NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Pelukan!

Malam telah larut, tapi Nara masih saja belum bisa lelap. Matanya hanya tertutup saja, aslinya ia belum tidur. Helaan napas pasrahnya terdengar, ia lelah memaksakan diri untuk tidur. Manik coklatnya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamarnya, pencahayaan buran karena lampu telah di matikan.

Dengkuran halus dari napas pria di sampingnya membuatnya menoleh, dipandanginya wajah pria itu yang tampak damai dalam tidurnya. Kenapa ia bisa tidur lelap seperti itu bersama seorang gadis, apa ia tidak memiliki pikiran yang ke arah sana. Dan lupakan kesepakatan konyol itu, dia bisa saja memaksa karena telah syah sebagai suami istri.

Begitu kan seharusnya para pria? Seperti mantan brengseknya! Mengatakan bahwa itu untuk pembuktian cinta, tidak apa-apa gas dulu sebelum menikah. Toh, mereka juga akan menikah. Dasar brengsek! Maki Nara dalam hati.

Saat dirinya kembali menemui pria itu untuk memberikan penjelasan terkait penolakannya, memberikan pengertian bahwa mereka bisa melakukannya setelah menikah. Sekaligus memberitahukan kabar bahagia terkait bukunya yang akan di terbitkan.

Nara malah mendapati pria itu tengah berciuman mesra dengan lawan mainya. Hancur, tentu saja! Pria pertama yang mengenalkannya pada cinta, kini berselingkuh di depan matanya hanya karena keinginan pria itu tidak dituruti. Belum lagi kata-katanya tajamnya kembali teringat bak air bah yang mengalir, meluncur deras. 'Buka mata mu untuk melihat realita. Kamu tidak pantas untukku yang terlalu bersinar ini. Penampilanmu tidak pantas untuk bersanding denganku. Baiknya kita sudahi saja hubungan ini, aku juga tidak tahan dengan orang kolot seperti mu!'

Brengsek! Sebanyak apapun dirinya merutuki pria itu, itu hanya mengingatkan akan kebodohannya sendiri. Mau-mau saja dirinya diperdaya pria itu, menemaninya ke sana sini untuk casting, menjadi asisten pribadi sukarelanya ditengah kesibukannya sendiri, belum lagi materinya yang keluar untuk mendanai pria itu. Bodoh, dirinya benar-benar bodoh. Seharusnya tidak hanya selangkangan pria itu yang ia tendang, tapi juga wajahnya yang bermuka dua di depan layar.

"Mmm," gumaman tidak jelas Sagara menyadarkan Nara dari lamunannya, pria itu berpindah posisi menjadi menyamping ke arahnya. Kini wajah pria itu tampak terlihat jelas di tengah pencahayaan yang minim, Nara ikut menyamping ke arahnya. Ia tersenyum tak kala beberapa helai rambut gondrong pria itu bergerak-gerak mengikuti hembusan napasnya sendiri.

Tangan Nara bergerak perlahan, menyingkirkan helaian rambut Sagara yang menjuntai di depan hidungnya ke arah belakang telinganya. Lalu bergerak perlahan ke pucuk kepala pria itu, mengusapnya dengan pelan.

"Maaf dan terima kasih," ujar Nara berbisik. Tangannya masih mengelus kepala Sagara, dapat ia rasakan rambut pria ini amat halus. Pantas saja dia marah saat beberapa helai rontok oleh perbuatannya, pasti perawatannya mahal.

Nara yang sibuk dengan pikirannya, tidak sadar bahwa sang empunya telah terbangun, menatapnya lekat.

Tak!

Sagara mencengkeram pelan pergelangan tangan Nara yang tengah mengusap kepalanya, perbuatan gadis itu membuatnya terbangun. Dalam mimpinya sang mommy mengusap kepalanya, tapi terasa sangat nyata. Dan ternyata Nara pelakunya.

"Belum tidur?" suara serak Sagara terdengar.

"Nggak bisa tidur," jawab Nara. "Ehhh, maaf. Aku membangunkan mu, ya?" rasa bersalah Nara segera melingkupi, menarik tangannya, tetapi tidak dilepaskan oleh pria itu.

"Sagara, maaf. Aku tidak sengaja menganggu tidurmu. Dan tolong lepaskan tanganku agar kamu bisa kembali tidur, aku janji nggak akan ganggu lagi," pinta Nara memelas tak kala tangannya tak kunjung dilepas.

Sagara tampak diam, kemudian mendengus tidak senang.

Apa dirinya salah bicara? gumam Nara dalam hati. Kemudian dapat ia lihat, Sagara menyingkirkan guling diantara mereka, melemparnya asal ke lantai. Lalu bergeser maju seraya menariknya masuk ke dalam pelukannya, membuatnya hampir berteriak jika pria itu tidak segera menahannya.

"Jangan berteriak, nanti ibu kira kita terlalu bersemangat untuk membuatkannya cucu," ujar pria itu, tepat di atas ubun-ubun Nara.

Jantung Nara berdetak tak karuan, dirinya berada dalam pelukan Sagara. Memang terasa hangat dan nyaman, tapi ...

"Tidurlah, jangan terlalu banyak berpikir. Ini sudah tengah malah," gumam pria itu, suaranya perlahan-lahan menjadi pelan.

"Tapi, ini—" Nara ingin melepaskan diri, namun Sagara malah mengeratkan pelukannya.

"Tidur Nara, jangan terlalu banyak bergerak. Atau kamu akan membangunkan sesuatu yang lain!"

Tubuh Nara seketika membeku, mengerti maksud pria itu. Tidak berdaya, ia pun berusaha menutup mata. Wangi tubuh Sagara memenuhi hidungnya, terasa menyenangkan, sampai Nara tidak menampiknya. Pelan tapi pasti, napasnya mulai terdengar teratur.

Sagara tersenyum tak kala gadis itu telah tertidur dalam pelukannya, perasaan sedikit tergelitik dengan buncahan emosi baru yang memenuhi hatinya. Keinginan menjaga dan membuatnya nyaman, muncul begitu saja. Mungkinkah ini nalurinya sebagai seorang suami. Sepertinya begitu, Sagara sama sekali tidak menapik. Bibirnya tersenyum tak kala kepala Nara bergerak-gerak di dadanya, mencari posisi nyaman. Tidak lama kemudian, ia pun ikut merajut mimpi. Terlelap, saling berpelukan.

***

Nara terbangun oleh ketukan pintunya yang mendesak, ia menoleh ke sekitar, tidak lagi mendapati Sagara di sampingnya.

"Nara, Nara ..." terdengar suara ibunya di luar, memanggil. Lalu tidak lama kemudian, pintunya terbuka. Wajah ibunya terlihat pucat, raut paniknya tampak jelas, membuat Nara menyingkap selimut untuk segera bangkit dan menghampiri sang ibu.

"Ada apa, Bu? Kenapa? Tenang, tarik napas dulu, lalu buang perlahan ...." Nara menuntun ibunya dengan lembut, yang langsung diikuti oleh Bu Ratna

Setelah merasa ibunya tenang, Nara kembali menanyakan. "Sebenarnya ada apa, Bu?"

"Ibu baru saja dapat kabar kalau Uwa mu dilarikan ke rumah sakit, keadaannya tiba-tiba drop. Ibu mau ke sana," jelas Ratna, suaranya patah-patah. Rasa bersalah melingkupi hati. "Ibu sudah lama tidak menjenguknya, sekarang malah dengar dia drop dan masuk rumah sakit. Padahal bulan lalu masih sempat ngomel-ngomel sama Ibu di telepon suruh cari pendamping kamu." Suara Ratna mulai tercekat, mengingat momen terakhir bersama sang kakak.

Nara memeluk ibunya, mengusap bahunya berharap dapat sedikit memberikan ketengan. "Kalau begitu Nara ikut Ibu, ya. Kita sama-sama pergi jenguk, Uwa."

Ratna melepaskan pelukan anaknya. "Tidak usah, Ibu sendiri saja. Kamu tolong bantu Ibu bagi-bagiin makanan yang terlanjur Ibu masak ke tetangga sama yang ngekos. Dimakan sendiri itu kebanyakan, kalau disimpan lagi takutnya basi."

"Tapi, Bu—"

"Tidak apa-apa, Ibu bisa. Lagi pula ada sepupumu yang jemput Ibu nanti pas turun dari terminal dan langsung antar ke rumah sakit. Sudah, Ibu mau siap-siap dulu." Ratna keluar kamar anaknya dengan langkah cepat. Nara hanya bisa menghela napas, ia ikut keluar untuk membantu ibunya berkemas.

Saat Sagara pulang dari masjid, jam menunjukkan pukul 6 lewat. Melihat kericuhan dan ketegangan sang ibu mertua. Ia pun bertanya hal yang sama, dan sang mertua menyempatkan menjelaskan.

"Memang ada bus pagi begini, Bu?"

"Ada, Nak. Jam 7 bus pertamanya berangkat," jawab Ratna, tangannya sibuk memperbaiki jilbabnya yang oleng sampai Nara datang membantu.

"Kalau begitu Sagara yang antar, tunggu sebenar. Sagara pake celana dulu."

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!