NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Rahasia itu mulai menjadi alasan mengapa begitu banyak orang memburu gadis tersebut.

Malam telah berganti menjadi dini hari.

Hujan tipis yang sejak tadi membasahi halaman Mansion Laurent akhirnya berhenti, menyisakan embun di dedaunan dan udara yang terasa jauh lebih dingin.

Seluruh mansion kembali tenggelam dalam kesunyian.

Sebagian besar lampu telah diredupkan.

Para pelayan sudah kembali ke ruang istirahat mereka secara bergantian.

Hanya beberapa pengawal yang masih berpatroli mengelilingi bangunan utama.

Di kamar tamu lantai dua...

Alyssa sama sekali belum bisa memejamkan mata.

Ia duduk memeluk kedua lutut di atas ranjang.

Tatapannya kosong mengarah ke jendela besar yang menghadap taman belakang.

Ucapan Mariska terus berputar di kepalanya.

"Kalau kau ingin tahu siapa ibu kandungmu..."

"Pulanglah."

Semakin ia berusaha melupakan kalimat itu...

Semakin kuat bayangan seorang perempuan yang bahkan wajahnya tidak mampu ia ingat dengan jelas.

Benarkah...

Ibu kandungnya masih hidup?

Kalau benar...

Mengapa selama ini ia ditinggalkan?

Atau...

Apakah sebenarnya ia tidak pernah ditinggalkan?

Bagaimana jika selama bertahun-tahun ia justru dibohongi?

Air mata kembali menetes.

"Aku harus tahu..."

Suara lirih itu nyaris tidak terdengar.

Ia menoleh ke arah pintu.

Sunyi.

Tidak ada siapa pun.

Kemudian ia mengingat perkataan Lucas.

"Di mansion ini tidak seorang pun akan memaksamu keluar."

Ia tahu Lucas berniat melindunginya.

Namun justru karena itulah...

Ia merasa tidak berhak menyeret keluarga Laurent ke dalam masalahnya.

Kalau Patrick benar-benar datang...

Bukankah mereka semua akan ikut terancam?

"Aku tidak boleh tinggal di sini..."

Ia berdiri perlahan.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

Lalu berhenti pada balkon kecil yang terhubung dengan kamar tamu.

Perlahan...

Ia membuka pintu balkon.

Angin malam langsung menerpa wajahnya.

Dari sana terlihat taman belakang mansion yang begitu luas.

Di bawah balkon terdapat hamparan rumput yang cukup tebal.

Ketinggiannya memang sekitar dua lantai.

Namun dalam keadaan panik...

Alyssa mulai meyakinkan dirinya sendiri.

"Kalau aku mendarat di rumput..."

"Mungkin aku hanya akan terluka sedikit."

Ia menarik napas panjang.

Tangannya mencengkeram pagar balkon.

Jantungnya berdetak sangat cepat.

"Aku harus pergi..."

Ia mengangkat satu kaki.

Lalu memanjat pagar balkon.

Tubuhnya mulai berada di sisi luar pagar.

Tangannya gemetar hebat.

Namun sebelum sempat melompat...

Di sudut halaman...

Seorang pengawal yang sedang berpatroli mendongak karena mendengar suara pintu balkon terbuka.

Matanya langsung membelalak.

"Nona!"

Teriakan itu membuat Alyssa refleks menoleh.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Aah!"

Bruk!

Ia tetap terjatuh.

Namun bukan langsung ke tanah.

Tubuhnya lebih dulu menghantam kanopi kaca dekoratif yang berada di bawah balkon.

Kaca tebal itu retak keras, meredam benturan sebelum Alyssa terguling ke semak dan rumput di bawahnya.

Suara pecahan kaca menggema di seluruh halaman.

Alarm keamanan langsung berbunyi.

"Wiu... wiu... wiu..."

Lampu taman menyala terang.

Para pengawal berlari dari berbagai arah.

Di dalam mansion...

Lucas yang masih berada di ruang kerjanya langsung berdiri.

"Apa yang terjadi?"

Adrian yang menerima laporan dari alat komunikasi menjawab cepat.

"Ada seseorang jatuh dari balkon kamar tamu!"

Wajah Lucas langsung berubah.

"Alyssa."

Tanpa menunggu lift...

Ia berlari menuruni tangga.

Di taman belakang...

Beberapa pengawal sudah lebih dulu mengelilingi Alyssa.

"Nona, jangan bergerak!"

"Hubungi dokter!"

"Pastikan tidak ada cedera tulang belakang!"

Alyssa meringis kesakitan.

Pergelangan kakinya terasa nyeri.

Lengan kirinya kembali tergores akibat pecahan kaca.

Napasnya memburu.

"Aku..."

"Aku harus pergi..."

Seorang pengawal mencoba menenangkannya.

"Jangan bergerak dulu."

Tak lama kemudian...

Lucas tiba.

Langkahnya cepat.

Tatapannya langsung mencari sosok Alyssa.

Begitu melihat gadis itu terbaring dengan wajah pucat dan pakaian penuh rumput serta serpihan kaca, rahangnya mengeras.

Dokter keluarga segera datang.

Setelah pemeriksaan singkat, dokter berkata,

"Tidak ada tanda cedera serius pada kepala."

"Pergelangan kaki kemungkinan terkilir."

"Ada beberapa luka sayat ringan."

"Untung kanopi kaca memperlambat jatuhnya."

Lucas tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya berdiri memandang Alyssa.

Tatapan itu...

Berbeda dari sebelumnya.

Tidak dingin.

Melainkan dipenuhi kemarahan yang ditahan sekuat tenaga.

"Angkat dia."

Perintahnya singkat.

Alyssa dibawa kembali ke kamar.

Seluruh perjalanan berlangsung dalam keheningan.

Tak seorang pun berani berbicara.

Bahkan para pelayan yang melihat dari kejauhan langsung menundukkan kepala.

Mereka belum pernah melihat ekspresi Lucas seperti malam itu.

Beberapa saat kemudian...

Setelah dokter selesai membalut kaki Alyssa...

Semua orang diminta keluar.

Kini hanya tinggal mereka berdua.

Suasana kamar terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.

Lucas berdiri di dekat jendela.

Membelakangi Alyssa.

Selama hampir satu menit...

Tak satu kata pun keluar.

Alyssa menundukkan kepala.

"Maaf..."

Lucas tetap diam.

"Maaf..."

Suara Alyssa semakin lirih.

"Aku hanya..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya.

Lucas berbalik.

Tatapannya tajam.

"Cukup."

Satu kata itu membuat Alyssa langsung terdiam.

Lucas berjalan mendekat.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Alyssa menggigit bibir.

"Aku..."

"Aku tidak ingin merepotkan siapa pun."

Lucas tertawa pelan.

Namun tawa itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Jadi menurutmu..."

"Dengan melompat dari balkon lantai dua..."

"Itu tidak merepotkan?"

Alyssa langsung menunduk.

Lucas melanjutkan.

"Seluruh sistem keamanan mansion aktif."

"Belasan pengawal menghentikan patroli."

"Dokter keluarga dibangunkan."

"Pelayan panik."

"Dan kau berkata tidak ingin merepotkan siapa pun?"

Nada suaranya tetap rendah.

Namun justru itu yang membuat seluruh ruangan terasa semakin menekan.

Alyssa menitikkan air mata.

"Aku hanya ingin mencari ibuku..."

Lucas memotong.

"Lalu?"

"Kau bahkan tidak tahu ke mana harus pergi."

"Tidak tahu siapa yang harus ditemui."

"Tidak tahu siapa lawanmu."

"Tapi kau memilih melompat."

Alyssa terisak.

"Kalau aku tetap di sini..."

"Kalian semua akan ikut dalam bahaya."

Lucas menatapnya lama.

"Apa kau tahu..."

"Apa yang paling membuatku marah?"

Alyssa menggeleng pelan.

Lucas menarik napas panjang.

"Aku sudah mengatakan..."

"Kau aman di sini."

"Tapi kau sama sekali tidak mempercayainya."

Bukan bentakan.

Bukan teriakan.

Justru kalimat itu terasa jauh lebih menusuk.

"Aku mengerahkan orang."

"Aku memperketat keamanan."

"Aku mulai menyelidiki Patrick."

"Aku bahkan memerintahkan pencarian tentang ibu kandungmu."

"Lalu balasan yang kuterima..."

Lucas menunjuk ke arah balkon.

"...adalah kau melompat keluar."

Alyssa menangis semakin keras.

"Aku takut..."

"Aku benar-benar takut..."

Lucas menatap gadis itu.

Ia dapat melihat bahwa ketakutannya nyata.

Namun kemarahannya belum juga mereda.

"Takut?"

"Aku juga tahu rasa takut."

"Aku takut kau mati malam ini."

Kalimat itu membuat Alyssa terangkat menatapnya.

Lucas mengusap wajahnya pelan.

Untuk pertama kalinya...

Nada suaranya terdengar sedikit bergetar.

"Kalau tadi kepalamu menghantam batu..."

"Kalau kaca itu tidak menahan jatuhmu..."

"Kalau lehermu patah..."

"Apa kau pikir semua masalahmu selesai?"

Ruangan kembali sunyi.

Lucas memejamkan mata sesaat.

Kemudian berkata dengan suara tegas.

"Dengarkan aku baik-baik."

"Selama kau berada di mansion ini..."

"Kau bukan tahanan."

"Tapi kau juga bukan orang yang bisa bertindak sesukamu."

"Aku bertanggung jawab atas keselamatanmu."

"Kalau kau terus mengabaikan aturan keamanan..."

"Maka aku akan mengambil langkah yang lebih tegas."

Alyssa menahan napas.

Lucas menekan tombol interkom.

"Adrian."

Suara Adrian terdengar dari alat komunikasi.

"Ya, Tuan."

"Mulai malam ini..."

"Tambahkan penjagaan di lantai dua."

"Pastikan balkon kamar tamu dikunci sementara."

"Dan setiap kali Nona Alyssa ingin keluar dari area dalam mansion..."

"Harus ada pendamping."

Alyssa langsung mengangkat kepala.

"Apa?"

Lucas menatapnya.

"Kau marah?"

"Aku..."

"Itu sama saja mengurungku."

Lucas menjawab tanpa ragu.

"Tidak."

"Itu namanya mencegahmu melakukan tindakan bodoh untuk kedua kalinya."

Air mata Alyssa kembali mengalir.

"Aku bukan anak kecil..."

Lucas langsung menyela.

"Kalau begitu berhentilah bertindak seperti anak kecil."

Kalimat itu membuat Alyssa membeku.

Lucas jarang meninggikan suara.

Namun kali ini...

Nada tegasnya benar-benar menunjukkan bahwa ia kehilangan kesabaran.

Ia berdiri beberapa detik.

Kemudian berkata lebih tenang.

"Kepercayaan diberikan kepada orang yang mampu menjaganya."

"Malam ini..."

"Kau menghancurkan kepercayaan itu."

"Aku tetap akan melindungimu."

"Tapi mulai sekarang..."

"Kau harus mengikuti aturan mansion."

Tanpa menunggu jawaban...

Lucas berjalan menuju pintu.

Sesaat sebelum keluar...

Ia berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata pelan,

"Kalau kau benar-benar ingin menemukan ibu kandungmu..."

"Biarkan kami mencarinya dengan cara yang benar."

"Lari tanpa arah hanya akan membuatmu jatuh ke tangan orang yang salah."

Pintu pun tertutup perlahan.

Klik.

Alyssa terduduk lemas di atas ranjang.

Tangisnya pecah.

Baru kali itu ia menyadari...

Kemarahan Lucas bukan lahir karena ia membangkang.

Melainkan karena pria itu benar-benar khawatir ia akan kehilangan nyawanya.

Sementara itu, di koridor luar, Adrian menghampiri Lucas.

"Apakah keputusan ini sudah final, Tuan?"

Lucas mengangguk singkat.

"Untuk sementara."

Adrian memandang pintu kamar Alyssa.

"Dia pasti merasa dikekang."

Lucas menghela napas panjang.

"Lebih baik dia membenciku karena aturan ini..."

"...daripada aku harus menyesal karena terlambat menyelamatkannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!