Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Setelah tangis Rahma benar-benar mereda, Sakti melirik jam tangan militernya lalu beralih menatap tas jinjing dan rantang yang dipegang gadis itu.
"Sudah malam. Ayo, naik. Aku antar kamu ke rumah sakit," tawar Sakti, suaranya kembali datar namun terdengar penuh perhatian.
Rahma tersentak. Jantungnya mendadak berdegup canggung. "Eh? Tidak usah, Kak. Rahma bisa naik angkutan umum atau ojek online saja," tolak Rahma halus. Seumur hidup, ia belum pernah berboncengan motor dengan pria lain selain dengan ayahnya sendiri. Sebenarnya ia punya motor matic, tapi motor itu sedang mogok di bengkel dan belum sempat ia ambil karena panik mengurus ayahnya yang mendadak sakit kemarin.
Mendengar penolakan itu, Sakti mendengus pelan. Watak keras kepalanya kembali muncul. "Sudah, ayo... Aku tidak suka jika ajakanku ditolak!" ujarnya memaksa, memberikan tatapan yang tidak menerima bantahan.
Rahma akhirnya pasrah. Namun, saat melihat Sakti hanya membawa satu helm yang sudah terpasang di kepalanya, Rahma buru-buru berbalik. "Tunggu sebentar, Kak. Rahma ambil helm dulu di dalam."
Beberapa saat kemudian, Rahma keluar dengan sebuah helm di tangannya. Sakti yang sedang merapikan jaket kulitnya seketika tertawa geli saat melihat benda yang dibawa Rahma. Helm itu berwarna pink menyala dengan motif Hello Kitty besar di bagian sampingnya.
"Rahma, kau tidak salah memakai helm itu?" ejek Sakti sambil menunjuk helm tersebut dengan dagunya.
"Tidak, Kak. Memangnya kenapa? Ini kan helm kesayangan Rahma!" ucapnya membela diri sambil buru-buru memasang helm itu ke kepalanya dan mengklik talinya.
Sakti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Ia tahu betul sejak kecil Rahma memang sangat tergila-gila dengan karakter kucing tanpa mulut itu. Kamar lamanya di Bandung dulu bahkan dipenuhi pernak-pernik serba pink. Jadi, Sakti tidak melanjutkan ejekannya dan langsung naik ke atas jok motor sport hitamnya yang cukup tinggi.
Kini giliran Rahma yang kebingungan. Dengan rok dan jaket yang ia kenakan, ia sedikit kesusahan saat mencoba menaiki jok belakang motor sport tersebut yang posisinya menungging tinggi.
Melihat Rahma yang kesusahan dan hampir kehilangan keseimbangan, Sakti menoleh. "Pegang bahuku," titahnya pendek, mengulurkan tangan sedikit ke belakang.
Rahma menurut. Ia memegang bahu kokoh Sakti sebagai tumpuan, lalu dengan hati-hati mengayunkan kakinya untuk naik. Setelah berjuang beberapa detik, akhirnya Rahma berhasil duduk di jok belakang. Namun, posisi jok yang tinggi dan mendesak ke depan membuat jarak di antara mereka terkikis habis. Rasa canggung yang luar biasa langsung melanda Rahma.
Sakti menyalakan mesin motor yang langsung menderu halus. Sebelum menarik gas, ia melirik dari kaca spion. "Pegangan, Ma. Kamu mau nanti jatuh?"
"Pegangan ke mana, Kak?" tanya Rahma, pura-pura polos. Padahal, ia hanya terlalu jengah dan takut keliru menempatkan tangannya.
Tanpa banyak bicara, Sakti melepas sejenak genggaman tangan kanannya dari stang motor. Ia bergerak ke belakang, meraih pergelangan tangan kanan Rahma yang bebas, lalu melingkarkan nya dengan tegas ke pinggangnya sendiri. Sementara tangan kiri Rahma bertugas memegangi tas dan rantang makanan untuk ibunya.
Deg!
Saat telapak tangan hangat Sakti menyentuh kulitnya, jantung Rahma serasa melompat dari tempatnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah suaranya bisa terdengar di telinga Sakti. Rona merah di pipinya mendadak merebak sempurna, beruntung kaca helm pink nya yang agak gelap bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Pegang yang erat. Aku jalan," ucap Sakti, memastikan posisi Rahma sudah aman.
Sakti pun perlahan menarik tuas gas dan melajukan motor sport nya membelah jalanan malam kota Bandung dengan kecepatan sedang. Di sepanjang jalan, hembusan angin malam yang dingin terasa hangat bagi Rahma, yang kini hanya bisa menyandarkan dahi helmnya dengan kikuk pada punggung tegap sang Komandan.
*
*
Setibanya di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Sakti langsung mengarahkan motor sport nya menuju area parkir khusus roda dua. Setelah mesin motor mati, Rahma segera turun dengan hati-hati sembari melepas helm pink Hello Kitty nya.
Ia mengira Sakti akan langsung memutar balik kendaraannya untuk kembali ke Markas Kodam III/Siliwangi. Namun, dugaannya meleset ketika melihat pria itu turut melepas helm, merapikan jaket kulitnya, dan ikut berjalan di sampingnya menuju gedung rawat inap. Rahma menoleh dengan raut terkejut.
"Eh, Kak Sakti mau ikut ke dalam juga?" tanya Rahma heran.
"Ya iyalah. Sekalian aku ingin bicara langsung dengan orang tuamu soal kelanjutan perjodohan ini," jawab Sakti santai, melangkah tegap mendampingi Rahma menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi.
Sakti melirik gadis di sampingnya sebelum melanjutkan, "Dan satu lagi... mulai besok, kau harus segera mengumpulkan berkas serta data dirimu untuk keperluan pengajuan sidang pernikahan kita nanti. Kau tahu sendiri, kan, menjadi istri seorang tentara itu tidaklah mudah? Banyak proses dan prosedur kedinasan yang harus ditaati dan dijalani."
Mendengar rentetan birokrasi militer yang terdengar rumit itu, Rahma hanya bisa menghembuskan napas panjang. Sebagai mahasiswi, ia tentu tahu dari cerita Salma tentang rumitnya menjadi Persit (Persatuan Istri Tentara). Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya.
Rahma menghentikan langkahnya sejenak di dekat lift, menatap bola matanya Sakti dengan ragu. "Tapi... apakah Kak Sakti benar-benar sudah yakin mau menerima perjodohan ini?"
Sakti ikut menghentikan langkahnya. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket kulitnya, menghela napas berat seolah sedang memikul beban seisi markas.
"Ya mau bagaimana lagi, Ma. Menolak pun rasanya sulit. Aku tidak bisa membantah keinginan Papah, apalagi ini menyangkut kesehatan Ayahmu," ucap Sakti panjang lebar.
Pria itu kemudian menatap Rahma dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan profesional. "Hanya saja... bisakah kita membuat kesepakatan? Kita menikah, namun di antara kita tidak ada yang saling ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing. Baik kau ataupun aku."
Rahma terpaku, mendengarkan dengan saksama.
"Meski status kita sudah suami istri nantinya, aku tidak ingin kau mencampuri urusan pribadiku. Begitu pun dengan dirimu, aku tidak akan pernah ikut campur. Aku tidak akan melarang mu melakukan apa pun yang kamu mau, termasuk melanjutkan kuliah kedokteran mu. Intinya, pernikahan kita murni hanya di atas kertas. Terkecuali... jika suatu saat nanti kita saling memiliki perasaan. Tapi sepertinya itu tidak mungkin," pungkas Sakti dengan nada datar yang terkesan abai.
Deg!
Mendengar penuturan yang begitu gamblang dan kaku dari mulut sang Komandan, dada Rahma mendadak terasa dihantam godam tak kasat mata. Sesak sekali. Pernikahan yang didasari keterpaksaan ini ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan. Sakti secara tidak langsung telah membangun dinding pembatas yang sangat tinggi di antara mereka, menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk cinta di hati pria itu.
Namun, demi kesembuhan ayahnya dan demi masa depannya, Rahma harus menelan bulat-buat harga dirinya. Ia memaksakan sebuah anggukan kecil, tanda setuju.
"Baik, Kak. Rahma setuju. Pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas," jawab Rahma lirih, mencoba tegar.
Walau hatinya terluka malam itu, entah mengapa di sudut sanubari terkecilnya, ada secercah keyakinan aneh yang mendadak muncul. Rahma menatap punggung tegap Sakti yang mulai kembali melangkah di depannya. Ada keyakinan bahwa suatu saat nanti, waktu dan ketulusannya akan mampu meruntuhkan dinding es di hati sang Komandan, membuatnya melupakan masa lalu, dan menerima dirinya sebagai seorang istri yang seutuhnya.
Bersambung...
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi