Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGAPULUHDUA
"Aku anterin kamu pulang ya Run?" tawar Akbar.
Sekarang memang sudah menunjukan waktu penutupan Cafe. Arun, Akbar, Erik, Dimas serta Bella mereka semua saat ini sedang berada di depan Cafe. Sedangkan Bio udah pulang sejak lima belas menit yang lalu.
Arun yang tengah memasangkan helm langsung menatap Akbar, "gue bawa motor" balas Arun.
"Lo berani pulang malem-malem gini sendirian?" tanya Dimas.
"Beranilah bang".
"Aku ikutin kamu dari belakang ya" ujar Akbar.
"Bar, kita beda arah. Mending lo anterin Bella pulang gih. Udah ya gue duluan" Arun langsung menancap gas motornya dan pergi meninggalkan teman-temannya yang lain.
"Hati-hati lo! Awas ditumpang in kunti" teriak Erik membuat Arun mengangkat jari tengahnya.
"Ehh, sialan tu bocah" umpat Erik dengan kesal.
"Udah, ayok balik lah. Nebengkan lo?" tanya Dimas pada Erik.
"Ya seperti biasa" balas Erik dengan santai.
"Kita duluan Bar" ucap Dimas sedangkan Erik sudah berjalan lebih dulu.
Akbar merespon dengan menganggukan kepala. Setelah itu Akbar melangkah menuju motornya yang terparkir, "Bar?" Panggil Bella.
"Kamu dijemput papah kamu kan?" ujar Akbar.
"Aku minta maaf" ujar Bella.
Akbar yang sudah berniat menghidupkan motornya terpaksa dimatikan kembali, "buat apa?" tanya Akbar yang kini sudah memandang Bella dengan wajah datarnya.
"Soal masalah tadi".
"Bel, aku sama Arun itu temanan udah lama. Bahkan sebelum aku kenal sama kamu, jadi ikatan kami berdua udah kayak saudara" jelas Akbar.
"Aku kayak gini, karena aku cemburu".
"Cemburu kamu gak berdasar".
Bella menghembuskan napasnya, "emang kayaknya cuma aku yang cintanya penuh" ucap Bella.
"Jadi menurut kamu selama ini aku gak benar-benar cinta sama kamu?".
"Aku pulang dulu, kamu hati-hati" pamit Bella lalu melangkah meninggalkan Akbar dan mengabaikan pertanyaan Akbar yang baru saja terlontar.
Akbar turun dari motornya lalu menahan tangan Bella, "kita selesain dulu masalahnya. Aku gak mau berlarut-larut" ujar Akbar.
"Masalahnya udah selesai, aku capek mau pulang" tolak Bella.
"Selama ini kamu gak liat apa yang aku lakuin buat kamu. Dan kamu masih bilang aku gak cinta sama kamu?" tanya Akbar.
Bella menatap Akbar dengan intens, "Kamu sadar gak sih? Kamu lebih mentingin sahabat kamu itu dibanding aku!".
"Kamu lebih perhatian sama dia, kamu lebih khawatir sama dia. Tatapan kamu, tatapan kamu itu gak bisa bohong Bar. Aku tahu itu!".
Bella mengeluarkan semua apa yang dia rasakan saat ini. Bella memang pacar Akbar namun itu seperti hanya status yang tertulis, terlalu banyak sabar yang Bella keluarkan hanya untuk melihat perbedaan perlakuan terhadap dirinya dan Arun.
"Maafin aku, karena aku kurang peka sama perasaan kamu" Akbar langsung membawa Bella kedalam pelukannya.
Sedangkan saat ini, Arun baru saja sampai diujung jalan raya. Malam ini memang terkesan sepi dan hanya beberapa kendaraan yang melewati jalan ini.
Mungkin karena beberapa jam sebelumnya hujan turun lumayan deras. Membuat orang-orang malas keluar rumah.
Arun langsung menghidupkan lampu sen motornya ke arah kiri. Arun mulai melajukan motornya dengan kecepatan rendah karena jalanan lumayan licin, Arun tidak ingin dia tergelincir nantinya.
Hampir lima belas menit mengendarai motornya, Arun merasa mobil dibelakangnya sejak tadi mengikuti dirinya. Tiba-tiba perasaan Arun berubah waspada, karena sejak tadi lampu mobil tersebut seolah menerangi jalannya.
Padahal beberapa mobil sudah menyalipnya. Arun tidak bisa melihat dengan jelas warna, bahkan nomor plat mobil tersebut karena kaca spionnya tersorot lampu mobil tersebut.
"Gue harus cepat sampe rumah!" gumam Arun.
Arun perlahan menambah kecepatan motornya. Arun tidak lagi memikirkan jalanan yang licin, namun ternyata mobil tersebut masih mengikutinya bahkan ikut menambah kecepatannya hingga jarak mereka tidak terlalu jauh.
Karena terlalu fokus dengan perasaan ketakutannya tanpa sadar motor Arun melaju dengan kecepatan diatas rata-rata.
Ckitttttt!
Brukk!!
"Arghhhh".
Motor Arun oleng saat menghindari jalanan yang berlubang didepannya. Karena itu pun tanpa sadar Arun menarik rem depan terlalu dalam, alhasil saat ini Arun harus jatuh dijalanan yang licin tersebut.
"Aduhh, rusak lagi" ujar Arun saat melihat kaca spion sebelah kirinya sudah pecah dan terlepas.
Arun yang masih terduduk memandang mobil yang ikut berhenti lalu tiba-tiba seseorang keluar dari balik kemudi mobil tersebut.
"Arun!"
"Kak Bio?" ucap Arun saat mendapati orang tersebut berada dihadapannya saat ini.
"Kamu ngapain sih bawa motor kebut-kebutan?" tanya Bio dengan raut wajah khawatir.
Arun membuka helm dikepalanya, "kak Bio juga ngapain sih pake acara ngikutin?" tanya balik Arun.
"Saya itu ngawal kamu biar selamat sampe rumah".
"Astaga kak, gue takut. Gue kira kak Bio orang jahat".
"Mana yang sakit? Kita ke rumah sakit".
"Gak usah, cuma lecet dikit doang" balas Arun sambil menunjukan siku tangannya yang tergores aspal jalan.
"Tapi ini tetap harus diobatin" ucap Bio.
"Pake obat merah di rumah juga bisa kali. Ini yang parah, motor gue. Gimana kak?" tanya Arun.
Bio membantu Arun untuk bangun dan berdiri, "kamu pulang sama saya naik mobil, motor kamu nanti saya telpon orang bengkel buat ambil" jelas Bio.
"Sekarang kak".
"Siapa yang bilang besok? Biar raib motor kamu" ujar Bio.
Bio langsung menuju kembali ke mobil dan mengambil ponsel lalu menelpon bengkel langganannya, sedangkan Arun masih berdiri dihadapan sepeda motornya.
Bio langsung menghampiri kembali Arun, "bentar lagi mereka sampai, ayok kita pulang" ajak Bio sambil megangi bahu Arun.
"Kita tungguin orang bengkelnya sampai dateng ya kak?" pinta Arun.
"Percaya sama saya, motor kamu gak akan hilang. Ayookk udah malem kamu harus istirahat" Bio mencoba memberi pengertian pada Arun.
"Kak Bio tanggung jawab ya kalo ada apa-apa sama motornya?" uajr Arun.
"Hemm" Bio menganggukan kepala.
Selama didalam mobil Arun hanya terdiam sambil sesekali meringis saat sikunya tidak sengaja menyentuh sandaran kursi.
Namun gerak-gerik Arun yang gelisah bisa langsung terbaca oleh Bio, "kamu masih mikirin motornya?" tanya Bio.
Arun melihat ke arah Bio yang sedang fokus menyetir, namun Arun hanya menjawab dengan anggukan perlahan.
"Ambil ponsel saya, buka WA" ucap Bio.
"Buat apa?" tanya Arun.
"Buka aja".
Arun mengambil dengan malas ponsel Bio yang berada tepat disamping tangan kanannya, "kok bisa sih handphone gak pake sandi" gumam Arun.
"Saya gak suka ribet" ujar Bio.
Arun yang mendengar itu langsung terkejut ternyata Bio mendengar gumamannya, "tapi kan harusnya dikasih aja biar ada privasinya" ujar Arun.
"Lagian siapa yang berani buka ponsel saya? Palingan cuma saya sama istri saya" ujar Bio.
Arun yang mendengar sebutan istri langsung memalingkan wajahnya menatap jalanan didepannya, "Buka chatnya mang yoyo" ujar Bio.
"Ehh, motornya udah ada dibengkel kak" ujar Arun saat membuka foto yang dikirim oleh chat dengan nama mang yoyo tersebut.
Arun tampak tersenyum bahagia saat melihat pesan tersebut, "udah, percaya motornya gak hilang?" tanya Bio sambil melihat ke arah Arun.
"Makasih ya kak" ucap Arun.
"Gak ada yang gratis" balas Bio.
Arun meletakan kembali ponsel Bio ditempat semula lalu menatap Bio dengan intens saat ini. Mobil mereka tiba-tiba berhenti karena lampu merah, "iya, nanti aku bayar biaya bengkelnya" ucap Arun.
"Terus bayaran untuk saya?" tanya Bio.
"Kakak juga mau dibayar? Ihh perhitungan banget padahal sama istrinya" keluh Arun.
"Nah itu dia, bayar seorang istri buat suami apa?".
Tidak tahukah Bio apa yang dilakukannya saat ini sangat membuat kondisi jantung Arun tiba-tiba berdetak tidak normal. Mungkin saat ini Bio bisa melihat raut wajah Arun yang sudah memerah menahan malu karena salah tingkah.
Cup
Secara tiba-tiba Arun mencium pipi sebelah kiri Bio. Bio yang mendapat serangan tiba-tiba hanya bisa terdiam dan menahan senyumnya. Sedangkan saat ini Arun sudah duduk berbalik arah menatap jalanan melalui kaca pintu miliknya.
"Ohh, mainnya dadakan ya" ucap Bio.
Arun masih terdiam dan memalingkan wajahnya. Namun tiba-tiba tangan kiri Bio mulai mengambil telapak tangan sebelah kanan Arun dan menggengamnya.
Cup
"Untung saya masih menyetir kalau tidak ... habis kamu sama saya" ucap Bio setelah mencium punggung tangan Arun.
"Ihhh, takut hahahha".
Arun langsung tertawa dengan ekspresi dibuat-buat seperti orang ketakutan.
Namun Bio malah semakin menciumi punggung tangannya secara bertubi-tubi.
Tbc.