meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Balik Kaca
Tiga bulan berlalu sejak Meylani resmi menjabat sebagai National Marketing Director. Jakarta telah menelanjanginya, mengujinya, dan pada akhirnya, membentuknya menjadi versi dirinya yang paling tangguh. Rutinitasnya kini adalah siklus tanpa henti: bangun pukul lima pagi, olahraga ringan, rapat strategis pukul delapan, presentasi klien pukul siang, evaluasi tim pukul sore, dan strategi digital hingga larut malam. Ia jarang pulang sebelum pukul sembilan malam. Apartemennya di Kuningan hanya menjadi tempat tidur, bukan rumah. Rumah sebenarnya kini ada di kantor, di antara tumpukan laporan dan layar monitor yang menyala terang.
Namun, kesuksesan memiliki harga yang mahal. Harga itu bernama kelelahan kronis.
Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta, mengubah jalanan Sudirman menjadi sungai kecil yang macet total. Meylani terjebak di dalam mobil dinasnya, sebuah sedan hitam mewah milik perusahaan, stuck di kemacetan dekat Bundaran HI. Jam menunjukkan pukul 20.30 WIB. Perutnya keroncongan, kepalanya berdenyut nyeri akibat dehidrasi dan stres. Ia baru saja menyelesaikan negosiasi alot dengan investor asing untuk proyek mixed-use terbesar perusahaan di kawasan BSD City.
Ponselnya bergetar. Bukan dari ibu, bukan dari Rina, tapi dari Dimas, asistennya.
"Mbak, Bapak CEO minta revisi deck presentasi untuk besok pagi. Dia bilang datanya kurang 'menohok'. Deadline jam 7 pagi."
Meylani menutup matanya, menghela napas panjang yang terasa seperti mengeluarkan seluruh oksigen dari paru-parunya. Revisi dadakan. Selalu saja ada revisi dadakan. Ia merasa seperti hamster yang berlari di atas roda, berputar-putar tanpa pernah benar-benar sampai ke mana-mana, meski kakinya sudah lecet dan napasnya tersengal-sengal.
"Baik, Dimas. Kirimkan file mentahnya ke email saya. Saya akan kerjakan di mobil," balas Meylani, suaranya terdengar datar dan mekanis.
Ia membuka laptopnya di pangkuan, mengetik dengan jari-jari yang kaku. Lampu rem mobil-mobil di depannya berkedip-kedip merah, menciptakan pola hipnotis yang justru membuat pusing. Di luar jendela, orang-orang berlarian mencari shelter dari hujan, tertawa-tawa sambil berbagi payung, atau sekadar berdiri menikmati air hujan. Mereka tampak hidup. Meylani merasa seperti robot yang diprogram untuk bekerja.
Tiba-tiba, tubuhnya meriang. Dingin yang menusuk tulang menjalar dari punggung ke leher. Kepalanya semakin berat. Pandangannya mulai kabur. Teks di layar laptop tampak berganda.
Meylani, kamu sakit, bisik suara kecil di kepalanya. Berhenti sebentar.
Tidak bisa, jawab suara lain yang lebih keras, suara ambisi dan ketakutan akan kegagalan. Jika kamu gagal besok, reputasimu hancur. Kamu harus membuktikan bahwa wanita dari Semarang ini layak berada di puncak.
Ia memaksakan diri untuk terus mengetik. Tapi tiba-tiba, dunia di sekitarnya berputar hebat. Laptopnya jatuh dari pangkuannya, membanting lantai mobil. Meylani mencoba mengambilnya, namun tangannya lemas. Gelap. Kesadaran itu menariknya ke bawah, seperti tenggelam ke dasar laut yang dingin dan gelap.
Meylani terbangun dengan rasa sakit kepala yang membelah. Cahaya putih yang silau menyinari matanya. Suara bip-bip teratur terdengar di telinganya. Aroma antiseptik yang khas menusuk hidungnya.
Ia membuka mata perlahan. Langit-langit putih. Selang infus terpasang di lengan kirinya. Ia berada di ruang rawat inap VIP sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.
"Mbak Meylani? Akhirnya sadar juga."
Suara Dimas terdengar lega. Meylani menoleh. Dimas duduk di kursi samping tempat tidur, wajahnya tampak khawatir. Di sebelahnya, ada Bu Sinta yang kini telah dipromosikan menjadi konsultan senior dan sedang berkunjung ke Jakarta untuk audit cabang.
"Apa... apa yang terjadi?" tanya Meylani, suaranya serak dan parau. Tenggorokannya kering sekali.
"Mbak pingsan di mobil dinas," jelas Dimas. "Supir panik dan langsung bawa Mbak ke IGD terdekat. Dokter bilang Mbak mengalami dehidrasi berat, kelelahan ekstrem, dan tekanan darah rendah. Plus, ada indikasi awal maag akut karena pola makan yang tidak teratur."
Meylani mencoba duduk, namun Bu Sinta menahannya lembut. "Jangan dulu, Lan. Istirahat. Tubuhmu sudah berteriak minta tolong selama berminggu-minggu, tapi kamu tutup telinga."
Bu Sinta menatap Meylani dengan tatapan seorang mentor yang peduli, namun tegas. Wajah wanita paruh baya itu menunjukkan kekhawatiran tulus, tanpa sedikit pun pengetahuan tentang masa lalu pribadi Meylani. Bagi Bu Sinta, Meylani adalah aset berharga perusahaan yang hampir rusak karena manajemen diri yang buruk.
"Kamu ini, Mey" kata Bu Sinta sambil menggelengkan kepala pelan. "Dulu di Surabaya, kamu masih punya keseimbangan. Kamu masih sempat jalan-jalan ke perpustakaan, masih sempat masak sendiri. Sekarang di Jakarta, kamu jadi mesin. Kamu lupa kalau mesin juga perlu istirahat, butuh oli, butuh perawatan. Kalau dipaksa terus, dia akan rusak total."
Meylani terdiam. Kata-kata Bu Sinta menamparnya lebih keras daripada diagnosis dokter. Ia menyadari betapa ia telah mengabaikan sinyal-signal tubuhnya demi ambisi.
"Aku punya tanggung jawab, Bu," bela Meylani lemah, meski argumennya terdengar kosong bahkan di telinganya sendiri. "Proyek BSD City sangat krusial. Kalau saya tidak menyelesaikannya..."
"Proyek itu akan tetap berjalan meski kamu istirahat dua hari," potong Bu Sinta tegas. "Perusahaan ini besar, Lan. Ada banyak orang kompeten di sini. Tapi kalau kamu sakit parah, siapa yang akan menggantikan peranmu sebagai anak bagi orang tuamu? Sebagai sahabat bagi Rina? Sebagai diri sendiri bagi Meylani? Perusahaan bisa mencari direktur lain. Tapi orang tuamu, sahabatmu, dan dirimu sendiri... mereka tidak bisa mengganti kamu jika kamu hancur."
Kalimat itu menghujam dada Meylani. Ia merasa telanjang. Selama ini, ia berpikir bahwa kesuksesannya adalah bukti cintanya pada keluarga, bahwa uang dan jabatan adalah cara terbaik membahagiakan mereka. Ternyata, yang mereka butuhkan hanyalah Meylani yang sehat dan hadir secara utuh, bukan Meylani yang sukses namun hancur di rumah sakit.
Dimas menyerahkan ponsel Meylani. "Ada beberapa pesan masuk, Mbak. Dari Ibu, dari Pak CEO, dan... dari seseorang yang mengaku teman lama Mbak."
Meylani mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Pesan dari ibunya penuh kekhawatiran. Pesan dari Pak CEO singkat: "Get well soon. Presentasi besok ditunda. Fokus kesehatan." Ternyata, atasan pun manusia yang punya empati.
Dan kemudian, ada satu pesan dari nomor yang tidak dikenal, namun isi pesannya membuat jantung Meylani berhenti sesaat.
"Lan, aku dengar dari Rina kalau kamu dirawat di RS. Aku kebetulan ada urusan dinas di Jakarta minggu ini terkait koordinasi kasus lintas wilayah. Aku tahu kita sudah berpisah, dan aku menghargai privasimu. Tapi sebagai manusia yang pernah mengenalmu dengan baik, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Jika kamu butuh bantuan administrasi atau sekadar teman bicara yang netral, aku ada di lobi rumah sakit. Tidak perlu bertemu jika kamu tidak mau. Doa terbaikku untuk kesembuhanmu. - A"
Andrian.
Dia ada di Jakarta. Dan dia tahu.
Meylani menatap pesan itu lama. Bu Sinta dan Dimas tidak tahu siapa "A" itu. Bagi mereka, itu mungkin rekan kerja lama atau kenalan bisnis. Hanya Meylani yang tahu bobot sejarah di balik inisial itu.
Dulu, kehadiran Andrian akan membuatnya bingung, bimbang, atau berharap. Tapi sekarang, setelah melewati badai karir dan hampir kehilangan nyawanya sendiri, Meylani melihat pesan itu dengan perspektif baru. Ini bukan tentang romansa. Ini tentang kemanusiaan. Tentang dua orang yang pernah saling melukai, kini saling mendoakan dari kejauhan tanpa menuntut balasan.
Meylani mengetik balasan, lambat namun pasti.
"Terima kasih, Andrian. Aku baik-baik saja. Dokter bilang cuma kelelahan. Kamu tidak perlu repot-repot menunggu atau datang ke kamar. Fokus pada tugasmu. Kehadiranmu secara virtual sudah cukup memberiku ketenangan. Terima kasih sudah peduli."
Ia menekan kirim. Lalu, ia membalas pesan ibunya.
"Bu, Meylani oke. Cuma kurang tidur. Weekend depan Meylani pulang. Janji. Meylani mau makan soto buatan Ibu. Meylani janji akan jaga kesehatan."
Setelah mengirim pesan-pesan itu, Meylani meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Ia menatap Bu Sinta dan Dimas. Matanya berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena sakit fisik.
"Maafkan saya, Bu Sinta. Maafkan saya, Dimas," kata Meylani tulus. "Saya lupa cara merawat diri sendiri. Saya pikir sukses itu berarti tidak pernah berhenti. Ternyata, sukses itu berarti tahu kapan harus berhenti untuk bernapas."
Bu Sinta tersenyum lembut, mengelus rambut Meylani. "Itu pelajaran termahal, Nak. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak pernah belajar sama sekali. Sekarang, tidur. Jangan buka laptop lagi malam ini. Itu perintah atasan."
Meylani tertawa kecil, suara yang jarang terdengar darinya belakangan ini. "Siap, Bu."
Malam itu, Meylani tidak membuka laptopnya. Ia tidak memikirkan slide presentasi. Ia tidak mengecek email. Ia hanya berbaring, mendengarkan suara hujan di luar jendela rumah sakit, dan membiarkan tubuhnya pulih.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Meylani tidur tanpa mimpi tentang target penjualan atau grafik kenaikan saham. Ia tidur dengan damai, menyadari bahwa ia masih memiliki kendali atas hidupnya. Kendali untuk berkata "tidak". Kendali untuk istirahat. Kendali untuk menjadi manusia, bukan mesin.
Dan di lobi rumah sakit yang sepi, Andrian membaca balasan Meylani. Ia tersenyum tipis, lega. Ia tidak memaksakan diri untuk naik ke kamar. Ia menghormati batas yang Meylani tetapkan. Ia hanya meninggalkan setangkai bunga lili putih di resepsionis dengan kartu nama kecil bertuliskan "Semoga cepat sembuh", lalu pergi kembali ke hotelnya, melanjutkan tugasnya menegakkan keadilan, sementara Meylani melanjutkan tugasnya menegakkan keseimbangan hidupnya.
Dua jalur paralel yang tidak lagi bersinggungan secara romantis, namun saling menghormati dari kejauhan sebagai dua individu yang telah dewasa. Dan itulah bentuk kedewasaan tertinggi yang pernah mereka capai bersama, meski secara terpisah.
...****************...