Terlahir dari rahim seorang wanita yang mendapat julukan sebagai pelakor atau orang ketiga bukan kemauan Kanza Qiara Mecca. Gadis cantik yang kini sudah menjadi piatu sejak usia nya tiga bulan itu harus menanggung keras nya hidup di keluarga orang yang telah ibu hancurkan. Setiap hari dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu dan kakak tiri nya. Sosok ayah yang selama ini diaharapkan pun tidak bisa melakukan apa pun melihat hal itu.
Penderitaan Kanza tidak berhenti di situ saja, sebulan sebelum pernikahan sang kakak justru dia mendapati dirinya berada dalam satu kamar dengan calon kakak ipar nya dan hal itu membuat dia harus terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan tanpa cinta dengan sosok pria angkuh, dingin dan arogan Kenan Diyaksa.
Bagaimanakah kehidupan Kanza setelah mendapat gelar seorang istri dari calon kakak ipar nya? Apakah kebahagiaan yang selama ini dia harapkan akan dia raih?
Yuk….kepoin karya baru author “ Ikatan Tanpa Cinta “happy reading gaes😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Irawana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29 Menginap
"Huft...."
Kanza membuang nafas nya kasar, saat ini dia sedang duduk di bangku taman belakang rumah. Tempat itu memang menjadi tempat favoritnya sejak dulu jika suasana hati nya sedang dalam keadaan tidak baik.
Setelah mendengar semua cerita papa nya dia merasa bersalah pada almarhumah mama nya, karena sempat berpikir jika almarhumah mama nya seperti yang orang - orang bilang. Ternyata kejadian yang menimpa almarhumah mama nya tidak jauh beda dengan apa yang dia alami.
"Maafin Kanza Mah.." lirih gadis itu sambil menyeka air mata nya.
"Kamu ada di sini ternyata".
Kanza langsung menengok ke arah sumber suara, ternyata suami nya sudah ada di belakang dia.
"Lho...mas Kenan masih ada di sini?" tanya Kanza heran.
Dia sampai melupakan keberadaan Kenan di rumah itu karena terlalu khawatir dengan keadaan papa nya. Kanza mengira nya Kenan hanya mengantar dia saja tadi, maka nya setelah sampai di depan rumah dia langsung turun dan masuk ke rumah papa nya.
"CK...maka nya kalau punya suami jangan main tinggal saja tadi", jawab Kenan sedikit ketus.
"Maaf Mas, aku kira mas Kenan hanya mengantar ku saja tadi".
Kenan berdecak pelan sebelum dia akhir nya ikut duduk di samping sang istri di bangku taman itu. Dia melihat ke sekitar halaman itu, nampak beberapa pohon mangga besar dan bunga - bunga yang indah. Suasana di sana juga mampu membuat hati Kenan merasa tenang. Mungkin karena udara di sana sejuk jadi bisa membuat perasaan seseorang menjadi tenang.
"Kamu mau pulang atau menginap di sini?" tanya Kenan membuka obrolan kembali dengan Kanza.
"Kalau Mas Kenan mengizinkan, malam ini aku mau nemenin papa di sini. Soal nya mama Ratih dan Mba Ara sedang ngga ada di rumah mas".
Kenan merasa kaget dengan apa yang di katakan Kanza barusan. Bagaimana bisa Baskoro dalam keadaan hampir sekarat seperti itu istri dan anak nya malah tidak ada di rumah.
Pantas saja Kenan tidak melihat keberadaan Arabella dan mama nya sejak dia datang tadi. Dan hari ini Arabella juga belum menghubungi nya, bahkan dari kemarin setelah Kenan mengirim sejumlah uang ke Arabella.
"Emang mereka kemana?" tanya Kenan yang merasa penasaran dengan keberadaan Arabella dan mama nya.
"Kalau mama kata Bi Sum pergi jalan - jalan bersama teman - teman sosialita nya. Hal itu sudah biasa mama lakuin sih, cuma kan sekarang papa sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja, dan mama tahu akan hal itu. Cuma mama tetap pergi tadi dengan dalih sudah terlanjur booking villa di Bali. Kalau Mba Ara aku tidak tahu, harus nya mas Kenan lebih tahu keberadaan Mba Ara, secara dia kan pacar Mas Kenan", ucap Kanza dengan nada lirih di akhir kalimat nya.
"Aku tidak tahu dia ada di mana, karena dari kemarin aku dan dia tidak saling berkomunikasi".
"Tumben...biasa nya kalian selalu bertukar kabar setiap waktu", kata Kanza pelan sekali namun masih bisa Kenan dengar.
"Ck...sudah ayo masuk, angin nya semakin kencang sepertinya mau turun hujan".
Kanza melihat ke atas, benar yang Kenan bilang langit sore itu sudah berubah menjadi awan yang gelap sekarang. Angin yang berhembus juga semakin kencang sampai membuat badan nya terasa dingin.
Kenan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah, melihat suami nya sudah duluan masuk Kanza pun akhir nya ikut menyusul masuk ke dalam.
"Mas Kenan kalau mau pulang sekarang juga tidak apa - apa".
"Kamu ngusir aku?"
"Eh...ngga gitu maksudku Mas, cuma kan ngga mungkin mas Kenan ikutan menginap di sini juga kan?" lirih Kanza.
"Siapa bilang aku ingin pulang, aku juga mau menginap di sini. Lagian dari kita menikah aku kan belum pernah tidur di tempat mertua", jawab Kenan begitu saja sambil melenggang pergi meninggalkan Kanza yang berdiri mematung.
"Hah...ini kuping ku ngga salah dengar kan, mas Kenan tadi beneran bilang mau menginap di sini?tumben banget, ada rencana apa lagi dia kok tiba - tiba jadi berubah baik gini, jadi curiga aku", batin Kanza sambil melihat punggung suami nya yang lama - lama menghilang dari pandangannya.
Kanza tidak salah punya pikiran kayak gitu, karena yang sudah - sudah setiap Kenan berubah seperti itu pasti bukan dari diri Kenan sendiri melainkan suruhan orang lain.
"Apa papa Mahen mengancam mas Kenan lagi? Terus mas Kenan jadi berubah baik ke aku sekarang. Ah.... terserah lah dia mau seperti apa, buat kepala ku pusing saja, lagi pula aku juga tidak mau berharap apa pun dengan perubahan mas Kenan takut hati ku sakit lagi".
Tidak mau ambil pusing dengan perubahan sikap Kenan yang tiba - tiba jadi perhatian pada nya. Kanza memutuskan untuk membersihkan diri di kamarnya, dia tadi memang tidak membawa pakaian ganti, karena niat awal dia ke sini hanya ingin melihat keadaan sang papa. Namun setelah melihat kondisi papa nya yang seperti itu dan dalam keadaan sendirian tidak ada istri dan anak nya yang mendampingi maka Kanza memutuskan untuk menginap.
Untung saja dia masih mempunyai beberapa pakaian di sini, jadi dia bisa pakai untuk mengganti pakaiannya yang sudah kotor.
"Di mana kamar mu", ucap Kenan tiba - tiba yang membuat Kanza sampai terlonjak kaget.
"Astagfirullah Mas, bikin kaget saja kamu. Kamar aku ada di situ. Mas Kenan mau ngapain kok pakai tanya kamar ku segala".
"Aku mau mandi, badan ku sudah terasa lengket sekali".
"Hah..mandi? Di kamar ku? tapi kan Mas Kenan ngga ada baju di sini, terus nanti gimana? Mas Kenan mau pakai baju siapa? Ngga mungkin kan pakai baju papa atau baju ku?"
Pletak,
"Aduh....sakit tahu mas", gerutu Kanza sambil mengusap dahi nya yang terasa panas akibat sentilan dari Kenan.
"Lagian dari tadi ngomel terus, kalau aku bilang mau mandi bearti aku sudah siapin baju ganti nya", kata Kenan sambil menunjukkan sebuah paper bag warna cokelat.
"Tadi Andre yang mengantar baju ganti ku", Kenan seperti sudah tahu apa yang akan istri nya ucapkan, maka nya dia langsung berkata seperti itu.
"Oh..."
Kanza pun akhirnya menunjukkan kamar nya pada Kenan. Laki - laki itu hanya berdiri tidak jauh dari ambang pintu kamar Kanza. Dia bak seorang robot yang sedang memindai semua objek yang ada di depan mata nya.
"Ini ngga salah, kamar dia sekecil ini? kamar mandi ku saja lebih besar dari kamar ini", batin Kenan.
"Ini beneran kamar kamu Za?"
"Hu'um, kenapa kaget ya? Mas Kenan mengira nya kamar ku bakal mewah dan luas seperti kamar mas Kenan dan mba Ara? "
Kenan mengangguk, dan hak itu langsung membuat Kanza terkekeh sendiri.
"Mas Kenan lupa aku ini siapa di keluarga ini?"
kenan mulai ke pancing cemburu sama Arga.