Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Dua
Chelsea melangkah mundur beberapa langkah. Tangannya melambai ke arah keluarga yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
"Hati-hati di jalan, Dad, Mom, Al!" serunya.
"Kamu juga jaga diri!" balas Hana.
Arsaka hanya tersenyum sambil mengangguk, sedangkan Al melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi sampai Chelsea tertawa kecil.
Mobil itu perlahan meninggalkan pelataran apartemen.
Chelsea masih berdiri di sana hingga mobil yang membawa keluarganya benar-benar menghilang di tikungan jalan. Barulah ia berbalik memasuki lobi apartemen. Besok perjalanan baru dalam hidupnya akan dimulai.
Keesokan paginya.
Langit masih berwarna jingga ketika Chelsea sudah tiba di bandara. Sebuah koper berukuran sedang berdiri di sampingnya, sementara tas ransel menggantung di bahunya.
Arsaka, Hana, dan Al tetap memaksakan diri mengantarnya meskipun Chelsea berkali-kali mengatakan ia bisa berangkat sendiri.
"Aku cuma pindah kerja, Mom. Bukan pindah negara," ucap Chelsea sambil tertawa.
Namun, mana mungkin mereka membiarkan Chelsea berangkat sendirian. Di depan pintu keberangkatan, suasana kembali berubah sendu.
Hana merapikan kerah jaket Chelsea untuk terakhir kalinya. "Di sana jangan lupa makan tepat waktu."
"Iya, Mom."
"Kalau sakit langsung ke dokter."
"Iya."
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Chelsea tersenyum. "Iya, Mom."
Al yang berdiri di samping mereka ikut menyela. "Kalau ada yang ganggu Kakak, telepon aku."
Chelsea tertawa pelan. "Kamu mau ngapain?"
"Aku laporin Daddy."
Semua tertawa. Untuk sesaat, kesedihan itu menghilang.
Arsaka kemudian melangkah mendekati Chelsea. Pria itu menepuk pelan bahu putrinya. "Daddy nggak akan banyak menasihati."
Chelsea menatap ayah angkatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Daddy cuma mau bilang ... jangan pernah kehilangan dirimu sendiri. Di mana pun kamu bekerja. Jadilah orang baik dan jangan sombong."
Arsaka berhenti sejenak. Seperti menahan Ari mata. "Dan jangan pernah malu mengakui kalau kamu pernah jatuh."
Chelsea mengangguk pelan. "Baik, Dad."
Arsaka lalu memeluknya erat. Pelukan itu terasa hangat. Pelukan yang selama bertahun-tahun selalu menjadi tempat ternyaman bagi Chelsea.
"Semoga Allah selalu menjaga kamu, Nak."
"Aamiin."
Suara pengumuman keberangkatan mulai terdengar dari pengeras suara.
Chelsea menarik napas panjang. "Sudah waktunya aku pergi, Dad. Mom, Al."
Hana kembali memeluknya. Tangisnya akhirnya pecah. "Mommy pasti kangen kamu."
Chelsea mengusap air mata wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung itu. "Nanti aku sering video call."
"Janji?"
"Janji."
Al ikut memeluk kakaknya. "Jangan lupa oleh-olehnya."
Chelsea tersenyum sambil mengusap kepala Al. "Pasti."
Setelah berpamitan, Chelsea melangkah memasuki area keberangkatan. Beberapa kali ia menoleh ke belakang.
Arsaka, Hana, dan Al masih berdiri di tempat semula sambil melambaikan tangan. Chelsea membalas lambaian itu dengan senyum, meski matanya sudah dipenuhi air mata.
Beberapa puluh menit kemudian, Chelsea sudah duduk di kursi dekat jendela pesawat.
Pramugari mulai memberikan instruksi keselamatan. Suara mesin pesawat perlahan semakin keras. Chelsea menoleh ke luar jendela.
Landasan pacu terlihat membentang panjang. Ia menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan.
Air matanya kembali menetes tanpa bisa ditahan. "Mom, Dad ...." Ia berbisik sangat pelan. "Aku nggak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian."
"Kalian yang merawat aku sejak kecil. Kalian yang mengajarkan aku membaca. Kalian yang selalu percaya kalau aku bisa. Kalian yang selalu berdiri di sampingku setiap kali aku gagal."
Chelsea tersenyum tipis di tengah tangisnya. "Aku akan pulang ... setelah aku bisa membuktikan kalau aku memang mampu sukses dengan usahaku sendiri."
"Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri. Tapi ...."
Ia menatap langit dari balik jendela pesawat. "Aku juga sadar, semua pencapaianku hari ini tidak akan pernah terjadi tanpa kalian. Kalau dulu Daddy dan Mommy tidak menjagaku ... kalau kalian tidak menyayangiku, entah akan jadi seperti apa hidupku sekarang."
"Terima kasih sudah menjadi rumah untukku. Terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik."
Pesawat mulai bergerak meninggalkan apron. Chelsea mengusap air matanya.
Ia menarik napas panjang. "Hari ini, aku memulai perjalanan baru. Doakan aku berhasil."
Beberapa detik kemudian pesawat lepas landas. Perlahan kota itu semakin mengecil dari balik jendela. Chelsea terus memandanginya hingga awan putih menutupi semuanya.
**
Sementara itu, satu minggu telah berlalu sejak El meninggalkan rumah. Selama seminggu itu pula, tidak ada satu pun anggota keluarga yang mengetahui bagaimana kehidupannya sekarang.
Pagi itu, sebuah mobil berhenti di halaman kantor pusat perusahaan milik keluarga Arsaka. El turun dari mobil.
Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding biasanya. Lingkar hitam mulai tampak di bawah matanya. Namun langkahnya tetap tegap memasuki gedung.
Begitu para karyawan melihatnya, mereka langsung saling berpandangan.
"Pak El ...."
"Beliau masuk lagi ...." Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar.
El tidak memedulikannya. Ia langsung menuju lantai tempat ruang kerjanya berada.
Namun, begitu sampai di depan pintu, langkahnya mendadak terhenti. Keningnya langsung berkerut. Pintu ruang kerjanya tertutup rapat.
Di gagangnya terpasang kunci baru. El mencoba memutar kenop pintu, tapi tidak bisa. Ia kembali mencoba. Tetap terkunci.
Rahangnya mengeras. Saat itulah sekretaris pribadinya datang tergesa-gesa.
"Selamat pagi, Pak El."
El langsung menoleh. "Apa ini?"
Sekretaris itu tampak gugup. "Maaf, Pak ...."
El menunjuk pintu ruangannya. "Kenapa ruangan saya dikunci?"
Wanita itu menarik napas pelan sebelum menjawab. "Itu ... atas perintah Pak Arsaka."
Tatapan El berubah tajam. "Maksudnya?"
"Mulai minggu ini, perusahaan kembali dipimpin langsung oleh Pak Arsaka. Semua keputusan operasional berada di tangan beliau."
"Termasuk penggunaan ruangan ini."
Beberapa karyawan yang melintas langsung mempercepat langkah mereka. Mereka bisa merasakan hawa tegang yang mulai memenuhi lorong itu.
El mengepalkan kedua tangannya. Dadanya naik turun menahan amarah.
Jadi, Daddy benar-benar mencopotnya. Bukan sekadar ancaman. Melainkan kenyataan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, El membalikkan badan. Langkahnya panjang dan cepat. Ia berjalan melewati para karyawan yang otomatis menyingkir memberi jalan.
Tak lama kemudian, ia berhenti tepat di depan ruang kerja utama. Ruangan yang dulu setiap hari ia datangi untuk berdiskusi dengan ayahnya. Kini ... entah mengapa terasa begitu asing. Tanpa mengetuk pintu El langsung membuka pintu itu.
Suara pintu yang terbuka keras membuat Arsaka mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen. Tatapan ayah dan anak itu langsung bertemu.
Beberapa detik tak ada satu pun yang berbicara. Arsaka meletakkan pena di atas meja. Wajahnya tetap tenang.
"Kenapa kamu datang?" tanyanya datar. "Masih ingat kalau kamu punya pekerjaan?"
El sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya justru mengarah tajam ke ayahnya.
Dengan rahang mengeras, ia berkata pelan, "Kenapa ruangan saya dikunci?"
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka
coba kl biar kn saja pasti topeng Zoya akn terbuka.
kl bgini Zoya pasti lbih hati hati demi warisan el.