Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan dimarahin ya, Tan
Setelah sekolah mulai masuk kembali, Arvin benar-benar menghilang. Dia tidak ada lagi membonceng Reza, dan tidak ada satupun pesan yang masuk ke ponsel Karin darinya. Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan hingga tak terasa enam bulan telah berlalu. Selama itu pula, Karin menahan egonya; dia sama sekali tidak mau menanyakan keberadaan Arvin kepada Reza, mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang terjadi di balkon malam itu mungkin memang babak akhir dari cerita mereka.
Hingga suatu sore, seorang kurir paket tiba di depan rumah Karin. Karin sempat mengernyit bingung dan berniat menolak paket tersebut karena merasa tidak memesan barang apa pun. "Maaf mas, saya gak pesan paket dan gak ada titipan paket sama sekali. Barangnya di return aja, mas."
Paket itu sangat tipis, dibalut plastik hitam rapat.
"Tapi mbak, ini alamatnya dan namanya bener kok, saya gak salah kirim paket."
"Harus bayar gak? Atau udah bayar?"
"Udah sih mbak, tinggal terima aja."
Karin akhirnya menerimanya dengan tanda tanya besar.
Karin duduk di sofa ruang tengah, merobek plastik pembungkusnya pelan. Di dalamnya terdapat sebuah amplop cokelat tebal. Begitu segel amplop dibuka, Karin mengeluarkan beberapa lembar kertas putih berbahasa Inggris.
Mata Karin membelalak. Itu adalah lembar hasil ujian sekolah ini milik Arvin.
Karin membalik lembaran itu satu per satu. Deretan nilainya sangat luar biasa, hampir semuanya mendapat nilai sempurna. Namun, gerakan tangan Karin terhenti pada lembar kertas ujian di mana ada mata pelajaran yang mendapatkan nilai 7. Di samping angka tersebut, terdapat coretan tulisan tangan Arvin yang sangat dia kenali.
‘Tante, ini pelajarannya beda banget di sini. Arvin gak ngerti, makanya cuma dapet nilai segini.’
Karin menarik napas pendek, lalu membalik ke lembar berikutnya yang juga bernilai 7. Di sudut bawah kertas, ada catatan kecil lagi.
‘Jangan dimarahin ya, Tan. Aku udah berusaha banget ngerjainnya.’
Tanpa bisa dibendung, dada Karin mendadak berdenyut nyeri. Pertahanannya runtuh, dan setetes air mata hangat mulai jatuh membasahi permukaan kertas ujian tersebut. Karin buru-buru menyekanya, lalu beralih ke lembar paling terakhir. Kertasnya berbeda, bukan lembar ujian, melainkan secarik kertas yang dipenuhi tulisan tangan.
Karin mulai membaca isi surat itu dengan jantung yang bertalu hebat.
Tante, maaf ya, Arvin gak nempatin janji buat belajar sama Tante. Arvin harus pergi ikut Papa ke Amerika. Malem setelah kita BBQ-an di rumah Tante, tadinya aku mau cari angin dan tidur di penginapan buat nenangin pikiran. Tapi tiba-tiba Papa telepon aku... dan ya, ini keputusan yang akhirnya harus Arvin ambil. Ponsel, motor, semuanya disita sama Papa malam itu juga. Papa maksa aku buat ikut karena Papa sama Mama udah resmi cerai.
Hari itu, saat kita ketemu di rumah Reza... itu karena aku yang maksa Papa buat dikasih waktu sebentar ketemu Reza sebelum berangkat ke Amerika. Kebetulan Tante datang, Arvin bener-bener gak sanggup buat pamit langsung sama Tante.
"Dasar bodoh..." umpat Karin lirih di sela isak tangannya, meratapi betapa pintarnya cowok itu menyembunyikan badai sendirian malam itu. Karin menghapus air matanya yang semakin deras, lalu memaksakan diri untuk melanjutkan membaca.
Tante jangan nangis ya pas baca surat ini. Tante jelek kalau nangis, mending senyum aja kayak pas foto. Di sini Arvin baik-baik aja kok. Makanannya emang gak seenak masakan Tante, tapi Arvin gak bakal kelaparan.
Tante jangan keseringan begadang ngerjain kerjaannya, nanti sakit. Terus, jangan genit-genit sama cowok lain ya selama Arvin gak ada. Inget, Tante udah janji mau nungguin aku sampai dewasa. Awas aja kalau Tante ingkar.
Arvin di sini belajar rajin kok, biar cepet lulus, cepet sukses, dan cepet pulang buat nemuin Tante lagi. Tunggu aku ya, Tante Sayang.
Karin meremas surat itu di dadanya, tangisnya pecah seketika di ruang tengah yang sepi. Campuran rasa bersalah, rindu, dan haru menyergapnya secara bersamaan. Kata-kata Arvin yang berusaha menghiburnya justru terasa seperti sembilu yang membuat air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
Setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri, Karin berniat memasukkan kembali lembaran-lembaran kertas itu ke dalam amplop cokelat. Namun, saat dia membalik amplopnya, selembar kertas foto berukuran kecil terjatuh ke atas pangkuannya.
Karin mengambil foto itu. Di sana, terpampang foto Arvin yang sedang berdiri tegak mengenakan seragam sekolah, tangan kanannya memegang sebuah map raport dengan latar belakang gedung sekolah bermonumen asing di Amerika. Wajah cowok itu tampak jauh lebih matang, namun tatapan matanya tetap sama, dingin dan tajam menatap kamera.
Karin membalik foto tersebut. Di bagian belakangnya, terdapat sebaris kalimat pendek yang ditulis dengan tinta hitam tebal.
‘Pembagian raportnya udah gak bisa diambilin sama Tante lagi... Tapi, bukankah sekarang aku udah dewasa bisa mengambilnya sendiri?’
Melihat kalimat terakhir di balik foto itu, tangis Karin yang baru saja mereda seketika pecah kembali, bahkan jauh lebih tergugu dari sebelumnya. Dia membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, berusaha meredam suara isakannya agar tidak menggema di seluruh penjuru rumah yang sepi.
Karin mendekap foto itu erat-erat di dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup ngilu. Kalimat singkat dari Arvin benar-benar menampar kesadarannya.
Karin beranjak dari sofa, berjalan pelan masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka laci paling bawah di meja riasnya, tempat tersembunyi di mana dia menyimpan barang-barang paling berharga. Di sana, Karin meletakkan amplop cokelat berisi lembar ujian, surat, dan foto Arvin dengan sangat rapi.
Karin menarik napas dalam-dalam, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Matanya sembap dan hidungnya memerah, persis seperti apa yang ditulis Arvin di surat.
Karin menyadari satu hal, bahwa dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada Arvin.
Rasa rindu, rasa sakit saat menyadari jarak ribuan mil yang membentang di antara mereka, dan rasa bangga yang luar biasa melihat perjuangannya semua itu adalah bukti nyata bahwa hati Karin sudah sepenuhnya roboh dan terkunci untuk Arvin. Wanita dewasa itu telah benar-benar jatuh hati pada sosok remaja yang berjanji akan menjadi pria dewasa untuknya.
Karin tersenyum tipis, setitik air mata kelegaan kembali menggenang di pelupuk matanya.
'Gue juga jatuh cinta sama lo, Vin. Dan gue bakal tetep di sini, nungguin lo pulang.'