Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bejo Telah Siuman
"Mas! Alhamdulillah kamu sudah sadar"
Bejo tersenyum, ia melihat tiga wanita masuk kedalam kamarnya.
"Bentar ya Jo, mbak ambilin."
Dinda dan Intan duduk di samping Bejo, ia memijat bahunya.
Bejo merasakan sesuatu aneh dari dalam dirinya, ia seperti terbang dengan tubuh yang sangat ringan tanpa rasa lelah.
Kemudian ia makan bersama yang lainnya. Kabar soal Bejo telah sadar sampai ke kepala desa, beberapa warga desa mendatangi rumah Bejo.
Kini rumah Bejo sangatlah ramai, banyak orang berdatangan untuk melihat kondisinya. Tidak hanya kalangan para orang tua, tapi juga para gadis desa yang kini telah mengenalnya.
"Gimana keadaanmu sekarang Jo?," pak lurah bertanya.
"Alhamdulillah baik-baik saja pak"
Pak Lurah Bernama Subroto menghela napas panjang, ia memandang wajah Bejo sebentar sebelum berkata kembali. "Terima kasih ya Jo, berkat kamu sekarang suasana desa Krajan lebih aman dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya"
"Sama-sama pak. Saya sebagai warga harus membantu juga, yah walaupun hanya sebatas ini"
"Ini sangat cukup Jo, kalau tidak ada kamu mana mungkin Kampung Mati itu benar-benar hilang"
Bejo terdiam, ia sudah tak merasakan energi supranatural hitam yang berada di kampung mati sebelumnya. Kemudian pak lurah menceritakan asal usul kampung mati yang sebenarnya.
Mata membelalak sempurna, napas tercekat tepat di pangkal tenggorokan. Bejo tak percaya semua berawal dari seorang pemuda yang cintanya di tolak hanya karena miskin membuat dua puluh lima gadis mati olehnya.
Tepat saat itu, Bejo tersadar satu hal. Dimana dua puluh gadis yang di ucapkan pak lurah itu pernah di lihatnya, ia tau wajah penuh kebencian sekaligus sedih akan nasibnya.
Tidak hanya itu, Bejo di bantu dalam lembah perjalanannya. Walaupun itu hanya samar-samar seperti ada satu sosok terakhir yang masih berada di sampingnya, hingga Bejo terbesit satu wanita muda korban terakhir.
"Lasmi!"
Dengan demikian Bejo menyimpulkan masih kurang satu lagi tumbalnya, ia terdiam memikirkan satu yang dimana saat berada di kampung mati suara pria membantu dirinya seperti bukan seharusnya.
"Apa hubungannya semua denganku, kenapa suara sebelumnya itu seperti tak asing!"
Dalam hati Bejo penuh akan pertanyaan, ia kembali menyusun kembali ingatan sebelumnya. Tapi tidak ada celah untuk menemukan sebuah pertanda kecil saja.
Banyak orang yang kerumah Bejo untuk menanyakan kondisinya, hingga malam hari tiba. Dinda dan Intan tertidur pulas di dalam kamar Bejo, sedangkan Bejo duduk di ruang tamu bersama teman-temannya.
"Kalau lu gak berhasil gua bakal kehilangan nyawa Jo, terima kasih pokoknya"
"Udah ton, kita sama-sama jadi korban cuman aku menjadi tujuan utamanya"
"Berkat Bejo lu jadi tertolong, jadi inget dia sampai kapanpun Ton" seru Jarot.
"Pasti itu. Tapi aku mempunyai satu hal yang harus aku ceritakan padamu Jo"
"Ap?"
Anton menarik napasnya dalam-dalam. Jarot, Dirga dan Bejo menunggunya.
"Sebelum kejadian ini aku bermimpi, ada satu wanita muda datang dalam mimpiku, ia berkata "semua akan di berakhir di tangan temanmu tapi ada satu yang akan sulit di jelaskan" 'entah apa maksudnya tapi sangat aneh bagiku"
Bejo mengusap dagunya, Jarot dan Dirga saling pandang bingung.
"Aku harus bertanya langsung kepada Mbah Sastro"
Dalam pikiran Bejo terbesit satu orang, dimana yang di ketahuinya pasti lebih banyak dari orang di desa. Apalagi usia Mbah Sastro terbilang paling tua, tapi beliau telah pindah ke desa lain.
"Sepertinya ini belum selesai sepenuhnya"
"Maksudmu Jo?"
"Ada sesuatu yang terpotong, tapi entah apa!"
Anton, Dirga dan Jarot saling pandang. Mereka sangat bingung dengan apa ucapan Bejo, namun mereka tau bahwa Bejo memiliki satu keahlian khusus yang baru mereka sadari.
"Terus kita harus bagaimana Jo?," tanya Anton.
"Tunggu aku pilih sepenuhnya, nanti ikut aku kerumah satu orang"
"Siapa?"
"Nanti kalian akan tau. Sudahlah aku mau istirahat lagi, kalian bantu beri makan ayam dan panen telurnya ya"
"Hemm! Giliran begini langsung di serahin ke kita, dasar Bejo"
Jarot kesal, di ikuti Dirga juga. Sedangkan Anton kembali pulang kerumahnya.
"Astaga! Terus aku tidur di mana ini?!"
Bejo bingung, kamar satuan masih penuh barang yang belum di bereskan lalu kamar satu-satunya di pakai tidur Dinda dan Intan. Hanya menyisakan tempat sedikit, paling bawah lagi.
Dengan perlahan Bejo merebahkan tubuhnya di bawah kaki Dinda dan Intan, ia memberikan pembatas agar tidak di tendang saat tertidur.
Namun Bejo tak langsung tidur kembali, ia memutar-mutar ponselnya. Tepat saat itu, pesan dari Bang jali masuk. Bejo membalasnya santai, ia bertanya soal kondisi Bang Jali karena ia tau kalau Bang Jali juga berkelahi dengan Kang Joko sebelumnya.
Disaat itulah, Bejo mengingat satu ingatan yang sangat penting baginya. Lalu ia membuka alamat di mana satu pintu aneh di rumah ujung desa, "inikan!" Ucap Bejo penuh keterkejutan.
"Aneh! Tapi pintu rumah ini sangat tidak asing"
Bejo menghela napasnya, ia melihat jam sebelum tidur. Teman-teman Bejo tak pulang, mereka tidur bersama di kamar depan. Dinginnya malam panjang terasa begitu nyata, hingga semua orang di rumah Bejo tertidur pulas.
**
Embun pagi masih setia menggantung di ujung dedaunan, memantulkan bias cahaya matahari yang baru saja bangkit dari peraduannya. Langit di ufuk timur membentang luas dengan gradasi warna jingga dan biru muda yang lembut.
Udara yang dihirup terasa begitu segar, seolah menyapu bersih segala penat yang tersisa dari hari kemarin. Bejo terbangun, namun ia merasakan sesuatu di samping kanan kirinya.
"Aduh Gusti, bukan aku menolak tapi ini belum saatnya"
Dalam hati Bejo, ia melihat sesuatu yang harusnya belum di lihatnya. Dimana Dinda dan Intan kompak tidur memeluknya, membuat Bejo kebingungan harus bangun bagaimana.
"Jangan bangun dulu," ucap Intan.
"Sudah bangun kalian"
"Sudah sejak tadi, tapi tidur lagi saat melihatmu di bawah kita berdua" ucap Dinda.
"Kita belum sah, kenapa kalian main peluk-peluk aja"
"Bentar lagi juga sah. Toh kita gak ngapa-ngapain"
"Gak boleh nolak"
Bejo menghela napas panjangnya, ia tak berdaya melawan dua wanita yang memiliki sifat sama tapi bawaannya berbeda. "Ampuni dosaku" wajah Bejo terlihat tertekan, ia hanya bisa pasrah menahan segalanya.
Dinda dan Intan saling pandang, mereka tertawa kecil melihat wajah Bejo terlihat sedikit merah. Kemudian mereka berdua tak bangkit dari tempat tidurnya, Dinda dan Intan dengan kompak mengajak berbicara Bejo cukup lama.
"Tuh kan bener. Oi leluhur musang, enak bener lu yak. Cepetan bangun, di cariin orang tuh"
"Suruh nunggu dulu Napa Rot, ganggu aja lu. Orang lagi berduaan aja kok" balas Dinda.
"Sialan! Udah jam berapa ini? Cepat bangun, nikah dulu baru bikin anak"
Bejo menahan tawanya, ia tak menyangka Jarot akan berkata seperti itu. Dinda dan Intan yang mendengarkan itu seketika bangkit dan melepaskan pelukannya, Bejo yang mendapatkan kesempatan langsung lari keluar.