NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

​Syifa menggeliat pelan, merasakan tubuhnya seperti berbaring di atas tempat tidur yang teramat nyaman dan empuk. Perlahan, sepasang matanya berkedip, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan yang temaram. Begitu pandangannya memfokus, ia langsung terperanjat, menatap langit-langit plafon yang tinggi dan arsitektur ruangan bernuansa modern minimalis yang terasa sangat asing di matanya.

​"I-ini di mana? Kamar siapa ini? Apa aku diculik orang?" tanyanya panik pada diri sendiri, langsung terduduk tegak di atas kasur sembari merapatkan jilbabnya yang sedikit berantakan.

​"Sudah bangun, hm?"

​Sebuah suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari sudut ruangan. Syifa tersentak, cepat-cepat menoleh ke arah sumber suara di dekat pintu.

​"Mas Fadhlan?"

​Fadhlan tampak sedang duduk bersandar di sofa kulit dekat meja kerjanya. Meski jam dinding sudah menunjukkan waktu larut malam, di mata Syifa, suaminya itu masih saja terlihat sangat segar dan rupawan seperti di pagi hari. Fadhlan hanya mengenakan kemeja putih bersih dan celana panjang kain hitam, lengan kemejanya digulung rapi sampai batas siku, menampilkan kesan maskulin yang kuat.

​"Mas ini di mana?" tanya Syifa, suaranya masih menyiratkan kepanikan yang sisa.

​"Di ruang kerja saya," jawab Fadhlan santai, lalu berdiri dan melangkah lebar mendekati ranjang tempat Syifa berada.

​Syifa mengernyitkan dahi, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan luas yang dilengkapi dengan lemari buku raksasa dan meja kayu besar itu. "Di ruang kerja mas Fadhlan, ada kamar sebesar ini?"

​Fadhlan terkekeh pelan melihat kepolosan istrinya. "Iya, memang ada," sahutnya lembut, lalu mengulurkan tangan untuk menoel ujung hidung Syifa dengan gemas. "Lagipula, ada apa kamu mencari saya sejak sore, Dek?"

​"Astaghfirullah!" Syifa seketika menepuk jidatnya sendiri, baru teringat sepenuhnya pada tujuan utama yang membawanya kemari. "Tadi saya disuruh Abi untuk panggil Mas ke kamar kakek. Kakek bilang ingin bertemu dan mengobrol berdua saja dengan Mas malam ini."

​Fadhlan kembali terkekeh, hatinya menghangat melihat ekspresi panik sekaligus menggemaskan yang terpancar dari wajah Syifa.

​"T-tapi... maaf, Mas. Saya malah ketiduran di luar tadi," lanjut Syifa bersalah, meremas jemarinya. "Kata wanita yang di depan, Mas sedang ada rapat penting dengan relasi, jadi saya putuskan untuk menunggu saja di sana."

​Fadhlan mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap istrinya lekat-lekat. "Kenapa tadi kamu tidak langsung masuk saja ke ruangan ini, atau bilang ke staf di depan kalau kamu adalah istri dari Fadhlan Ganendra?"

​Syifa merengut tipis, mengingat kembali perlakuan dingin staf modis sore tadi. "Heumm..apa mereka akan percaya? Tadi waktu saya tanya, saya malah ditanya balik oleh dua wanita di sana, sudah buat janji temu apa belum dengan Pak Fadhlan. Ya, saya jawab saja jujur kalau belum punya janji."

​Fadhlan menghela napas panjang, sorot matanya melembut penuh rasa bersalah karena telah membuat istrinya telantar. "Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau kamu mau ke sini atau butuh sesuatu, langsung telepon saya atau Aidan, hm? Jangan menunggu di luar lagi," tutur Fadhlan lembut, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Syifa yang terasa halus. "Kamu sudah makan belum?"

​Syifa menggelengkan kepalanya pelan, perutnya mendadak berbunyi kecil seolah membenarkan ucapan suaminya.

​"Kamu mau makan apa malam ini? Biar saya pesan makanan dan meminta orang mengantarnya langsung ke ruangan ini," ujar Fadhlan, meraba saku celananya untuk mengambil ponsel.

​"Jangan, Mas. Tidak usah repot-repot," tolak Syifa cepat, memegang pergelangan tangan Fadhlan. "Nanti saya bisa turun sendiri untuk mencari makanan di cafetaria."

​Fadhlan menurunkan ponselnya, menatap Syifa dengan senyuman hangat. "Bagaimana kalau kita pergi mencari makan sama-sama di bawah? Kebetulan, saya juga belum makan malam sejak rapat tadi."

​Syifa terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju, mereka berdua pun merapikan diri dan melangkah keluar ruangan, berjalan beriringan menuju cafetaria utama yang terletak di lantai dasar rumah sakit.

...----------------...

​Sepanjang perjalanan menyusuri koridor hingga masuk ke dalam lift, banyak sekali staf rumah sakit, perawat, hingga dokter spesialis yang berpapasan dan menyapa Fadhlan dengan membungkuk hormat. Syifa, yang baru pertama kali ini berjalan berdampingan secara terang-terangan di tempat umum bersama suaminya, hanya bisa menundukkan kepala dengan pipi merona malu. Apalagi, sejak semenjak melangkah keluar dari pintu ruangan di lantai lima tadi, Fadhlan terus saja menggenggam erat telapak tangannya tanpa memedulikan tatapan mata orang-orang sekitar.

​"Mas mau makan apa?" tanya Syifa setengah berbisik setelah mereka tiba di area cafetaria yang cukup luas.

​"Saya mau Mie Goreng Seafood saja, dek."

​Syifa mengedarkan pandangan ke papan menu, matanya berbinar tipis. "Hmm...saya pilih apa ya? Oh, ayam bakar pakai sambal lalapan kelihatannya enak sekali,"

​Fadhlan menoleh, menatap istrinya dengan dahi berkerut pelan namun penuh perhatian. "Makan makanan pedas terus, nanti perutmu bisa sakit lagi, Dek," tegurnya lembut, sambil tangan kirinya terangkat mengusap puncak kepala Syifa yang tertutup jilbab rapi.

​"Janji, Mas... kali ini saya pesannya yang tidak terlalu pedas kok, hehe," rayu Syifa dengan cengiran khasnya.

​Kehadiran Fadhlan di cafetaria malam itu tak pelak langsung menyita perhatian seluruh orang di sana. Sebagai CEO sekaligus pemilik rumah sakit besar ini, Fadhlan hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di cafetaria umum. Biasanya, ia selalu meminta Aidan untuk memesankan makanan dan membawakannya langsung ke ruang kerjanya. Namun kali ini, demi menemani istri tercinta yang sedang kelaparan, ia rela meluangkan waktu dan berjalan di antara kerumunan kantin rumah sakit.

​"Selamat malam, Pak Fadhlan. Maaf kalau saya lancang, tapi tumben sekali malam ini Bapak berkenan datang langsung kemari? Biasanya kan Pak Aidan yang selalu turun untuk memesan," sapa salah satu ibu karyawan senior pengelola cafetaria dengan ramah dan takzim.

​Fadhlan tersenyum tipis, mengangguk sopan. "Iya, Bu. Kebetulan malam ini sedang ingin makan di sini. Sekalian menemani istri saya makan malam," jawab Fadhlan dengan nada suara yang terdengar begitu bangga saat melafalkan kata 'istri'.

​Ibu karyawan itu tertegun sejenak, matanya beralih menatap Syifa yang berdiri di samping Fadhlan. "Ini istrinya Pak Fadhlan? Masya Allah cantik dan serasi sekali dengan Pak Fadhlan ya," pujinya tulus.

​Syifa yang dipuji seperti itu hanya bisa tersenyum malu-malu dengan wajah yang kian memerah. "Terima kasih banyak, Ibu."

​"Mau pesan menu makanan apa malam ini Pak, Bu?" tanyanya lagi dengan penuh semangat.

​"Saya mau pesan mie goreng seafood-nya satu porsi, lalu ayam bakar satu porsi juga pakai nasi. Untuk minumnya, kamu mau apa, Mas?" tanya Syifa beralih menatap suaminya.

​"Saya lemon tea hangat, Dek."

​"Oh iya, Bu... lemon tea hangat satu, sama jasmine tea dingin satu ya," ujar Syifa merincikan seluruh pesanan mereka.

​"Baik, pesannya sudah dicatat ya. Mohon ditunggu sebentar di meja, Pak, Bu," sahut karyawan cafetaria tersebut dengan wajah gembira, merasa mendapat kehormatan besar malam ini karena bisa menyajikan makanan langsung untuk orang paling berpengaruh di tempat kerja mereka.

.

​Fadhlan dan Syifa melangkah menuju sudut cafetaria, memilih sebuah meja kosong yang letaknya agak jauh dari keramaian agar bisa mengobrol lebih leluasa. Begitu duduk, Fadhlan langsung mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa beberapa pesan.

​Syifa menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap suaminya yang tampak begitu serius di balik layar ponsel. Pikiran Syifa mendadak kembali melayang pada kejadian sore tadi di lantai lima.

​"Mas, setiap kali Mas datang ke rumah sakit ini, apa Mas pasti selalu bertemu dengan mereka?" tanya Syifa tiba-tiba, memecah keheningan.

​Fadhlan tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap wajah Syifa dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. "Siapa?"

​"Itu dua wanita yang berjaga di depan ruangan kerja Mas tadi sore. Yang pakaiannya pakai rok mini di atas lutut itu," ujar Syifa pelan, ada sedikit nada ketidaksukaan yang tertahan di ujung kalimatnya.

​Fadhlan terdiam sejenak, mengamati perubahan ekspresi di wajah istrinya sebelum sebuah senyuman tipis misterius terbit di sudut bibirnya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.

...----------------...

"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Dek? Apa kamu sedang merasa cemburu sekarang, hm?" tanya Fadhlan dengan nada menggoda, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

​Syifa tersentak, buru-buru menegakkan punggungnya dan membuang muka ke arah lain demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "A-tidak! Siapa juga yang bilang kalau saya cemburu? Tidak sama sekali, Mas. Hanya saja menurut saya, pakaian kerja mereka itu terlalu berlebihan dan bisa dengan mudah membuat kaum pria tertarik untuk melihatnya," jawab Syifa mengelak dengan alasan rasional.

​Fadhlan menaikkan sebelah alisnya, menatap Syifa dengan tatapan tajam dan intens, tatapan yang biasa ia gunakan saat menguji mahasiswanya di ruang kuliah. "Jadi, kamu merasa takut jika suamimu ini ikut tertarik pada mereka?" kejar Fadhlan, sengaja memojokkan Syifa.

​Syifa mendengus pelan, menoleh kembali menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Saya rasa ketakutan seperti itu bukan hanya milik saya saja, Mas. Tapi semua wanita yang sudah menikah di dunia ini pasti merasakan hal yang sama, selalu ada rasa khawatir jika prianya tidak bisa menundukkan pandangan saat melihat wanita lain," jawab Syifa ketus, mengalihkan pandangannya lagi ke arah luar jendela.

​Belum sempat Fadhlan membalas ucapan mendalam istrinya, dari arah pintu masuk cafetaria, berjalan masuk rombongan beberapa dokter muda dan perawat wanita yang tampaknya baru saja menyelesaikan giliran shift sore mereka. Mata salah satu perawat mendadak berbinar saat menangkap sosok pria tampan di sudut kantin.

​"Eh, eh... lihat deh! Itu bukankah Pak Fadhlan, CEO kita?" bisiknya heboh pada teman-temannya.

​"Eh, iya benar! Wah... beruntung banget kita malam-malam begini bisa ketemu Pak CEO langsung di cafetaria umum!"

​"Sapa yuk, mumpung beliaunya lagi santai!" ungkap beberapa perawat itu kegirangan.

​Dengan langkah genit dan senyuman yang merekah lebar, rombongan tenaga medis wanita itu langsung menghampiri meja Fadhlan. "Selamat malam, Pak Fadhlan," sapa mereka serempak dengan nada suara yang dibuat seakrab mungkin.

​Fadhlan mendongak, ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan kaku, berbanding terbalik dengan kehangatannya pada Syifa tadi. "Malam," jawab Fadhlan singkat, padat, dan jelas.

​"Lagi makan malam di cafetaria sini ya, Pak?" tanya salah satu dokter wanita muda yang penampilannya terlihat sangat modis dan trendi dengan riasan wajah yang cukup tebal menurut penilaian mata Syifa.

​"Ya. Saya sedang menemani istri saya yang ingin makan di sini," jawab Fadhlan dengan nada formal yang tegas, sambil matanya tetap fokus menatap ke arah Syifa, benar-benar menjaga pandangannya agar tidak menatap para wanita di depannya.

​Mendengar kata 'istri', rombongan dokter dan perawat itu seketika tertegun, pandangan mereka baru beralih pada gadis berhijab yang duduk di depan Fadhlan. Atmosfer kecemburuan halus mendadak berputar di antara mereka.

​"Oh maaf, Pak. Kami tidak tahu kalau ada Bu Fadhlan di sini. Selamat malam, Bu Fadhlan," ujar dokter muda itu akhirnya, diikuti oleh sapaan kaku dari perawat lainnya.

​"Selamat malam," timpal Syifa, mencoba tetap bersikap sopan dengan mengulas senyuman kaku di bibirnya.

​‘Heh...badanku segede ini duduk di depan Mas Fadhlan, apa dari tadi memang sama sekali tidak kelihatan di mata mereka ya? Huft... sabar, Syifa, sabar,’ batin Syifa menggerutu kesal dalam hati, merasa suaminya benar-benar magnet bagi para wanita.

​"Kalau begitu, kami permisi dulu ya Pak, Bu, untuk mencari meja lain. Selamat menikmati makan malamnya," pamit mereka, menyadari penolakan halus dari sikap dingin sang CEO.

​Syifa terus memperhatikan pergerakan para dokter wanita dan perawat tadi dengan pandangan mata yang menyipit, sampai mereka benar-benar duduk di meja sudut yang jauh. Syifa tahu betul dari gelagat mereka, wanita-wanita itu pasti merupakan bagian dari barisan pengagum rahasia suaminya, persis seperti mahasiswi-mahasiswi genit yang sering ia temui di lingkungan kampus tempat kuliahnya.

​Fadhlan yang sejak tadi diam-diam mengamati setiap detail perubahan raut wajah gusar Syifa, tak tahan untuk tidak melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat gemas.

​"Ada yang lucu, Mas?" tanya Syifa dengan nada ketus, memasang raut wajah kesal yang kentara.

​"Ada," sahut Fadhlan santai.

​"Apanya yang lucu?" kejar Syifa lagi, melipat kedua tangannya di dada.

​"Kamu," jawab Fadhlan dengan tatapan mata yang berkilat jenaka. "Iya, kamu, Dek. Kamu itu kalau sedang cemburu, kelihatan sangat lucu dan teramat menggemaskan di mata saya."

​Syifa memutar kedua bola matanya, mendengus kesal. "Hm... terima kasih atas pujiannya," ujar Syifa jutek. "Lagipula, siapa juga yang cemburu? Saya sudah sangat terbiasa melihat pemandangan seperti ini, Mas. Di kampus pun, barisan pengagum dari Bapak Muhammad Fadhlan Ganendra itu jumlahnya ada ratusan kalau dikumpulkan jadi ribuan."

​Fadhlan menghentikan senyumannya, matanya menyipit mendengar dua kata terakhir dari istrinya. "Tadi, kamu panggil saya apa, Dek?"

​Syifa mengangkat dagunya, menantang tatapan suaminya. "Bapak. Kenapa? Memangnya ada yang salah?"

​Fadhlan menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan maksud tersembunyi, sebuah seringai kecil yang sukses membuat jantung Syifa berdesir cepat. "Oh, tampaknya istri saya ini sudah cukup lama tidak mendapatkan hukuman manis dari suaminya, ya? Kamu mau saya menghukummu sekarang juga di sini, hm?" ledek Fadhlan dengan suara yang direndahkan, penuh godaan.

​"Ihh... apaan sih, Mas! Jangan aneh-aneh deh," bisik Syifa panik, melirik ke sekeliling cafetaria yang masih cukup ramai.

​"Saya sama sekali tidak keberatan untuk melakukannya di sini, Dek. Lagipula, sudah tiga hari ini saya tidak mendapatkan 'hak' hukuman saya," sahut Fadhlan tanpa rasa bersalah.

​"Ngga lucu, Mas!" gerutu Syifa dengan wajah yang mulai memanas.

​"Memang tidak lucu, Dek... tapi rasanya candu," balas Fadhlan telak dengan tatapan mata yang begitu intens mengunci pandangan Syifa.

​‘Ya Allah... Pak Fadhlan! Kenapa sekarang kalau bicara bisa terang-terangan dan tidak tahu tempat begini sih!’ batin Syifa menjerit malu.

​Blush!

​Kedua belah pipi Syifa seketika merona merah padam, menyerupai warna buah tomat matang. Ingatannya mendadak melayang pada momen-momen intim di mana suaminya selalu saja pintar mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mencium atau memeluknya secara tiba-tiba di rumah.

​"Mas Fadhlan!" gerutu Syifa sekali lagi dengan nada kesal yang manja, menendang pelan kaki Fadhlan di bawah meja.

​Di tengah-tengah perdebatan kecil yang penuh bumbu asmara itu, beruntung pesanan makanan mereka akhirnya tiba. Aroma harum dari ayam bakar bumbu kecap dan gurihnya mie goreng seafoos seketika mengalihkan fokus mereka. Karena memang sejak siang hari Syifa belum sempat menyentuh nasi dan hanya mengganjal perutnya dengan sepotong roti, gadis itu langsung menyantap makanannya dengan sangat lahap hingga membuat Fadhlan tersenyum senang menyaksikannya.

...****************...

1
Ulfa 168
udah sampai bab segini blm saling mencintai, maaf lama2 JD bosan bacay... kurang seru
Chani Bae ✨: iya kak, maaf ya ☺🙏 tapi terimakasih sudah berkenan mampir dan sudah beri dukungannya🧡
total 1 replies
banat_helwa
lama² males baca nya kpn coba si syifa sadar sebagai istri
Ida Zubedd
makanyaa sifa buru buka hatimu buat mas mas santri
Chani Bae ✨: hihi iya gemes yaa sama Syifa, do'ain aja yuk biar ingatan Syifa pulih dan inget kalau Fadhlan bukan seorang pria asing yang tiba" dateng ngelamar & nikahin dia ☺
total 1 replies
Ida Zubedd
novelmu adem ayem thor kata2nyaaa , sukaaa bnget ndak grusak grusuk .
Chani Bae ✨: Masyaa Allah kaka terimakasih sudah berkenan mampir di novel pertama saya 🥰🙏 maaf kalau masih banyak kekurangan karena author juga masih harus banyak belajar yaa.. 🙏
total 1 replies
Bunga
good
Chani Bae ✨: Terimakasih kak 💛🙏
total 1 replies
Ulfa 168
lanjut
Ulfa 168
lanjut thor
Chani Bae ✨: ditunggu updatenya ya kaka ☺🧡
total 1 replies
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Chani Bae ✨: terimakasih kakak 🥰🙏 siapp...
total 1 replies
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Chani Bae ✨: alhamdulillah 😭🥰
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!