NovelToon NovelToon
Silent Trauma —Another Me

Silent Trauma —Another Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Tamat
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Vey

[SEDANG HIATUS!]


Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.

Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.

Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.

Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?

Simak ceritanya di sini.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

“Diana, tolong urus soal tanah yang tadi ya.”

Tak ada jawaban.

Rylan mengangkat kepala dari berkasnya. Diana duduk di seberang meja, punggungnya tegak, namun pandangannya kosong, tertambat pada dinding putih di depannya.

“Diana?” panggilnya lagi.

Tetap hening.

Ia berdiri. “Diana!" serunya. "kau bisa dengar aku?”

Wanita itu menoleh sekilas padanya. Namun, belum sempat ia mendekat, kelopak mata Diana perlahan menutup. Kepalanya terkulai ke depan, menyentuh meja dengan gerakan pelan namun pasti.

“Diana!”

Rylan bergegas, menopang bahunya. Kulitnya dingin. Jemarinya kaku, seolah baru saja keluar dari air es.

“Apa yang terjadi…” gumamnya.

Diana mengangkat kepala perlahan.

Ia mengerjap, sekali.

Dua kali.

Lalu menatap Rylan.

Tidak ada kehangatan di sana. Tatapan itu gelap, dalam, dan asing. Rylan refleks melangkah mundur saat tubuhnya terdorong pelan, nyaris tak terasa.

“Bahaya,” gumam Diana lirih. “Tidak boleh.”

Rylan tercekat. “Diana? Kau-”

Diana meraih ponselnya. Tangannya bergerak cepat, membuka daftar kontak. Nama Calantha muncul sebentar, lalu menghilang. Dihapus.

Kepalanya menunduk. Tangannya terkepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Tidak boleh bocor,” ucapnya rendah. “Dia tidak boleh tahu. Sama sekali.”

Udara di ruangan terasa mengeras. Napas Diana pendek, dadanya naik turun tak stabil.

Rylan menelan ludah. Hanya satu kemungkinan yang masuk akal.

“…Xena?”

Wanita itu menoleh. Tatapannya tetap dingin, tapi kepalan tangannya sedikit mengendur. Ia siaga, seperti seseorang yang baru terbangun di medan perang.

“Xena,” suara Rylan lebih pelan sekarang. “Kau di sini?”

Tak ada jawaban segera.

Bibirnya terbuka, tertutup lagi, seolah ia harus memastikan suara itu benar-benar keluar.

“Aku… baik.”

Nada itu terlalu cepat. Terlalu rata.

Rylan tidak memaksanya. Ia hanya mendekat setengah langkah, lalu melepaskan jasnya, menyampirkannya ke bahu Xena.

“Ada yang bisa kubantu?”

Pertahanan itu runtuh.

Air mata mengalir tanpa suara. Xena mencengkeram jas itu erat-erat, napasnya pecah.

“Tidak… dia seharusnya tidak…” suaranya bergetar. “Aku tidak mau lagi… dia kembali…”

Rylan menggenggam tangannya dengan hati-hati. “Tenang. Aku di sini.”

Tangisan itu mereda perlahan. Wajah Xena menegang kembali, kosong.

“Jangan beri Diana beban kerja terlalu berat,” ucapnya datar.

Rylan mengangguk pelan, tidak terlihat.

“Dan juga-” Ia terdiam. “Tidak. Lupakan.”

“Hah?”

“Sudahlah.” Xena menegakkan tubuh. “Aku harus bekerja.”

Nada itu tajam. Dinding kembali terpasang.

Rylan mundur, kembali ke kursinya. Ia menghela napas panjang, senyum kecil muncul tanpa sadar.

Yang satu ini… sungguh di luar kendali.

Ponselnya bergetar. Nama ibunya muncul di layar.

“Aku angkat dulu,” katanya singkat, lalu masuk ke ruang pribadinya.

---

Deg.

Aku tersentak bangun.

Dadaku sesak, napasku pendek, seolah jantungku baru saja ditarik keluar lalu dipasang kembali dengan kasar. Tubuhku terasa luar biasa lelah.

Aku menoleh. Ruangan ini… ruanganku.

Jam masih berdetak. Suara water wall mengalir pelan. Tidak ada yang berubah, kecuali aku.

Jam berapa sekarang?

Tadi aku sedang membuka ponsel, lalu aku tak ingat apapun lagi. Tanganku kesemutan. Kakiku lemas. Pintu terbuka.

“Eh?” Tuan Rylan menatapku dengan ekspresi aneh. “Kau baik-baik saja?”

Aku mengusap wajahku, tapi tanganku justru menyentuh leher. Tidak sinkron.

“Iya, Tuan Rylan,” jawabku cepat. “Ada yang bisa aku bantu?”

Ia terdiam sejenak. “Tidak. Aku akan pergi. Urusan keluarga.”

“Oh.” Aku menunduk. “Sampai besok.”

Ia hendak berbalik, lalu berhenti.

“Kenapa? Kau tampak kecewa.”

Aku tersentak. “B-bukan begitu, aku hanya-”

“Sudahlah.” Ia meletakkan secangkir teh di mejaku. “Minum ini. Hangat.”

Lalu ia pergi.

Aku menatap cangkir itu lama sekali. Pipiku terasa panas.

Untung saja ia tidak menoleh ke belakang.

---

Meninggalkan hiruk-pikuk Lion Group, Rylan berdiri tegak di depan sebuah nisan. Setelan hitamnya tampak kontras dengan lima tangkai anyelir putih di genggamannya.

Di sampingnya, ayah dan ibunya berdiri dalam diam, dikelilingi keluarga besar mereka, termasuk keluarga Calantha.

Sebuah nama berwarna perak terpahat pada marmer hitam yang dingin.

Lorena Axelion. Adik bungsu ibunya, satu-satunya anggota keluarga besar yang ia sayangi sepenuh hati. Di sebelahnya, tak jauh dari sana, ada nisan serupa milik kakeknya, pria yang mengajarinya tentang betapa kerasnya dunia.

Rylan membungkuk rendah, nyaris berlutut. Dalam hening, ia bergumam pelan. "Aku merindukan kalian."

Ia meletakkan bunga di atas kedua nisan itu, lalu mundur perlahan. Orang tuanya dan keluarga Calantha menyusul, melakukan penghormatan yang sama.

"Maaf. Seandainya aku bisa menyelamatkan kalian sekali lagi," ucap ayah Calantha dengan wajah sedih, suaranya nyaris pecah karena isak tangis. Calantha segera meraih tangan ayahnya, menggandengnya pergi.

Rylan berpaling. Ia tahu paman dan bibinya yang lain hanya bersandiwara. Meski nada kemarahan mereka tersamarkan, ia bisa menangkapnya. Mereka marah pada sang kakek, kecewa karena tidak mendapat warisan yang mereka anggap cukup.

"Hei, Rylan. Lama tidak bertemu. Apa kau baik?"

Rylan menoleh. Ayah Calantha sudah berdiri di hadapannya.

"Aku baik-baik saja, Paman Vixen."

Ayah Calantha tertawa kecil. "Anak nakal. Panggil Paman saja sudah cukup."

Rylan hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih jauh. Mau seberapa pun ia tidak menyukai Calantha, pria di depannya ini tetap ayahnya, orang yang pernah menyelamatkan nyawa kakeknya dua kali.

"Aku masih merasa bersalah, Rylan. Seandainya saat itu aku ada di sana, mungkin sekarang situasinya akan-"

"Tak perlu begitu. Usia manusia tak bisa diprediksi. Lagipula, pengemudinya sudah ditangkap dan dihukum."

Ayah Calantha menghela napas berat, menatap langit seolah sedang memutar kembali masa lalu. Dari kejauhan, Calantha melangkah mendekat.

"Hai, Rylan."

Rylan tidak mengubris. Ia hanya menatap wanita itu dengan pandangan datar.

"Ah, lanjutkan urusan kalian anak muda." Ayah Calantha melambaikan tangan, lalu berlalu pergi.

"Rylan... kau tidak merindukanku sama sekali, ya?" ucap Calantha pelan, Nada suaranya melembut, terlalu lembut.

"Kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas?"

Calantha merengut, cara lama yang selalu ia gunakan. Namun, Rylan hanya menatapnya bosan. Ia sudah hafal semua taktik itu.

"Oh ya, Rylan, ulang tahun perusahaanmu sebentar lagi, kan? Kau perlu bantuanku untuk menyiapkan acaranya?" tanya Calantha lagi.

"Seperti sebelumnya, Calantha. Jawabanku selalu tidak."

“Seratus tahun berdirinya Lion Group!”

“Tidak.”

“Ini momen besar-”

“Tidak.”

Rylan bisa melihat Calantha hampir putus asa. Air matanya nyaris keluar, namun ia tahu adegan ini. Ia berbalik, bersiap untuk melangkah pergi.

"Apakah... ini karena Diana?" tanya Calantha pelan.

Langkah Rylan terhenti seketika. Ia mematung.

"Apa maksudmu?" tanya Rylan dingin tanpa menoleh.

Air mata Calantha kini benar-benar menetes ke atas rumput, terserap masuk ke dalam tanah. "Kau semakin dingin padaku sejak ada Diana. Dia... dia membuatmu semakin menjauh dariku."

Sorot mata Rylan bergetar tipis, nyaris tak terlihat. Ia menelan ludah kasar sebelum akhirnya menoleh dan menatap Calantha dengan tajam.

"Kau terlalu banyak berpikir," ucap Rylan, menjaga suaranya tetap sedingin es. "Sejak awal aku memang tidak ada perasaan padamu. Ini tidak ada hubungannya dengan Diana."

Rylan pergi. Langkahnya mantap, tapi pikirannya kacau. Ada sesuatu yang bergerak di balik semua ini, sesuatu yang belum terlihat jelas.

Dan entah kenapa, firasat itu tidak memberinya ruang untuk mengabaikannya.

1
Risa Virgo Always Beau
Rylan kamu perhatian banget sama Diana deh
Risa Virgo Always Beau
Calantha itu nempel terus sama Rylan
Risa Virgo Always Beau
Rylan ternyata tipe orang yang tegas bahkan mengamati beberapa orang
Risa Virgo Always Beau
Rylan sangat membenci Calantha karena menduga Calantha yang memberi obat perangsang untuk dirinya
Risa Virgo Always Beau
Rylan di jebak obat perangsang ya sampai memaksa Xena melakukan hubungan layaknya suami istri
Risa Virgo Always Beau
Diana apa punya penyakit amnesia ya
Nuri_cha
aku kasih tahu ya Diana, kamu akan kecewa dengan calantha
Nuri_cha
rencana busukmu itu udah gagal Calantha 😐
Nuri_cha
nyata... Xena sudah mengambil alih tubuhmu Di
Xlyzy
Ini Bukan Diana deh ini kepribadian Lain nya dari diana
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
buset pertanyaannya. bisa ga usah curigaan ga? 🫵
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
ga usah diceritain. ga usah 😑
Three Flowers
Rylan gak tertarik sama kamu meski suci, karena hatimu jelas gak suci.. apalagi sekarang, dobel gak sucinya..
PrettyDuck
perlu banget. bahaya banget loh penyakitmu itu.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖
Three Flowers
nonton bokep versi mereka sendiri dong?😂
Three Flowers
hehehe... lucu sekali kalimat nya🤣
PrettyDuck
maap tapi aku ketawa 🥲
PrettyDuck
dia yg buat ulah dia yg dendam /Sweat/
MULIANA💦
astaga calanta /Panic/ pengen di getok /Hammer/
MULIANA💦
bener-bener psiko kamu calanta ya /Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!