NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: RAHASIA DI BALIK WAJAH GALAK

Langit sore itu memerah keemasan, memantul di jendela jendela gedung Fakultas Ekonomi yang mulai sepi ditinggal mahasiswa. Kirana baru saja selesai membantu Nadia menyusun ulang slide presentasi kelompok untuk sidang mini minggu depan, dan mereka berpisah di depan lift, Nadia menuju parkiran, Kirana menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku pinjaman.

"Kir, jangan lupa balikin buku tepat waktu ya, kemarin aku telat sehari aja kena denda lumayan," ingat Nadia sebelum benar benar berpisah arah.

"Siap, makasih diingetin," Kirana melambaikan tangan, lalu berjalan menuju perpustakaan yang letaknya di ujung koridor lain.

Di dalam perpustakaan, suasana sudah cukup sepi, hanya beberapa mahasiswa yang masih tekun mengerjakan tugas di sudut sudut ruangan. Kirana mengembalikan bukunya di meja peminjaman, lalu berjalan menyusuri rak buku, sekadar melihat lihat koleksi baru yang mungkin menarik.

Ketika melewati bagian arsip skripsi lama, matanya tanpa sengaja tertuju pada sebuah rak khusus yang menyimpan dokumentasi dosen, berisi biodata singkat dan riwayat penelitian para pengajar di fakultas itu. Rasa penasaran yang sudah lama terpendam membuat Kirana berhenti, jarinya menyusuri deretan map hingga berhenti di satu nama yang familiar.

Alden Rafael Wicaksono.

Kirana ragu sejenak, tangannya melayang di atas map itu. Ada dorongan kuat untuk membukanya, mencari tahu lebih banyak tentang sosok yang belakangan ini memenuhi pikirannya siang dan malam. Tapi ada juga rasa bersalah, seolah dia sedang melanggar privasi seseorang tanpa izin.

"Nyari apa lagi kamu di sini?"

Suara itu membuat Kirana tersentak hebat, hampir menjatuhkan map lain yang dia pegang. Dia menoleh dan mendapati Alden berdiri tidak jauh darinya, tangannya terlipat di dada, menatap dengan alis terangkat.

"Pak Alden," Kirana buru buru menjauh dari rak arsip, wajahnya memerah ketahuan. "Saya... cuma lewat doang, Pak."

Alden melirik ke arah rak yang baru saja ditinggalkan Kirana, matanya menyipit sedikit ketika menyadari bagian mana yang sedang dia lihat. "Arsip biodata dosen?"

"Nggak sengaja lewat situ, Pak," Kirana mencoba berkilah, meski dia tahu alasan itu terdengar lemah.

Alden terdiam sejenak, menatap Kirana lama seperti sedang menimbang sesuatu. "Kamu penasaran soal saya."

Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang membuat Kirana semakin tidak nyaman.

"Maaf, Pak. Saya tau ini nggak sopan."

"Kenapa penasaran?" tanya Alden, nadanya tidak terdengar marah, hanya ingin tahu.

Kirana menghela napas, memutuskan untuk jujur daripada terus berkelit. "Soalnya Bapak kayak orang yang punya banyak cerita di balik sikap dinginnya, Pak. Dan saya... pengen ngerti Bapak lebih dalam."

Jawaban jujur itu membuat Alden terdiam lebih lama dari yang Kirana kira. Dia menatap sekeliling perpustakaan yang mulai sepi, lalu menghela napas panjang. "Ikut saya sebentar."

Kirana mengikuti tanpa banyak bertanya, jantungnya berdebar antara gugup dan penasaran. Mereka berjalan keluar perpustakaan menuju taman kecil di belakang gedung, tempat yang lebih sepi dan jauh dari keramaian mahasiswa lain.

Alden duduk di bangku taman, menunggu Kirana duduk di sebelahnya sebelum akhirnya bicara. "Kamu tau kenapa saya jadi sekaku ini?"

"Nggak, Pak. Makanya saya penasaran," jawab Kirana jujur.

Alden menatap ke arah kolam kecil di depan mereka, matanya menerawang jauh seolah sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.

"Dulu, sebelum jadi dosen di sini, saya kerja di perusahaan konsultan besar. Karir saya bagus, semua rencana hidup saya sudah tersusun rapi."

Kirana mendengarkan dengan seksama, tidak berani menyela.

"Saya juga punya calon istri waktu itu. Namanya Sarah," lanjut Alden, suaranya sedikit berubah, lebih pelan dan berat. "Kami udah rencanain nikah, udah siapin semuanya."

Nama itu membuat jantung Kirana berdegup kencang. Sarah, nama yang sama yang pernah muncul di kepalanya tanpa alasan jelas beberapa minggu lalu, seolah firasat yang entah bagaimana caranya sudah dia rasakan sebelum benar benar tahu kebenarannya.

"Tapi seminggu sebelum pernikahan," Alden melanjutkan, rahangnya mengeras, "dia pergi. Ninggalin saya tanpa penjelasan yang jelas, cuma surat singkat yang isinya dia nggak siap buat komitmen sebesar itu."

"Pak, saya turut prihatin," Kirana bergumam pelan, merasakan berat di dadanya mendengar cerita itu.

"Setelah kejadian itu, saya berhenti dari pekerjaan lama, pindah kota, dan mulai ngajar di sini," Alden melanjutkan, suaranya kembali datar seperti biasa, seolah sedang membangun kembali tembok yang sempat runtuh selama bercerita. "Saya belajar, kalau saya nggak nunjukin emosi berlebihan ke siapa pun, saya nggak akan kecewa separah itu lagi."

Kirana terdiam, mencerna semua yang baru saja dia dengar. Semua kepingan yang selama ini membingungkan mulai tersusun rapi di kepalanya, alasan di balik sikap dingin Alden, alasan kenapa dia begitu menjaga jarak dari orang lain, alasan kenapa senyumnya begitu langka.

"Makasih udah cerita, Pak," kata Kirana akhirnya, suaranya lembut. "Saya ngerti sekarang, kenapa Bapak jadi kayak gini."

Alden menoleh menatapnya, ada sesuatu di matanya yang terlihat lebih rentan dari biasanya, jauh dari kesan galak yang selalu dia tunjukkan di kelas. "Kamu orang pertama yang saya cerita soal ini, selain keluarga saya sendiri."

Pengakuan itu membuat dada Kirana terasa hangat sekaligus berat di saat bersamaan.

"Kenapa Bapak mau cerita ke saya?"

Alden terdiam cukup lama, seperti mempertimbangkan jawaban yang tepat.

"Karena entah kenapa, saya ngerasa nyaman cerita ke kamu. Sesuatu yang udah lama nggak saya rasain ke orang lain."

Kirana tersenyum kecil, meski matanya mulai terasa panas menahan haru. "Saya seneng Bapak percaya sama saya."

"Tapi tolong," Alden menambahkan, nadanya kembali serius, "jangan cerita ini ke siapa pun. Bukan cuma soal privasi saya, tapi juga soal kredibilitas saya sebagai dosen."

"Saya janji, Pak. Ini bakal jadi rahasia kita berdua aja," Kirana meyakinkan, menatap mata Alden dengan sungguh sungguh.

Alden mengangguk, tampak sedikit lega mendengar jaminan itu. Mereka duduk dalam diam beberapa saat, hanya suara angin sore yang menggoyangkan dedaunan di sekitar taman yang mengisi keheningan di antara mereka.

"Pak," Kirana akhirnya memecah keheningan,

"boleh saya tanya satu hal lagi?"

"Silakan," jawab Alden.

"Apa Bapak masih... berharap Sarah balik?" tanya Kirana hati hati, khawatir pertanyaan itu terlalu jauh melangkahi batasan.

Alden terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya. "Dulu iya. Tapi sekarang, saya udah nggak yakin lagi apa yang sebenarnya saya rasain soal itu."

Jawaban itu terasa ambigu, tapi Kirana tidak mendesak lebih jauh, merasa sudah cukup banyak yang Alden bagikan hari itu. "Makasih udah percaya sama saya, Pak. Saya bakal jaga rahasia ini baik baik."

Alden menatapnya lama, ekspresinya melembut. "Terima kasih juga, karena mau dengerin tanpa nge-judge."

Mereka bangkit dari bangku taman bersamaan, langit sore sudah mulai berubah warna menjadi jingga tua, tanda malam akan segera tiba. Berjalan kembali menuju gedung fakultas, Kirana merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya, bukan hanya rasa penasaran yang akhirnya terjawab, tapi juga ikatan baru yang terbentuk dari kepercayaan yang baru saja Alden berikan padanya.

"Kirana," panggil Alden sebelum mereka berpisah arah di persimpangan koridor.

"Iya, Pak?"

"Makasih, udah jadi orang yang bisa saya percaya," katanya, suaranya tulus. "Itu bukan hal yang mudah saya temuin belakangan ini."

Kirana tersenyum, hatinya dipenuhi kehangatan yang sulit dia jelaskan dengan kata kata. "Sama sama, Pak. Saya juga makasih, udah percaya sama saya."

Mereka berpisah arah, Kirana menuju gerbang kampus, Alden kembali ke ruang dosen. Tapi sepanjang perjalanan pulang, Kirana terus memikirkan cerita yang baru saja dia dengar, tentang Sarah, tentang luka yang selama ini disembunyikan Alden di balik sikap dinginnya, dan tentang kepercayaan besar yang baru saja diberikan padanya, kepercayaan yang membuatnya merasa terhubung dengan Alden lebih dalam dari sebelumnya, sekaligus membuatnya semakin sadar betapa rumit dan rapuhnya perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!