NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni yang Tidak Direncanakan

Kontrakan Rio tidak pernah dirancang untuk menampung empat orang dewasa sekaligus.

Ruangannya yang sudah terasa penuh dengan satu manusia, satu kera, satu serigala, dan satu laba-laba kosmik sekarang ditambah dua orang yang masing-masing membawa kehadiran yang tidak proporsional dengan ukuran fisik mereka — Raymond yang berdiri di dekat meja dengan tangan terlipat, dan Adrian yang duduk di tepi kasur dengan punggung tegak dan ekspresi seseorang yang sudah terlalu lama hidup di ruangan kecil untuk merasa tertekan oleh ruangan kecil lain.

Rio membuka pintu untuk Arinda pukul tujuh malam.

Arinda masuk dengan jaket lapangan abu-abu gelapnya, menatap sekeliling kamar dengan cara profesionalnya yang sudah Rio kenali — cepat, sistematis, tidak melewatkan detail apapun. Menatap Wukong di pundak Rio. Menatap serigala yang berbaring di pojok jendela. Menatap Raymond di dekat meja.

Kemudian matanya berpindah ke sosok di tepi kasur.

Berhenti.

---

Tiga detik.

Lima.

Tujuh.

Arinda Kusuma — investigator senior yang dalam dua belas tahun karirnya tidak pernah sekalipun kehilangan kontrol atas ekspresinya di situasi lapangan apapun, yang bahkan saat menghadapi dungeon break kelas A tetap memberikan laporan dengan suara yang terukur dan tangan yang tidak gemetar — berdiri di ambang pintu kontrakan Rio dengan ekspresi yang tidak masuk dalam kategori profesional manapun yang pernah ia latih.

Adrian mengangkat matanya dari lantai.

Menatap Arinda.

Tidak berkata apapun.

---

"Kamu bajingan," kata Arinda.

Suaranya keluar pelan. Sangat pelan. Dengan cara kalimat yang sudah disimpan terlalu lama di tempat yang terlalu dalam akhirnya menemukan jalan keluarnya dan sudah tidak punya energi untuk keluar dengan keras — hanya pelan, langsung, tepat sasaran.

"Aku kira kamu mati."

Adrian menatapnya beberapa detik.

"Selamat bertemu lagi juga," jawabnya.

---

Di dekat meja, Raymond menoleh ke arah yang lain dengan sangat tiba-tiba — gerakan yang jelas merupakan usaha untuk tidak tertawa yang tidak sepenuhnya berhasil karena sudut bibirnya bergerak dengan cara yang tidak bisa dikendalikan oleh dua puluh dua tahun latihan lapangan sekalipun.

Rio menutup pintu kontrakannya, melangkah masuk, dan duduk di kursi meja belajar — posisi yang menempatkannya cukup jauh dari ketiga orang ini untuk memberi mereka ruang tapi cukup dekat untuk tidak ketinggalan apapun.

Wukong di pundaknya mencicit sangat pelan.

*Ini lebih menarik dari yang kamu prediksi.*

"Diam," bisik Rio.

---

Arinda berjalan masuk sepenuhnya, menutup pintu di belakangnya, dan duduk di satu-satunya kursi tersisa — kursi plastik yang Rio taruh di dekat lemari untuk keperluan yang tidak pernah benar-benar jelas tapi selalu ada di sana.

Duduk di depan Adrian dengan jarak dua meter di antara mereka.

Menatapnya lagi dengan cara yang berbeda dari tadi — sudah bukan kejutan, sudah bukan kelegaan, sudah kembali ke sesuatu yang lebih terkendali tapi tidak sepenuhnya terkendali karena lapisan paling atasnya sudah keburu terbuka di ambang pintu tadi dan butuh waktu untuk dipasang kembali.

"Tiga belas tahun," kata Arinda.

"Iya."

"Kamu baik-baik saja?"

"Lututnya tidak bagus," kata Rio dari kursi meja belajar sebelum Adrian sempat menjawab.

Arinda melirik Rio. Kemudian kembali ke Adrian. "Lututnya tidak bagus."

"Anak saya terlalu efisien dalam menyampaikan informasi," kata Adrian dengan nada datar yang mengandung sesuatu yang sangat tipis di lapisan paling bawahnya.

"Dari siapa dia dapat itu?"

"Bukan dari saya."

"Bohong."

---

Raymond akhirnya menyerah pada pertarungannya melawan sudut bibirnya dan duduk di tepi meja dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan bahwa tertawa dalam situasi ini adalah respons yang paling jujur dan ia sudah terlalu tua untuk berpura-pura jujur itu tidak ada.

"Kalian berdua masih sama," kata Raymond. "Ini meyakinkan sekaligus melelahkan."

"Kamu juga masih sama," balas Arinda tanpa menoleh dari Adrian. "Masih tertawa di waktu yang tidak tepat."

"Waktunya tepat."

"Tidak tepat."

"Sangat tepat."

---

Rio mengamati pertukaran itu dari kursi meja belajarnya.

Tiga orang yang sudah saling kenal lebih lama dari usia Rio, duduk di kamar kontrakannya yang sewanya murah dan pintunya masih miring, berbicara dengan cara yang menunjukkan bahwa tiga belas tahun jarak tidak menghapus dinamika yang sudah terbentuk jauh sebelum jarak itu ada.

Seperti bahasa yang tidak pernah benar-benar dilupakan meskipun sudah sangat lama tidak digunakan — butuh beberapa kalimat untuk menemukan ritmenya lagi, tapi begitu ritme itu kembali, ia kembali sepenuhnya.

Di pojok jendela serigala membuka matanya, menatap tiga orang di ruangan itu bergantian, kemudian menutup matanya kembali dengan ekspresi yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa manusia kira-kira berbunyi *bukan urusanku tapi menyenangkan untuk didengar.*

---

"Arinda." Adrian yang pertama mengubah nada percakapan — dari sesuatu yang mengalir kembali ke sesuatu yang lebih terstruktur, dengan cara seseorang yang sudah membiarkan momen tadi menjadi miliknya sendiri dan sekarang memutuskan bahwa ada hal lain yang juga perlu waktunya. "Berapa banyak yang sudah kamu kumpulkan?"

Arinda tahu persis apa yang dimaksud tanpa perlu dijelaskan.

"Tiga tahun data." Nada profesionalnya kembali — tapi berbeda dari nada profesional yang Rio kenal dari gang kontrakan atau taman kota. Lebih ringan. Lebih seperti nada seseorang yang berbicara dengan orang yang tidak perlu diukur jaraknya. "Pola keputusan anomali. Kasus yang ditutup dari atas tanpa justifikasi. Transfer dana yang tidak masuk dalam anggaran resmi. Dan satu file yang harusnya sudah dihapus tapi tidak jadi — file yang pertama kali membuat saya yakin bahwa ada sesuatu yang sangat salah di puncak asosiasi."

"File tentang saya."

"File tentang kamu."

Adrian mengangguk pelan. "Cukup untuk dibawa ke publik?"

"Belum." Arinda tidak melembutkan jawabannya. "Cukup untuk membuat seseorang yang mau mendengarkan merasa perlu bertanya lebih jauh. Tidak cukup untuk membuat orang yang tidak mau mendengarkan tidak punya alasan untuk mengabaikannya."

"Bedanya?"

"Bedanya adalah konteks." Arinda menatap Adrian langsung. "Kamu adalah konteksnya. Selama kamu tidak ada secara resmi — tidak ada foto, tidak ada kesaksian, tidak ada kehadiran yang bisa diverifikasi — data saya hanya data. Angka yang bisa dijelaskan ulang oleh siapapun yang cukup terampil membangun narasi."

"Dan sekarang saya ada."

"Sekarang kamu ada."

---

Keheningan singkat.

Di luar jendela suara gang sempit yang sudah mulai sepi di malam hari — langkah kaki yang sesekali, suara TV tetangga lantai satu, angin yang bergerak di antara bangunan-bangunan yang terlalu rapat.

Rio menatap tiga orang di kamarnya.

Ada sesuatu yang terasa seperti melihat puzzle yang potongan-potongannya selama ini tersebar di tempat yang berbeda — satu di kontrakan bawah tanah, satu di kantor nasional lantai dua puluh tiga, satu di database asosiasi yang Arinda akses setiap hari — akhirnya diletakkan di permukaan yang sama untuk pertama kalinya.

Tidak lengkap. Masih jauh dari lengkap.

Tapi sudah cukup untuk melihat bahwa gambar yang sedang terbentuk jauh lebih besar dari yang masing-masing mereka lihat selama ini dari potongannya sendiri.

"Ada satu hal lagi," kata Rio dari kursi meja belajarnya.

Ketiga orang itu menoleh.

"Sistem menyimpan rekaman." Rio menatap ketiganya bergantian — Adrian yang sudah tahu, Raymond yang sudah tahu, Arinda yang belum. "Setiap keputusan yang pernah diambil oleh siapapun yang pernah bersentuhan dengan sistem ini. Termasuk perintah yang diberikan tiga belas tahun lalu untuk menghapus semua catatan tentang ayah saya."

Arinda menatap Rio.

Kemudian menatap Adrian.

"Rekaman yang tidak bisa dimanipulasi," kata Arinda pelan — bukan pertanyaan, lebih seperti seseorang yang sedang memverifikasi sesuatu yang baru saja berubah ukurannya di dalam kepalanya.

"Sistem tidak bisa dibohongi," jawab Adrian.

Arinda diam selama tiga detik.

Kemudian menghembuskan napas — panjang, pelan, dengan cara seseorang yang baru saja menemukan potongan terakhir dari sesuatu yang sudah tiga tahun tidak lengkap dan baru sekarang menyadari bahwa potongan itu sudah ada dari awal, hanya tersimpan di tempat yang tidak pernah ia perkirakan.

Di dalam sistem yang dibawa anak tujuh belas tahun berambut acak-acakan yang monyetnya mengalahkan harimau Kevin di lapangan sekolah.

"Baik," kata Arinda akhirnya. Satu kata yang dalam konteks ini mengandung keputusan yang sudah tidak bisa ditarik kembali. "Kalau begitu kita perlu bicara tentang langkah selanjutnya."

Raymond mengangguk dari tepi meja.

Adrian menatap lantai sebentar kemudian mengangkat kepalanya.

Dan Rio — yang duduk di kursi meja belajar kontrakannya yang sewanya murah, dengan kera di pundak kanan dan laba-laba kosmik di bahu kiri dan serigala yang pura-pura tidur di pojok jendela — menyadari bahwa malam ini sesuatu yang tidak bisa diberi nama yang terlalu rapi baru saja terbentuk di kamar yang tidak pernah dirancang untuk menampungnya.

Bukan tim.

Belum tim.

Tapi empat orang yang masing-masing sudah terlalu lama membawa potongannya sendiri sendirian, akhirnya duduk di ruangan yang sama dan mulai meletakkan potongan-potongan itu di permukaan yang sama.

Untuk pertama kalinya.

---

Wukong mencicit satu kali dari pundak Rio.

Nada yang Rio terjemahkan dengan sangat jelas.

*Sudah waktunya.*

Malam itu mereka menyusun langkah pertama. Dan langkah pertama ternyata bukan konfrontasi, bukan pengumpulan bukti tambahan, bukan gerakan besar yang dramatis. Langkah pertama adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana — dan jauh lebih berbahaya dari yang sederhana manapun yang pernah mereka rencanakan sebelumnya.*

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!