Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai
1 tahun setelah acara 12 cucu.
Kek Arga umur 82. Nenek Sinta 81. Sehat, tapi...
Musibah dateng.
Studio gambar Nenek Sinta bangkrut. Investor kabur bawa 20M. Yayasan 10 cabang mau disita bank.
Kopi "Argaya" Nenek Rayya kebakar. 5 cabang Surabaya ludes. Asuransi nggak cair.
Mbak Sinta di-PHK. Agency Raka kolaps kena AI. Nggak ada pesangon.
Mas Arga Muda kecelakaan. Patah kaki. Nggak bisa kerja 6 bulan.
Dalam 3 bulan, keluarga 12 orang dari "surga" langsung jatuh ke "neraka ekonomi".
Rapat darurat di rumah Bekasi. Malem Jumat. 12 orang dewasa + 5 cucu yang udah gede duduk melingkar.
Mukanya pada kusut semua.
Kek Arga gebuk meja pake tongkat. "DENGERIN! Keluarga kita dulu pernah lebih miskin dari ini! Dulu Kekek cuma tukang print! Dulu Nenek Sinta jualan kue! Dulu Nenek Rayya kasir minimarket!"
"Nah sekarang kita 12 orang dewasa + 5 cucu gede! Masa nyerah sama duit?!" Suaranya nggak gemeter sama sekali.
Nenek Sinta ngeluarin kalung plester emasnya. Dilepas. "Ini Mas. Jual aja. Lumayan buat modal."
Mbak Sinta langsung nahan tangan Nenek. "JANGAN NEK! Itu lambang kita Nek!"
"Udah Nak," Nenek Sinta senyum. "Lambang itu ada di hati. Nggak harus di leher."
Tiba-tiba pintu kebuka. Dor.
Tante Argaya dateng bawa koper gede. Keringetan. "MAAF TELAT! DARI SURABAYA NAIK MOTOR!"
Semua kaget. "Lah Tante? Bukannya 5 cabang kebakar?"
Tante Argaya buka koper. Isinya... duit cash. 2 Miliar. "Ini sisa tabungan 20 tahun Tante. Asuransi nggak cair, tapi Tante nggak mau diem. Tante jual rumah Tante di Surabaya."
Nenek Rayya langsung nangis. "Nak... rumah kamu satu-satunya..."
"Ih Nenek lebay," Tante Argaya ketawa. "Rumah bisa beli lagi. Keluarga nggak bisa. Kita kan keluarga plester. Retak? Tempel. Bangkrut? Bangun."
Mas Arga Muda yang kakinya digips angkat tangan. "Gue ada ide. Kita bikin 'Bisnis Plester'."
"Apaan tuh?" tanya Arga Muda.
"Gini," Mas Arga Muda ngebuka laptop pake 1 tangan. "Kita jual merchandise plester Hello Kitty. Gelang, kalung, gantungan kunci, baju. Ceritanya pake cerita Kekek + Nenek dulu. Viral itu video Sinta Kecil 21 tahun lalu. Masih ada di TikTok."
Mbak Sinta langsung nyala. "BISA! Yaya jago desain! GaGa jago ngomong! Cinta jago gambar! Kita bikin brand: PLASTER FAMILY!"
3 hari kemudian, garasi rumah Bekasi jadi pabrik.
Kek Arga bagian masak sate buat modal makan karyawan. Nenek Sinta bagian ngajarin 20 ibu-ibu komplek bikin plester dari kain perca.
Nenek Rayya bagian ngaduk kopi + nyatet keuangan. Tante Argaya bagian jualan live TikTok. 1 malam 5000 pcs sold out.
Mbak Sinta + Mas Arga Muda bagian desain + marketing. Arga Muda bagian gambar.
12 cucu gede bagian packing sampe jam 12 malem. Yaya jadi CEO umur 6 tahun 😂
Nama brand: @PlesterKeluarga
Tagline: "Retak? Tempel Aja."
1 minggu pertama omzet: 50 juta.
1 bulan: 1 Miliar.
3 bulan: Lunasi utang bank Nenek Sinta. Bangun lagi 2 cabang Kopi Argaya.
Video Tante Argaya live nangis paling viral:
"Gue dulu selingkuhan. Gue dulu dibenci. Tapi Mbak Sinta ngajarin gue maaf. Sekarang gue jualan plester buat nempelin keluarga orang lain juga. Beli ya guys... 35rb doang... tapi bisa nempelin hati yang retak..."
Komennya 100rb: "Gue beli 10 Mbak. Buat gue + suami gue yang lagi KDRT batin."
Bulan ke-4, ada tamu nggak diundang.
Pengacara. Bawa surat. "Permisi, Bapak Arga Permana? Bapak digugat. Investor studio dulu nuntut balik. Katanya Bapak penipuan."
RUH. Suasana beku.
Kek Arga berdiri. Jalan pake tongkat ke depan pengacara. "Iya saya Arga. Saya nipu? Saya nipu siapa Nak?"
"Saya nipu diri saya sendiri 57 tahun lalu. Saya selingkuh. Saya hancurin keluarga saya. Itu hukuman saya. Tapi saya nggak pernah nipu duit orang."
Dia ngeluarin buku catatan tua. 57 tahun. Isinya utang dia ke Sinta, ke Rayya, ke Naya, ke Argaya. Semua dicicil pake air mata + sate + video call.
"Ini bukti Nak. Saya nggak punya duit. Tapi saya punya 12 cucu yang mau beresin masalah Kakeknya."
Pengacara diem. Liat 12 cucu lagi packing plester di belakang. Keringetan semua. Tapi ketawa.
Pengacara tarik nafas. "Pak... saya batalin gugatan. Saya malu Pak. Saya juga lagi cerai. Istri saya selingkuh. Saya mau beli plesternya 1000 pcs Pak. Buat dibagiin ke kantor pengadilan."
Semua diem 2 detik. Terus... tepuk tangan.
Malam itu, jam 12 malem, semua capek. Tidur lesehan di garasi. Alasnya kardus plester.
Kek Arga + Nenek Sinta di tengah. Dikelilingi 12 orang + 5 cucu gede.
Kek Arga bisik: "Mbak... inget nggak 57 tahun lalu kita tidur di lantai karena habis tanda tangan cerai?"
Nenek Sinta ketawa. "Inget Mas. Dingin. Takut. Sekarang... rame. Anget. Sama-sama takut, tapi nggak sendiri."
Nenek Rayya dari pojok ngomong: "Mas Arga... Mbak Sinta... makasih ya. Dulu aku ngira kalian bakal ngancurin aku. Ternyata kalian yang nyelametin aku."
Tante Argaya nyolek: "Iya. Kalo nggak ada Mbak Sinta, aku udah bunuh diri 57 tahun lalu."
Mbak Sinta merem. "Udah. Jangan ungkit. Sekarang kita mikir besok jualan berapa ribu pcs."
Semua ketawa pelan.
Tiba-tiba Yaya umur 6 tahun ngomong setengah tidur: "Kek... plester itu apa sih?"
Kek Arga elus kepala Yaya. "Plester itu Nak... orang yang mau tinggal. Walau sakit. Walau retak. Walau bangkrut. Kita nggak pergi. Kita nempel."
Ga ngigau: "Kek... aku mau jadi plester juga..."
"Iya Nak... kalian semua plester Kekek..."
Pagi harinya, ada kurir dateng. Bawa 1 kontainer gede. Isinya: 100.000 plester Hello Kitty emas. Kiriman dari 1000 orang random se-Indonesia.
Suratnya: "Kami beli plester. Kami tempel keluarga kami. Makasih Keluarga Plester."
Kek Arga buka kontainer itu. Nangis kejer. Nggak malu. 82 tahun, nangis kayak anak kecil.
Nenek Sinta peluk Kekek dari belakang. "Mas... kita nggak bangkrut Mas. Kita... kaya. Kayanya 100.000 keluarga."
1 tahun kemudian, 2058.
Studio Nenek Sinta buka lagi. 20 cabang.
Kopi Argaya 10 cabang.
@PlesterKeluarga jadi brand nasional. Kantornya di Bekasi. Karyawannya 500 orang. 90% janda + korban KDRT + mantan selingkuhan yang mau tobat.
Di depan kantor ada patung gede: 7 tangan numpuk + 1 plester Hello Kitty.
Bawahnya tulisan: "Dibuat oleh Keluarga yang Pernah Hancur, Tapi Milih Nempel."
Kek Arga + Nenek Sinta tiap pagi potong pita cabang baru. Pake gunting emas bentuk plester.
Pas ulang tahun Kek Arga ke-83, wartawan nanya: "Pak, rahasia keluarga Bapak awet apa?"
Kek Arga jawab 1 kalimat:
"Kami nggak cari keluarga sempurna. Kami cari orang yang mau jadi plester."