NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 - Kagum

Pak Bandi tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Tangannya tetap menunjuk lembar gambar struktur bangunan yang terbentang di atas meja lipat. Beberapa pekerja ikut mendekat, begitu pula dua orang sipir yang sejak tadi penasaran dengan narapidana yang baru saja menyelamatkan nyawa salah satu tukang.

"Silakan," ucap Pak Bandi singkat. "Saya ingin tahu apa yang kamu lihat."

Faris menelan ludah. Ini adalah kesempatan yang sudah beberapa hari dia tunggu. Kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar tahanan yang banyak bicara. Perlahan dia mengambil pensil yang berada di atas meja, lalu mengamati gambar bangunan lama beberapa saat.

"Sebelum saya menjelaskan, saya ingin memastikan sesuatu, Pak. Ini gambar bangunan sebelum direnovasi?"

Pak Bandi mengangguk. "Benar."

Faris kembali memperhatikan denah tersebut. Berkat bantuan sistem, berbagai garis transparan mulai muncul di atas gambar. Beban bangunan divisualisasikan dalam bentuk garis-garis biru, sementara titik-titik yang bermasalah berkedip merah.

[Analisis Struktur Aktif.]

[Sinkronisasi data: 100%.]

[Silakan jelaskan hasil analisis.]

Faris menghela napas pelan. "Baik."

Dia mulai menggambar beberapa garis tambahan di atas denah. "Menurut saya, penyebab utama bangunan ini bukan gempa."

Kalimat itu langsung membuat beberapa orang saling berpandangan.

Pak Bandi menyilangkan tangan. "Lanjutkan."

"Gempa memang menjadi pemicu runtuhnya bangunan, tetapi bukan penyebab utamanya." Faris menunjuk salah satu sisi pondasi. "Bagian ini mengalami penurunan lebih besar dibanding sisi lainnya."

Kemudian dia menggeser pensil menuju kolom depan. "Akibatnya, beban bangunan mulai berpindah ke kolom ini."

Pak Bandi masih diam.

Faris melanjutkan. "Masalahnya, ukuran kolom depan tidak cukup untuk menerima tambahan beban sebesar itu."

Dia kembali menarik garis menuju balok utama. "Ketika gempa terjadi, gaya horizontal ikut menekan bangunan dari samping. Karena distribusi beban sudah tidak seimbang sejak awal, kolom ini gagal lebih dulu."

Faris mengetuk gambar menggunakan ujung pensil. "Begitu kolom utama patah, seluruh beban atap berpindah ke sisi depan. Akhirnya bangunan runtuh."

Workshop mendadak sunyi. Semua mata tertuju kepada gambar yang baru saja dijelaskan Faris.

Pak Bandi perlahan mengambil gambar tersebut. Dia memperhatikannya lama sekali. Lalu membuka map lain yang berisi hasil pemeriksaan timnya. Matanya membelalak tipis. Karena hampir semua kesimpulan Faris, sama persis dengan hasil analisis laboratorium yang baru diterimanya pagi tadi.

"Tidak mungkin...."

Salah seorang teknisi ikut mendekat.

"Pak?"

Pak Bandi menyerahkan laporan itu.

Teknisi tersebut membaca beberapa lembar, lalu bergantian melihat gambar yang dibuat Faris.

"Ini... sama."

Pak Bandi kembali menatap Faris. "Kamu benar-benar belum pernah kuliah teknik?"

Faris tersenyum pahit. "Saya hanya pernah menyelinap masuk kelas."

"Hah?"

"Saya bekerja sebagai petugas kebersihan di Universitas Teknologi Nusantara."

Pak Adi yang sejak tadi mendengarkan ikut terkejut. "Kamu belum pernah cerita."

Faris mengangguk pelan. "Saya tidak mampu kuliah."

"Jadi setiap ada waktu kosong... saya diam-diam ikut mendengarkan dosen."

Pak Bandi menggeleng pelan. "Hanya dengan cara itu?"

"Iya."

"Luar biasa...."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, nada suara Pak Bandi benar-benar berubah. Tidak ada lagi kesombongan. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Yang tersisa hanyalah rasa kagum bercampur heran. Dia kembali melihat gambar Faris.

"Lalu solusi yang kamu usulkan?"

Faris kembali mengambil pensil. "Kalau saya boleh menyarankan...." Dia menggambar beberapa garis baru. "Kolom depan dipindahkan sekitar enam puluh sentimeter ke arah tengah. Kemudian ukuran pondasi diperbesar. Balok pengikat dibuat menyatu dengan kolom samping. Selain itu, saya sarankan memakai pengikat silang di bagian atap agar gaya gempa tidak langsung terkumpul di satu sisi."

Pak Bandi memperhatikan tanpa berkedip. Sesekali dia mengangguk pelan.

Semakin lama penjelasan Faris berlangsung, semakin sulit baginya mempercayai bahwa semua ini berasal dari seseorang yang bahkan belum pernah duduk resmi di bangku kuliah.

Setelah hampir lima belas menit, Faris akhirnya berhenti berbicara. "Kurang lebih begitu, Pak."

Ruangan kembali hening. Lalu Pak Bandi tertawa pelan. Bukan tawa mengejek. Melainkan tawa penuh rasa tidak percaya.

"Pak Adi."

"Iya?"

"Kalau anak ini benar-benar kuliah...." Pak Bandi menggeleng sambil tersenyum. "...dia bisa membuat banyak mahasiswa teknik malu."

Pak Adi ikut tertawa kecil. "Saya sudah bilang dari awal. Sayangnya Bapak tidak percaya."

Pak Bandi mengusap tengkuknya dengan wajah sedikit canggung. "Saya akui.... Saya memang salah menilai." Dia lalu menatap Faris.

"Maaf."

Faris sendiri sampai sedikit bingung. Seorang insinyur profesional baru saja meminta maaf kepadanya.

"Tidak apa-apa, Pak. Saya memang narapidana. Bapak wajar berpikir begitu."

Pak Bandi menggeleng. "Tidak. Saya menilai orang dari statusnya. Itu kesalahan saya."

Ucapan itu membuat Pak Adi semakin menghormati pria tersebut. Tidak semua orang mau mengakui kesalahan secepat itu.

Beberapa saat kemudian, Pak Bandi kembali bertanya. "Kalau kemampuanmu seperti ini.... Kenapa kamu bisa berada di penjara?"

Pertanyaan itu membuat senyum Faris perlahan menghilang. Suasana kembali sunyi.

Pak Adi ikut memandang Faris. "Sebenarnya.... Saya juga penasaran."

Faris menarik napas panjang. Lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. Tentang mimpinya menjadi insinyur. Tentang bagaimana dia diam-diam mengikuti kuliah. Tentang Yudi, Arman, dan Zaki yang mengetahui rahasianya. Sampai akhirnya.hari pemeriksaan polisi itu tiba.

"Sepertinya mereka lah yang memasukkan obat-obatan terlarang ke dalam tas saya. Saya benar-benar tidak tahu. Ketika polisi membuka tas itu.... Semuanya sudah terlambat."

Faris tersenyum pahit. "Tidak ada yang percaya kepada saya."

Pak Adi mengepalkan tangannya. "Sial...."

Pak Bandi juga terdiam cukup lama. "Jadi.... Kamu tidak pernah memakai narkoba?"

"Tidak pernah."

Pak Bandi memperhatikan mata Faris beberapa detik. Pengalamannya selama bertahun-tahun memimpin proyek membuatnya cukup pandai membaca ekspresi orang. Saat ini dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda kebohongan.

"Kamu yakin mencurigai tiga orang itu?"

Faris langsung menjawab. "Iya! Mereka satu-satunya orang yang tahu tas saya selalu saya letakkan di belakang kelas."

Pak Bandi mengangguk pelan. "Masuk akal."

Pak Adi ikut menyela. "Nama kampusnya tadi apa?"

"Universitas Teknologi Nusantara."

Pak Adi mengingat-ingat sesuatu. "Kebetulan salah satu pelanggan workshop saya dosen di sana."

Pak Bandi langsung menoleh. "Serius?"

"Iya."

"Lumayan sering memesan meja."

Pak Bandi tersenyum tipis. "Berarti kita punya pintu masuk."

Faris memandang kedua pria itu bergantian. "Apa kalian..." Dia berharap.

Pak Bandi melipat kedua tangannya. "Saya tidak suka melihat orang berbakat dihancurkan karena fitnah."

Pak Adi mengangguk mantap. "Saya juga."

"Kita mulai dari kampus. Kalau memang ada tiga mahasiswa yang terlibat. Pasti ada jejaknya." Pak Bandi melanjutkan. "Saya punya beberapa kenalan di dunia konstruksi. Bisa jadi ada orang yang mengenal mereka."

Pak Adi ikut menambahkan. "Saya akan menemui dosen langganan saya. Setidaknya mencari tahu bagaimana reputasi ketiga mahasiswa itu."

Faris hanya bisa memandangi mereka dengan mata berkaca-kaca. Selama ini

dia merasa sendirian menghadapi semuanya. Namun kini ada dua orang yang benar-benar percaya kepadanya.

Pak Bandi mengulurkan tangan. "Dengarkan saya, Faris. Saya belum bisa berjanji akan mengeluarkanmu dari sini. Tapi... Saya berjanji akan mencari kebenarannya."

Pak Adi ikut mengangguk. "Kalau memang kamu difitnah, kami akan berusaha membuktikannya."

Faris menggenggam tangan mereka bergantian. "Terima kasih...."

Suaranya bergetar. "Terima kasih banyak, Pak."

Di dalam kepalanya, suara sistem kembali terdengar.

DING!

[Misi Tersembunyi selesai.]

[Berhasil memperoleh dua sekutu berkualitas tinggi.]

Hadiah: 2.000 poin.

[Reputasi meningkat.]

[Hubungan dengan Pak Bandi: Netral → Menghormati.]

[Hubungan dengan Pak Adi: Percaya → Sangat Percaya.]

Faris hampir tersenyum lebar.

"Sistem...."

[Ya?]

"Kali ini... Terima kasih."

Beberapa detik berlalu. Lalu muncul satu kalimat yang membuat Faris spontan memutar bola matanya.

[Sama-sama. Akhirnya pengguna belajar mengucapkan terima kasih dengan benar.]

"Rasanya aku ingin menarik kembali ucapan terima kasihku."

[Permintaan ditolak.]

Sudut bibir Faris akhirnya terangkat. Di tengah situasi yang penuh harapan itu, sistem tetap saja berhasil membuatnya kesal.

1
Ita Xiaomi
Faris kerja yg giat dan bahagiakan ibumu jg.
Ambu Rinddiany Thea
awas noh gengsi jadi cintrong
Rommy Wasini Khumaidi
bagus ceritanya,makasih sudah membuat cerita yang bagus
Desau: makasih kak😍🤭
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
gengsi digedein si Vanesa
Ambu Rinddiany Thea
gantuuung lagi kaya jemuran kan kan😔
Ambu Rinddiany Thea
tenang ris rata2 emamg semua cewe gt ga mau kalah bentar lagi juga mesem mesem sendiri 🤭😁
Rommy Wasini Khumaidi
yah belum dapat point ya Ris,sabar bentar lagi vanesa bakal mengakui kekalahanya
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣 mulai resah
Ita Xiaomi
👍👍👍. Di daerah ortuku pernah mengalami jembatannya ambruk dan banyak nyawa yg melayang. Anak-anak yg kehilangan nyawa 😢
Ita Xiaomi
Mau lihat reaksi arsitek utama saat ktm ama Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
sudah pasti Faris akan menemukan solusi
Ambu Rinddiany Thea
lah malah nyalahin orang dasar otak dengkul , cerita anak kuliahan tp sableng .. wkwkwkwkw
Rommy Wasini Khumaidi
yeyy Faris jadi kaya👏👏
Apriwan 99
up yg banyak ,ok sampai jumpa bulan depan
Ita Xiaomi
Baru belajar sistemnya😁
Ita Xiaomi
Alhamdulillah bs kumpul lg ama ibunya.Klo dah sukses nanti berbagi rejeki jg dgn Bu Nuri, Pak Adi dan Pak Bandi.
Ita Xiaomi
Nanti bantu pak Adi di galerinya dan bantu Pak Bandi jg di proyeknya😁.
Rommy Wasini Khumaidi
selamat ya Ris,atas kebebasanmu dan pencapaian poin sistemnya
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah akhirnya setelah sekian purnama bebas juga kamu faris , borong semua faris gunakan semua hadia dari sistem buat masa depan kamu .. 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
Semoga cepat keluar ya Ris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!