Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Kebangkrutan
Langkah kaki Haris menyeret berat menelusuri pelataran rumah yang sepi. Setelah diusir secara halus namun dingin oleh Nindya di toko emas, Haris tidak tahu lagi harus melangkah ke mana. Pria itu akhirnya memilih pulang—ke rumah yang selama ini menjadi tempatnya berpulang.
Namun, begitu ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk, tidak ada lagi aroma masakan yang menyambutnya. Tidak ada alunan tawa Arka yang sedang menonton kartun di ruang tengah, dan tidak ada sosok Nindya yang menyambutnya dengan senyum lembut meski dalam kelelahan.
Rumah besar itu kini terasa bagaikan pemakaman yang dingin dan gelap.
Haris melangkah lesu ke dalam kamar utama. Lemari pakaian terbuka separuh, memperlihatkan sisa-sisa bagian yang kosong melompong. Tempat penyimpanan pakaian Nindya dan Arka telah bersih tanpa sisa. Bahkan foto pernikahan mereka yang dulu tergantung anggun di dinding telah dilepas, meninggalkan bekas bingkai yang samar pada cat tembok.
Haris terduduk lemah di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya yang kasar, menatap sekeliling ruangan yang kini memantulkan kehampaan hatinya sendiri.
Drrtt... drrtt... drrtt...
Ponsel di dalam saku celananya bergetar tanpa henti. Saat Haris melirik layarnya, nama Siska kembali muncul bersama puluhan pesan singkat yang menagih uang, apartemen, serta kejelasan pernikahan siri untuk menutupi kehamilannya.
Bukan hanya dari Siska, layar ponselnya juga dipenuhi notifikasi surel dari divisi HRD dan Dewan Direksi perusahaannya. Akibat bukti-bukti perzinahan yang sempat tersebar di pengadilan, nama baik Haris di kantor hancur lebur. Surat pemanggilan sidang etik dan ancaman pencopotan jabatan secara tidak hormat sudah menunggu di atas mejanya besok pagi.
Haris melempar ponsel itu ke atas kasur dengan rasa muak yang luar biasa. Pria yang dulu begitu angkuh, merasa paling berkuasa, dan selalu meremehkan istrinya itu kini benar-benar kehilangan segala-galanya.
Ia kehilangan jabatan, reputasi, wanita yang mencintainya dengan tulus, serta putra semata pembawa kebahagiaannya.
"Nindya... Arka..." bisik Haris dengan suara serak yang memecah keheningan kamar.
Penyesalan itu datang menghantam bertubi-tubi, seperti ombak besar yang meremukkan dadanya. Dulu, ia menganggap Nindya hanyalah sosok istri biasa yang bisa ia bohongi dan manfaatkan sesuka hati. Dulu, ia mengira kesenangan semu bersama Siska adalah segalanya.
Namun kini, saat bayangan Siska justru terasa bagaikan beban yang mencekik lehernya, Haris baru menyadari betapa bernilainya ketulusan Nindya yang telah ia hancurkan sendiri.
Haris merebahkan tubuhnya di atas kasur yang dingin, menatap langit-langit kamar yang sepi. Di rumah yang kini tanpa cahaya dan tanpa kehidupan itu, Haris akhirnya menangis terisak-isak sendirian. Pintu penyesalan telah tertutup rapat, dan ia harus menjalani sisa hidupnya dalam sangkar kehancuran yang ia buat dengan tangannya sendiri.
Roda kehidupan berputar begitu cepat dan menyengat. Hanya dalam hitungan minggu setelah vonis pengadilan dan sidang etik perusahaan, kehidupan Haris yang dulu bergelimang kemewahan mendadak runtuh tanpa sisa.
Keputusan Dewan Direksi sudah tidak dapat diganggu gugat. Skandal perzinahan yang mencuat di persidangan serta kerugian reputasi perusahaan membuat Haris dicopot secara tidak hormat dari jabatannya sebagai Manajer Utama. Posisi strategis yang selama bertahun-tahun ia banggakan kini resmi digantikan oleh orang lain.
Haris tidak dipecat sepenuhnya, namun nasibnya jauh lebih tragis. Ia didegradasi ke posisi paling bawah: menjadi staf administrasi biasa dengan gaji sebatas UMR.
Di kantor, ia kini menjadi bahan cemoohan dan bisik-bisik rekan kerjanya. Pria yang dulu selalu tampil klimis dengan jas mahal dan jam tangan mewah itu kini harus duduk di pojokan kubikel sempit, berkutat dengan tumpukan berkas fisik yang tak ada habisnya, sembari mengenakan kemeja kusam yang mulai pudar warnanya.
Tidak berhenti di situ, badai finansial menghantamnya tanpa ampun. Selama ini, Haris dibutakan oleh rasa cinta dan nafsu semu kepada Siska. Demi memanjakan wanita itu, Haris telah menguras seluruh tabungan masa depannya.
Ia membelikan Siska barang-barang brand mewah, membiayai gaya hidup glamornya, membayar sewa apartemen mahal, hingga menjanjikan berbagai aset bersama. Ditambah lagi dengan kewajiban pembayaran nafkah anak yang telah ditetapkan hakim untuk Arka serta biaya perkara hukum, semua kekayaan Haris menguap bagaikan air di atas wajan panas.
Haris kini benar-benar bangkrut.
Sore itu, di dalam kontrakan sempit bernuansa kusam yang kini harus ia sewa menggantikan rumah mewahnya, Haris duduk di tepi kasur busa yang tipis. Di meja kayu lapuk di hadapannya, terhampar sisa uang tunai yang sangat minim dan beberapa lembar tagihan yang menumpuk.
Brak!
Pintu kontrakan didorong kasar dari luar. Siska melangkah masuk dengan piyama kumal dan raut wajah penuh amarah. Perutnya yang makin membuncit tidak mengurangi rasa egois dan tuntutannya.
"Mas! Mana uang belanja buat minggu ini?!" bentak Siska tanpa rasa hormat sedikit pun. "Uang susu hamilku habis, sewa tempat ini juga belum dibayar! Kenapa sih kamu makin melarat begini?!"
Haris menengadah, menatap Siska dengan pandangan lelah dan muak. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa cinta atau pesona seksi yang dulu membuatnya mabuk kepayang. Yang ada di hadapannya hanyalah seorang wanita parasit yang terus menggerogoti sisa-sisa hidupnya.
"Aku cuma staf biasa sekarang, Siska! Gajiku cuma UMR!" teriak Haris penuh frustrasi. "Semua tabunganku sudah habis buat kamu! Kamu pikir aku bisa memetik uang dari pohon?!"
"Ooh, jadi kamu nyalahin aku?!" balik bentak Siska dengan nada tinggi dan tajam. "Kamu pikir aku mau hidup menderita di kontrakan sempit begini sama kamu?! Kalau tahu kamu bakal jatuh miskin begini, aku nggak akan mau berhubungan sama kamu!"
Siska berbalik dan membanting pintu kamar mandi dengan keras, meninggalkan Haris yang memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
Haris memejamkan mata rapat-rapat. Air mata penyesalan yang amat asin menetes di pipinya. Ia mengingat kembali masa-masa indahnya bersama Nindya. Dulu, seberapa pun sulitnya keadaan, Nindya selalu menyambutnya dengan senyum tulus, merawatnya dengan penuh kehangatan, dan mengelola keuangan mereka dengan sangat bijaksana. Nindya tidak pernah menuntut kemewahan diluar batas, melainkan selalu menjadi penopang yang paling setia.
Kini, Haris baru sadar. Ia telah membuang sebutir permata murni demi menggenggam sebongkah batu jalanan yang beracun. Kehidupannya kini adalah neraka di dunia yang ia ciptakan atas dasar kebodohannya sendiri.