NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pagi yang Merona di Kamar Kos

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, tepat mengenai wajah Mei. Gadis itu mengerang kecil, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat—efek samping dari terlalu banyak meminum alkohol manis semalam di bar milik Liu.

Namun, rasa pusing itu seketika menguap digantikan oleh sengatan listrik kepanikan saat Mei merasakan lengan kekar seseorang melingkar di pinggangnya.

Mei menoleh dengan kaku. Di sampingnya, Chen sedang tertidur pulas dengan wajah yang begitu damai. Memory semalam pun perlahan berputar kembali di otaknya seperti rol film; tentang bagaimana ia meracau manja, menyatakan cinta sejak zaman Chen masih menjadi kuli, hingga ingatan bahwa mereka berakhir tidur di ranjang yang sama!

Wajah Mei seketika merah padam sampai ke ujung telinga. Antara malu, bingung, dan panik, ia langsung menggoyang-goyangkan bahu Chen dengan bar-bar.

"Chen! Chen, bangun! Bangun dulu!" seru Mei dengan suara tertahan.

Chen melenguh kecil, kelopak matanya perlahan terbuka. Sensasi hangat di matanya berdesir pelan, langsung menangkap ekspresi panik luar biasa di wajah kekasih barunya. Chen mendudukkan tubuhnya sambil mengucek mata. "Ada apa, Mei? Kenapa panik begitu?"

"Chen... kita... apa yang terjadi semalam?!" tanya Mei setengah berbisik, matanya melirik ke arah selimut yang menutupi mereka berdua. "Aku ingat aku mabuk dan meracau hal-hal memalukan... lalu kenapa kita bisa tidur bersama? Kita tidak... tidak melakukan itu, kan?"

Melihat wajah Mei yang sudah seperti kepiting rebus, Chen tidak bisa menahan tawa renyahnya. Ia menyentil pelan dahi Mei.

"Pikiranmu jauh sekali, Sayang," ujar Chen dengan senyuman jahil yang membuat Mei semakin salah tingkah. Chen kemudian memperbaiki posisi duduknya dan menjelaskan dengan jujur. "Semalam kamu mabuk berat sampai tidak bisa berdiri. Aku mengantarmu ke kamarmu, tapi saat mau kuselimuti, kamu malah mencengkeram bajuku erat-erat dan menangis tidak mau ditinggal sendiri. Karena tidak tega, aku terpaksa ikut berbaring di sampingmu sampai kamu tenang dan tertidur."

Chen menatap mata Mei dengan lekat dan tulus. "Kita masih memakai pakaian lengkap, Mei. Aku sangat menghormatimu, jadi kita belum melakukan apa pun yang di luar batas. Jangan khawatir."

Kelegaan dan Sarapan Bersama

Mendengar penjelasan runtut dari Chen, sebuah beban besar seolah terangkat dari pundak Mei. Rasa takutnya berganti menjadi rasa lega yang amat sangat, sekaligus rasa haru karena Chen terbukti sebagai pria sejati yang bisa menjaga kehormatannya bahkan di saat ia sedang tidak berdaya.

"Syukurlah..." gumam Mei pelan, mengembuskan napas panjang. Ia segera bangkit dari ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan. "Kalau begitu... aku siap-siap dulu ya. Aku mau mandi dan membuatkan sarapan pagi untuk kita."

Chen mengangguk sambil tersenyum manis. "Iya, silakan."

Melihat Mei masuk ke kamar mandi, Chen melirik ke arah pintu kamarnya yang tempo hari ia dobrak—yang kini sudah diperbaiki secara darurat. Pikirannya sempat melayang ke arah koper uang dari Liu dan kebebasan menambang dari Tuan Feng. Hidupnya benar-benar sudah berubah.

Chen berniat bangkit untuk langsung kembali ke kamar kosnya sendiri agar bisa berganti pakaian dan memberikan Mei privasi. Namun, tepat saat ia memegang gagang pintu, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Mei melongokkan kepalanya yang masih basah.

"Chen! Mau ke mana?" tanya Mei cepat.

"Ah, aku mau balik ke kamarku dulu, Mei. Mau mandi juga," jawab Chen jujur.

"Jangan dulu!" tahan Mei dengan nada agak manja. "Tunggu di sini saja sampai aku selesai masak. Kita harus sarapan pagi bersama hari ini. Aku tidak menerima penolakan."

Chen tertegun sejenak, lalu senyuman hangat terkembang di bibirnya. Perhatian kecil seperti ini adalah hal yang paling ia rindukan sejak hidup sebatang kara sebagai anak yatim piatu.

"Baiklah, Tuan Putri. Aku tunggu di sini."

Pagi itu, aroma nasi goreng dan telur mata sapi memenuhi kamar kos yang sempit. Di atas meja kayu usang, Chen dan Mei menikmati sarapan pagi pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Dunia di luar mungkin penuh dengan intrik batu giok dan musuh bisnis yang mengintai, tetapi di dalam ruangan itu, hanya ada kehangatan yang tulus di antara mereka berdua.

1
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!