~Disarankan untuk membaca 365 Days Wedding dulu yaa😉~
Tragedi kelam membuat Danu harus menikah dengan bocah yang telah ia anggap adik sendiri, bagaimana lagi? itu ulah nya sendiri.
lebih menyedihkan nya lagi, wanita itu adalah adik dari musuh abadi nya.
"Aku Terima tanggung jawab mu, kak.. tapi, kita menikah kontrak saja seperti kakak ku." ajak bocah yang telah membuat hidup Danu menjadi rumit.
"tak sudi!" tolak Danu.
Ayo mampir😉 jangan lupa Vote yaaa.. agar novel ini bersinar🤩eh iya, jangan lupa follow akuu😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Lovie sudah berdiri didepan pintu kamar Radit, ia ragu untuk mengetuk pintu. Karena pernah suatu hari, ia mengetuk dan melihat Ghea yang bertelanjang dada.. Duduk santai di sofa. Lovie takut menganggu aktivitas mereka, tapi Danu pasti sudah menunggu baju dari kakak nya.
Lovie mengambil napas dalam-dalam, dan mengharapkan semoga tidak ada hal yang seharusnya tidak ia lihat.
“Kak..” Mengetuk pintu, tidak ada sahutan. Lovie mengetuk kembali, hingga pintu itu pun langsung terbuka.
Terlihat lah Ghea yang masih lengkap berpakaian dan Radit yang kelihatan sedang menidurkan baby Raga.
“Ada apa, Lovie?” Tanya Ghea, ia mempersilahkan adik iparnya itu untuk masuk. Lovie masuk dengan perasaan yang lega, benar-benar tidak ada hal yang macam-macam.
“Kak, aku mau pinjam baju kak Radit dong.. Untuk kak Danu, ia lupa membawa ganti.” Ucap Lovie, seketika mata Radit langsung melotot sempurna.
“Apa? Dokter tengil itu mau pinjam baju ku? Malam ini? Tidak!” Tolak Radit, Lovie dan Ghea sampai terkejut mendengar nya.
“Jangan pelit seperti itu, kak. Hanya baju saja, jangan keterlaluan ya.” Hardik Ghea, ia ingin mengambil baju Radit tapi dihalang oleh pria itu.
“Ini soal prinsip, aku tidak mau meminjamkan nya!” Ucap Radit dengan tegas, sekalipun sudah mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.. Radit tidak perduli. “Ini keputusan final, aku tidak akan meminjamkan sehelai benang pun untuk orang tengil itu!”
Lovie hanya bisa menghela napas panjang saja, ia tahu Radit seperti itu karna masih marah dengan Danu. Ghea tidak bisa merayu sang suami lagi, jadi Lovie kembali ke kamarnya dengan tangan kosong.
Kala masuk ke kamar, Lovie melihat Danu yang bertelanjang dada dengan pinggang yang terlilit handuk. Kelihatan sudah selesai mandi, karna rambutnya yang masih basah.
“Lama banget, dimana baju nya?” Tanya Danu, ia melihat Lovie seperti tidak membawa apapun.
“Kak Radit tidak mau meminjamkan nya”
Danu tidak menyangka, Radit sempat mengeluarkan bendera permusuhan malam-malam begini. Benar-benar membuat Danu kesal, tapi ia harus bersabar dulu sekarang.
Lovie memikirkan Danu harus memakai apa, tidak mungkin sepanjang malam memakai lilitan handuk itu saja. Tiba-tiba ide brilian Lovie muncul, ia baru ingat sesuatu. Mata Danu hanya memerhatikan kepergian Lovie menuju ruang ganti, ia duduk dipinggiran ranjang sambil memerhatikan sekeliling kamar.
Tak lama Lovie muncul dengan membawa sepasang pakaian, bewarna pink.
“Malam ini pakai ini dulu, kak. Ini piyama ku yang kebesaran banget, salah pilih size nya.” Lovie menyerahkan piyama itu kepada Danu.
Tentunya Danu ternganga melihat nya, ia akan memakai piyama pink ini.
“Tidak, aku seperti banci nanti.” Tolak nya, ia tidak akan memakai piyama memalukan itu. Lebih baik berlilit handuk saja sepanjang malam, dari pada memakai itu.
“Aku cuci dulu baju kakak tadi, kan nanti langsung kering. Atau besok, jadi sekarang pakai piyama itu.” Ucap Lovie, ia mengambil pakaian Danu tadi yang tergeletak di sofa.
Lalu pergi menuju dapur, meninggalkan Danu seorang diri. Tentunya Danu kesal sekali, tapi ini salahnya sendiri yang datang tidak membawa pakaian ganti.
“Harga diriku sebagai pria gagah, hilang sudah karna ulah Lovie. Kenapa semenjak malam itu, aku selalu saja tersiksa dengan hal memalukan seperti ini?” Gerutu Danu, bahkan sepanjang memakai bajunya.. Danu mengoceh terus.
Hingga pakaian tidur itu sudah ia pakai sepenuhnya, Danu menatap dirinya yang gagah harus memakai piyama berwarna pink seperti ini. Rasanya tidak pantas, tapi mau gimana lagi.
Disisi lain, Lovie sedang mencuci pakaian Danu. Sambil melamun duduk di meja makan, memakan apel. Tiba-tiba Clara muncul, ia terkejut kala melihat Lovie yang melamun seorang diri.
“Kamu cuci apa?” Tanya Clara, ia sedikit mendengar suara mesin cuci. Sekalipun tempat laundry sedikit jauh dari dapur, karna malam yang sepi.. Jadi terdengar.
“Baju kak Danu, dia lupa membawa pakaian ganti.” Jawab Lovie, Clara menyusul duduk disamping Lovie.
“Suami kamu sudah pulang?” Pertanyaan itu mendapat anggukan dari Lovie. “ Kalau begitu siapkan makan malam untuknya, pasti Danu lapar karna sepulang kerja harus menjemput mu.”
Lovie menggelengkan kepalanya, ia akan bercerai dengan pria itu. Menurut nya, untuk apa mengurus pria yang tidak berperasaan seperti itu.
“Lovie..” Tangan Clara mengelus punggung putrinya, dengan sangat lembut. “Tugas istri adalah mengurus suaminya, lakukan sekarang.”
“Untuk apa, Ibu? Kami juga akan bercerai, dan satu hal lagi.. Kak Danu hanya mengangap ku anak-anak yang tidak tahu apa-apa, jadi biarlah seperti itu.” Jelas Lovie, ia bangkit untuk menuju laundry. Meneruskan pakaian yang ia cuci, meninggalkan Clara seorang diri.
Kala Clara ingin memanggil Lovie, Danu datang. Hal yang membuat Clara terkejut karena melihat Danu yang gagah, memakai piyama pink yang menggemaskan.
“Cocok loh, kelihatan pas gitu.” Puji Clara, ia tertawa melihat wajah masam Danu.
“Tante, jangan katakan itu.”
“Tante? Aku ini ibu mu, panggil dengan sebutan ibu.” Seketika Danu baru ingat, ia sedikit lupa terkadang.
“Maafkan aku, Ibu Clara. Ah iya abaikan piyama ini, dimana Lovie?” Tanya nya, Clara menunjuk kearah putri nya yang berada di belakang.
“Ibu mau tidur, kalian baik-baik ya.. Jangan bertengkar lagi, jangan egois.” Nasehat Clara, ia pergi dengan senyuman tipis di wajahnya.
Danu mengangguk saja sambil menatap kepergian Clara, kala ingin menyusul Lovie.. Wanita itu sudah kembali. Lovie terkejut kala melihat Danu yang memakai piyama milik nya, ternyata hilang sudah kegagahan Danu malam ini.
“Jangan tertawa.”
“siapa yang mau tertawa? Perasaan banget jadi orang, huh.” Lovie duduk di kursi, membelakangi Danu yang menatap nya tajam.
“Aku lapar, buatkan makanan.” Pinta Danu, ia duduk sekalipun hanya menatap punggung belakang Lovie.
“Buat saja sendiri, aku hanya anak-anak yang tidak tahu masak.”
“Tapi, tahu menggoda ku bukan? Disinilah awal semua nya terjadi, apa kau lupa?” Pertanyaan itu membuat tubuh Lovie menjadi membeku, ia menjadi ingat malam penuh tragedi itu. Dimana ia tiba-tiba datang menghampiri Danu, menggoda nya dan lalu malam itu terjadi dengan adegan panas.
Seketika pipi Lovie bersemu merah,ia menjadi teringat dengan sentuhan Danu malam itu. Lovie langsung berbalik arah, tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan mata Danu.
“Bagaimana kalau kita ulang lagi? Goda aku malam ini, apa aku yang akan menggoda mu?”
Lovie benci sekali, ia bangkit dengan menatap tajam suaminya itu. Danu terlihat biasa saja, ia terus menatap Lovie dengan senyuman tipis diwajahnya.
“Diam di sana, aku akan masak.” Perintah Lovie, ia seperti memerintahkan seorang anak kecil sekarang.
Danu ingin tertawa saja, karna sedari dulu Lovie tidak pernah berubah. Selalu saja menunjukkan sikap yang menggemaskan bagi Danu, apa lagi kalau sudah membahas aib nya. Pasti pipi itu langsung bersemu merah, seperti kepiting rebus.