Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 9: Backdoor
Suasana di kamar Kael di Kelas F terasa jauh lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Tidak ada suara bising yang masuk dari luar jendela, hanya menyisakan derit pelan dari meja kayu tua serta ketukan ritmis yang teratur dari jari-jari Kael. Ia menatap lurus ke arah dinding kosong di hadapannya, seolah-olah di sana terpampang layar transparan yang dipenuhi oleh miliaran baris kode tak kasatmata. Di atas meja, selembar perkamen tua terbentang lebar, dipenuhi oleh coretan skema topologi jaringan yang ia salin dari hasil penyusupan ke artefak arena sebelumnya.
Pintu kamar yang sudah reot itu berderit pelan tanpa diketuk terlebih dahulu. Elara melangkah masuk dengan gerakan cepat dan tergesa-gesa. Ia langsung menutup pintu tersebut rapat-rapat, menguncinya dengan mantra pembatas suara, lalu menyandarkan punggungnya di daun pintu sambil mengatur napasnya yang sedikit memburu. Wajah wanita itu menyiratkan ketegangan yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah Kael lihat sebelumnya.
"Dewan Agung baru saja menggelar rapat darurat tertutup," bisik Elara dengan suara tercekat, melipat kedua tangannya di dada untuk meredakan gemetar di tubuhnya. "Master Therion menuntut investigasi penuh terhadap seluruh sistem akademi. Mereka tidak main-main, Kael. Mereka memanggil para *Inquisitor* sihir tingkat tinggi langsung dari ibu kota untuk memeriksa ulang setiap meter kubik ruang bawah tanah dan fasilitas akademi."
Kael tidak menghentikan ketukan jarinya sedikit pun. Ekspresinya tetap datar seperti permukaan air yang membeku di tengah musim dingin. "Mereka sedang melakukan *system scan* menyeluruh," jawab Kael tenang, tanpa ada nada cemas dalam suaranya. "Itu adalah tindakan yang sangat wajar bagi seorang administrator yang panik ketika menyadari server utama mereka telah disusupi tanpa meninggalkan satu pun log peringatan."
"Ini bukan sekadar *scan* biasa, Kael," Elara melangkah mendekati meja Kael, menatap pemuda itu dengan tatapan tajam dan penuh desakan. "Para *Inquisitor* itu menggunakan artefak pelacak jenis kuno yang bisa membaca sisa-sisa residu *mana* sekecil apa pun di udara, bahkan yang sudah menguap berhari-hari lalu. Kalau mereka memeriksa sayap selatan perpustakaan ini atau mencurigai cincin perak yang selalu kau kenakan, penyamaranmu bisa hancur total dalam hitungan detik."
Kael akhirnya menghentikan ketukan jarinya. Ia perlahan mengangkat wajah, menatap lurus bola mata Elara tanpa ada secercah keraguan atau rasa takut sedikit pun di sana. "Biarkan mereka memindai sepuasnya. Mereka tidak akan pernah menemukan residu sihir, karena aku tidak pernah menggunakan sihir konvensional seperti yang mereka pahami."
Kael bangkit berdiri dari posisinya. Tinggi badannya yang menjulang membuat ruangan sempit itu mendadak terasa semakin sesak. Ia melangkah mendekati meja, mengambil cincin peraknya, lalu mengenakannya kembali ke jari telunjuk kanannya dengan gerakan presisi yang sangat terkontrol.
"Sebaliknya," lanjut Kael dengan nada dingin yang menghitung segala kemungkinan, "kedatangan para *Inquisitor* itu justru memberikan kita keuntungan yang sangat besar. Saat mereka memusatkan seluruh perhatian dan daya komputasi sihir mereka untuk memperketat pertahanan di pintu masuk utama dan koridor permukaan, titik buta di bagian terdalam server inti akan semakin melebar secara drastis."
Alis Elara bertaut dalam. "Maksudmu... kau justru ingin menyusup ke jantung server saat mereka sedang siaga penuh di luar?"
"Tepat sekali," balas Kael tanpa keraguan. "Itulah indahnya arsitektur jaringan usang. Semakin ketat mereka memasang *firewall* di gerbang depan, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung oleh memori pusat di bagian belakang. Kita tidak perlu repot-repot mendobrak pintu utama. Kita tinggal masuk lewat *backdoor* yang sudah kutanamkan di sistem arena kemarin malam."
Kael merogoh sakunya, mengeluarkan cincin peraknya kembali, lalu meletakkannya tepat di tengah skema perkamen topologi. Sesaat kemudian, pendaran cahaya biru tipis terpancar dari permukaan cincin itu, memproyeksikan garis-garis data digital mini yang melayang di udara—sebuah replika digital akurat dari infrastruktur inti akademi.
"Mulai malam ini, kita melangkah ke fase kedua," ucap Kael, suaranya terdengar berat dan mutlak bagaikan perintah dari sistem yang tidak bisa dibatalkan. "Pengambilan alih hak akses penuh. Bersiaplah, Elara. Kita akan meretas inti dunia ini."
Elara menatap cincin perak itu lama sekali. Di dalam ruangan yang remang-remang, pantulan cahaya biru dari proyeksi data menerangi wajahnya yang tegang. Ia tahu betul konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Jika mereka tertangkap, tidak ada ruang negosiasi; hukum akademi akan langsung menjatuhkan vonis eksekusi mati tanpa pengadilan. Namun, di balik rasa cemas itu, ada degup antusiasme yang liar. Selama bertahun-tahun ia hidup di tengah dogma kuil sihir yang kaku dan membosankan, baru kali ini ia melihat sebuah sistem yang mapan bisa diguncang hanya dengan logika murni dan ketepatan kalkulasi.
"Kau benar-benar gila, Kaelen Vance," ucap Elara pelan, meski sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang menantang. "Tapi aku sudah terlanjur masuk terlalu dalam untuk sekadar mundur sekarang."
"Pilihan yang logis," balas Kael tanpa ekspresi berlebihan. Ia mengambil kembali cincinnya dan menyelipkannya ke saku jubah. "Persiapan selesai. Waktu eksekusi kita adalah tengah malam nanti, saat siklus pergantian shift penjaga permukaan mencapai titik terlemahnya."
Kael berjalan menuju jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah halaman dalam akademi. Di luar sana, kegelapan malam semakin pekat, diselingi oleh pendar cahaya sihir dari pos-pos pemindaian para *Inquisitor* yang mondar-mandir membawa obor dan golem pengawas. Akademi Aethelgard tampak megah, kokoh, dan tak tertembus dari luar. Namun di mata Kael, benteng raksasa itu kini hanyalah sebuah mesin usang yang menunggu untuk diretas dari dalam. Dan ia, sang arsitek jaringan, sudah memegang kunci utama di genggamannya.