Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti di ikuti!
Malam kian larut, namun di sebuah gubuk reyot di ujung kebun bambu justru semakin memanas.
Di bawah temaram lampu teplok yang bergoyang ditiup angin malam, Rasman duduk bersila bersama tiga orang lelaki desa lainnya yang seusianya dengannya, usia pertengahan 40an.
Bau asap rokok lintingan yang pekat dan aroma ciu murahan memenuhi ruangan yang sempit itu.
Di tengah-tengah mereka, selembar tikar pandan tua menjadi saksi bisu tumpukan uang ratusan ribu rupiah, uang yang beberapa jam lalu masih berada di dalam dompet kulit necis milik Hardi.
"Wah, lezat sekali rezekimu malam ini, Man. Tumben taruhanmu langsung lembaran merah," celetuk salah satu pemain bertubuh kurus sembari mengocok kartu remi di tangannya.
Rasman terkekeh sombong, mengisap dalam-dalam rokoknya lalu mengembuskan asapnya ke udara. Ia melempar dua lembar uang seratus ribu ke tengah tikar dengan gaya angkuh.
"Ini namanya rezeki nomplok dari kawan lama. Ada celengan berjalan yang baru pulang dari kota," sahut Rasman penuh kemenangan.
"Dia pikir setelah dua puluh tahun kabur, dia bisa hidup tenang di sini tanpa bayar upeti."
Ketiga temannya saling berpandangan, tampak kebingungan dengan ucapan Rasman. Mereka tidak mengerti apa maksud di balik kalimat tersebut.
"Celengan berjalan gimana maksudmu, Man? Siapa yang kamu maksud?" tanya pemain di sebelah kanannya sambil memicingkan mata heran.
Rasman yang hampir saja kelepasan langsung tersadar. Ia berdeham cepat, buru-buru mengubah raut wajahnya agar tidak memancing rasa penasaran lebih jauh.
Rahasia dua puluh tahun lalu terlalu berharga untuk dibagi-bagi gratis kepada gerombolan penjudi ini.
"Ah, bukan apa-apa! Maksudku, si Hardi, teman lamaku itu kan sekarang kaya raya. Sebagai teman lama yang baik, sewajarnya toh dia bagi-bagi rezekinya ke aku," kilah Rasman sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mencoba mengalihkan perhatian.
"Sudah, jangan banyak tanya. Buka kartumu sekarang! Malam ini aku bakal menang banyak!"
Teman-temannya hanya mengedikkan bahu, tidak mau ambil pusing dan memilih kembali fokus pada lembaran kartu di tangan mereka.
"Iya, sekarang si Hardi memang sudah kaya sekali. Mobilnya saja bagus, hitam mengkilap begitu," sahut salah satu teman judinya sembari menyusun kartu, mengiyakan ucapan Rasman.
Lelaki di seberang tikar ikut menimpali dengan pandangan menerawang,
"Bukan cuma Hardi. Si Minah saja, yang dulunya kucel waktu masih di desa ini, sekarang sudah jadi wanita kota. Meskipun sudah tua, dia malah terlihat cantik dan bersih sekarang."
"Halah, cantik karena modal uang kota saja itu!" dengus Rasman ketus, membanting kartunya ke atas tikar dengan kasar.
"Kalau tidak ada duit si Hardi, si Minah juga bakal tetap kucel kayak orang-orang sini. Sudah, tidak usah bahas istri orang. Ayo, jalan lagi kartunya! Jangan bikin taruhannya jadi seret!"
Permainan kartu berlanjut diiringi kepulan asap rokok yang kian tebal. Salah satu teman judi Rasman yang sedang menyulut lintingan barunya mendadak teringat sesuatu, lalu menatap Rasman dengan penasaran.
"Eh, omong-omong soal Hardi... kau ingat si Salim, kan? Dulu waktu kalian masih muda di desa ini, di mana ada Hardi, di situ pasti ada Salim. Mereka kan selalu bersama ke mana-mana," ujar lelaki itu, memancing ingatan masa lalu.
"Bagaimana kabarnya si Salim sekarang, Man? Apa dia sesukses Hardi juga di kota?"
Mendengar nama Salim disebut, gerakan tangan Rasman yang hendak mengambil kartu seketika terhenti sejenak. Sorot matanya berubah ganjil, sebelum ia kembali memasang wajah acuh tak acuh.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Rasman pendek, suaranya mendadak agak berat.
"Lho, bukannya kau juga dulu dekat sekali? Masak tidak ada kontak sama sekali?" tanya temannya yang lain, heran.
Rasman mendengus.
"Dia itu juga pergi dua puluh tahun lalu dari desa ini. Dan sama seperti Hardi sebelumnya, Salim pun tidak ada kabarnya sama sekali. Tidak pernah berkirim surat, tidak juga pernah pulang ke desa ini sampai sekarang. Mungkin dia sudah membusuk di kota lain, atau sengaja melupakan tempat ini."
"Aneh ya, kalian bertiga dulu kompak, tapi begitu merantau langsung hilang seperti ditelan bumi." gumam teman judinya sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu kembali melempar kartu ke tengah tikar.
Rasman tidak menimpali lagi. Ia memilih bungkam dan menenggak sisa ciu dari gelas plastiknya hingga tandas.
Pertanyaan tentang Salim malam itu diam-diam membuat ingatannya dipaksa berputar kembali ke malam jahanam dua puluh tahun lalu, malam ketika Hardi, dan Salim terlibat dalam sebuah tragedi yang mengubah hidup mereka selamanya.
Hardi kabur membawa Minah ke kota, Salim menghilang tanpa jejak, dan hanya Rasman yang tertinggal di Desa Selogiri, membusuk bersama rahasia yang kian hari kian menggerogoti akal sehatnya.
Malam semakin larut, dan keberuntungan yang tadi disombongkan Rasman perlahan-lahan menguap.
Lembaran uang merah hasil memeras Hardi sore tadi kini berpindah tangan ke saku teman-teman judinya. Setiap kali kartu dibuka, Rasman hanya bisa mengumpat kasar melihat kombinasi kartunya yang selalu hancur.
"Sialan! Kok bisa jeblok terus begini!" umpat Rasman sembari membanting kartunya yang kalah lagi untuk kesekian kalinya.
"Wah, tampaknya celengan berjalan mu kurang berkah malam ini, Man," seloroh salah satu temannya sambil terkekeh geli sembari meraup sisa uang taruhan di tengah tikar.
Rasman merogoh saku kemejanya dengan tangan gemetar. Kosong. Uang ratusan ribu yang tadinya terasa tebal kini hanya menyisakan beberapa lembar uang ribuan yang lecek.
Mukanya merah padam, perpaduan antara pengaruh alkohol ciu dan rasa panas akibat kekalahan yang beruntun.
"Kurang ajar! Bisa habis modal aku," desis Rasman, menatap nanar tikar pandan di depannya. Matanya yang merah berkilat frustrasi.
Pikirannya yang mulai rancu akibat mabuk dan kalah judi kembali melayang pada sosok Hardi. Di kepala Rasman, uang ratusan juta di dalam rumah Hardi seolah melambai-lambai.
Baginya, Hardi masih berutang banyak padanya atas bungkamnya mulutnya selama dua puluh tahun ini.
Rasman pun berdiri dengan kasar, membuat tikar pandan di bawahnya sedikit bergeser. Wajahnya ditekuk masam, tangannya meremas saku kemeja yang kini benar-benar kosong melompong.
Salah satu teman judinya yang sedang menghitung kemenangan mendongak, lalu melempar cengiran mengejek.
"Mau ke mana kamu, Man? Jam segini kok sudah mau kabur?"
Rasman mendengus kencang, menatap temannya dengan pandangan gusar karena pengaruh ciu.
"Kalau kau mau main pakai daun, akan aku ladeni sampai pagi! Uangku sudah habis, tahu?!"
Mendengar gerutuan Rasman, ketiga temannya justru tertawa terbahak-bahak. Mereka menggeleng-gelengkan kepala melihat tabiat Rasman yang selalu emosional jika modalnya ludes.
"Ya sudah, kalau tidak ada duit, pulang sana. Tidur!" seru yang lain sambil mengocok kartu kembali.
Rasman membetulkan kerah kemejanya yang kusut dengan gaya angkuh, mencoba mempertahankan harga dirinya yang runtuh.
"Tenang saja. Besok kita main lagi. Aku akan bawa uang banyak besok!" katanya penuh penekanan dan rasa percaya diri yang berlebihan.
Di dalam kepalanya, Rasman sudah menyusun rencana matang. Besok pagi-pagi sekali, dia akan kembali mendatangi rumah Hardi. Kali ini, dia tidak akan puas hanya dengan beberapa lembar uang ratusan ribu.
Dia tahu Hardi punya simpanan yang jauh lebih besar, dan Rasman akan memastikan rahasia dua puluh tahun lalu itu dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Tanpa pamit lagi, Rasman melangkah keluar dari gubuk reot itu, menembus kegelapan malam Desa Selogiri yang dingin ditiup angin pegunungan.
Rasman berjalan menyusuri jalanan desa yang gelap menuju rumahnya. Kekalahan judi yang dialami tadi tidak bisa dia terima, meskipun setiap berjudi dia memang jarang sekali menang.
"Sialan! Harusnya tadi aku tidak pasang taruhan sebesar itu." Umpat Rasman, menendang kerikil di jalanan tanah hingga kakinya sendiri terasa sakit.
Langkah kakinya yang sempoyongan akibat pengaruh ciu membuat tubuhnya sesekali terhuyung ke kanan dan ke kiri.
Di tengah kesunyian malam Desa Selogiri yang pekat, otaknya yang mulai tumpul justru berputar mencari cara untuk kembali memeras Hardi esok hari.
Baginya, Hardi adalah ladang uang barunya, dan ia tidak peduli seberapa menderita teman lamanya itu, asalkan dompetnya sendiri kembali tebal.
Angin malam kembali berembus kencang, menggoyang dedaunan pohon besar di pinggir jalan dan menciptakan bayangan-bayangan hitam yang menari-nari di bawah sinar bulan yang temaram.
Langkah kaki Rasman mendadak terhenti. Di tengah rasa kesal dan mabuknya, pendengarannya menangkap suara asing yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Suara seretan sesuatu yang berat di atas tanah, tepat di balik rimbunnya semak-semak di depannya.
Rasa kesal yang tadinya mendominasi pikiran Rasman seketika surut, digantikan oleh perasaan tidak enak yang mulai merayap di tengkuknya. Selain suara seretan itu, Rasman juga merasa seperti ada yang mengikutinya sejak ia keluar dari gubuk judi tadi.