FATTAH 'BARBIE' MAVERICK."
Semua murid Pertiwi yang datang ketawa ngakak. Satpam mau nyopot tapi spanduknya dipaku pake paku beton (kerjaan tukang suruhan Aqeela).
"Gila, Aqeela niat banget," komentar Raisa sambil terkekeh melihat spanduk itu. "Muka Ilham cocok banget pake blush on."
Roseanna turun dari mobilnya, menatap karya seni itu dengan puas.
"Bagus. Biar satu Jakarta tau siapa mereka sebenernya. Badut."
Tapi tunggu dulu.
Di seberang jalan, di depan gerbang STM Rajawali yang kumuh, ternyata juga ada pemandangan baru.
Fattah dan anak-anak Vanguards sudah berdiri di sana sejak subuh. Mereka tidak memasang spanduk mahal (nggak ada duit). Mereka menggunakan kreativitas jalanan: Grafiti.
Tembok putih mulus SMA Pertiwi (bagian samping yang nyambung ke Rajawali) sudah dicoret-coret dengan cat semprot hitam dan merah.
Tulisannya besar dan kasar:
"ZONA BEBAS PLASTIK & DRAMA QUEEN. AWAS! ADA NENEK SIHIR YANG SUKA MAKAN TEMEN SENDIRI. #ROSEANNA_PALSU"
Dan di bawahnya ada gambar karikatur Roseanna dengan hidung panjang ala Pinokio, sedang memegang cambuk.
"KURANG AJAR!" jerit Roseanna saat melihat tembok sekolahnya dinodai.
Fattah, yang berdiri di seberang jalan sambil merokok, melambai santai ke arah Roseanna. Dia memakai kacamata hitam (untuk menutupi mata pandanya karena begadang nge-cat).
"Pagi, Tuan Putri!" teriak Fattah dari seberang. "Gimana lukisan gue? Seni kontemporer tuh! Mahal!"
Roseanna berjalan cepat menyeberang jalan (diikuti geng Royals). Dia tidak peduli klakson mobil. Dia berhenti tepat di depan Fattah. Jarak mereka cuma satu meter.
"Hapus," perintah Roseanna dingin.
"Lo duluan," Fattah menunjuk spanduk di gerbang Pertiwi. "Turunin spanduk sampah itu, balikin akun IG gue, baru gue pikir-pikir buat ngecat ulang tembok lo."
"Akun IG lo?" Roseanna tertawa sinis. "Oh, yang isinya foto-foto narsis itu? Gue pikir itu akun lawak. Cocok kok sama muka lo."
"Mulut lo tajem juga ya," Fattah maju selangkah, menunduk sedikit biar sejajar sama mata Roseanna. "Ati-ati, Rose. Semakin tinggi lo terbang, semakin sakit jatohnya. Dan gue bakal ada di bawah buat ngetawain lo."
"Gue nggak akan jatoh," Roseanna mendongak angkuh. "Karena gue punya sayap. Lo? Lo cuma cacing tanah."
Di belakang mereka, perang sampingan terjadi.
Ilham melihat Lia yang berdiri di belakang Roseanna. Lia sedang sibuk... ngikir kuku. Ya, dia bawa kikir kuku ke sekolah.
"Heh! Cewek Budek!" panggil Ilham.
Lia tidak menoleh. Krek. Krek. Suara kikir kuku terdengar irama.
Ilham menggeram. Dia mengambil segenggam tanah dari pot bunga di dekatnya, lalu melemparnya ke arah sepatu Lia.
Pluk.
Tanah itu mengotori sepatu Adidas Yeezy putih Lia.
Lia berhenti mengikir. Dia menunduk pelan, melihat sepatunya yang kotor. Lalu dia mendongak, menatap Ilham dengan tatapan yang bisa membekukan neraka.
"Lo..." Lia bersuara. Akhirnya.
"Apa?!" tantang Ilham. "Marah? Ngamuk? Ayo sini!"
Lia menghela napas panjang, seolah Ilham adalah anak TK yang tantrum.
Dia merogoh tasnya. Semua orang tegang. Apa Lia bakal ngeluarin pisau? Semprotan merica?
Lia mengeluarkan... dompet.
Dia mengambil dua lembar uang seratus ribu. Dia berjalan mendekati Ilham, lalu menyelipkan uang itu ke saku kemeja Ilham yang terbuka.
"Buat beli sabun cuci muka," kata Lia datar. "Muka lo kusem banget, bikin gue sakit mata. Dan anggep aja itu ganti rugi gue nginjek tanah tempat lo berdiri."
Lia berbalik, mengibaskan rambutnya, dan berjalan pergi. "Rose, ayo masuk. Disini bau orang miskin."
Hening.
Satu tongkrongan Vanguards melongo.
Ilham menatap uang merah di sakunya. Tangannya gemetar.
"D-dia... dia..." Ilham gagap saking emosinya. "DIA NGASIH GUE DUIT?! DIA PIKIR GUE PENGEMIS?!"
"Lumayan Ham, dua ratus ribu," celetuk Mohan polos. "Bisa buat beli kuota sebulan."
"DIEM LO GAJAH!" Ilham meremas uang itu, mau membuangnya, tapi Harry menahannya.
"Jangan dibuang, Ham! Sayang! Kalau lo nggak mau, buat gue aja!" seru Harry.
"Bodo amat!" Ilham melempar uang itu ke muka Harry, lalu berteriak ke punggung Lia yang menjauh. "GUE NGGAK BUTUH DUIT LO! GUE BUTUH HARGA DIRI GUE BALIK!"
Lia sama sekali tidak menoleh. Dia masuk ke gerbang Pertiwi seolah tidak terjadi apa-apa.
Fattah melihat kejadian itu dan tertawa kecil, meski hatinya panas juga liat Roseanna yang sombongnya minta ampun.
"Menarik," gumam Fattah. "Mereka bener-bener ngajak perang total."
Fattah berbalik ke anak buahnya.
"Hapus muralnya," perintah Fattah.
"Lho? Kok dihapus Bos? Kan keren?" tanya Oliver bingung.
"Hapus," ulang Fattah. "Gue punya rencana lain. Kalau mereka main cantik, kita main kotor. Harry, lo punya kenalan anak IT di warnet kan?"
"Ada, Bos. Si Jeki. Kenapa?"
"Suruh dia bikin virus," kata Fattah dingin. "Kita bikin sistem sound system sekolah mereka konslet pas upacara bendera nanti senin. Gue mau liat Tuan Putri pidato pake suara chipmunk."
Anak-anak Rajawali menyeringai jahat.
Perang fisik? Lewat.
Perang mental? Lewat.
Sekarang waktunya sabotase harga diri.
Di Ruang Kelas 11 IPS 1 (Kelas Lia)
Lia duduk di bangkunya, menatap keluar jendela ke arah lapangan Rajawali. Dia bisa melihat Ilham yang masih ngamuk-ngamuk di bawah pohon.
Lia tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Lucu juga tuh cowok," gumam Lia pelan. "Gampang banget dipancing."
"Lo ngomong apa, Li?" tanya Raisa yang duduk di sebelahnya.
"Nggak," Lia kembali memasang wajah datar. "Cuma mikir, sepatu gue kotor. Harus beli baru nih."
Perang dingin di Jalan Anggrek baru saja naik level. Dan tidak ada tanda-tanda gencatan senjata dalam waktu dekat.