NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Kuat

Tak ayal tubuhnya pun menjadi sasaran hidup kemarahan penduduk desa. Pukulan dan tendangan berulang kali mendera tanpa jeda. Tubuh Wira yang sudah penuh dengan luka dan mengeluarkan darah membuatnya pasrah akan nasib. Dia hanya bisa yakin jika nyawanya pasti tidak akan bisa selamat hari itu.

Namun tanpa disadari siapapun, tiba-tiba saja sesosok bayangan putih melesat dengan cepat dan menyambar tubuh Wira yang sudah tidak berdaya, membawanya pergi dari tempat itu.

Tak pelak orang-orang yang menghajar Wira pun celingukan mencari keberadaan pemuda tampan tersebut.

"Siapa yang sudah menyelamatkan maling itu? Ayo kita cari dia di seluruh penjuru desa ini!" kata lelaki pemilik lapak dengan suara keras.

20 orang lebih penduduk desa itupun akhirnya bergerak menyebar menyisir desa untuk mencari keberadaan Wira dan sosok yang menyelamatkannya.

Di suatu tempat, sosok yang telah menyelamatkan Wira ternyata membawa pemuda itu ke sebuah gubuk yang terletak di dalam hutan, tidak jauh dari desa.

Wira hanya bisa termenung memandang seorang lelaki tua berbaju putih dan berambut panjang putih yang menyelamatkannya. Dia tidak menyangka jika masih ada yang peduli dengan nyawanya.

"Kau tunggulah di sini sebentar!" ucap lelaki tua itu dengan senyum yang menghangatkan.

Tanpa menunggu jawaban keluar dari mulut Wira, lelaki tua itu bergegas keluar dari gubuk kecil tersebut.

Wira memandang kepergian lelaki tua tersebut dengan menahan rasa ngilu di sekujur tubuhnya.

Pikiran pemuda itu kembali melayang kepada ucapan pemilik lapak yang menuduh kedua orang tuanya sebagai pencuri.

"Benarkah orang tuaku adalah pencuri?" Wira membatin tak percaya.

Dia sadar, sewaktu kedua orang tuanya meninggal karena dihukum mati oleh penduduk desa, saat itu dia masih berumur 5 tahun, dan dia belum bisa mengerti betul tentang kebenaran tuduhan yang dialamatkan kepada kedua orang tuanya.

"Aku harus mencari jawabannya," ucapnya geram.

"Jawaban apa yang hendak kau cari, Wira Soka Witjaksana?" tanya lelaki tua yang berdiri di bawah pintu gubuk.

Wira menolehkan pandangannya ke arah pintu, dan melihat lelaki tua itu masuk ke dalam. Dia terkejut karena lelaki tua itu mengetahui namanya.

"Terima kasih karena Kakek telah menyelamatkanku. Tapi bagaimana Kakek bisa mengetahui namaku?" tanya Wira pelan.

Lelaki tua itu tersenyum ramah kepada Wira.

"Nanti aku akan menjelaskannya padamu bagaimana aku bisa mengetahui tentangmu. Sekarang katakan padaku, jawaban apa yang hendak kau cari?"

"Apakah benar kedua orang tuaku adalah pencuri, Kek?"

Lelaki tua itu menghela nafas panjang. Dia memejamkan matanya cukup lama sebelum kembali bertanya kepada Wira. "Apa kau percaya dengan tuduhan itu?"

Wira menggeleng pelan. Dia tidak bisa menjawab tuduhan itu benar atau salah. Tapi yang dia ingat, kedua orang tuanya hidup sangat sederhana, bahkan bisa dibilang sangat miskin. Seringkali mereka makan hanya sekali dalam sehari saking tidak adanya yang dimakan. Kalau tuduhan itu benar, tidak mungkin mereka hidup serba kekurangan.

"Yakinkan pikiranmu dan jawablah pertanyaanku, apa kau percaya dengan tuduhan itu?" tanya lelaki tua itu lagi.

"Aku tidak percaya, Kek," jawab Wira tegas.

Lelaki tua itu kembali tersenyum, "Sekarang kau makanlah buah pisang ini lalu beristirahatlah. Aku akan menyiapkan ramuan untuk menyembuhkan luka-luka yang kau alami."

Wira menerima buah pisang yang diberikan lelaki tua itu kepadanya. Kebetulan sekali dia sangat lapar karena hampir dua hari perutnya tidak terisi makanan. Dengan lahap dia memakan beberapa sisir buah pisang lalu merebahkan tubuhnya.

Tak berapa lama, lelaki tua itu memberikan ramuan yang terdapat dalam sebuah cangkir kecil kepada Wira. "Minumlah ramuan ini, setelah itu beristirahatlah agar ramuan itu bisa bekerja dengan maksimal."

Wira menerima cangkir kecil berisi ramuan itu dengan sedikit rasa ragu. Cukup lama dia memandangi ramuan itu dan tidak segera meminumnya.

"Wira, jika tuduhan terhadap orang tuamu itu tidak benar, apa kau ingin membersihkan nama mereka? Atau mungkin kau ingin membalas dendam?" tanya lelaki tua itu lagi.

Wira memandang lelaki tua di depannya itu dengan perasaan heran. Bagaimana mungkin dia membalas dendam, sedang dia tidak memiliki daya dan kekuatan untuk melakukannya.

"Keinginan itu selalu ada, Kek. Tapi aku sadar diri dengan keadaanku. Apalagi jika mereka tahu aku kembali ke sana lagi, mereka pasti akan langsung mencincangku," jawab Wira lemah. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya terasa semakin kuat menderanya. Namun tidak sedikitpun terdengar dia mengaduh kesakitan, karena rasa sakit adalah bagian dari hidupnya.

"Kalau tentang itu kau tenang saja. Aku akan memberimu sedikit pelatihan ilmu kanuragan. Meskipun kepala desa memiliki sebuah perguruan, aku yakin kau bisa mengatasinya." Lelaki tua itu mencoba meyakinkan Wira.

Pemuda berumur 20 tahun itu terlihat semringah dengan jawaban lelaki tua itu. Tapi dia juga dibuat bertanya-tanya, bagaimana bisa lelaki tua itu mengerti tentang kehidupannya. Dia menduga kalau lelaki tua di depannya itu mengetahui rahasia tentang tuduhan yang diberikan penduduk desa kepada orang tuanya.

Melihat adanya keraguan di mata Wira, lelaki tua tersebut kembali menyunggingkan senyumannya, "Ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan kepadamu, Wira. Tapi sekarang kau minum dulu ramuan itu. Beberapa organ dalammu mengalami kerusakan akibat seringnya kau dihajar, dan itu akan menyulitkanmu untuk menerima pelatihan yang nanti aku berikan."

Wira mengangguk dan langsung menenggak ramuan di dalam cangkir kecil tersebut sampai habis. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat dan membiarkan ramuan itu bekerja mengobati luka-lukanya.

Beberapa saat setelah ramuan itu memasuki lambungnya, dia merasakan sensasi hangat menyebar ke seluruh bagian dalam tubuhnya.

Tak berapa lama, rasa hangat tersebut secara perlahan berubah menjadi begitu panas dan membuat tubuh pemuda itu menggeliat hebat. Peluh bercucuran keluar dari setiap pori-pori di sekujur kulitnya hingga membuat pakaiannya basah kuyup. Pemuda itu kemudian pingsan setelah tidak kuat dengan rasa panas yang seolah membakar tubuhnya.

Waktu berlalu dengan begitu cepat. Keesokan paginya, pemuda itupun siuman dari pingsannya. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa ngilu di sekujur tubuhnya sudah benar-benar menghilang. Dia juga merasakan pernafasannya begitu longgar dan keseluruhan tubuhnya terasa ringan. Rasa takjub dan kagum akan khasiat ramuan yang sudah dia minum pun terlintas di pikirannya.

"Ternyata kau sudah siuman," kata lelaki tua yang baru saja memasuki gubuk. Dia memegang sebuah pakaian dan diberikannya kepada pemuda tersebut.

"Sekarang mandi dan bersihkan tubuhmu! Ada sebuah sungai kecil di belakang gubuk ini. Sesuai janjiku, nanti ada yang ingin aku ceritakan padamu," lanjutnya.

Wira melangkah keluar dari gubuk setelah menerima pakaian pemberian lelaki tua tersebut.

Tak berapa lama dia pun sudah kembali ke dalam gubuk setelah membersihkan tubuhnya yang penuh debu dan darah.

"Duduklah di sini!"

Wira mengangguk dan duduk di lantai yang beralas sebuah tikar pandan. Di depannya, sebuah ubi jalar yang masih mengepulkan uap terlihat sudah siap untuk disantap.

"Sambil menikmati makanan ini, ada yang ingin aku ceritakan padamu," kata lelaki tua itu memulai pembicaraan.

"Siapa Kakek sebenarnya? Dan kenapa Kakek kemarin menolongku?"

"Namaku Arisuta, Wira. Dan kenapa aku kemarin menolongmu adalah karena aku sebenarnya adalah guru dari ayahmu Arga Lesmana."

Wira terkejut dengan ucapan Arisuta. Dia tidak menyangka jika lelaki tua di depannya itu adalah guru dari ayahnya. Tapi kemudian pertanyaan demi pertanyaan pun segera muncul di pikirannya.

"Kalau ayahku adalah murid Kakek, kenapa ayah tidak melawan ketika penduduk desa menghukum mati ayah dan ibuku?"

"Itu karena demi menyelamatkanmu, Wira. Arga tidak ingin kau dibawa-bawa dalam masalah yang sebenarnya tidak dia lakukan."

Dahi Wira terlihat berkerut tebal. "Jadi ayah dan ibuku bukan pencuri?"

Arisuta menggeleng sambil tersenyum kecil. "Aku tahu betul sifat ayah dan ibumu itu seperti apa. Keduanya tidak akan pernah melakukan hal memalukan seperti itu. Lebih baik hidup melarat dari pada menjadi pencuri," jawabnya.

Wira mengepalkan kedua tangannya. Rasa geram dan ingin balas dendam atas kematian kedua orang tuanya langsung terpatri kuat di dalam pikirannya.

"Ada yang memfitnah kedua orang tuamu hingga membuat mereka dihukum mati," lanjut Arisuta.

"Siapa orang itu, Kek? Aku harus membersihkan nama kedua orang tuaku. Siapapun yang terlibat dalam fitnah keji itu akan aku hadapi!"

Arisuta tersenyum melihat tekad kuat yang dimiliki pemuda itu. Dia bisa melihat jika sifat Wira yang tegas dan berani.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!