NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:290.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai, Kemuning duduk berhadapan dengan Arkatama. Secangkir teh hangat di depannya sudah lama tidak tersentuh. Uapnya bahkan hampir hilang, seperti perasaan hangat yang dulu pernah ia miliki, pelan-pelan lenyap tanpa ia sadari.

“Mas Tama,” panggil Kemuning pelan, tetapi tegas.

Arkatama yang sejak tadi memperhatikannya langsung mengangkat wajah. “Iya, Mbak?”

Kemuning menarik napas dalam. Matanya tidak lagi berkaca-kaca seperti kemarin. Ada sesuatu yang berubah di sana. Sesuatu yang lebih keras.

“Aku mau cerai.” Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ragu, namun tetap terasa berat.

Arkatama terdiam beberapa detik. Bukan karena terkejut, tetapi karena ia tahu keputusan itu tidak lahir dari emosi sesaat.

“Kamu yakin?” tanya pria itu hati-hati.

Kemuning tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, lebih seperti senyum seseorang yang sudah terlalu lelah untuk bertahan.

“Kalau aku tetap di sana, aku cuma akan terus dihancurin,” ucap Kemuning pelan. “Sekarang aku sudah tahu semuanya. Aku enggak bisa pura-pura lagi.”

Kemuning menunduk sejenak, jemarinya saling bertaut di atas meja. “Mas Tama, aku bukan cuma mau pergi dan hidup bahagia,” lanjutnya, suaranya sedikit lebih rendah. “Tapi, aku mau mereka tanggung jawab atas semua perbuatannya itu.”

Arkatama mengangguk pelan. “Berarti kita harus siapkan semuanya dari awal. Bukti, saksi, dan pasal pelanggaran hukumnya, Mbak.”

Kemuning mengangguk. “Aku siap.”

Arkatama mengambil napas sebentar, lalu mulai menjelaskan dengan suara tenang, seperti seseorang yang sedang menyusun langkah demi langkah di atas medan yang berbahaya.

“Kalau Mbak mau gugat cerai, kita butuh beberapa hal. Pertama, bukti. Obat itu, hasil lab, itu sudah kuat. Kedua, kalau ada bukti lain, seperti aliran uang, foto atau video, hubungan dengan pihak ketiga, itu akan memperkuat posisi Mbak.”

Kemuning terdiam. Kata “aliran uang” membuat sesuatu terlintas di kepalanya. Ia perlahan mengangkat wajah.

“Mas Tama,” ucap Kemuning pelan. “Peternakan ayam potong, dibangun dari tanah warisan orang tuaku.”

Arkatama langsung menatapnya serius.

“Modal awal juga sebagian besar dari aku,” lanjut Kemuning. “Aditya cuma yang jalanin.”

Napas wanita itu sedikit tertahan. “Kalau dia pakai uang dari sana buat perempuan itu …” ucap Kemuning menggantung, tetapi maknanya jelas.

Arkatama mengangguk pelan. “Berarti itu bisa masuk ke ranah penyalahgunaan harta bersama. Bahkan bisa lebih dari itu.”

Kemuning menunduk lagi. Kali ini bukan karena lemah, tetapi karena sedang berpikir. Selama ini ia merasa tidak punya apa-apa. Ternyata semua yang ia bangun, perlahan diambil darinya dan digunakan untuk menghancurkannya.

Tangan Kemuning perlahan mengepal di atas meja. “Mas Tama, aku enggak mau keluar dengan tangan kosong.”

Arkatama menatapnya, lalu mengangguk mantap. “Aku akan merancang rencana untuk Mbak Kemuning.”

***

Sore itu, hujan turun rintik-rintik. Langit terlihat mendung sejak siang, membuat suasana kampung terasa lebih lengang dari biasanya. Kemuning duduk di teras rumah, ditemani suara air yang menetes dari ujung genteng. Di tangannya, ada map cokelat berisi beberapa dokumen yang sejak tadi ia bolak-balik tanpa benar-benar dibaca. Pikirannya terlalu penuh.

Ponsel Kemuning bergetar pelan di sampingnya.

Nama Arkatama muncul di layar.

Kemuning menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat panggilan.

“Halo, Mas.” Suaranya tenang, tetapi ada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Mbak, lagi di rumah?” tanya Arkatama dari seberang.

“Iya.”

“Kalau enggak keberatan, aku lagi di dekat balai desa. Tadi habis urusan sebentar di sini. Mbak bisa keluar sebentar?”

Kemuning terdiam sejenak. Matanya melirik ke dalam rumah. Suara televisi masih terdengar dari ruang tengah, Bu Ratih seperti biasa, tenggelam dalam acara gosipnya.

“Aku ke depan saja, Mas. Di warung makan Bu Sari,” jawab Kemuning akhirnya.

“Baik. Aku tunggu di sana.”

Telepon ditutup. Kemuning menarik napas pelan, lalu berdiri. Ia merapikan pakaiannya, mengambil map itu, dan berjalan keluar dengan langkah yang lebar dan cepat-cepat.

Warung makan Bu Sari tidak jauh dari rumah. Hanya beberapa rumah saja. Tempat itu sering jadi titik kumpul warga, karena terbuka, ramai di jam tertentu.

Arkatama sudah duduk di bangku panjang saat Kemuning datang. Ia mengenakan kemeja sederhana, terlihat berbeda dari kesan “orang kota” yang dulu pertama kali Kemuning lihat.

“Maaf, nunggu lama?” tanya Kemuning pelan.

Arkatama langsung berdiri sedikit. “Enggak, Mbak. Aku juga baru sampai.”

Mereka duduk berhadapan. Di antara mereka, meja kecil dengan dua gelas teh hangat yang baru saja disajikan Bu Sari.

Beberapa warga lain ada di sana, berbincang santai. Tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka.

“Gimana kondisi Mbak hari ini?” tanya Arkatama, suaranya rendah.

Kemuning mengangguk kecil. “Lebih baik.”

Arkatama tidak mendesak. Ia membuka tasnya, mengeluarkan beberapa berkas. “Aku sudah mulai susun kerangkanya. Ini garis besar yang Mbak butuhkan kalau mau lanjut ke gugatan.”

Kemuning menerima kertas itu. Matanya langsung membaca cepat, meski beberapa istilah terasa asing.

“Ini … banyak, ya,” gumam wanita itu.

“Iya,” jawab Arkatama jujur. “Tapi kita enggak harus langsung semuanya. Pelan-pelan saja.”

Kemuning mengangguk. Tangannya berhenti di satu bagian. “Harta pranikah,” ulangnya pelan.

Arkatama mengangguk. “Yang tanah peternakan itu, kan? Itu atas nama Mbak.”

“Iya,” balas Kemuning sambil mengangguk. “Itu peninggalan orang tua.”

“Berarti kuat,” lanjut Arkatama. “Dan kalau memang modal awal usaha dari Mbak, itu juga bisa dilacak.”

Kemuning terdiam. Jarinya mengusap pelan pinggir kertas.

“Selama ini aku enggak pernah mikir sejauh itu,” ucap Kemuning lirih. “Aku percaya, kalau semua yang dia lakukan itu baik buat kami berdua.”

Arkatama tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kalimat itu mengendap.

Kemuning menarik napas pelan. “Kalau ternyata uang itu dipakai buat yang lain ...?” Kalimatnya menggantung.

Arkatama menatapnya, sorot matanya lebih tegas. “Makanya kita kumpulkan semua buktinya. Biar semuanya jelas, bukan cuma dugaan.”

Kemuning mengangguk. Ia pun membuka map miliknya, mengeluarkan beberapa lembar yang sudah ia kumpulkan. “Aku nemu ini di lemari,” katanya pelan.

Arkatama menerima. Matanya membaca cepat, ada foto dan bukti transfer. Rahangnya sedikit mengeras. “Ini cukup kuat untuk dijadikan barang bukti,” ucapnya akhirnya.

Kemuning menatap meja. “Aku enggak butuh dia ngaku, Mas,” suaranya hampir berbisik. “Aku cuma butuh, semua kejahatannya terbukti.”

Arkatama mengangguk pelan. “Dan itu yang akan kita lakukan.”

Pertemuan itu tidak lama. Sebelum berpisah, Arkatama berkata, “Kalau ada apa-apa, kabari saja. Enggak harus ketemu. Kita bisa bahas lewat telepon.”

Kemuning mengangguk. “Iya, Mas.”

Langkah Kemuning saat pulang terasa ringan. Walau masih ada sakit dan ada luka di hatinya, tetapi sekarang ada arah di dalam diamnya, tanpa diketahui siapa pun. Kemuning tidak lagi hanya bertahan. Ia sedang menyusun sesuatu. Pelan, rapi, dan pasti.

1
zahrahaifa
bener arka mending ngejauh daripada kena getahnye si mantan sableng cari aman aja biarin aje yg onoh mencak2
mimief
tapi emang laki laki yg bener tu kaya gini.
selalu bisa memberikan garis yg jelas buat mantan.
karena dengan kata kasihan itu gerbang pertama yg bikin semuaa jadi abu abu
keren si kamu ar,aku suka gayamu 😍
Sri Widiyarti
kebiasaan di novel kenapa mantan selalu kembali dengan tidak tahu malunya 🤦🤦🤦
Mundri Astuti
bagus arka jangan biarkan masa lalu kembali merecoki keluarga kamu yg skrg, kemuning mau menerima Arya itu poin pentingnya arka, sehingga bisa harmonis, masa lalumu tdk bisa kehadiran Arya di rmh tanggamu yg dulu
Jetva
keren..
Jetva
SUDAH BENAR ARKA RAK TANGANI KASUS TAMARA...DIPERSIDANGAN BISA SAZA MOMEN ITU DIPAKAI UTK MENGHUJAT BALIK TAMARA N ARKA..SECARA RAMLI DULU SELINGKUH DGN TAMARA..BISA SAZA ADA TUDUHAN TAMARA BALIK LAGI AMA ARKA ATW ARKA PEGANG KASUS TAMARA AGAR BERCERAI DR RAMLI AGAR BS KEMBALI BERSAMA TAMARA..........ARKA OTAKNYA SEHAT...TAMARA KAYAKNYA GA TAU DIRI...
Fyrly
Benar Arka tegas tidak mau menjadi pengacara Tamara biar meminimalkan dampak buruk bagi rumah tangganya, sepertinya Tamara mau memanfaatkan perceraiannya untuk mendekati Arka lagi
Lee Mba Young
Bagus Arka kl bisa teges gk berhub dng masalalu. krn nnti kl sidang a lot mereka bertemu tiap Hari pa gk cinlok lagi 🤣 palagi pernh berhub 😄. inget rasa lah...
gina altira
Sudah bener Arka jgn mau terlibat dengan masa lalu. Ada kemuning dan Ziya yg harus kamu lindungi,
Zhang Wuyang (张五阳)
jadian dong pliss kalau gak jadian ku jodohin sama walid
🌸 Sunshine 🌸: Enggak pernah nonton, Kak. Tahu Walid karena rame aja di grup sama cuplikannya di tiktok.
total 3 replies
Eonnie Nurul
laki2 ya gitu harus tegas kalau masih bisa jangan berhubungan dengan mantan dan lebih tepat nya buanglah mantan pada tempatnya 🤪
Sri Supriatin
Semoga tercapai beli HP barunya Thor, sy bc marathon nich 🤭💪💪💪
Vie
sama2 pernah merasakan hati yang hancur dan sekarang sama2 saling menyembuhkan dengan kekuatan cinta mereka berdua.... luka tidak akan pernah bisa hilang sepenuhnya, selalu meninggalkan bekas walau itu hanya samar,, dan itu akan tersimpan sangan jauh dan dalam di hati yang terdalam, tapi tidak sepenuhnya bisa ditutupi......
Sri Supriatin
Sedih bcnya Thor, pengalaman anak itu diurus n dioerhatiiin lebih meresap dan berbakti drpd dicerewetin... Tapj tergantung juga sy g. Bisa bandingin Karena cuma dititipin satu anak laki2... Alhamdullilah putraku sampe skrng buat ibunya bersyukur 🙏🙏🙏
Ma Em
Tamara penyesalanmu sdh terlambat , semoga saja Arkatama tdk akan kembali lagi pada Tamara setelah mendengar bahwa Tamara menyesal .
Ita rahmawati
nah kalo kamu beneran menyadari kesalahanmu Tamara harusnya kamu menjauh dari arkatama yg udh bahagia bknnya malah mendekat mepet LG 🤦
sengaja kamu ya jgn2 ada udang di balik batu 🤣
Retno Harningsih
up
Sugiharti Rusli
karena baik Arka dan Kemuning sama" korban pengkhianatan mantan pasangan nya, semoga mereka bisa saling menguatkan yah dalam mengarungi rumah tangganya,,,
Sugiharti Rusli
yah semua memang berasal dari kebodohan dan sifat egois seseorang yang mencari kesenangan dengan orang lain,,,
Sugiharti Rusli
makanya konsen Arkatama dalam membela seorang istri yang dikhianati dan disakiti karena ibu dan dirinya sendiri jadi korban yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!