"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBD 35
Matahari siang bersinar hangat di atas hamparan sawah yang menghijau. Angin berembus pelan, membuat bulir-bulir padi bergoyang lembut bak ombak yang berkejaran. Suara burung bersahutan dari pepohonan, berpadu dengan nyanyian jangkrik dan gemericik air yang mengalir di saluran irigasi. Di kejauhan, Gunung Slamet berdiri megah dengan puncaknya yang diselimuti kabut tipis. Sesekali terlihat para petani berjalan menyusuri pematang sawah sambil memanggul cangkul, sementara anak-anak berlarian di jalanan desa dengan tawa yang riang. Suasana pedesaan terasa damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat yang dipeluk kehangatan alam itu.
Rumah kecil keluarga Layla...
"Alif... Lisa... ada paket untuk kalian!" panggil Lyly dari ruang tamu sambil membawa sebuah kardus besar.
Dua anak itu berlari menghampiri dengan mata berbinar.
"Dari Ibu?" tanya Lisa penuh harap.
Lyly menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan. Dari Pak Lee."
Lisa langsung bertepuk tangan kecil.
"Ayo dibuka... ayo dibuka!"
Kardus itu dibuka perlahan. Kertas pembungkus berwarna cokelat memenuhi lantai.
"Waaah... boneka!"
Lisa memeluk boneka kelinci berwarna putih hampir sebesar tubuhnya sendiri.
"Lucu banget..."
Senyumnya begitu lebar hingga matanya membentuk bulan sabit.
Sementara itu Alif membuka sebuah kotak panjang berwarna hitam.
Di dalamnya terbaring sebuah pena berwarna hitam doff dengan ukiran sederhana.
ALIF
Namanya terukir rapi di badan pena.
Jemari Alif seketika berhenti bergerak.
Perlahan ia mengangkat pena itu seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.
Di dasar kotak terselip secarik kartu kecil.
"Semoga pena ini menjadi temanmu menuliskan mimpi-mimpi besar. Jangan pernah berhenti belajar, Alif.
— Zhao Lee."
Alif tersenyum.
Bukan karena pena itu mahal.
Melainkan karena seseorang percaya pada mimpinya.
Perlahan ia menggenggam pena itu lebih erat didada. Dalam hatinya berjanji, "Aku tidak akan mengecewakanmu, Pak Lee.''
Di negeri yang berbeda, ribuan kilometer dari desa itu, Layla masih menjalani hari-harinya di toko bunga kecil tempat ia bekerja.
Ia tengah merapikan rangkaian hortensia putih di etalase toko.
Ujung jarinya mengusap lembut salah satu kelopak bunga itu.
Tatapannya terpaku pada kelopak putih itu. Entah sejak kapan pikirannya telah melayang jauh meninggalkan toko kecil tersebut.
Seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
"Layla..."
Suara Riri memanggil pelan.
Tak ada jawaban.
"Layla."
Baru kali ini wanita itu tersentak.
"Hah?"
"Kamu pegang bunga itu hampir sepuluh menit."
Layla menatap bunga di tangannya.
Ia tersenyum hambar.
"Maaf... aku cuma sedang mengingat seseorang."
Riri kemudian berkata pelan,
"Hari ini tutup toko lebih cepat, yuk ikut aku ke suatu tempat."
"Aku baik-baik saja." Layla menolak.
Riri tersenyum.
"Sebagai sahabat, aku tahu kapan kamu bohong." kata Riri lembut.
Mereka menutup toko dan pergi ke rumah Riri.
Rumah Riri tidak besar.
Namun selalu terasa hangat.
Aroma teh melati memenuhi ruang tamu yang sederhana.
Riri meletakkan dua cangkir di atas meja.
"Asal kamu tahu..."
Ia tersenyum.
"Mulai hari ini aku nggak cuma jadi sahabatmu."
Layla menatapnya bingung.
"Aku juga psikologmu."
Layla spontan terkekeh kecil.
"Kamu serius?"
"Sangat serius."
Riri ikut tertawa.
"Tenang aja. Konseling pertama gratis. Dan seterusnya juga gratis karena kamu sahabat ku."
Untuk pertama kalinya hari itu, Layla tertawa tanpa dipaksa.
Setelah semua tenang Riri memulai sesi konseling ini dengan ringan.
"Kalau kamu boleh mengulang satu hari dalam hidupmu... hari apa yang ingin kamu ulang?" tanya Riri.
Layla terdiam lama, lalu menjawab lirih. "Hari sebelum kecelakaan itu,"
"Kamu boleh cerita kapan pun kamu siap, Layla," ucap Riri lembut.
"Aku sulit untuk menceritakanya. Terlalu berat," ucap Layla.
Tangan Layla bergetar, nafasnya mulai tak beraturan mengingat masa itu. Matanya berkaca-kaca
Riri memegang erat tangan Layla dengan tatapan yang dalam.
"Ada aku Layla. Aku akan bantu kamu sampai kamu sembuh dari trauma itu,"
Layla terdiam sebelum mengangguk pelan. Tubuhnya masih gemetaran.
"Tarik napas perlahan... tahan sebentar... lalu hembuskan pelan. Fokus pada napasmu," tambah Riri.
"Ulangi sampai kamu merasa nyaman," kata Riri.
Layla pun mengikuti instruksi yang diberikan.
"Lihat sekelilingmu."
Layla mengikuti arah pandangan Riri.
"Sebutkan lima benda yang kamu lihat."
"Hortensia... jendela... meja... vas... lukisan."
"Bagus."
"Empat benda yang bisa kamu
sentuh."
Layla menyentuh ujung cangkir.
"Cangkir...remot AC...tas..ponsel"
Layla mulai mengikuti ritme napasnya.Perlahan, detak jantungnya yang semula berpacu mulai melambat. Napasnya kembali teratur. Jemarinya yang tadi gemetar kini sedikit lebih tenang.
"Baiklah, sekarang ceritakan pada ku kenangan yang paling indah kamu bersama Hendi," kata Riri.
"Bagaimana kamu bisa tau Hendi?" tanya Layla terkejut.
"Kamu sering menyebut namanya saat kamu tidur di rumah sakit Layla," ucap Riri tersenyum.
"Aku tau itu berat, tapi jika ini di teruskan aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu Layla. Hidup itu terus berjalan. Kamu harus bisa lepas dari belenggu masa lalu mu. Bukan untuk siapa pun tapi untuk dirimu sendiri, Layla. Aku di sini akan membantu mu pelan-pelan melepas belenggu masa lalu yang sudah berkarat dan melekat lama dalam dirimu," ucap Riri lembut.
Layla tertunduk diam...
"Aku tau...," ucap Layla lirih.
Layla menghela nafas panjang dan terdiam sejenak sebelum menceritakan masa lalunya...
"Kenangan yang paling indah bersama Hendi yaitu saat dia melamarku dengan membawakan bunga hortensia dan cincin emas sederhana di tepi pantai," ucap Layla tersenyum.
"Dia adalah laki-laki yang unik dan klasik, waktu ngajak kenalan aku juga dia pake surat buat mengutarakan niat hatinya. Ia selalu menyisipkan kelopak bunga hortensia di surat itu. Aku tersenyum dan berpikir. Hendi itu unik, ini sudah abad ke berapa masa kenalan pake surat." ucap Layla tertawa kecil.
"Saat itu aku bertanya kenapa dia selalu menulis surat untuk ku. Katanya untuk di simpan dan sebagai bukti nanti kisah cinta kami dapat di ceritakan ke anak cucu kami," Layla tersipu malu saat menceritakan kenangan waktu itu.
"Kenapa selalu hortensia?" tanya Riri.
Layla tertawa pelan.
"Dia bilang..."
Air mata tipis mulai menggenang.
"'Karena bunga ini nggak mahal.'"
Layla kembali tertawa.
''Kalau mawar aku harus beli. Tapi hortensia tumbuh di belakang rumah. Jadi aku bisa kasih bunga buat kamu setiap hari.'"
Riri ikut tertawa.
Layla menggeleng sambil tersenyum.
"Romantisnya sederhana. Waktu itu dia memang belum punya banyak uang karena ia masih merintis usahanya. Tapi selalu punya banyak cara untuk membuatku merasa dicintai."
"Aku juga ikut bahagia mendengar cerita mu Layla. Sungguh menyenangkan," ucap Riri tersenyum.
"Layla... menurutmu, apa penyesalan terbesar yang masih kamu bawa sampai hari ini?"
Senyum Layla perlahan menghilang.
Tangannya kembali bergetar.
Ruangan yang semula terasa hangat mendadak sunyi.
Air mata menetes satu per satu.
"Akulah yang membunuh Hendi..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
Riri tidak mendesak. Ia hanya menggenggam tangan Layla lebih erat, seolah ingin mengatakan bahwa kali ini Layla tidak perlu memikul semua rasa sakit itu sendirian.
"Kalau kamu sudah siap..." ucap Riri lirih.
"Aku akan mendengarkan semuanya," tambahnya.
*"*"**"*"*"*"*"
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️
menyebalkan, memaksakan kehendak mentang dia kaya.