"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Ledakan Viral Bazar Kedua
"Lepaskan saya, Tuan!" pekik Anna panik. Ia mendorong dada bidang Aethan dengan sisa tenaga yang dimiliki, lalu buru-buru menarik kembali lilitan kain linennya untuk menyembunyikan helaian rambut merah anggurnya yang sempat menyembul keluar.
Aethan tertegun selama beberapa detik dengan tatapan tertuju pada posisi rambut Anna yang kini sudah tertutup rapat kembali. Keraguan dan rasa penasaran yang besar berkelebat di mata elangnya, namun melihat tubuh gadis di depannya gemetar hebat karena ketakutan, ia perlahan melangkah mundur dan melepaskan cengkeramannya.
"Pergilah," perintah Aethan, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Anna menyambar keranjangnya dan berlari keluar dari pos pemeriksaan. Namun, di dalam ruangan yang mendadak sepi itu, atensi Aethan teralih pada selembar kain katun putih di sudut meja interogasi. Itu adalah saputangan pertama buatan Anna yang sempat disita prajurit tadi, kini tertinggal begitu saja.
"Ini ...."
Aethan mengambilnya, begitu jemarinya menyentuh permukaan kain, jantungnya berdegup cepat (lagi). Sulaman mawar yang agak kasar (hasil percobaan pertama Anna) Aethan melihat setitik noda merah kecokelatan yang mengering yang nampak jelas. Saat ibu jarinya mengusap, sebuah riakan sihir suci hangat mendadak menyengat pembuluh darahnya, membuat sesuatu di dalam tubuh sang Panglima mendadak tenang dan rileks seketika.
"Benda ini ... sihir ini ...." gumam Aethan, matanya menggelap. Ia langsung melipat saputangan itu dan menyembunyikannya di balik jubah militernya. "Siapa kau sebenarnya, Tikus Kecil?"
Sementara itu, di luar pos, Ibu Marry yang cemas langsung memeluk Anna. Mereka segera pulang ke rumah dengan langkah tergesa-gesa.
Malam itu, di ruang tengah rumah mereka, Paul menghitung pundi-pundi koin perak yang ditumpahkan Anna di atas meja kayu. Karena tadi bazar sempat dihentikan oleh militer, dagangan Anna jelas tidak habis, dari 40 lembar, tersisa 3 lembar saputangan.
"Totalnya 37 lembar yang terjual, berarti ada 1.110 koin perak," ucap Paul sambil mencatat di kertas usang. "Ini sudah lebih dari cukup untuk makan kita selama beberapa bulan, Nak"
"Sepertinya tadi ada beberapa yang membayar lebih, Yah. Dan ... ini untuk Ibu, dan Ayah," kata Anna sambil tersenyum manis, menyerahkan masing-masing satu lembar saputangan mawar dari sisa dagangannya kepada Marry dan Paul. "Simpan ini untuk kalian."
Marry menerima kain itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Anna. Lalu, satu lembar sisanya di mana, Nak?"
"Ah, sepertinya tertinggal di meja pos pemeriksaan tadi, Ibu," sahut Anna santai, tidak tahu kalau saputangan bernoda darahnya kini menjadi aset paling berharga bagi sang Komandan Tertinggi.
"Sudahlah, ikhlaskan saja," jawab Paul wajahnya mendadak mengeras saat Anna menceritakan interogasinya tadi. "Aethan Cassian Solaris. Dia serigala militer yang sangat kejam, Anna. Tapi, apa kau akan menuruti perintahnya untuk mendaftar ke Guild Dagang?"
"Bukankah Ayah bilang biaya registrasi di Guild Borjuis pusat kota itu minimal sepuluh koin emas? Kalau aku membayarnya sekarang, uang kita habis," jawab Anna sambil menggeleng tegas. "Lagipula, aku tidak tahu apa itu Mana yang mereka maksud. Aku hanya menyulam dengan jarum peninggalan Mama Rosa. Kenapa hal seindah ini harus dilarang jika tidak merugikan siapa pun?"
"Kau benar," dukung Paul, meski gurat kecemasan tetap membekas di wajahnya karena ada hal yang belum bisa dia ceritakan pada Anna. "Tapi kita harus tetap waspada," kata Paul akhirnya.
Anna mengira teguran militer itu hanyalah masalah birokrasi kecil, ia memilih mengabaikannya. Keesokan harinya, ia pergi ke pasar ditemani Paul. Kali ini, ia tidak membeli kain katun murahan dalam jumlah meteran lagi, melainkan langsung membeli satu gulung besar kain katun berkualitas tinggi. Dengan membeli segulung utuh, harganya jauh lebih murah dan tekstur kainnya jauh lebih lembut serta seratnya rapat.
Selama hari Senin hingga Sabtu, jemari Anna menari dengan kecepatan luar biasa dibantu Jarum Emasnya. Kali ini dia menyiapkan 80 lembar saputangan mawar, dua kali lipat dari jumlah sebelumnya. Anna juga membuat inovasi baru, ia mencoba menjahit 20 buah kantong koin serbaguna yang dilengkapi tali serut, disulam dengan motif mawar timbul yang sangat cantik di bagian depannya.
Hingga tibalah hari Minggu, Anna dan Marry sengaja datang ke bazar Solmara saat matahari bahkan belum sepenuhnya terbit. Mereka langsung menuju ke lapak mereka minggu lalu, gang buntu yang sepi di ujung jalan. Namun, begitu fajar menyingsing, pemandangan mengejutkan langsung menyambut mereka. Gang buntu itu dipadati oleh puluhan wanita.
"Itu dia! Gadis penjahit mawar sudah datang!" seru seorang pelayan yang langsung mengenali Anna.
"Nyonya Lodya benar, sulamannya sangat cantik!" sahut seorang putri bangsawan muda dari balik kipas sutranya.
"Indah sekali barangnya, dia benar-benar jualan di sini lagi!" seru yang lainnya.
Rupanya, promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan Nyonya Lodya di kalangan sosialita Solmara selama seminggu terakhir telah menyebar bak api tersiram minyak. Para wanita kelas atas berbondong-bondong datang demi berburu saputangan mawar seharga 30 koin perak tersebut dan 100 koin perak untuk harga kantong koin serbagunanya.
"Saya mau tiga lembar untuk anak-anak saya!" seru seorang wanita paruh baya.
"Lalu barang baru apa yang di depan itu, Nona?" tanya seorang gadis bangsawan, menunjuk kantong koin rajutan Anna.
Anna tersenyum ramah dan langsung mempromosikannya. "Ini kantong koin serbaguna, Nona. Saya baru membuat 20 buah, tidak ada yang sama bentuk sulamannya. Sangat cocok untuk wadah hadiah, menaruh koin, atau barang-barang kecil lainnya dalam satu wadah yang cantik ini. Harganya 100 koin perak saja."
"Astaga, ini sangat cantik! Murah sekali! Aku mau beli dua untuk tempat perhiasanku!"
Suasana gang buntu itu mendadak lumpuh total, penuh sesak. Lautan manusia riuh saling berdesakan di depan meja kayu rapuh lapak Anna. Marry sampai kewalahan menerima pundi-pundi koin perak yang masuk ke dalam kantong kain mereka, sementara Anna dengan tenang menyerahkan barang satu per satu kepada pembeli.
Dalam waktu kurang dari dua jam, total 80 lembar saputangan dan 20 kantong koin habis terjual, tak bersisa. Kantong kain di pinggang Marry kini terasa sangat berat oleh ribuan koin perak yang saling berdenting. Anna tersenyum puas, merasa langkah awal dari impian bangkit, berjalan dengan sangat sempurna.
Namun, saat Anna dan Marry membereskan lapak dagangan, sekelompok pria dengan pakaian mewah berlogo timbangan emas berdiri diam di ujung gang. Mereka adalah para pengawas dari Guild Borjuis pusat kota. Pemimpin mereka, seorang pria bermata licik dengan kumis tipis, menatap ke arah meja Anna yang kosong dengan pandangan penuh rasa iri, keserakahan, dan permusuhan baru.
"Berani sekali tikus pinggiran ini memonopoli pasar tanpa izin dan upeti," desis pria itu seraya meremas kertas laporan di tangannya.
lanjut yaaaaa