Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Masih Ada Kesempatan
Zivanna sudah benar-benar pucat berada dalam ruang yang gelap itu. Zivanna bahkan tidak bertenaga dengan nafasnya sudah mulai berhembus pelan.
Zivanna tidak mengetahui sekarang apakah siang atau malam. Ruangan itu benar-benar gelap dan tidak ada cahaya dan mungkin saja di luar ruangan itu tertimpa.
Jika saja kakinya tidak terhimpit lemari dan mungkin saja Zivanna bisa mencari jalan keluar karena sangat memungkinkan selagi bisa berjalan.
"Ya Allah, mungkin ini adalah takdirku untuk berakhir di tempat ini. Mungkin ini harus terjadi, Zivanna kamu sering berdoa jika suatu saat nanti kamu mati maka matilah dengan syahid. Pada akhirnya kamu mati dalam keadaan seperti ini karena menjalankan tugas, dunia ini benar-benar hanya sementara,"
"Mama Papa, maafkan Zivanna mungkin saja belum bisa memberikan kesenangan untuk Mama dan Papa, Zivanna sangat bahagia bisa menjadi anak kalian. Zivanna minta maaf," ucapnya meneteskan air mata benar-benar menyerah akan hidupnya.
"Lalu apa aku juga harus meminta maaf kepada Dia? saat ini statusnya adalah suamiku, sudahlah Zivanna dalam keadaan seperti ini gengsi sudah seharusnya di hancurkan. Dikta maafkan aku, mungkin aku sering membuatmu kesal, kecerobohanku membuatmu marah-marah kepadaku, tetapi kamu harusnya tidak memarahiku di depan umum yang membuatku takut, tidak bebal karena terus ketakutan. Aku minta maaf, kita harus bertengkar setiap hari dan tidak pernah ada yang ingin mengalah dan bahkan terjadi sampai mati, sungguh hidupku benar-benar menyedihkan," karena sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dia rasakan dan benar-benar lemas membuat Zivanna menggunakan detik-detik terakhirnya meminta maaf.
Walau orang yang disebutkan tidak ada di sana dan yang terpenting bagi Zivanna urusan dunianya harus selesai terlebih dahulu.
Zivanna menarik nafas panjang dan membuang perlahan kedepan, air matanya terus keluar dengan perlahan memejamkan mata.
Bukkk.
Perlahan ternyata mata itu kembali terbuka, ketika mendengar suara dorongan pintu yang hampir peyot tersebut.
Pandang mata Zivanna samar melihat pria yang memasuki ruangan itu dengan menunduk.
"Zivanna...." suara lantangnya terdengar tidak asing.
Suara yang selalu berteriak memanggil namanya dengan bentakan ketika dirinya melakukan kesalahan.
"Dokter Pradikta...." lirih Zivanna masih kurang yakin jika pria tersebut.
Dikta sekarang berjalan menghampirinya dengan sedikit membungkuk karena dari pintu masuk ke ruangan tersebut tampak tidak rata dan sampai akhirnya pandangan mata Zivanna benar-benar jelas ketika pria tersebut tepat berada di hadapan yang saat ingin berjongkok.
"Kamu tidak apa-apa Zivanna?" tanya Dikta yang saat ini meneliti wajahnya.
Ada kelegaan di wajah Dikta ketika berhasil menemukan istrinya dengan dalam keadaan sekarat.
"Zivanna, buka mata kamu!" Dikta menepuk pelan pipi sang istri agar tidak memejamkan mata, karena situasi seperti itu Zivanna tidak boleh tidur karena keadaan darurat.
Suaranya sangat sulit untuk dikeluarkan dan mungkin masih tidak percaya jika pria yang saat ini terlihat khawatir kepadanya itu memang adalah Dikta.
Dikta mulai panik, melihat di sekelilingnya bagaimana ruangan itu yang 80% utuh, mungkin hal itu yang membuat Zivanna bertahan lebih dari 24 jam tetapi sayang sekali kakinya tertimpa.
Dikta tidak ingin menunggu waktu dengan mengeluarkan seluruh tenaga Dikta mengangkat lemari tersebut.
"Aaaaaaaa!" Zivanna berteriak kesakitan.
"Hah-hah-hah-hah-hah!" suara nafas Dikta naik turun dan bahkan sedikit mengeluarkan keringat karena tenaganya cukup terkuras. Dikta melihat bagaimana kedua kaki sang istri tampak membiru.
"Kamu bisa menggerakkan kaki kamu?" tanya Dikta.
Zivanna mencoba untuk melakukannya, bahkan sedikit menegakkan punggungnya yang sejak awal bersandar pada dinding tersebut dan ternyata kaki itu masih mampu bergerak. Hanya saja memang terasa kebas dan sakit.
"Alhamdulillah...." lirih Dikta merasa bersyukur. Jadi kaki sang istri tidak akan mengalami kelumpuhan.
"Kita akan segera keluar dari sini," ucap Dikta meyakinkan Zivanna.
Dikta yang membawa ransel kecil kemudian dengan cepat mengeluarkan isinya, hal yang pertama dia keluarkan adalah botol air mineral, mungkin firasatnya akan bertemu dengan sang istri dan menyiapkan apa yang bisa untuk mengembalikan istrinya.
Dikta kemudian langsung memberikan air mineral tersebut, sungguh Zivanna benar-benar kehausan dan bahkan satu botol itu akan habis.
"Masih haus?" tanya Dikta begitu lembut kepadanya.
"Sudah cukup," jawabnya dengan suara yang sangat pelan.
Kemudian Dikta mengeluarkan kotak obat, Dikta langsung memeriksa Zivanna, kondisinya benar-benar tidak stabil dan dalam kondisi seperti itu seharusnya Zivanna secepatnya dilarikan ke rumah sakit.
Tetapi Dikta harus melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu agar sakitnya tidak semakin parah.
Kaki Zivanna yang terluka terlihat membiru dan langsung diberi obat oleh Dikta dan juga diberi perban.
Krekkk, krakkk, krekkkk
Di tengah kesibukannya mengobati sang istri tiba-tiba Dikta dan Zivanna sama-sama mendengar suara reruntuhan dengan arah pandang mata mereka menuju pintu. Dikta panik dan berlari ke arah tersebut.
"Sial!" umpatnya ternyata terlambat untuk keluar dari tempat itu yang mana pintu menjadi jalan keluar tertimbun runtuhan susulan.
Zivanna menghela nafas pasrah, sepertinya dia tidak akan mati sendirian di dalam ruangan ini, tapi sekarang ada suaminya yang mengantarkan nyawanya.
"Bagaimana ini bisa terjadi!" umpat Dikta.
Dikta mencoba untuk tenang dengan menarik nafas dan membuang perlahan ke depan dan kemudian kembali menghampiri Zivanna.
"Nanti saja kita cari jalan keluar dari tempat ini yang terpenting bagaimana sekarang kamu harus diobati terlebih dahulu," ucap Dikta.
Zivanna menganggukkan kepala dan Dikta kembali melanjutkan pekerjaannya. Dikta cukup membawa banyak persediaan obat-obatan yang memang dia adalah seorang dokter dan siapapun yang dia temui di dalam runtuhan itu sudah sewajarnya untuk dia bantu dan bukan hanya istrinya saja.
"Aku lapar...." Zivanna tiba-tiba saja mengeluh lapar dan bagaimana tidak sudah begitu lama dia terjebak di dalam ruangan itu.
Dikta membuka kembali tas ranselnya dan ternyata juga membawa persiapan makan berupa roti yang langsung membuka bungkusnya dan memberikan kepada Zivanna.
Zivanna membuka mulutnya dengan menerima suapan dari Dikta, tangannya memang masih terasa lemes yang tidak bisa digerakkan.
Dikta tampak prihatin kepada istrinya yang begitu kelaparan, satu bungkus roti itu habis dengan cepat, Dikta memberikan lagi tetapi Zivanna menolak.
"Jalan keluarnya sudah tertutup, entah berapa lama lagi aku berada di tempat ini," ucapnya yang harus menahan perutnya untuk tidak memakan semua makanan yang Dikta, karena pasti habis dalam beberapa detik.
"Kamu yakin sudah tidak mau lagi?" tanya Dikta.
Zivanna menganggukkan kepala, terpaksa harus menahan perutnya demi hidup bertahan lebih lama di tempat itu.
"Baiklah. Jika masih lapar, kamu harus mengatakannya," ucap Dikta. Zivanna hanya menganggukkan kepala.
Bersambung.....