NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Peringatan Dari Orion

Senja perlahan tenggelam di balik pengunungan Arcanis. Langit yang sebelumnya berwarna keemasan berubah menjadi ungu gelap, sementara bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu.

Taman belakang Akademi Aetherion yang biasanya tenang kini terasa mencekam. Aurelia berdiri membeku, karena beberapa langkah didepannya, Caelum masih tersenyum dengan santai. Namun justru senyum itulah yang membuatnya semakin waspada.

Mata merah itu benar-benar tidak menunjukkan  kehangatan sedikit pun, yang ada hanya rasa penasaran seolah ia sedang mengamati sesuatu yang langka atau sesuatu yang berharga.

“Pewaris Astralis…” Aurelia mengulang kalimat Caelum sebelumnya secara perlahan dan mendengar itu membuat Caelum mengangguk.

“Jadi mereka benar-benar belum memberitahumu apapun?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Ucap Aurelia yang masih berdiri waspada.

“Oh.” Caelum tersenyum tipis. “Kalau begitu, kau lebih tidak tahu apa-apa dari pada yang ku duga.” Lanjutnya dan membuat Aurelia mengepalkan tangannya. Instingnya mengatakan bahwa ia harus pergi. Namun  bagian lain dari dirinya ingin mengetahui lebih banyak lagi.

“Apa maksudmu?” Caelum menatap langit untuk sejenak, kemudian ia kembali menatap Aurelia.

“Kau pernah bertanya siapa dirimu yang sebenarnya, kan?” Jantung Aurelia langsung berdegup lebih cepat, karena Aurelia merasa terkejut, bagaimana pria itu bisa tahu?. “Aku bisa melihatnya dari matamu.” Caelum melanjutkan.

Pria itu masih berdiri menatap Aurelia dengan senyum tipis yang masih terlukis dibibirnya.

“Orang yang sedang mencari jawaban, orang yang terus dikelilingi oleh rahasia.” Aurelia tidak menjawab. Namun ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban, Caelum pun terkekeh pelan. “Mereka memang pandai menyembunyikan sesuatu.” Celetuk Caelum.

“Mereka?” Rasa penasaran Aurelia semakin tinggi.

“Para professor...” Senyumnya perlahan menghilang. “… Kepala Akademi, dan semua orang yang tahu tentang masa lalumu.” Lanjut Caelum.

Desiran angin bertiup pelan di antara pepohonan, suasana menjadi semakin sunyi, Caelum mulai melangkah mendekati Aurelia langkah demi langkah, namun baru dua langkah Caelum mendekat, tubuh Aurelia meresponnya dengan mundur satu langkah dan membuat pria itu berhenti seolah sengaja menjaga jarak agak tidak terlihat mengancam.

“Aku hanya ingin memberimu satu saran.”

“Saran apa?” Smirk muncul di bibir Caelum saat Aurelia mengajukan pertanyaan tersebut, kemudian Caelum memiringkan kepala.

“Jangan percaya semua orang yang mengaku ingin melindungi.” Kalimat itu membuat Aurelia terdiam, karena jauh didalam hati, ia juga mulai mempertanyakan hal yang sama.

Aurelia mengingat kembali setiap hal yang di ajukan padanya, semua orang akan selalu mengatakan bahwa dirinya belum siap, tidak ada juga yang mau menjelaskan kebenaran pada dirinya sampai semua orang seolah mengetahui sesuatu tentang dirinya kecuali dirinya.

Melihat perubahan ekspresi Aurelia membuat Caelum tersenyum puas. Tepat ketika ia hendak mengatakan sesuatu lagi, sebuah suara terdengar dari belakang. “Dari semua tempat di akademi, kau memilih mengganggu dia disini?” Suara itu terdengar begitu dingin, tajam dan terasa sangat familiar.

Aurelia menoleh ke arah ke belakang, dibawah bayangan pepohonan Orion berdiri dengan tangan terlipat di dada. Tatapan abu-abunya tertuju lurus pada Caelum, tidak ada senyum yang ia berikan, yang terlihat jelas hanyalah sebuah kewaspadaan dan entah kenapa hal itu justru membuat Caelum merasa senang.

“Oh. Aku bertanya-tanya kapan kau akan muncul.” Orion tidak menjawabnya, ia hanya menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.

Pertama kali sejak mengenal Orion, Aurelia baru ini melihat ekspresinya yang begitu serius, bahkan lebih serius dari pada saat ia pertama kali muncul di Gedung Astralis.

“Kau mengenalnya?” Aurelia bertanya, namun Orion juga tidak menjawab pertanyaan itu, ia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Caelum. Sedangkan Caelum, dia terlihat sangat menikmati situasi tersebut.

“Aku mengenalnya.” Ucap Caelum dengan santai. “Bahkan sudah cukup lama. Tapi sayangnya, hubungan kami tidak terlalu baik.” Sambung Caelum dan membuat Orion mendengus pelan.

“Itu cara yang halus untuk mengatakan bahwa kau selalu membuat masalah.” Caelum tertawa mendengar ucapan Orion.

“Yaaa dan kau yang selalu kaku.” Suasana mendadak terasa aneh, seolah kedua pria itu memiliki sejarah yang panjang, namun bukan sejarah yang menyenangkan.

Aurelia menatap mereka secara bergantian, ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan saat ini. Jika Orion selalu membuatnya merasa tenang meski tampak dingin, sedangkan Caelum justru membuatnya gelisah meski berbicara dengan sopan padanya sekalipun.

Perasaan itu sangat sulit untuk di jelaskan, karena walaupun ia belum terlalu jauh dan baru melihat Caelum untuk pertama kali, instingnya mengatakan bahwa Caelum itu berbahaya, karena itu dirinya lebih memilih untuk mempercayai instingnya, kemudian tiba-tiba saja Caelum mengangkat kedua tangannya.

“Baiklah. Aku tidak ingin membuat keributan. “ Ia melirik Aurelia sekali lagi, tatapannya kembali melembut atau setidaknya terlihat seperti itu. “Kita akan bertemu lagi, Aurelia. Aku yakin itu.” Kemudian ia berbalik dan berjalan menjauh tanpa tergesa-gesa, hingga akhirnya ia menghilang di balik pepohonan.

Keheningan kembali menyelimuti kondisi di taman dimana Aurelia berada, dan kini ditaman itu hanya ada Aurelia serta Orion. Angin malam berhembus pelan membuat rambut hitam mereka bergerak lembut, Orion menghembuskan napas panjang, dan baru kali itu ketegangan diwajahnya sedikit berkurang.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya dan membuat Aurelia mengangguk pelan.

“Aku rasa iya.” Jawaban itu membuat Orion tersenyum tipis.

“Aku rasa?” Kemudian Orion menatapnya dengan penuh selidik.

“Ya. Karena aku sendiri tidak yakin.” Untuk pertama kalinya, Orion terlihat hampir tertawa, meski hanya sesaat.

“Apa yang dia katakan padamu?” Tanya Orion yang membuat Aurelia ragu sejenak. Namun akhirnya ia menceritakan semuanya.

Untuk pertama kalinya Aurelia mau terbuka dengan seseoran mengenai apa yang sudah ia lalui selama ini, yaitu soal Pewaris Astralis, soal rahasia yang disembunyikan, hingga peringatan yang diberikan Caelum untuk tidak mempercayai semua orang.

Orion juga mendengarkan setiap detail yang diceritakan Aurelia mengenai Caelum, namun semakin lama ia mendengarkan, ekspresinya berubah menjadi suram. Saat Aurelia sudah selesai bicara, Orion tampak terdiam cukup lama.

“Jangan dengarkan dia.”

“Kenapa?”

“Karena Caelum selalu mengatakan setengah kebenaran.” Ucap Orion.

“Setengah kebenaran bagaimana maksudnya?” Aurelia tampak tak mengerti dan mengernyitkan kedua alisnya.

“Bohong itu mudah dikenali.” Sahut Orion yang kemudian memandang langit. “Tapi setengah kebenaran jauh lebih berbahaya dari berbohong.” Aurelia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Orion, dan ia merasa apa yang dikatakannya memanglah benar, karena apa yang dikatakan oleh Caelum memang masuk akal, tapi ada sesuatu yang terasa salah, seolah pria itu sengaja memilih kata-kata yang bisa membuatnya ragu.

Kini, keduanya mulai berjalan menuju akademi, untuk beberapa menit, keduanya saling diam satu sama lain, hingga akhirnya Aurelia mencoba untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu hening dan canggung.

“Orion.” Mendengar namanya dipanggil membuat sang punya nama menoleh dan berdeham pelan. “Apa kau tahu siapa aku?” Langkah Orion terhenti sesaat saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Aurelia.

“Aku tahu sebagian.” Mata abu-abu itu kini menatap Aurelia lebih dalam dari biasanya.

“Lalu kenapa tidak ada yang mau memberitahuku?” Lagi-lagi pertanyaan Aurelia membuat Orion terdiam. Ia masih belum mampu menjawabnya, lebih tepatnya dia tengah memilih kalimat untuk sebelum dilontarkan.

“Karena beberapa kebenaran tidak hanya mengubah hidupmu. Tapi juga hidup banyak orang.” Jawaban itu membuat Aurelia menunduk, karena untuk kesekian kalinya ia harus menerima jawaban yang kurang lebih sama.

Meski begitu, entah kenapa ia tidak marah pada Orion, mungkin karena pria yang berada di sisinya tersebut tidak berusaha mengalihkan pembicaraan, atau mungkin karena tatapannya terlihat tulus.

Keduanya sudah hampir sampai di gedung utama akademi, namun tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian Aurelia. Ia melihat rasi-rasi bintang di langit mulai bergerak secara perlahan dan membentuk pola yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Apa itu?” Bisiknya yang menatap ke langit dan membuat Orion ikut mendongakkan kepalanya, lalu wajahnya berubah seketika.

“Aurelia. Lihatnya nanti saja, ya.”

“Tapi…”

“… sekarang masuk ke dalam.” Orion memotong ucapan Aurelia. Suaranya pun mendadak terdengar tegas, bahkan sangat tegas yang Aurelia sendiri belum pernah mendengarnya berbicara seperti itu. Namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, seluruh langit mulai bergetar.

Cahaya putih muncul di antara bintang-bintang, kemudian sebuah garis cahaya raksasa membelah langit malam. Semua murid yang masih berada di luar spontan berteriak kaget dan membuat para professor segera keluar dari gedung utama seraya memandang ke langit dengan wajah tegang, karena mereka semua mengenali fenomena yang tengah terjadi saat ini.

Di ruang kerja Kepala Akademi, Professor Aldric langsung berdiri secara tiba-tiba dan membuat cangkir tehnya hampir terjatuh. “Tidak mungkin.” Gumamnya dan Cedric yang berada di sisinya itu pun ikut memucat.

“Meteor Astralis.” Bisiknya yang tengah memandang langit. Aldric mengangguk perlahan, fenomena yang hanya muncul sekali dalam beberapa generasi, serta fenomena yang menandai kebangkitan seorang Pewaris Bintang dan fenomena itu muncul tepat setelah Aurelia masuk ke dalam Menara Para Penjaga.

Sementara itu, di kastel hitam yang jauh dari akademi, pria tua berjubah hitam tersenyum lebar, karena tanda yang selama ini ia tunggu pada akhirnya muncul. “Persiapkan semuanya.” Begitulah perintah yang ia berikan dan membuat seluruh bawahannya berlutut.

“Baik, Tuan.” Pria tua itu menatap langit melalui jendela kastelnya. Cahaya meteor masih terlihat bahkan dari tempat yang sangat jauh, dan kedua matanya kini sudah benar-benar dipenuhi oleh ambisi.

“Sudah waktunya.”

Sedangkan di Akademi Aetherion, cahaya di langit perlahan meredup, namun suasana tetap tegang hingga para murid mulai dibawa kembali menuju asrama. Professor sudah berjaga di setiap sudut, dan untuk pertama kalinya sejak datang ke akademi, Aurelia merasa ada sesuatu yang besar sedang mendekat dan tidak bisa dihentikan.

Ketika ia hendak masuk ke asrama, Orion memanggilnya dan membuatnya menoleh. Pria itu tampak terlihat ragu untuk beberapa saat, seolah ia tengah mempertimbangkan sesuatu.

“Apapun yang terjadi nanti..” Tatapan keduanya bertemu dan Aurelia dapat melihat jelas adanya kekhawatiran yang begitu jelas di mata Orion. “… tolong jangan pergi sendirian.” Orion menambahkan dan itu membuat jantung Aurelia berdebar.

Kalimat yang begitu sederhana, tapi Aurelia merasa itu suatu hal yang sangat penting, seolah Orion tahu sesuatu yang belum diketahui oleh orang lain. Sebelum ia sempat bertanya, Orion sudah berbalik pergi meninggalkan Aurelia berdiri didepan asrama dengan hati yang semakin dipenuhi pertanyaan dan jauh didalam kegelapan malam, roda takdir kembali berputar lebih cepat dari sebelumnya.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!