Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Kembali ke gubuk Pak Tua Raja, suasana hening membebani ruangan. Kesempatan yang ditawarkan—pertemuan puncak semua pemimpin kelompok di satu tempat—adalah mimpi sekaligus mimpi buruk. Di sana ada Ridwan, Rusli, Bimo, dan akhirnya sosok "Bayangan Utama" yang selama ini bersembunyi. Tapi tempat itu adalah benteng terkuat mereka, dijaga ribuan pasukan dan sistem pertahanan canggih.
“Kita tidak bisa menyerbu masuk,” kata Pak Haris memecah keheningan. “Bahkan jika kita punya senjata cukup, kita hanya akan menjadi sasaran empuk sebelum sempat membuka mulut.”
“Tapi kita tidak perlu menyerbu,” timpal Dimas, prajurit muda yang memberi informasi tadi. “Saya tahu kelemahan yang hanya diketahui staf inti. Kompleks itu dibangun di atas tanah berpori. Ada sistem saluran pembuangan air hujan tua yang menyatu dengan gua alami di bawah bukit. Jalannya sempit, tidak dijaga, dan langsung bermuara di halaman belakang gedung utama.”
Ia menyodorkan selembar kertas gambar sketsa kasar. “Saya melihat denah itu saat bertugas di ruang arsip. Tapi ada syarat berat: saluran itu sering tergenang air, dan bagian tengahnya melewati zona yang dipasang ranjau tekanan. Satu langkah salah, semuanya berakhir di sana.”
Mereka mempelajari sketsa itu berjam-jam. Rencana disusun: menyusup lewat jalur bawah tanah tepat sehari sebelum pertemuan puncak, menyembunyikan diri di ruang teknis gedung, dan merekam seluruh pembicaraan—bukan sekadar menangkap mereka, tapi membiarkan mereka mengakui semua rencana mengerikan secara langsung.
Malam sebelum keberangkatan, Pak Tua Raja memanggil mereka ke beranda. “Kalian berjalan menuju mulut naga,” katanya pelan. “Tapi ingat: naga pun bisa kalah jika kita tahu ke mana harus menusuk. Mereka mengandalkan kekuatan senjata dan tembok tinggi. Tapi mereka lupa bahwa tanah tempat mereka berdiri adalah milik rakyat.”
Perjalanan menuju mulut saluran pembuangan memakan waktu seharian. Lokasinya tersembunyi di balik air terjun kecil di sisi lain hutan. Saat masuk ke dalam, udara terasa dingin dan berbau lumpur. Mereka berjalan beriringan, Dimas paling depan memandu langkah demi langkah menghindari ranjau tersembunyi.
“Tiga langkah ke kanan,” bisiknya pelan. “Lalu lompat ke batu besar di depan. Tanah di kiri bertekanan ringan.”
Perjalanan itu memakan waktu lima jam yang terasa seperti selamanya. Napas mereka ditahan berkali-kali, hati berdebar kencang setiap kali kaki menyentuh tanah baru. Menjelang fajar, mereka melihat cahaya remang di ujung lorong—mereka sudah berada tepat di bawah lantai gedung utama kompleks.
Mereka naik lewat lubang servis ke ruang ventilasi di lantai atas. Dari balik kisi-kisi besi, mereka bisa melihat ruang rapat pusat dengan jelas. Meja besar berwarna gelap sudah disiapkan, mikrofon tersembunyi di setiap sudut, dan pengawal berpatroli di luar pintu.
Siang berganti sore. Tepat saat matahari mulai turun, pintu terbuka. Satu per satu masuk orang yang mereka cari: Rusli dengan wajah tenang dan percaya diri, Bimo yang berjalan tegak tanpa menoleh ke kiri kanan, dan terakhir Ridwan—yang tampak lebih kurus dan tegang, namun tetap mengenakan pakaian rapi. Mereka duduk di tiga sisi meja besar.
Namun kursi di sisi paling depan masih kosong.
“Dia akan datang lewat pintu terpisah,” bisik Dimas pelan. “Tidak ada yang tahu jam pasti kedatangannya.”
Mereka menunggu berjam-jam. Hingga akhirnya, pintu di ujung ruangan terbuka perlahan. Seorang pria tua berjalan masuk dengan tenang, mengenakan pakaian sederhana namun berwibawa luar biasa. Rendra menahan napas—ia pernah melihat wajah itu di buku sejarah sekolah, di dinding gedung pemerintahan, dan di berita penghargaan nasional.
“Bayangan Utama ternyata adalah pahlawan pembangun bangsa,” bisik Pak Haris dengan suara bergetar tak percaya.
Pria itu duduk, menatap ketiga orang di depannya dengan tatapan tajam namun tenang. “Saya tahu kalian sudah bersiap,” katanya tanpa suara keras. “Tapi ingat: proyek Langit Baru bukan tentang ambisi pribadi. Ini tentang memastikan negara ini tetap berdiri berdaulat di tengah dunia yang penuh kepentingan asing. Kalian hanyalah langkah yang harus dilewati.”
Rendra menggenggam alat perekam erat. Kini semuanya sudah jelas: musuh terbesar bukanlah orang asing, melainkan orang yang dipercaya untuk menjaga negeri ini. Dan di ruangan itu, keputusan yang akan menentukan nasib ribuan nyawa sedang diambil.