NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Sidang : Sumpah Dendam Anggun

Hukum bisa menjatuhkan vonis pada tubuh seseorang. Namun dendam... dendam tidak pernah benar-benar dipenjara.😩

-----

Tiga hari setelah kematian Shara mengguncang ruko milik Ci Gouw, bangunan empat lantai itu berubah menjadi bangkai yang kehilangan nyawa. Garis polisi membentang di pintu masuk. Koridor yang biasanya riuh oleh tawa, pertengkaran, dan langkah kaki para penghuni kini hanya dipenuhi kesunyian yang membuat dada terasa sesak.

Atas perintah penyidik, seluruh penghuni diminta meninggalkan ruko sementara waktu.

Aku termasuk yang pertama pergi.

Bukan karena perintah polisi.

Melainkan karena aku sudah tidak sanggup lagi berada di sana.

Setiap sudut koridor mengingatkanku pada Shara. Setiap malam aku kembali mendengar jeritannya dalam mimpi. Dan setiap kali menutup mata, aku selalu melihat Anggun berdiri di samping ranjang sambil membawa pisau yang berlumuran darah.

Aku nyaris tidak bisa tidur.

Tubuhku memang berhasil keluar dari ruko itu.

Tapi pikiranku masih terjebak di dalam kamar nomor tujuh.

Melihat kondisiku yang semakin memburuk, Ci Gouw akhirnya membawaku tinggal sementara di rumah pribadinya. Rumah dua lantai di kawasan perumahan itu terasa jauh lebih tenang dibanding ruko tempatku bekerja.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari ketiga.

Saat itu Ci Gouw pulang dengan wajah serius.

Begitu melihatku duduk di ruang tamu, ia langsung meletakkan tas tangannya di meja.

"Polisi sudah tangkap Anggun."

Jantungku langsung berdegup keras.

"Benar, Ci?"

"Iya."

Jawaban singkat itu terasa seperti batu besar yang terangkat dari dadaku.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, aku bisa bernapas sedikit lebih lega.

Ci Gouw lalu menceritakan bagaimana polisi menemukan barang-barang yang dibuang Anggun setelah melarikan diri.

Pisau.

Sarung tangan.

Sepatu yang masih menyimpan bercak darah.

Semua ditemukan.

Semua menjadi bukti.

Dan semua mengarah pada satu nama.

Anggun.

"Tidak ada jalan keluar lagi buat dia," ujar Ci Gouw. "Polisi sudah pegang semuanya."

Aku mengangguk pelan.

Namun entah mengapa, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam hati.

Seolah persoalan ini belum benar-benar selesai.

Dan firasat buruk itu terbukti keesokan harinya.

Aku dipanggil untuk hadir dalam persidangan sebagai saksi utama.

Malam sebelum sidang, aku hampir tidak tidur sama sekali.

Bukan karena takut pada hakim.

Bukan karena takut pada jaksa.

Aku takut pada Anggun.

Aku takut melihat tatapan perempuan itu sekali lagi.

Gedung pengadilan tampak megah.

Tapi saat kakiku melangkah masuk ke ruang sidang, seluruh tubuhku terasa dingin.

Di sana aku melihatnya.

Anggun.

Duduk di kursi terdakwa.

Mengenakan rompi tahanan berwarna oranye.

Rambutnya yang dulu selalu tertata kini tampak kusut.

Wajahnya jauh lebih pucat.

Namun matanya...

Matanya masih sama.

Tatapan itu masih dipenuhi kebencian.

Masih dipenuhi dendam.

Dan saat mata kami bertemu, aku tahu satu hal.

Perempuan itu belum selesai denganku.

Belum sama sekali.

Persidangan berlangsung hampir sepanjang siang.

Aku menceritakan semuanya.

Bagaimana aku menemukan jasad Shara.

Bagaimana Anggun menyeretku masuk ke dalam kamar.

Bagaimana ujung pisau itu menempel di leherku.

Dan bagaimana ia mengancam akan membunuhku jika aku membuka mulut.

Ruangan berkali-kali dipenuhi bisik-bisik pengunjung sidang.

Sementara Anggun hanya duduk diam.

Tidak menyangkal.

Tidak membela diri.

Dia hanya terus menatapku.

Seakan sedang menghafal wajahku.

Ketika majelis hakim akhirnya menjatuhkan vonis dua puluh tahun penjara, sebagian orang menghela napas lega.

Termasuk aku.

Setidaknya saat itu aku mengira semuanya telah berakhir.

Aku salah.

Sangat salah.

Karena beberapa hari setelah persidangan, di balik jeruji besi yang mengurung tubuhnya, Anggun justru mulai menyusun balas dendam yang jauh lebih mengerikan.

Balas dendam yang tidak membutuhkan pisau.

Tidak membutuhkan racun.

Dan tidak meninggalkan sidik jari.

Saat ibunya datang menjenguk, Anggun hanya mengucapkan satu kalimat yang membuat perempuan paruh baya itu membeku.

"Aku mau Amira mati."

Ibunya terdiam.

Namun Anggun terus berbicara.

Dengan suara pelan.

Dengan senyum yang membuat bulu kuduk meremang.

"Kalau hukum manusia gak bisa menyentuh dia... berarti kita pakai cara yang lain."

"Cara apa?"

Anggun mendekat ke kaca pembatas.

Lalu berbisik.

"Cari orang yang dulu pasang susukku."

Wajah ibunya langsung berubah.

"Dukun itu?"

Anggun mengangguk perlahan.

"Kirim sesuatu buat Amira."

"Kirim apa?"

Senyum Anggun semakin lebar.

"Sesuatu yang bisa membunuhnya sedikit demi sedikit."

Di balik kaca ruang kunjungan itu, sebuah kesepakatan gelap akhirnya lahir.

Dan jauh di tempat lain...

Tanpa mengetahui apa pun...

Aku masih menjalani hidup seperti biasa.

Menyapu koridor.

Mencuci pakaian.

Dan mencoba melupakan semua mimpi buruk yang pernah terjadi.

Aku tidak tahu bahwa seseorang sedang menghabiskan puluhan juta rupiah demi satu tujuan.

Membuatku menderita.

Membuatku hancur.

Dan memastikan kematianku datang perlahan.

Sangat perlahan.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!