NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Seorang Rindu

Keesokan pagi, Elang bersiap untuk pulang. Pagi – pagi sekali, ia sudah siap untuk kembali ke Jakarta.

“Mas.”

Miska menggeliat di atas ranjang dengan tubuh polos yang hanya terbalut selimut putih tebal. Matanya terbuka sempurna saat mendapati kekasihnya tak ada di sisi dan sudah berpakaian rapi.

“Aku kembali ke Jakarta, Mis,” ucap Elang sembari memakai jam di tangan kanannya.

“Hm, cepat sekali! Kamu baru semalam di sini. da, kita baru dua kali bercinta. Aku masih ingin, Mas.” gadis berusia delapan belas tahun yang sudah tidak gadis lagi itu merengek. Tak rela membiarkan kekasihnya pulang begitu saja.

Elang menghampiri Miska yang duduk di atas ranjang sambil mengapit selimut di dadanya.

“Aku juga masih ingin bersamamu, tapi Rindu tidak tahu kebergianku.”

Miska cemberut.

“Sabar, ya. nanti kalau ada waktu lagi, Mas ke sini.” Elang mengusap lembut rambut Miska dan tersenyum.

Miska benar – benar manja dan Elang suka. Seandainya Rindu memiliki kemanjaan seperti Miska, mungkin akan lain cerita, pikirnya.

“Mas harus sudah ada di rumah, sebelum Rindu pulang,” ucap Elang lagi untuk menjelaskan. “Rindu sudah ingin berbaikan. Jadi, Mas harus bisa mengambil hatinya agar tidak curiga lagi.”

“Ini demi kebaikan kita juga.” Elang mengeluarkan jurus untuk merayu Miska agar bisa pulang.

“Penerbangan jam berapa?”

“Jam tujuh tiga puluh.”

Miska melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Kebetulaan jarak antara bandara dan hotel ini tidak jauh.

“Tidak ada satu ronde lagi sebelum pergi?” rayu gadis itu.

Miska memang putri Vera sejati, gairah s*x nya sangat tinggi, sama seperti sang ibu.

“Siapa yang tidak mau dengan gadis nakal sepertimu?” Elang mencubit gemas ujung hidung Miska. “Tapi waktu tidak memungkinkan, meski hanya sebentar.”

Elang berdiri dan hendak meninggalkan kekasih gelapnya itu. “Mas, pergi ya, Sayang. Nanti, Mas akan atur jadwal lagi untuk ke sini. Salam untuk ibumu.”

Miska mengangguk. Ia parah, padahal hasratnya masih bergelora untuk melakukannya sekali lagi.

Kemudian, Elang mendekat dan mengecup kening Miska. “Jangan nakal! Awas kalau sampai ketahuan selingkuh. Aku mengirim orang untuk memata‑mataimu setiap hari.”

Miska masih cemberut. “Mbak Rindu ngga kamu mata – mati juga?”

Elang yang sudah kembali menjauh dari Miska dan menggunakan sepatunya, tiba – tiba mendelik.

“Rindu tidak nakal sepertimu,” ucapnya sembari kembali memakai sepatu.

“Siapa tahu?” Miska mengerdikkan bahunya. “Orang pendiam itu lebih agresif.”

“Tapi Rindu tidak,” jawab Elang. “Hasrat S*x nya, tidak setinggi kamu.”

Miska semakin mengerucutkan bibir. “Mungkin kamu tidak tahu saja."

Jawaban Miska, sesaat membuat Elang berpikir. Pasalnya memang banyak perubahan pada diri Rindu akhir‑akhir ini.

Miska bangkit dari tempat tidur. Sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya, ia mendekati Elang dan bergelayut manja dibahu pria itu.

"Tapi kamu suka kan dengan wanita sepertiku?" tanyanya genit.

Elang menoleh dan tersenyum. “Kalau tidak suka, aku tidak mungkin melanggar janjiku lagi pada Rindu.”

Kemudian, Elang kembali menjauh dari tubuh itu.

“Sudah, aku berangkat dulu. Bye!”

“Bye!” Dengan cemberut dan suara lesu, Miska membalas lambaian tangan itu. Ia tak lagi melihat sosok pria dewasa yang ia cinta itu.

Elang sudah keluar dari kamar itu dan menutup sempurna pintunya kembali. Pria itu bergegas pulang menuju bandara. Nyatanya, pria itu tak mengenal istrinya dengan baik. Elang yang mengira Rindu adalah wanita datar dengan gairah s*x yang biasa saja, ternyata bisa liar seperti yang dilakukannya semalam bersama Rayen.

Di sebuah kamar hotel di pulau kecil yang tidak Rindu ketahui namanya, ia menangis. Rindu baru menyesali semua yang terjadi. Entah mengapa, semalam ia hanyut dalam sentuhan itu.

“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Rindu menghentakkan kepalanya sendiri. Ia menangis disudut kamar sambil memeluk kakinya yang ditekuk.

“Kamu bukannya menyelesaikan masalah, Rindu. Tapi membuka masalah baru.” Rindu berkata pada dirinya sendiri ditengah tangisnya yang pilu.

Entah setan apa yang merasukinya semalam. Meski ia kecewa, kesal, dan ingin balas dendam pada Elang, tapi ia tidak menyangka akan melakukan hal semalam dengan pria yang juga beristri.

Rindu menoleh ke ranjang, ke tempat Rayen yang masih terbaring dan terlelap di sana. Ia semakin frustrasi. Apalagi mengingat adegan ranjangnya yang liar dan brutal. Semalam, ia merasa seperti bukan dirinya.

Rindu meremas rambutnya sendiri dan memalingkan wajahnya ke jendela. Ia kembali menangis.

Mendengar isakan itu, Rayen pun terbangun. Tubuhnya yang semula tertidur menelungkup, segera terangkat. Punggung lebar dan kekar itu terlihat jelas. Salah satu faktor yang membuat Rindu hilang akal semalam, karena ternyata Rayen memiliki tubuh atletis yang lebih indah dari milik suaminya.

“Rin, maafkan aku.” Tiba – tiba, Rayen sudah berada di belakang Rindu dan ikut berjongkok. Ingin sekali, pria itu memeluknya.

Rindu menoleh. Matanya sembab. Pipinya basah. Dan, ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun kepada Rayen. Rindu begitu malu. Ia merasa murahan, karena dengan mudahnya menerima sentuhan pria yang bukan suaminya.

“Maaf, semalam aku khilaf,” ucap Rayen. “Kamu begitu cantik dan …”

“Cukup!” ucap Rindu yang langsung berdiri. “Aku ingin kembali.”

Rindu langsung meninggalkan Rayen yang masih berjongkok. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali ke pulau yang terdapat teman – temannya di sana.

Benar saja, di pulau itu, Lita menunggu sahabatnya. Ia mencoba menelepon Rindu, tapi ia baru sadar jika sebelumnya ia sendiri yang menyuruh Rindu untuk menonaktifkan ponselnya.

Alhasil, Lita pun tak tahu di mana keberadaan sahabatnya hingga sepagi ini.

“Mas Ibra, udah lihat Rindu belum?” tanya Lita pada Ibrahim, asisten Rayen.

Ibra menggeleng. “Ngga.”

“Loh, Mas. gimana ini? Temanku pergi ke mana? Masa kita ga nyari, semalaman Rindu ga pulang.” Lita semakin panik.

“Udah ga usah panik. Rindu bukan anak kecil. Mungkin dia lagi seneng – seneng sendiri,” jawab Ibra santai.

“Eh, enak aja. Rindu bukan cewek kaya gitu ya. aku kenal dia.” Dengan tegas, Lita membela sahabatnya. Padahal Ibra tahu betul di mana Rindu berada dan dengan siapa.

“Ya udah. Ribet banget. udah sarapan sana. nanti juga, Rindu pulang.”

Melihat jawaban cuek Ibra, Lita pun meninggalkan pria itu. “Ish, dasar! Cowok kanebo.”

Lita dan Ibra memang sering berseteru, entah itu karena pandangan konsep ide yang berbeda tentang pekerjaan, atau pun tentang perilaku Ibra yang tidak bisa bekerja tim menurutnya. Padahal hal itu hanya dirasakan oleh Lita saja, bagi teman divisi yang lain, Ibra profesional dan bisa diajak kerjasama.

Di sana, Rayen memenuhi keinginan Rindu untuk segera kembali ke pulau mereka. Bahkan, Rindu tidak ingin menunda hanya untuk mengisi perut dengan sarapan pagi yang tersedia di hotel kecil itu.

“Makan dulu, Rin. Dari semalam, kita belum makan.”

Rindu menggeleng. “Aku ingin pulang, Om. Lita pasti mencariku. Aku tidak ingin ada orang yang berpikir negatif tentang kita.”

Rayen terus menatap Rindu yang sejak tadi tidak ingin melihat matanya.

“Ya, kita akan kembali, tapi makan dulu. Nanti kamu sakit. Ayo makan.

Rayen memaksa Rindu untuk duduk di restoran itu.

“Diam di sini! Aku akan mengambilkannya untukmu.”

Di restoran itu menyediakan bubur ayam, nasi goreng, dan sup sebagai penghangat tubuh ditengah udara yang dingin.

Dan, Rayen mengambil sup bakso untuk Rindu, karena ia tahu Rindu menyukai makanan dan minuman hangat.

“Ayo makan!” Rayen mendekatkan mangkuk sup itu ke depan Rindu. “Makan atau aku suapi!”

Akhirnya, Rindu melirik pria dewasa itu dan mau tidak mau meraih sendok, lalu memakan makanan yang diberikan Rayen.

Rayen pun tersenyum. Ia semakin terpesona oleh Rindu. Percintaannya semalam adalah percintaan yang terindah dan tidak mungkin bisa ia lupakan. Meski ia melihat sorot penyesalan di mata Rindu. Namun, Rayen sebaliknya. Ia tidak menyesali yang terjadi semalam. Justru Rayen merasa semakin terikat oleh sekretarisnya ini.

Rindu makan dalam diam. Mereka tak lagi intens berbincang seperti sebelumnya. Hingga sepanjang perjalanan menuju pulau tempat mereka menginap, Rindu tak bersuara.

Mereka pulang dengan menggunakan pesawat speedboat kecil, Rindu tidak ingin menggunakan motor dan duduk berpelukan dengan Rayen seperti sebelumnya.

Rayen tahu, wanita itu menghindarinya.

“Rin, tunggu!”

Sesampainya mereka di penginapan tempat semua divisinya berada, Rayen mencekal lengan Rindu yang hendak memasuki kamarnya.

Beruntung, lantai kamar hotel yang dibooking khusus untuk para divisinya menginap itu tampak sepi. Para peserta gathering itu sedang menikmati rangkaian jadwal selanjutnya diluar sana.

Di depan pintu kamar, Rayen dan Rindu berdiri berhadapan.

“Om pasti berpikir aku wanita murahan. Aku dengan mudah menerima ajakan Om.” Rindu kembali menangis.

Rayen menggeleng. ia tahu siapa Rindu. Dan kini, Rayen mengerti mengapa sedari tadi Rindu tak bersuara.

“Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti itu,” jawab Rayen. “Aku tidak menganggapmu begitu.”

Rayen menarik tubuh Rindu dan hendak memeluknya, tapi Rindu menahan gerakan itu. “Cukup, Om. Aku tidak ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Elang. Meski semua sudah terjadi, tapi aku tidak ingin melakukannya lagi.”

“Ini salah,” ucap Rindu. “Semalam adalah kesalahan.”

Kini, Rayen yang frustrasi. Kepalanya menggeleng, seolah mengingatkan bahwa bukan hanya wanita itu yang bersalah tapi dirinya juga.

“Rin.”

Rayen kembali mencekal tangan itu agar tidak pergi. Sungguh, Rayen tidak ingin kedekatan mereka berubah setelah ini.

Dan, benar saja, Rindu pun memberi ultimatum.

“Maaf, Om. Sepertinya kia harus menjaga jarak!” Rindu melepaskan tangan Rayen yang masih mencekal lengannya.

Kemudian, ia memasuki kamar itu dan menutup pintu, meski Rayen masih mematung di sana. Tubuh Rindu merosot dibalik pintu. Ia kembali memeluk tubuhnya dan menangis. Rindu yang selalu menata hidupnya dengan baik dan lurus, tidak menyangka akan belok sejauh ini.

Di pesawat menuju Jakarta, Elang termenung menatap jendela yang menyuguhkan awan. Ada perasaan ingin mengakhiri hubungannya dengan Miska dan menjadikan hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.

Pertanyaan Miska tentang Rindu membuatnya menyadari sesuatu. Ya, ia tidak pernah tahu apa yang dilakukan istrinya diluar sana. Selama ini Elang hanya sibuk dengan gairahnya sendiri tanpa pernah tahu apa yang bergejolak dibalik wanita pendiam dan penurut seperti Rindu.

Setibanya di Jakarta, Elang tidak langsung ke kantor, melainkan ke rumah. Ia sengaja meminta asistennya untuk membawa pekerjaan ke sini. Ia juga meminta Bibi untuk membeli banyak bunga dan menaburkan bunga itu pada ranjang kamar mereka.

usai menyelesaikan pekerjaan, Elang menata kamar itu seperti kamar malam pertama mereka dulu.

"Aku rindu padamu, Rin. Meski kamu tidak seindah Miska atay wanita di klub malam, tapi nyatanya aku tetap merindukan milikmu." Elang tersenyum melihat hasil penataan itu.

hari semakin sore dan hampir gelap. Ia ingat Rindu ingin dijemout tepat pukul delapan malam.

Kemudian, Elang mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rindu yang sedari tadi tidak aktif.

Tut ... Tut ... Tut ...

Elang terus mendial nomor itu sembari keluar kamar. matanya yang tertuju pada layar ponsel dan sibuk menggubungi sang istri, tiba‑tiba kakinya yang ingin menuju ke dapur, justru ke sebuah kamar yang tak pernah dilihat Elang sebelumnya.

"Bi, ini kamar apa?" tanya Elang pada assiten rumah tangganya.

"Gudang?" tanya Elang lagi.

Bibi menggeleng. "Tidak tahu, Den. kamar ini kamarnya Non Rindu. Non Rindu suka tidur di kamar ini."

"Mana kuncinya?" tanya Elang lagi.

"Sama Non Rindu, Den."

"Tidak ada cadangannya?"

Bibi terdiam dan berpikir. "Ah, iya. ada, Den."

"Ambilkan!"

Bibi bergegas mengambil semua kunci yang ia pegang. kunci itu adalah semua kunci yang ada di rumah ini kecuali kamar utama Rindu dan Elang.

Setelah mencoba kunci itu satu persatu, akhirnya Elang menemukan kunci yang bisa membuka kamar itu. Elang memasuki perlahan dan terkejut melihat isi yang ada di dalam kamar itu.

Elang terkejut, karena kamar ini berisi berbagai jenis peralatan s*x dan dvd film dewasa yang berserakan.

"Rindu, ternyata kamu ..." Elang tidak bisa melanjtkan ucapannya yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.

sungguh, Elang terkejut dengan fakta yang ia ketahui tentang Rindu. Wanita yang ia nilai pasif dan tampak tak bergairah saat bercinta, nyatanya adalah sebuah dampak dari ketidakpuasan yang dia rasakan.

Semestinya, Elang dan Rindu bisa saling memuaskan. Hanya saja, mereka tidak membangun komunikasi yang baik, sehingga masing‑masing memilih kepuasannya sendiri.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!