NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balap Lagi

Nara berlari menjauh dari rumahnya sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada seorang pun yang menyadari kepergiannya. Langkahnya terburu-buru, bahkan napasnya sudah mulai tidak beraturan karena sejak tadi ia terus berlari tanpa berhenti.

Sementara itu, Arvard sudah menunggu di atas motornya yang terparkir lumayan jauh dari rumah adik sepupunya itu. Cowok tersebut duduk menghadap ke depan sambil sesekali memainkan gas motornya, menunggu Nara yang belum juga terlihat.

"Arvard!" teriak Nara dari belakang.

Arvard yang semula menatap lurus ke depan langsung menoleh ke belakang. Ia melihat Nara berlari menghampirinya dengan wajah panik dan napas yang terengah-engah.

"Sorry, ya, lama. Gue harus nyari strategi dulu buat kabur," ucap Nara sambil ngos-ngosan. Kedua tangannya bertumpu pada lutut, berusaha mengatur napasnya yang masih berantakan.

"Udah, enggak apa-apa. Yuk. Lo enggak bawa motor?" tanya Arvard sambil menatap ke arah jalan yang baru saja dilewati Nara.

"Ya mana bisa? Motor gue aja ada di depan. Gue tadi kabur lewat balkon," ujarnya, masih berusaha mengambil napas panjang.

Arvard sempat terdiam beberapa detik, membayangkan bagaimana Nara bisa turun dari balkon hanya demi menyelinap keluar dari rumah. Namun, ia memilih tidak banyak bertanya karena mereka sudah terlambat.

"Ya udah, enggak apa-apa. Pakai motor gue aja nanti," ucap Arvard.

Nara pun segera naik ke jok belakang. Setelah memastikan Nara sudah duduk dengan benar, Arvard langsung menyalakan motornya dan melaju menuju sirkuit tempat yang lain sudah menunggu.

Sementara itu, di sirkuit yang mereka datangi kemarin, dua geng tersebut masih menunggu dengan sabar. Eh, ralat. Sebenarnya hanya geng Neon yang menunggu dengan sabar, sedangkan anak-anak Blaze sudah berdecak kesal sejak tadi.

"AAAKHHH, BANGSAT! Lama banget, sih, orang dari geng lo! Kabur, kah, dia?" ucap Niel yang sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali menendang kerikil yang ada di dekat kakinya.

"Sabar, anjing. Lo yang nantangin, lo juga yang ngamuk," jawab Jaegar dari seberang sana dengan nada santai. Berbeda dengan Niel yang sudah hampir meledak, Jaegar justru terlihat tenang sambil bersandar pada motornya.

"Udah, Bos. Diam aja. Kita tunggu aja. Kita lakuin ini juga buat geng kita," ucap Vano, berusaha menenangkan Niel sebelum suasana di antara kedua geng itu malah semakin panas.

Enggak lama kemudian, suara motor terdengar dari arah pintu masuk sirkuit. Seseorang baru saja memasuki area lintasan dan melaju mendekati tempat kedua geng itu berkumpul.

"Sorry, gue telat. Tadi lagi ada kejadian," ucap Arvard sambil menghentikan motornya, lalu membuka helm yang menutupi kepalanya.

"Udah, enggak apa-apa, Bang," jawab Jaegar santai.

Arvard turun dari motornya, lalu menyerahkan kunci kepada adik sepupunya yang berdiri di belakang.

"Nih kuncinya. Lo hati-hati bawa motor gue," pesan Arvard kepada Nara.

Nara menerima kunci tersebut sambil mengangguk. Di sisi lain, Nathaniel yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menatap tajam ke arah cewek yang baru datang itu. Tatapan matanya penuh rasa curiga sekaligus penasaran.

"Lo perhatiin baik-baik, oke?" ucap Niel kepada salah satu anggotanya.

Lampu-lampu terang menyinari sirkuit pada malam itu. Dua pembalap sudah bersiap mengambil posisi masing-masing di garis start. Tidak ada suara pendukung yang berteriak heboh. Hanya ada kesunyian yang terasa menegangkan, ditemani suara mesin motor yang sesekali meraung. Di sisi kiri dan kanan lintasan, anggota dari kedua geng motor berdiri memperhatikan.

"Gue pastiin gue bakal menang hari ini," ucap Niel dalam hati sambil menggenggam setang motornya semakin kuat.

"Lo lihat aja nanti. Lo harus bayar semua kesulitan gue hari ini, Niel. Gara-gara ide gila lo, gue jadi kesusahan," gerutu Nara dalam hati.

BROOMMM... BROOMMM...

Suara putaran gas berbunyi nyaring dan memantul di seluruh sirkuit. Niel menatap tajam ke depan, sedangkan Nara mulai mengatur fokusnya. Di depan mereka sudah berdiri seorang cewek seksi dengan pakaian ketat. Ia mengangkat bendera tinggi-tinggi ke atas sebagai tanda balapan akan segera dimulai.

Lampu merah di atas garis start menyala satu per satu.

Satu.

Dua.

Tiga.

Bendera diturunkan.

Raungan mesin langsung memenuhi seluruh lintasan, bersahutan seperti kawanan binatang buas yang siap menerkam. Getarannya merambat dari permukaan aspal hingga ke dada Niel. Di balik visor gelapnya, tatapan cowok itu lurus mengarah ke tikungan pertama.

Jari kirinya menahan tuas kopling, sementara tangan kanannya memutar gas perlahan untuk menjaga putaran mesin tetap tinggi. Di sisinya, Nara ikut melaju dengan kecepatan yang hampir sama.

"Gue enggak bakal biarin lo menang, siapa pun lo. Gue bakal tunjukin siapa king yang sesungguhnya," batin Niel dengan seringai kecil di balik helmnya.

Sementara itu, Nara tetap fokus menatap ke depan tanpa mengindahkan keberadaan Niel di sebelahnya. Ia tidak berniat terpancing dan hanya memikirkan bagaimana caranya mencapai garis finis lebih dulu.

Niel tiba-tiba sengaja memepetkan motornya ke arah motor Nara. Kakinya sempat dijulurkan untuk menendang, tetapi Nara lebih dulu menyadari gerakannya. Cewek itu langsung menambah kecepatan dan berhasil menjauh sebelum kaki Niel mengenai motornya.

"Shit!" umpat Niel dari balik helm.

"Mampus," dengus Nara pelan dari balik helmnya.

Saat memasuki tikungan pertama, Nara berhasil memimpin di depan. Namun, Niel tidak tinggal diam. Ia kembali mengejar dan sengaja memepetkan motornya, lalu berusaha mendorong Nara ke sisi lintasan. Lagi-lagi Nara berhasil menghindar, meskipun ruang geraknya terbatas karena mereka sedang melewati tikungan dan mustahil melaju terlalu cepat.

Ketika memasuki tikungan ketiga, Niel menambah kecepatan motornya. Ia berusaha mengelabui Nara dengan meliuk-liukkan motor dan menguasai hampir seluruh bagian lintasan, membuat Nara kesulitan mencari celah untuk menyalip.

Setelah berhasil mendekat, Niel kembali menabrakkan bagian motornya ke arah Nara. Kali ini, motornya sempat mengenai bagian belakang motor yang dikendarai cewek itu.

"Anjing!" umpat Nara saat motornya hampir kehilangan keseimbangan.

Tangannya langsung mencengkeram setang lebih kuat. Ia berusaha keras mengendalikan motor agar tidak keluar dari lintasan. Setelah beberapa detik yang menegangkan, Nara akhirnya berhasil menstabilkan laju motornya.

Niel tersenyum miring melihat lawannya hampir terjatuh. Ia langsung menambah kecepatan dan meninggalkan Nara di belakang. Namun, Nara tidak mau menyerah begitu saja. Ia kembali fokus pada lintasan dan terus mengejar jarak yang sempat tertinggal.

Ketika sudah mendekati motor Niel, Nara menarik setang motornya ke atas hingga roda depan terangkat dari permukaan aspal. Aksi tersebut membuat Niel berdecak kesal karena Nara kembali berhasil menyusulnya.

Pertandingan semakin sengit saat mereka hampir memasuki garis finis. Keduanya melaju berdampingan, saling berusaha mengambil posisi paling depan. Suara mesin meraung semakin keras, membuat seluruh anggota geng yang menonton menahan napas.

Namun, Nara jauh lebih lihai. Ia memutar gas hingga penuh dan menambah kecepatan motornya tanpa ragu. Dalam hitungan detik, cewek itu berhasil meninggalkan Niel di belakang dan melintasi garis finis lebih dulu.

Dan sekarang, lagi-lagi cewek itu menang.

"YUHUUU! MENANG LAGI!" teriak anggota geng Neon dengan penuh semangat.

Nara memperlambat laju motornya, lalu sengaja memainkan gas sebagai bahan ledekan kepada geng Blaze.

"BROOMMM... BROOMMM... BROOMMM..."

Sementara itu, Niel yang berada di belakang langsung menghentikan motornya dengan kasar. Tangannya memukul bagian setang karena tidak bisa menerima kekalahannya.

"Anjing!" umpatnya kesal.

"Udah, Bos. Semuanya aman. Kami udah dapat beberapa foto sama pelat motornya. Habis ini kita bisa lacak," ucap Vano sambil mendekati Niel.

Ucapan tersebut membuat Niel mengangguk pelan. Ia jelas tidak akan tinggal diam begitu saja. Kekalahan tersebut terasa seperti menyentil harga dirinya, terlebih lagi ia kalah untuk kedua kalinya dari orang yang sama.

Sementara itu, Nara yang masih berada di balik helm full face merasa sangat puas.

"King of racing apaan? Sama cewek aja kalah," desisnya dalam hati sambil tersenyum mengejek.

Tanpa disadari oleh gadis itu, ada seseorang dari kejauhan yang terus memperhatikannya. Orang tersebut lalu berjalan sedikit menjauh dari kerumunan dan mengambil ponsel dari saku celananya.

"Halo, Al," ucap seseorang itu dari seberang telepon.

"Kenapa? Ada informasi baru?" tanya Alden yang saat itu sudah berada di rumah.

"Ada, tapi kayaknya gue enggak yakin, sih," jawab Kevin ragu.

"Ada apa?" tanya Alden penasaran.

"Gue lihat dia balapan sama Niel, tapi kayaknya enggak mungkin, deh," ucap Kevin masih dengan nada ragu.

Kevin tahu bahwa Nara yang selama ini ia kenal sebagai Naya tidak bisa mengendarai motor. Namun, gadis yang sedang berada di sirkuit itu memiliki wajah dan postur tubuh yang sangat mirip dengannya.

Alden mendengarkan ucapan Kevin dengan saksama. Kecurigaannya semakin kuat, tetapi ia tidak ingin Kevin menyadari bahwa dirinya juga sudah mencurigai Nara sejak awal.

"Iya, gue juga ragu," gumam Alden berbohong.

Tentu saja ia berbohong. Sejak Nara meninggalkan rumah dengan cara mencurigakan, Alden sudah merasa bahwa cewek itu sedang menyembunyikan sesuatu yang penting. Bahkan, ia sampai rela kabur dari rumah hanya untuk datang ke tempat tersebut.

"Kirim video buktinya ke gue," ucap Alden sebelum mematikan sambungan telepon.

1
fayepey
Alden ini bukan yang 17 tahun langsung jadi CEO yaa guyss, cuman sekarang ini lagi belajar dikit-dikit dulu dan cari pengalaman dalam hal berbisnis, jadinya dia dapat uang dari pengalamannya itu 🥰🥰
aya
Mau cowo kayak Alden, cuek cuek tapi perhatian
syifa
Jangan lupa di lanjut kak, semangat
fayepey: terimakasih kak
total 1 replies
syifa
Seru kak ceritanya, lanjut yaa
fayepey
Hallo, terimakasih sudah membacanya!
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
fayepey
Selamat membaca, tinggalkan komentar yang positif, jika tidak suka tinggal skip aja yaa🤗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!