NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Gelap dan Tarian Sang Ratu

Dilema yang berkecamuk di benak Aluna tentang ayahnya, Inspektur Arya Larasati, perlahan memudar ketika bibir hangat Arjuna kembali menyapu perpotongan lehernya. Pria itu menyadari perubahan raut wajah Aluna dan tahu persis ketakutan apa yang sedang menghantui wanitanya.

"Jangan berpikir terlalu jauh ke depan, Na," bisik Arjuna lembut, memeluk pinggang Aluna dari belakang dan menumpukan dagunya di bahu wanita itu. "Untuk saat ini, biarkan aku yang memikirkan cara agar kita berdua bisa selamat tanpa harus menghancurkan sisa duniamu."

Aluna bersandar pada dada bidang Arjuna, membiarkan kehangatan pria itu menenangkan gemuruh di dadanya. Pagi itu mereka habiskan dengan sarapan sederhana di meja dapur, diselingi tawa pelan dan kecupan curian yang membuat apartemen dingin itu terasa seperti rumah untuk pertama kalinya.

Namun, kedamaian itu harus terjeda. Menjelang siang, ponsel rahasia Arjuna bergetar. Sorot mata pria itu seketika berubah. Senyum konyol khas Arjuna remaja menghilang, digantikan oleh aura dominasi Baskara yang mematikan.

"Aku harus turun ke lantai bawah selama beberapa jam. Ada pertemuan bisnis yang tidak bisa ditunda," ucap Arjuna sambil mengenakan kemeja hitamnya dan menyelipkan pistol Glock ke balik jas. Ia mengecup dahi Aluna. "Tetaplah di apartemen. Kalau kau bosan, ada bar eksklusif untuk penghuni VIP di lantai 15. Gunakan kartu ini, tapi jangan keluar dari gedung."

Aluna mengangguk, menatap punggung tegap Arjuna yang menghilang di balik pintu lift.

**Di Ruang Rapat Bawah Tanah**

Arjuna melangkah masuk ke dalam ruang VIP dengan pencahayaan temaram. Di sana, beberapa petinggi korup, politisi, dan pemasok pasar gelap telah menunggu. Ini adalah urat nadi dari sindikat Baskara—sebuah bisnis gelap berskala internasional yang mencengkeram negara.

Mereka tidak merampok bank; mereka adalah bank itu sendiri. Pertemuan siang ini membahas tentang skema pencucian uang triliunan rupiah dari hasil penyelundupan senjata api ilegal dan perdagangan manusia yang dialirkan melalui portofolio perusahaan investasi legal milik ayah Arjuna. Tugas Arjuna sebagai pemimpin operasi adalah memastikan jalur distribusi senjata di pelabuhan utara tetap bersih dari endusan intelijen, dan mengeliminasi siapa pun—termasuk pejabat—yang berani mengkhianati perjanjian.

"Kontainer senjata dari Rusia sudah berlabuh," lapor seorang pria berjas rapi yang sebenarnya adalah pejabat bea cukai. "Tapi kepolisian sedang memperketat patroli karena insiden di Pengadilan Negeri kemarin."

Arjuna bersandar di kursi kulitnya, matanya menyorotkan ancaman murni. "Alihkan rute melalui pelabuhan tikus di barat. Dan pastikan aparat yang berjaga di sana menerima 'bingkisan' ganda bulan ini. Jika ada satu peluru saja yang disita, aku akan memastikan kepala kalian yang menjadi gantinya."

**Keributan di Bar Lantai 15**

Sementara Arjuna mengurus kotornya dunia bawah tanah, Aluna merasa dinding apartemen mulai mengurungnya. Ia memutuskan turun ke lantai 15. Membalut tubuhnya dengan jaket kulit hitam ketat dan sepatu bot militer, Aluna melangkah masuk ke dalam bar eksklusif yang sepi namun diisi oleh segelintir elit.

Ia duduk di sudut meja bar, memesan segelas *mocktail*, dan memandangi gemerlap kota Jakarta dari dinding kaca. Namun, ketenangannya terusik ketika dua pria berjas mahal—yang dari gelagatnya terlihat seperti anak pengusaha arogan atau mafia kelas teri—mendekatinya dengan seringai merendahkan.

"Sendirian, Cantik?" sapa pria pertama, tanpa permisi duduk di sebelah Aluna. Bau alkohol menyengat dari napasnya. "Jarang ada wanita kelas atas yang minum sendirian di jam segini. Mau kutemani?"

"Tidak, terima kasih," jawab Aluna dingin, tanpa menoleh sedikit pun. Sang Palu Es kembali menguasai dirinya.

Merasa ditolak, ego pria itu tersinggung. Ia mengulurkan tangannya, dengan berani menyentuh paha Aluna. "Jangan sombong. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siap—"

**KRAK!**

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Aluna bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan pria itu, memelintirnya dengan paksaan brutal ke arah luar hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser.

Pria itu menjerit kesakitan, terhuyung dari kursi. Temannya yang marah langsung menerjang maju untuk memukul Aluna.

Namun, ia lupa bahwa Aluna adalah putri seorang perwira intelijen. Di balik toga hakimnya, Inspektur Arya telah mengajarinya cara membunuh mematikan dalam jarak dekat.

Aluna merunduk menghindari pukulan, menggunakan momentum itu untuk menghantamkan sikunya tepat ke arah ulu hati pria kedua. Saat pria itu membungkuk kehabisan napas, Aluna mencengkeram kerah jasnya, lalu melayangkan lututnya dengan keras ke wajah pria itu. Darah menyembur dari hidungnya sebelum ia ambruk ke lantai pualam tak sadarkan diri.

Pria pertama yang tangannya nyaris patah mencoba merogoh sesuatu dari balik jasnya—kemungkinan senjata. Namun, sebuah tangan besar dan kokoh mendadak mencengkeram kerah belakang pria itu, mengangkatnya ke udara seperti boneka kain, lalu melemparnya hingga menabrak deretan botol minuman keras di meja bar.

**PRANG!**

Aluna menoleh. Di ambang pintu, Arjuna berdiri dengan jas hitam yang terbuka dan rahang mengeras. Di belakangnya, beberapa pengawal elit sindikatnya langsung menodongkan senjata ke arah dua pria yang kini mengerang di lantai.

Arjuna menatap kekacauan itu, lalu menatap Aluna yang berdiri tegak merapikan jaket kulitnya, sama sekali tidak terluka, bahkan napasnya masih teratur. Keterkejutan terlihat jelas di mata kelam Arjuna, sebelum akhirnya berganti menjadi seringai takjub dan kebanggaan yang membakar.

"Bereskan sampah ini. Buang mereka ke sungai," perintah Arjuna dingin kepada anak buahnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Aluna.

Arjuna melangkah mendekat, mengabaikan pecahan kaca di lantai. Ia menunduk menatap wanita itu, sudut bibirnya berkedut menahan senyum.

"Aku meninggalkanmu selama tiga jam, dan kau sudah menghancurkan bar VIP-ku," bisik Arjuna dengan nada rendah yang sangat menggoda. "Siapa yang mengajarimu membanting pria dua kali lipat ukuranmu, Nona Hakim?"

Aluna mendengus pelan, menatap lurus ke mata Arjuna dengan angkuh. "Kau pikir Inspektur Arya Larasati hanya mengajariku cara membaca buku undang-undang?"

Tawa renyah Arjuna meledak. Ia tidak peduli jika beberapa pengunjung bar yang tersisa sedang menonton mereka dengan ketakutan. Arjuna meraih pinggang Aluna, menarik wanita itu hingga menempel erat pada dada bidangnya, lalu mendaratkan ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh gairah tepat di depan semua orang.

Aluna sedikit terkesiap, namun segera membalas ciuman itu, mengalungkan lengannya di leher Arjuna. Ciuman itu menyiratkan dominasi sekaligus pemujaan Arjuna terhadap sisi liar wanita yang selama ini tersembunyi.

"Sepertinya," bisik Arjuna saat ia melepaskan pagutannya, napasnya sedikit memburu dan matanya menatap bibir Aluna yang memerah, "aku harus lebih berhati-hati. Gadisku ternyata jauh lebih berbahaya daripada sindikat mana pun."

"Kau baru menyadarinya?" goda Aluna, memberikan senyum miring yang luar biasa menawan.

Arjuna menggeram pelan, menyelipkan tangannya ke bawah lutut Aluna dan mengangkat wanita itu ke dalam gendongannya. "Ayo kembali ke atas. Aku perlu memastikan kau tidak menyimpan pisau lipat di balik sepatumu."

Dengan tawa kecil Aluna yang mengiringi langkah mereka, Arjuna membawa ratunya kembali ke apartemen, membiarkan dunia gelap dan segala kekacauan di luar sana menunggu sementara mereka kembali tenggelam dalam keromantisan yang memabukkan.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!