Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pengepungan
Suara tembakan itu memecah keheningan hutan dengan brutal. Kaelith segera menarik tangan Naura dan mendorong Kakeknya masuk ke dalam lorong sempit di balik rak buku kayu yang berfungsi sebagai pintu rahasia. "Kek, masuk duluan! Terus lari ke arah sungai, jangan berhenti sebelum sampai di pondok penjaga hutan!" perintah Kaelith dengan nada yang sangat tegas.
"Kael, bagaimana dengan kalian?" tanya sang Kakek dengan napas terengah, matanya berkaca-kaca karena cemas.
"Kami akan memancing mereka ke arah yang berbeda! Cepat, Kek!"
Pria tua itu akhirnya mengangguk, lalu menghilang ke dalam kegelapan lorong bawah tanah yang dingin. Begitu pintu rahasia tertutup rapat, Kaelith menatap Naura. "Kita harus keluar lewat pintu depan, buat mereka percaya kalau kita melarikan diri ke arah yang berlawanan dari kakek."
Naura mengangguk, meskipun rasa takut mulai menyelimuti kerongkongannya. "Gue bawa tas kakek yang isinya senter sama beberapa peralatan. Kita bisa gunakan itu."
Mereka keluar lewat pintu belakang rumah, tidak ke arah hutan, melainkan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke jurang kecil. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, sebuah lampu sorot menyapu arah mereka. "Di sana! Mereka lari ke arah tebing!" teriak suara dari kegelapan.
"Lari!" perintah Kaelith.
Mereka berlari sekuat tenaga di bawah bayang-bayang pohon pinus yang rapat. Naura bisa mendengar derap sepatu boots yang berat mengejar di belakang mereka. Peluru-peluru liar menghantam batang pohon, serpihan kayu beterbangan mengenai wajah Naura. Mereka tidak punya senjata, tidak punya perlindungan, hanya mengandalkan ingatan Kaelith tentang medan bukit itu.
"Sini!" Kaelith menarik tangan Naura terjun ke dalam semak belukar yang curam. Mereka berguling-guling hingga mendarat di tepian sungai kecil yang airnya dingin menusuk tulang.
"Mereka kehilangan jejak kita untuk sementara," bisik Kaelith sambil menahan napas.
Naura meringis, memegang pergelangan kakinya yang terkilir saat mendarat tadi. "Kael, mereka bukan orang biasa. Mereka terlalu profesional. Siapa sebenarnya yang masih mengejar kita? Bokap lo sudah ditahan, Dimas juga."
Kaelith terdiam, matanya menatap tajam ke kegelapan hutan di seberang sungai. "Itu yang gue takutkan sejak awal, Nau. Bokap gue hanyalah pion dari konspirasi yang jauh lebih besar. Ada pihak-pihak di yayasan pusat atau mungkin di jajaran pemerintahan yang namanya ada di dalam data itu. Mereka bukan cuma mau bungkam bokap gue, mereka mau menghapus semua bukti fisik dan saksi mata—yaitu kita."
"Jadi kita nggak akan pernah aman selama data itu ada sama kita?"
Kaelith menoleh ke arah Naura, matanya redup namun penuh tekad. "Justru itulah satu-satunya perlindungan kita. Selama kita masih hidup dan data itu belum dimusnahkan, mereka nggak berani membunuh kita secara terang-terangan. Mereka harus membuat kita 'menghilang' atau membuat kita mengaku bahwa data itu palsu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Mereka terpaksa merangkak masuk ke bawah celah bebatuan besar di pinggir sungai, membiarkan tubuh mereka terendam air dingin hingga sebatas pinggang.
Di atas sana, tiga pria berjaket hitam dengan senjata laras pendek lewat hanya beberapa meter dari tempat persembunyian mereka. "Cari sampai ketemu. Bos bilang, jangan bawa mereka hidup-hidup kalau memang sudah terpojok, tapi pastikan flashdisk-nya diamankan," suara salah satu dari mereka terdengar jelas.
Naura membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Kaelith mendekapnya, memberikan kehangatan di tengah air sungai yang menggigilkan. Jarak mereka begitu dekat hingga Naura bisa mendengar detak jantung Kaelith yang ritmenya tidak stabil—bukan karena takut, tapi karena menahan amarah.
Setelah pria-pria itu menjauh, Kaelith menarik Naura keluar dari air. Tubuh mereka gemetar hebat. "Kita harus sampai ke pondok penjaga hutan. Kakek punya radio komunikasi tua yang bisa tersambung ke stasiun pemancar lokal. Kita bisa minta bantuan dari sana tanpa lewat sinyal ponsel yang mudah dilacak."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih. Naura terus menahan rasa sakit di kakinya, namun ia tidak mengeluarkan keluhan sedikit pun. Ia tahu, setiap detak jantung yang mereka lalui adalah kemenangan kecil melawan orang-orang yang ingin menghapus keberadaan mereka.
Saat fajar mulai menyemburat jingga di ufuk timur, mereka sampai di sebuah pondok kayu kecil yang tersembunyi di balik lebatnya dedaunan. Kakek Kaelith sudah menunggu di sana, wajahnya pucat namun lega melihat cucunya selamat.
"Radio itu ada di sudut ruangan," ujar kakeknya sambil menunjuk ke sebuah alat komunikasi kuno yang tertutup debu.
Kaelith segera memutar tuas frekuensinya. Suara gemerisik statis memenuhi pondok. "Halo? Ini Kaelith Atharrazka. Apakah ada yang mendengar? Kami dalam bahaya di sektor Bukit Pinus. Butuh bantuan segera!"
Hening. Hanya suara statis yang menyiksa.
"Coba frekuensi lain, Kael!" seru Naura cemas.
Kaelith mencoba lagi. Akhirnya, sebuah suara menjawab, meski putus-putus. "Ini... tim patroli hutan... kami menerima... ada apa?"
"Kami sedang dikejar oleh kelompok bersenjata! Tolong hubungi pihak kepolisian sektor pusat, bukan sektor lokal! Mereka sudah disuap!" teriak Kaelith.
"Siapa ini? Apa buktinya?"
Kaelith menatap Naura. Ia tahu ini saatnya. "Katakan pada mereka bahwa ini soal data Korupsi Proyek Nusantara 2026. Sebutkan nama Pramudita Atharrazka. Mereka akan tahu siapa kita!"
Pondok itu terasa semakin mencekam saat mereka menunggu jawaban. Detik-detik berlalu seperti jam. Naura menggenggam erat tangan Kaelith, merasakan dinginnya kulit pria itu.
"Kami... kami menerima informasinya. Bantuan sedang dalam perjalanan. Bertahanlah 15 menit lagi."
15 menit. Waktu yang terasa sangat lama bagi seseorang yang sedang diburu.
Kaelith segera memadamkan semua lampu di pondok. Ia mengambil kursi kayu dan membaringkannya di depan pintu, memberikan pertahanan terakhir jika penyerang itu datang lebih cepat. Ia menatap Naura, lalu memberikan sebuah senyum paling tulus yang pernah Naura lihat.
"Nau, kalau kita selamat dari sini, ada banyak hal yang pengen gue bilang ke lo," bisiknya pelan, seolah-olah suasana tegang itu tidak ada.
Naura tersenyum tipis, air mata haru menetes di pipinya yang kotor. "Simpan itu sampai kita beneran aman, Kael. Gue bakal nagih janji itu."
Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar dari kejauhan. Bukan satu, tapi banyak. Apakah itu bantuan, atau penyerang mereka yang baru saja menemukan posisi mereka melalui sinyal radio?
Kaelith mengintip dari celah jendela. "Itu mobil patroli polisi. Tapi... ada mobil hitam yang mengawal dari belakang. Itu bukan polisi biasa."
"Apa kita harus lari lagi?"
"Nggak," Kaelith mengambil sebuah lampu minyak dan meletakkannya di dekat jendela, memberi tanda kepada mobil patroli. "Itu satu-satunya kesempatan kita. Kalau mereka bukan orang yang tepat, maka ini adalah akhir dari cerita kita."
Mereka berdiri di tengah pondok, menunggu dengan napas tertahan. Mobil-mobil itu berhenti tepat di depan pondok. Beberapa orang berpakaian seragam polisi keluar dengan senjata terhunus, diikuti oleh seseorang yang sangat mereka kenal.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam perwira polisi yang tegas berjalan ke depan. Itu adalah Kapolda yang selama ini dikenal sebagai satu-satunya perwira tinggi yang tidak bisa disuap.
"Kaelith! Naura! Keluar dengan tangan di atas!" teriaknya.
Mereka keluar dengan perlahan. Naura melihat Kaelith melepaskan napas panjang yang seolah mengeluarkan seluruh beban berat dari pundaknya. Mereka tidak lagi dikejar oleh bayang-bayang; mereka sekarang berada di bawah perlindungan yang sah.
Namun, saat mereka melangkah menuju Kapolda, salah satu mobil hitam yang ada di belakang polisi itu tiba-tiba melaju kencang, berusaha menabrak Kaelith yang berada di barisan terdepan.
"Awas!" Naura berteriak, mendorong Kaelith jatuh ke tanah.
Suara tembakan kembali pecah. Kali ini, balasan dari pihak kepolisian jauh lebih dahsyat. Baku tembak terjadi di depan pondok. Kaelith memeluk Naura di atas tanah, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
Naura memejamkan mata, membiarkan kebisingan peluru dan teriakan itu memenuhi telinganya. Di tengah kekacauan itu, ia menyadari satu hal: mereka mungkin akan selamat, tapi musuh mereka tidak akan pernah membiarkan mereka hidup dengan tenang. Konspirasi ini jauh lebih dalam, dan mereka baru saja mencolek sarang lebah yang paling berbahaya di negeri ini.
Saat baku tembak mereda dan suara jeritan orang-orang bayaran itu mulai menghilang, Naura membuka matanya. Ia melihat Kaelith menatap langit, napasnya tersengal.
"Kita masih hidup, Nau," bisiknya.
"Ya," jawab Naura, "kita masih hidup. Dan kita punya banyak cerita untuk ditulis."