Pernikahan adalah sebuah impian setiap orang, tetapi bagaimana rasanya kalau kita menikah dengan orang yang salah? Perkenalan yang begitu singkat membuat Anindya tak mengenal jelas sosok Argantara suaminya. Niat hati ingin mendapatkan kebahagiaan, dia justru mendapatkan goresan luka yang dibuat oleh sang suami. Lantas, siapakah yang disalahkan dalam hal ini? Mungkinkah takdir tak berpihak kepadanya?
Anindya Saputri, wanita berusia 24 tahun yang harus merasakan luka dan penderitaan yang mendalam dalam pernikahannya. Pernikahan tak seperti dalam bayangannya. Dia telah salah dalam memilih suami. Argantara bukanlah suami yang baik untuknya. Banyak rahasia yang belum terungkap.
"Aku cape, harus terus terlihat bahagia di depan semua orang. Menutupi kelakuan kamu!"
-Anindya Saputri-
"Aku yakin kamu akan selalu mempertahankan aku dan tak akan pernah pergi meninggalkan aku."
-Argantara Wijaksono-
Rahasia apa yang dimiliki Argantara? Akankah Anindya tetap mempertahankan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran buah hati
"Aw, sakit," ringis Anin. Anin merasakan sakit di perutnya. Anin terus memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Kenapa ya?"
Anin mengira kalau perutnya sakit karena sebelumnya dia sempat memakan seblak yang sangat pedas, membuat perutnya sekarang melintir. Dia mencoba ke kamar mandi, tetapi tak juga menginginkan buang air besar. Rasa sakit yang dia rasakan semakin bertambah. Hingga akhirnya dia mencoba menghubungi suaminya.
Sekali, dua kali. Arga tetap saja tak mengangkatnya. Hingga akhirnya Anin mencoba menghubungi suaminya berkali-kali, berharap suaminya akan mengangkat telepon darinya. Namun, sayangnya suaminya tak juga mengangkatnya.
"Kemana sih kamu, Mas? Sejak tadi aku telepon tak diangkat. Kamu lagi ngapain sih Mas?"
Bagaimana suaminya mengangkat panggilan telepon darinya, saat ini suaminya sedang terlelap tidur karena baru saja selesai bercinta. Terlebih suaminya juga saat ini dalam keadaan mabuk, dan terlelap dalam pelukan wanita lain.
Anin terus meringis menahan rasa sakit yang dia rasakan. Saat itu jam menunjukkan pukul 03.00 pagi WIB. Anin terlihat mondar mandiri di dalam rumah, menahan rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Dia masih terus menghubungi suaminya, berharap suaminya akan mengangkat telepon dari-nya.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi WIB, orang tua Anin sudah terbangun dan melihat wajah anaknya yang sudah terlihat pucat.
"Kamu kenapa, Nin? Mules mau melahirkan?" tanya sang mama.
"Anin juga tak tahu Ma, sakitnya sudah dari jam 03.00 pagi. Menurut perhitungan, memang sudah waktunya sih," jelas Anin.
Tubuhnya sudah mulai merasa lemas, karena semalam tak bisa tidur. Dia sudah mulai merasa saat jam menunjukkan pukul 12.00 malam WIB, tetapi masih jarang saat itu. Hingga Anin mencoba mengabaikannya. Namun, saat jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Rasa sakitnya semakin menjadi. Membuat Anin membuka matanya.
"Ya sudah, kita siap-siap ke Bidan tempat kamu biasa periksa sekarang. Nando dimana? Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya sang Mama.
Anin menceritakan kalau dirinya sudah berusaha untuk menghubungi suaminya. Namun, sampai sekarang suaminya belum juga ada kabar. Anin tetap ingin di temani suaminya, saat melahirkan.
"Ya sudah, memangnya kamu mau terus menerus menunggunya? Kalau dia tak ada kabar juga, memangnya kamu mau melahirkan sampai menunggu dirinya pulang?" cerocos sang mama.
Anin mencoba menghubungi suaminya kembali, dia mencoba bertahan. Dia ingin suaminya bisa menemani dirinya melahirkan anak pertama.
"Mas, kamu kemana sih? Ini anak kamu sudah mau lahir. Cepat pulang!" ujar Anin yang seolah bicara dengan Arga.
Viona bangun lebih dulu, dan mendengar ponsel Arga yang terus berdering. Awalnya, Viona tak mempedulikannya. Karena saat itu dirinya masih sangat mengantuk. Namun, ponsel itu terus berdering. Hingga akhirnya Viona mencoba membangunkan kekasihnya, dan mengatakan kalau ponselnya terus berdering.
Nando perlahan membuka matanya, dan meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas.
"Anin? Kenapa ya?" ucap Arga saat melihat panggilan dari siapa. Arga mengerutkan keningnya, saat melihat panggilan telepon dari istrinya berkali-kali.
"Ya ampun, Mas. Kamu kemana saja sih? Dari jam 03.00 pagi WIB aku telepon kamu berkali-kali, tak di angkat-angkat. Kamu pulang sekarang ya! Anak kamu sudah mau lahir ini, aku ingin kamu menemani aku saat persalinan," ujar Anin.
"Iya, aku akan pulang sekarang. Tunggu ya! Secepatnya aku akan sampai. Kamu sabar ya, tahan dulu! Aku yakin kamu pasti kuat," sahut Arga.
Arga pamit kepada sang kekasih untuk pulang.
"Beb, aku pulang dulu ya! Anin bilang dia mau melahirkan. Aku harus mendampingi dia," ucap Arga, mencoba memberi pengertian kepada kekasihnya.
Kini Arga sudah dalam perjalanan pulang, menuju rumah mertuanya untuk menjemput istrinya dan membawa ke klinik bersalin tempat Anin biasa periksa.
"Tahan ya Sayang, Aku yakin kamu pasti melewatinya! Semangat," ucap Arga.
Mereka sudah dalam perjalanan menuju klinik bersalin tempat biasa Anin periksa. Anin tetap ingin melahirkan di Bidan, tak mau di rumah sakit. Tubuh Anin bertambah lemas, karena dia muntah-muntah.
Anin meringis kesakitan, saat perutnya berkontraksi. Rasa sakitnya semakin cepat. Rasanya sudah tak tahan ingin melahirkan. Arga mencoba menenangkan sang istri dan terus memberi semangat. Anin sosok wanita yang kuat.
Saat sampai, Anin langsung di periksa. Ternyata dia sudah pembukaan delapan, sudah mendekati kelahiran.
"Sakit, Mas," rengek Anin. Arga tampak mengelus perut istrinya yang sudah terlihat besar. Wajah Anin sudah terlihat pucat.
"Minum teh manis dulu ya! Biar kamu ada tenaga," ujar Arga yang saat itu mendampingi Anin melahirkan. Bukan hanya Arga, mamanya Anin pun ikut bersama mereka, untuk menemani anaknya. Memberi semangat.
Kondisi Anin semakin lemas, dia baru saja muntah kembali. Arga merasa tak tega melihat kondisi istrinya saat itu, yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Untungnya dia terbangun, kalau tidak. Dia tak bisa menemani istrinya melahirkan.
"Ayo Sayang, kamu pasti bisa!" Arga terus memberi semangat istrinya. Dia juga tampak menghapus keringat yang bercucuran di wajah istrinya.
Anin berjuang keras untuk melahirkan anaknya. Dia pada pendiriannya, ingin melahirkan secara normal. Hingga akhirnya suara tangis bayi terdengar. Bayi Arga dan Anin lahir dengan selamat, dan dalam keadaan sehat tanpa kurang satu pun. Bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.
"Terima kasih ya Sayang, karena kamu sudah berjuang untuk melahirkan anak kita. Aku sayang sama kamu," ucap Arga sambil mendaratkan kecupan di kening istrinya. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, karena sudah memberikan anak untuknya.
Bayi laki-laki itu, akan diberi nama Alvarendra yang berarti beruntung, berhati mulia. Anin berharap anaknya menjadi anak yang sholeh.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya bestie ku😍
betul2 sbg pembelajaran buat kita semua ...
lope lope 💙💙🌹🌹💙💙🌹🌹
mending kamu urusin Seli aja ... pengkhianat dan dj4l4n9 tuh kolaborasi yg bagus .... biar sama2 kena penyakit kelamin ...
Neng Gemoy udah sediain gergaji 🪚 buat potong si buyung nya Arga biar gak seenaknya celap celup ... kapak 🪓 buat sambit mulutnya biar gak asal jeplak berbohong ... dan obeng 🪛 buat colok matanya biar gak terus2an jelalatan ....
tinggal telpon ya Nin ... ntar Neng Gemoy bawain semua nya ... 💪💪
duuuh .. jangan sampe Anin bablas ketepu dgn penampilan Arga yg bisa bikin diabetes ....
gak rela kalo Anin juga luluh mau una inu sama lakik lucknut itu .... bekas celap celup sama dj4l4n9 ... 😢
sekarang bilang kata2 dan perlakuan kasar masih bisa diterima ... tapi tidak dgn selingkuh ....
besok2 .... selingkuh juga takapa, ya Nin ..
cape deeee ..🤦♀️
biarpun itu urusan domestik orang lain, tp belain donk pak kalo ada lakik berbuat kasar sama perempuan ... 🤦♀️
itu baru kelakuan nya buuu...
ibu bayangin Anin ... dapet juga kata2 dan perlakuan yg kasar ...
kalo menurut ibu, Anin harus bertahan juga ? pikiiiiiirrrr !!!
spt nya semua kata2 caci maki yg ada di seluruh dunia, habis diborong Arga ... 🤮😡