Perceraian adalah suatu kegagalan.
Melabuhkan hati pada orang yang salah, berakibat sangat fatal. Setiap orang tidak akan luput dari kesalahan. Bukan sebuah judge yang diperlukan, tapi solusi untuk masalah yang tengah di hadapi. Dengan pengalaman yang terjadi, seseorang pasti berpikir ulang untuk tidak terjun ke lubang yang sama.
Itulah yang mendasari Ayana dan Rendra (duda dan janda dengan satu anak) untuk menyetujui perjodohan pernikahan kedua mereka. Bukan atas dasar cinta, tapi karakter. Bahkan, mereka sama sekali tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain. Mereka siap menjalaninya di kehidupan kedua mereka, yaitu sebuah kehidupan baru yang mereka bangun dengan sifat dan sikap yang berbeda dalam melihat masalah. Siapa yang menyangka jika mereka justru menemukan kebahagiaan disana?
Ternyata hati mereka masih berfungsi. Benih-benih rasa cinta itu datang dengan sendirinya.
follow me
IG : @NurulAyuHapsary
FB : Nurul Ayu Hapsary
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N. Ayu Hapsary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan Ayana
Ayana keluar dari mobil dan berjalan mendahului Rendra untuk membuka kunci rumahnya dengan cepat. Sedangkan Rendra menggendong Bulan yang sudah tertidur di dalam mobil. Dengan hati-hati, Bulan ditidurkan di kamarnya. Setelah Bulan sudah berada di kamarnya, Rendra dan Ayana keluar kamar dan menuju ruang tamu.
Ayana duduk di sofa dengan masih memegangi kepalanya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rendra yang masih khawatir.
"Aku sudah tidak apa-apa mas."
"Bagaiaman Aila? Kapan kamu mau menjemput Aila?" Tanya Rendra.
"Nanti sore. Ibuku masih ingin mengajaknya jalan-jalan katanya tadi." Ucap Ayana menjawab Rendra.
"Kalau nanti masih pusing, tunggu aku pulang saja. Setelah itu, kita jemput bersama."'
Ayana mengangguk dengan tersenyum. Ia senang merasakan suaminya begitu perhatian padanya, tapi di sisi lain ia juga merasakan keganjalan hati.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke kantor." Kata Rendra.
"Apa... Mas buru-buru?" Tanya Ayana. Ayana yang sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu itu nampak diam dan seolah menahan sesuatu dengan wajah sedih. Rendra bisa segera mengetahuinya. Ia terhenti ketika akan berjalan keluar rumah. Ia juga teringat saat tadi di klinik. Memang ada sesuatu yang terjadi pada Ayana. Ia tidak jadi berjalan keluar. Ia mendekati Ayana.
"Ada apa Ay?" Tanya Rendra penasaran.
"Aku tadi, mendengar sebuah gosip." Ucap Ayana mulai menjelaskan. "Kata beberapa karyawan disana, kemarin mas pulang dengan seorang perempuan yang mereka kira itu istri mas." Ayana mencoba membangun diskusi yang baik dengan suaminya. Tanpa bertele-tele, namun tetap lembut menyampaikannya. Rendra menghela nafas sebentar.
"Sayang... Kemarin Dila pingsan. Dibawa ke klinik, lalu dia terlihat sangat lemas. Mangkanya kemarin aku mengantarnya pulang." Jelas Rendra segera menjawabnya dengan jujur. "Ay, apa kamu lebih percaya dengan gosip para karyawan? Mereka yang tidak tahu kehidupan kita yang sebenarnya?" Tanya Rendra mencoba merubah pikiran Ayana. Ayana masih nampak ragu mendengar penjelasan Rendra.
"Ya... mungkin aku terlalu berlebihan saja." Jawab Ayana membenarkan pernyataan Rendra. Namun sebenarnya, di hatinya masih tak dapat menerima seratus persen. Ia tetap memiliki sebuah kekhawatiran.
Rendra tersenyum. Ia lalu mengusap rambut Ayana lembut. "Aku janji, aku akan setia dan tidak mungkin macam-macam." Ucap Rendra meyakinkan istrinya.
Ayana mencoba mengulas senyum di wajahnya. Dengan sedikit memaksakan diri. Ia kemudian mengangguk amat pelan.
"Ya. Aku berharap begitu." Jawab Ayana.
"Ya sudah. Ini sudah waktunya aku kembali ke kantor." Kata Rendra.
Lagi-lagi, Ayana hanya mengangguk dengan memaksakan senyumnya menyetujui suaminya. Rendra bisa mengerti sikap Ayana itu. "Percayalah padaku sayang..." Ucap Rendra dengan nada memohon pada istrinya. Ia lalu memegang tangan istrinya dan menciumnya. "Aku pergi dulu ya." Sekali lagi pamitnya pada Ayana.
Lalu ia melepaskan genggaman tangan Ayana. Seolah-olah, Ayana amat berat melepaskan tangan suaminya. Ada sebuah kegelisahan yang begitu besar saat melihat suaminya menjauh darinya. Apakah ia bisa benar-benar mempercayai suaminya? Disaat hatinya sudah terpaut menjadi satu sebagai belahan jiwanya. Ayana sangat bahagia akhir-akhir ini. Ayana memiliki kekhawatiran... Saat kebahagiaan itu datang tiba-tiba, bisa saja kebahagiaan itu pergi dengan cara yang sama.
Ia bisa merasakan kasih sayang yang amat besar dari suaminya, tapi layaknya cobaan datang, ia pun mulai berpikir... bisa saja perasaan suaminya itu berubah. Terpengaruh oleh kondisi dan sudah mulai tak tertarik dengan dirinya lagi. Ayana memang mempercayai suaminya. Ia hanya memiliki ketakutan jika tiba-tiba ia kehilangan suaminya.
...****************...
Setelah Ayana menidurkan anak-anaknya, ia menyiapkan seragam baru Bulan yang sudah ia seterika tadi. Ia juga tak lupa menyiapkan segala keperluan sekolah Bulan pertama kali masuk taman kanak-kanak. Rendra yang baru saja dari dapur mengambil air putih, memperhatikan istrinya. Ia merasa terharu melihat perhatian Ayana yang memang sudah seperti ibu kandung Bulan sendiri. Jika seandainya dirinya sendiri masih menduda saat ini, mungkin ia tak akan bisa seteliti Ayana. Ia tak mengerti hal detail yang dibutuhkan seorang anak yang akan masuk taman kanak-kanak.
Sebelumnya juga, Ayana sudah membelikan tas dan sepatu sesuai kesukaan Bulan. Rendra benar-benar merasa beruntung memiliki Ayana saat ini. Bulan memiliki ibu yang baik, selain itu Ayana dapat merubah Bulan bisa mencintai Ayana.
Rendra tersenyum senang, lalu ia berjalan mendekati istrinya. Dari arah belakang Ayana, Rendra memegang kepala Ayana lembut. Ayana yang menyadarinya menengok ke arah belakang dan mendapati suaminya mendatanginya. Ia tersenyum melihat wajah suaminya yang damai.
"Kamu masih belum tidur?" Tanya Rendra.
"Sebentar lagi mas. Setelah menyiapkan persiapan untuk memasak bekal buat Bulan besok, aku akan tidur." Kata Ayana.
"Kamu masih mau ke dapur lagi?"
"Iya mas. Besok biar tidak terburu-buru." Jawab Ayana.
Rendra semakin bahagia merasakan keikhlasan istrinya. Ia tak pernah mengeluh mengurusi dan merawat Bulan. Jika hanya marah, wajar sebagai orang tua.
"Besok, Aila ikut juga?" Tanya Rendra lagi.
"Tidak mas. Karena besok Bulan baru pertama masuk, pasti dia masih adaptasi. Jadi, lebih baik kalau aku fokus padanya."
"Apa Aila tak apa-apa? Dia tidak ingin ikut kakaknya?" Tanya Rendra juga mencemaskan Aila.
"Tidak. Aila senang karena diajak berenang sama nenek dan kakeknya. Ibu dan ayahku juga sudah kuberitahu kalau Bulan mau sekolah, jadi untuk dua sampai tiga hari mungkin aku menitipkan Aila disana dulu. Mereka senang dan berniat mengajak cucunya berenang karena lumayan lama tak bertemu cucunya." Jelas Ayana dengan tersenyum. Ia lalu memasukkan buku, pensil dan pewarna ke dalam tas Bulan.
"Terima kasih sayang. Kamu benar-benar mengatur rumah tangga dengan sangat baik." Ucap Rendra tulus. "Aku akan kalang kabut dan kacau jika kamu tidak ada." Sekali lagi, ungkapan kejujuran Rendra.
Ayana tersenyum tersipu mendengar pujian Rendra. Ini juga yang selalu disukai oleh Ayana. Rendra selalu saja menghargai segala hal kecil yang ia lakukan untuk keluarga, walaupun itu hanya sekedar menyiapkan keperluan Bulan.
"Besok, aku akan mengabari Dila." Ucap Rendra tiba-tiba merubah suasana hati Ayana seratus delapan puluh derajat. Ia yang tadinya tersenyum senang, mendengar ungkapan Rendra yang barusan, mendadak senyumnya menghilang perlahan. "Sesuai janjiku padanya, aku akan mulai mempertemukannya saat Bulan masuk sekolah." Jelas Rendra lagi. Lalu, ia mengambil smartphone-nya dan memencet touchscreen-nya sekejap, lalu menempelkannya di telinga.
Saat itu, Ayana melihat ke arah Rendra yang berbalik darinya sambil menunggu jawaban dari Dila. Ayana kembali gundah merasakan hal yang sama berulang-ulang akhir-akhir ini. Pandangannya mulai cemas melihat suaminya dengan mudahnya membicarakan tentang mantan istrinya yang ingin menemui anak mereka.
"Halo?" Suara Rendra setelah menunggu beberapa detik. Ayana yang tadinya tertunduk segera melihat ke depan ke arah Rendra setelah Dila menjawab dari seberang sana. Rendra mulai menjelaskan tentang Bulan yang akan memulai sekolah besok.
Tiba-tiba saja, dada Ayana serasa sesak. Ia tahu, awalnya ia hanya merasa tak nyaman. Namun lama-kelamaan, ia mulai bisa memahami dirinya jika ia sedang cemburu. Apakah tidak wajar jika dirinya merasa cemburu? Layaknya sebuah pohon. Semakin tinggi sebuah pohon, semakin besar pula angin yang menerpa. Jika akarnya tak kokoh, bukan saja goyang, tapi bisa juga tumbang.
...****************...
tapi Dila yang dasarnya wanita tidak bersyukur saja malah ninggalin Rendra
muntah gara kebanyakan minum susu.