Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 5 Misteri Wanita Berkimono Ungu|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara tidak tahu persis dimana saat ini dia berada.
Hal pertama yang ia sadari adalah pohon di depannya, sebuah pohon ginkgo raksasa berdiri di tengah hamparan tanah luas. Daun-daun kuning keemasannya berguguran satu per satu, menutupi tanah tanpa suara.
Bara menunduk. Kakinya kini telanjang, terkubur hingga mata kaki dalam tumpukan daun kering yang terasa renyah. Jas hitamnya kini hilang, berganti dengan pakaian yang terasa asing di tubuhnya—kini dirinya memakai sebuah hakama hitam dan haori berwarna navy.
"Di mana ini?" gumamnya.
Lalu, sebuah senandung samar pelan terdengar.
Bara mendongak. Di bawah pohon itu, seorang wanita berdiri membelakanginya. Kimono ungunya menjuntai menyentuh tanah. Di lengannya, ia menimang bungkusan kain putih—seorang bayi. Bayi itu tidak menangis, hanya mengeluarkan rintihan halus yang nyaris tak terdengar.
Setiap kali rintihan itu muncul, si wanita akan mengayunkan lengannya perlahan, terus menyanyi dalam bahasa Jepang kuno yang nada nyanyiannya terasa menyayat.
Bara melangkah mendekat. Desir daun di bawah kakinya tidak membuat wanita itu menoleh sedikitpun. Saat jarak mereka hanya tinggal satu jangkauan tangan, kabut tipis mulai merayap di antara mereka. Bara mengangkat tangan, jemarinya nyaris menyentuh pundak wanita itu, sebelum sebuah kata meluncur dari bibir si wanita.
"Aniue..."
...***...
Bringgg! Bringgg! Bringgg!
Bara tersentak bangun dari mimpinya dengan napas yang tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya hingga kaos dalam yang ia kenakan terasa lembap. Tangannya mencengkeram pinggiran kasur dengan urat-urat yang menonjol.
Bara mengambil ponselnya. Layar menyala dengan nama: Davian Gordi Arthayasa.
Dia menekan tombol hijau, memulai panggilan telepon dengan asisten kesayangannya itu.
"Kamu tahu jam berapa sekarang?" ucap Bara dengan suara serak.
"Jam... dua lewat, Wakadanna?" jawab Davian di seberang sana.
"Pagi, Davian. Selamat pagi," potong Bara ketus.
"M-maaf. Saya baru menemukan informasi tentang keluarga Adama."
Bara memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. "Apakah informasi itu tidak bisa menunggu sampai matahari terbit?"
"Sebenarnya bisa. Tapi saya pikir Wakadanna ingin tahu soal calon mertua—"
Klik. Bara memutus sambungan teleponnya. Dua detik kemudian, ponsel itu kembali berdering.
Davian langsung meracau ketakutan saat Bara mengangkatnya. "Wakadanna, saya bisa jelaskan!"
"Kamu mau mati? Aku tidak melihat lucunya leluconmu jam dua pagi."
"Baik, Wakadanna. Maaf."
"Besok. Jangan telepon lagi sebelum matahari terbit atau aku pindahkan kamu ke divisi lapangan di Surabaya!"
Bara melempar ponselnya ke kasur. Ia mencoba tidur kembali, namun kepalanya mendadak kepikiran soal mimpi barusan.
"Aniue... Siapa dia?"
Belum sempat menutup matanya untuk melanjutkan tidur, ia mendengar suara langkah kaki samar dari koridor luar kamarnya yang membuatnya kembali terjaga.
Krek...
Rahang Bara menegang. Jam kini menunjukkan hampir pukul tiga pagi.
Otaknya yang masih setengah sadar langsung dipenuhi kemungkinan buruk.
"Maling?" gumamnya pelan.
Ia langsung bangkit dari kasur dengan wajah kusut dan emosi yang belum reda gara-gara ditelepon Davian. Tanpa pikir panjang, Bara berjalan cepat ke pintu lalu membukanya mendadak.
Brak!
Seseorang di luar langsung terlonjak kaget. "Astaga naga!"
Ashura membeku di tempat sambil memeluk sekantong kresek cemilan Alfamart dan dua botol minuman dingin dari dalam kulkas.
Bara menatapnya datar. "..."
Ashura berkedip beberapa kali. "Kak Bara belum tidur?"
"Kau ngapain jam segini?"
Ashura langsung menyembunyikan kantong plastiknya ke belakang punggungnya seperti anak kecil ketahuan mencuri. "Hehehe... Lapar, Kak."
"Jalan kayak mau maling."
"Aku cuma nggak mau sampai ketahuan Mama Oliv."
Bara mengusap wajahnya kasar karena lelah. "Masuk kamar."
"Aku memang mau masuk kamar, Kak."
"Maksudku sekarang juga. Terus jangan cuma masuk doang! Tapi tidur!"
Ashura mengerucutkan bibir. "Padahal aku cuma mau maraton one piece."
"Kalau lima menit lagi kau masih bangun..." Bara menatapnya dingin. "WiFi mansion aku matikan!"
Ashura langsung syok parah. "Kak Bara jahat!"
"Empat menit, Ashura..."
Ashura langsung panik dan buru-buru berlari kecil menuju kamarnya sambil memeluk camilan.
"Dasar diktator!"
Bara hanya mendengus pelan melihat tingkahnya. Setelah koridor kembali sunyi, ia akhirnya menutup pintu kamarnya lagi. Namun sebelum kembali ke kasur, ia sempat berdiri diam beberapa detik.
Rumah itu mendadak terasa jauh lebih tenang dibanding isi kepalanya sendiri. Bara mengusap wajahnya kasar sebelum kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Selimut ditarik asal sampai pinggang, sementara matanya menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
Hari itu benar-benar melelahkan baginya. Mulai dari pertemuan dengan gadis keluarga Adama, Davian yang menyebalkan, Ashura yang buat drama tengah malam, ditambah mimpi aneh yang barusan mengganggu pikirannya.
"Hah..." Bara menutup matanya pelan. "Kalau begini terus, lama-lama aku bisa nyusul Ayah ke surga lebih cepat." Kalimat itu keluar begitu saja seperti umpatan lelah di tengah malam.
Beberapa detik kemudian, ia mendecakkan lidah pelan. "Sial... Bahkan di surga mungkin Ayah juga bakal nyuruh aku buat kerja."
Dengan sisa tenaga dan rasa kesal yang belum hilang sepenuhnya, Bara akhirnya mencoba memejamkan mata lagi, memanfaatkan waktu tidur yang tersisa sebelum pagi menjelang datang.
...***...
Pagi harinya....
Bara keluar dari mansion dengan jas maroon dan rambut yang masih sedikit basah. Sementara mobilnya sudah menunggu di halaman depan mansion.
"Ke Soryu Group," katanya sebelum sopirnya sempat bertanya.
Mobil itu akhirnya melaju. Jakarta pagi itu sudah mulai macet, tapi Bara tidak peduli. Bara duduk di kursi belakang dengan satu tangan di dagunya dan matanya menatap ke arah jendela, tapi tidak benar-benar melihat apa pun di luar sana.
Dia kemudian mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka browser. Ia mulai mengetik: Gingko tree meaning Japanese.
Hasil pencarian muncul dengan cepat. Bara mulai membaca sekilas.
"Pohon suci, simbol ketahanan dan harapan, sering ditanam di area kuil, daunnya yang bercabang dua melambangkan dualitas dan cinta yang tidak terpisahkan meski tampak berbeda."
Bara mendengus lalu menutup browsernya.
"Omong kosong," gumamnya.
Tapi ponselnya tidak dia masukkan kembali ke dalam saku. Dia pegang terus sampai mobilnya tiba di kantor.
...-Soryu Group-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara memasuki ruang kerjanya pada pukul 07.15.
Davian sudah berdiri di depan meja dengan tablet di tangan dan lingkaran hitam di bawah matanya—tanda seseorang yang begadang mengumpulkan data dan terlalu bangga dengan hasilnya untuk mengakui bahwa dia mengantuk.
"Wakadanna, selamat pagi," sapanya, sedikit membungkuk.
"Kamu masih hidup ternyata," kata Bara.
"Masih, Wakadanna. Meskipun hampir tidak setelah dimarahi anda jam 2 pagi."
"Aku tidak marah, DAVIAN."
"Wakadanna sempat bilang kalau saya tidak dibayar untuk berpikir."
"Itu bukan marah. Itu fakta." Bara duduk di kursi eksekutifnya dan membuka laptop.
"Jadi.. Apa yang kamu temukan?"
Davian menarik napas pendek, menggeser layar tabletnya.
"Adama Group didirikan oleh Ariessandy Adama sekitar dua puluh lima tahun lalu. Awalnya distribusi sembako skala kecamatan. Kemudian mulai tumbuh perlahan, lalu sekitar sepuluh tahun lalu tiba-tiba melesat dalam kurun waktu hanya lima tahun mengakuisisi lima perusahaan distribusi kecil dan jadi pemain utama di Jakarta."
"Ayahnya Nana?" tanya Bara.
"Ya. Pria yang kita temui kemarin."
Bara mengangguk. "Lanjut."
"Yang menarik adalah..." Davian membuka tab baru di tabletnya. "Sebelum dua puluh lima tahun lalu, Keluarga Adama tercatat menjalankan usaha kecil-kecilan yaitu distribusi sembako skala kecamatan. Tapi tidak ada yang menyangka mereka akan berkembang pesat. Dia seolah muncul secara tiba-tiba dengan modal yang, kalau melihat kondisi ekonomi pada saat itu, tidak mungkin dikumpulkan dari gaji karyawan biasa."
Bara berhenti mengetik. "Maksudmu ada investor tersembunyi?"
"Atau identitas sebelumnya berbeda. Mungkin dia pakai identitas samaran." Davian mengangkat bahu sedikit. "Saya belum bisa konfirmasi yang mana."
Ruangan itu hening sebentar. Bara mengambil rokok dari saku jasnya tapi tidak menyalakannya. Hanya memutarnya di antara jari-jarinya.
"Istrinya bagaimana?"
"Anzeli Adama. Nama gadisnya tidak ditemukan di mana pun—kemungkinan memang dari keluarga biasa yang tidak punya rekam jejak publik. Tapi ada yang aneh." Davian menggeser lagi. "Sepuluh tahun lalu, tepat ketika Adama Group mulai melesat, Anzeli menghilang dari semua pemberitaan. Sebelumnya dia cukup aktif di acara amal dan komunitas pebisnis. Tapi setelah itu tidak ada satupun foto atau artikel yang menyebut namanya lagi."
"Menghilang karena apa?"
"Beberapa sumber menyebut sakit. Tapi tidak ada konfirmasi resmi. Dan tidak ada catatan rumah sakit yang bisa diverifikasi kebenarannya."
Bara menaruh vape-nya di atas meja. "Anaknya?"
"Anaknya ada dua." Davian menaikkan satu jari. "Pertama, putra mereka bernama Shu Hades Adama. Laki-laki, dua puluh tiga tahun, terdaftar sebagai pewaris utama Adama Group di beberapa dokumen internal yang saya temukan. Profilnya cukup lengkap dari pendidikan, riwayat magang di perusahaan keluarga, beberapa kali dia juga muncul di acara bisnis mendampingi sang ayah."
"Dan yang kedua?"
Davian berhenti sebentar. Matanya turun ke tabletnya, lalu kembali ke Bara.
"Adik perempuannya. Tidak ada data dan namanya tidak tercatat, usia tidak diketahui. Di dokumen keluarga yang saya temukan, dia hanya disebut sebagai 'anak kedua' tanpa identitas lebih lanjut." Davian mengerutkan dahi. "Seperti sengaja dihapus. Atau memang tidak pernah didaftarkan."
Bara menatap Davian tanpa berkedip selama beberapa detik.
"Anak perempuan keluarga kaya bagaimana bisa tidak terdaftar di mana pun?"
"Saya juga tidak tahu, Wakadanna."
"Dan kamu baru menemukannya sekarang?"
"Saya baru tahu ada anak kedua sekarang, Wakadanna. Nana gadis yang kita temui kemarin tidak pernah disebut di dokumen publik apapun."
Bara kemudian berdiri. Berjalan ke jendela kaca yang membentang dari lantai ke langit-langit. Di bawahnya, Jakarta bergerak dalam kebisingan pagi yang tidak pernah benar-benar berhenti.
"Jadi Nana bukan hanya anak orang kaya yang muncul random secara tiba-tiba. Tetapi dia juga adalah anak yang sengaja tidak ada." Bisik Bara dalam hati.
"Cari lebih dalam," kata Bara tanpa menoleh. "Tentang Ariessandy Adama. Identitas aslinya sebelum dua puluh lima tahun lalu. Dan koneksinya ke apa pun yang berhubungan dengan..." Dia berhenti. "...dengan meninggalnya Papa."
Di belakangnya, Davian terdiam sebentar.
"Ayah Wakadanna?"
"Ya."
Davian tidak bertanya lebih lanjut. Jari-jarinya bergerak di atas layar tabletnya, mencatat perintah itu sebagai prioritas pertama.
"Baik, Wakadanna."
"Dan Davian."
"Iya, Wakadanna?"
"Jangan telepon aku jam 2 pagi lagi."
Davian menahan senyum dengan susah payah. "Lain kali saya akan tunggu sampai jam 3."
Bara menoleh. Menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
"Kamu pikir itu lucu."
"Saya pikir saya masih hidup, Wakadanna. Jadi mungkin iya."
Bara menatapnya dua detik lagi. Lalu berbalik ke menghadap jendela. Di sudut bibirnya, hampir tidak terlihat, ada lengkungan yang sangat tipis. Bara berdiri diam dengan tangan di saku jasnya, menatap pantulan samarnya sendiri di kaca.
Pria berusia dua puluh tiga tahun. Berdarah Jepang-Belanda. Wajah yang orang sebut tampan tapi menyimpan terlalu banyak beban untuk seorang seusianya.
Di kepalanya, dua hal terus berputar bersamaan dan tidak mau berhenti. Anak perempuan keluarga Adama yang datanya tidak ada di mana-mana. Dan kata yang diucapkan wanita berkimono ungu di bawah pohon ginkgo tadi malam.
Aniue...
Kenapa dia memanggilku dengan sebutan itu? Apa yang sosok itu inginkan dariku, dan siapa dia?
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉