Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belati di Balik Kebaya
Aroma amis darah segar selalu memiliki cara tersendiri untuk mengacaukan selera makan seseorang. Namun bagi Eriza Tryanaz, bau besi berkarat yang menguar di dalam ruang bawah tanah yang pengap itu tak lebih mengganggu ketimbang suara derit engsel pintu yang aus.
Eriza berdiri tegak di tengah ruangan yang hanya diterangi sepasang lampu pijar kuning yang berkedip samar. Tinggi tubuhnya seratus enam puluh tujuh sentimeter, proporsi yang pas untuk seorang gadis remaja yang menghabiskan separuh hidupnya di atas matras latihan taktis dan jalur rintangan militer. Tubuhnya langsing namun padat oleh otot-otot efisien yang tersembunyi di balik kaus hitam polos dan celana kargo senada. Kulitnya yang seputih porselen tampak kontras di bawah siraman cahaya temaram, memancarkan aura dingin yang pekat, seolah dia terbuat dari batu es yang menolak untuk mencair.
Di depannya, sebuah manekin latihan dari bahan silikon tebal telah koyak di beberapa bagian vital leher, ulu hati, dan bawah ketiak.
"Gerakanmu terlambat nol koma dua detik pada tusukan terakhir, Eriza," sebuah suara wanita yang dingin dan tanpa emosi terdengar dari kegelapan di balik pilar beton.
Eriza tidak langsung menyahut. Dia membiarkan napasnya yang teratur berembus pelan lewat hidung. Jemarinya yang ramping menyeka sebutir keringat yang meleleh di pelipisnya, membuat rambut panjangnya yang hitam legam dan terurai bebas sedikit bergerak mengikuti ayunan kepalanya. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda alami mengatup rapat, membentuk garis lurus yang kaku. Ketika dia membalikkan tubuh, sepasang matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah wanita paruh baya yang berjalan mendekat.
Wanita itu adalah Ryana, ibunya. Bersama Arland, sang ayah, mereka adalah pasangan pembunuh bayaran independen paling legendaris yang bergerak di bawah bayang-bayang hukum Indonesia. Mereka tidak memiliki organisasi, tidak memiliki lambang, dan tidak meninggalkan jejak. Bagi mereka, pembunuhan adalah sebuah seni sosiologi yang presisi. Dan Eriza adalah mahakarya terbaik mereka yang sedang dipersiapkan untuk menyandang gelar Ratu Kematian.
"Target tadi menggunakan rompi antipeluru tingkat tiga, Ibu. Aku harus mencari celah di sambungan pundak," ucap Eriza, suaranya terdengar datar, jernih, namun memiliki kedalaman yang tidak biasa untuk gadis seusianya.
Arland, sang ayah, muncul dari balik pintu baja sambil membawa sebuah map cokelat tebal. Langkah kakinya begitu senyap, sebuah kebiasaan yang mendarah daging hingga ke tingkat sel. "Analisis yang bagus, tapi di lapangan, target tidak akan berdiri diam seperti boneka silikon ini." Arland meletakkan map tersebut di atas meja kayu yang dipenuhi oleh berbagai jenis pisau taktis dan bagian-bagian senjata api yang sedang dibersihkan.
Eriza melangkah mendekati meja. Dia mengambil sepotong kain flanel, lalu dengan gerakan yang sangat tenang dan metodis, dia mulai mengelap bilah belati karambit miliknya yang berkilat tajam. Sastra kematian telah dia pelajari sejak dia bisa membaca. Saat anak-anak lain menghafal puisi, Eriza menghafal letak arteri besar di tubuh manusia. Namun, malam ini, fokusnya sedikit terganggu oleh dokumen yang baru saja diletakkan ayahnya.
"Mulai senin depan, kau akan memulai misi barumu," kata Arland sambil mengetuk map cokelat itu dengan jarinya yang kaku. "SMA Internasional Garuda Bangsa. Berkas pendaftaranmu sebagai siswi jalur beasiswa prestasi akademik telah disetujui."
Eriza menghentikan gerakan tangannya. Belati di genggamannya berhenti tepat di atas kain flanel. Dia mendongak, menatap kedua orang tuanya bergantian. "Sekolah umum? Mengapa kita harus mengambil risiko mengekspos diri di tempat terbuka seperti itu?"
Ryana berjalan mendekati putrinya, menyisir rambut Eriza yang terurai dengan jemarinya yang dingin, sebuah gestur sayang yang aneh karena tangan yang sama telah mencabut ratusan nyawa. "Tempat paling aman untuk bersembunyi adalah di depan mata semua orang, Eriza. SMA Garuda Bangsa adalah tempat berkumpulnya anak-anak dari orang-orang paling berpengaruh di negeri ini. Di sana, kau harus menjadi tidak terlihat. Jangan mencolok. Jadilah siswi biasa yang membosankan, yang nilainya cukup bagus untuk tidak didepak, namun tidak cukup mencolok untuk menarik perhatian."
Eriza mengangguk pelan. Dia memahami konsep itu dengan sangat baik. Invisibility. Menjadi bayangan di antara kerumunan orang-orang kaya yang haus akan atensi.
"Namun, kau harus tetap waspada," lanjut Arland, nadanya berubah menjadi lebih serius. Dia membuka map cokelat tersebut, menampilkan beberapa lembar kertas yang sebagian besar isinya telah disensor dengan tinta hitam tebal. "Sistem keamanan sekolah itu telah disusupi oleh beberapa entitas yang tidak dikenal. Ada dinding enkripsi data tingkat tinggi yang melindungi berkas beberapa murid baru tahun ini. Bahkan divisi intelijen terbaik kita tidak bisa menembusnya."
Eriza mendekat, matanya yang tajam menyapu lembaran kertas tersebut. Benar saja, ada enam profil murid baru yang datanya benar-benar kosong hanya menyisakan nama samaran akademis dan foto buram yang tidak jelas. Salah satu kertas menampilkan siluet seorang gadis dengan rambut setengah ikat, namun semua informasi latar belakangnya tertutup kode enkripsi militer yang mustahil dipecahkan dari luar.
"Mereka sengaja menyembunyikan identitas mereka di dalam sistem sekolah," gumam Eriza, ibu jarinya mengusap permukaan kertas yang kasar itu. Ada desiran aneh di dadanya. Rasa penasaran seorang predator yang mencium keberadaan predator lain di wilayah berburunya. "Siapa mereka?"
"Itulah tugasmu untuk mencari tahu secara manual, tanpa menarik perhatian," jawab Ryana tegas. Wanita itu mengambil belati dari tangan Eriza, lalu menusukkannya ke atas meja kayu dengan hentikan yang cukup kuat hingga bilahnya tertanam sedalam dua inci. "Ingat aturan pertamanya, Eriza. Di sekolah itu, kau hanyalah Eriza Tryanaz. Gadis yatim piatu penerima beasiswa yang pendiam, miskin, dan tidak memiliki apa-apa untuk disombongkan. Jika kau membiarkan topengmu retak sedikit saja, kau bukan hanya membahayakan dirimu sendiri, tapi juga reputasi yang kami bangun selama dua dekade."
Eriza menatap belati yang bergetar di atas meja kayu tersebut. Alih-alih merasa tertekan, ekspresi wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa riak. Dia mengulurkan tangan, mencabut belati itu kembali dengan satu sentakan halus yang efisien, lalu menyisipkannya ke dalam sarung kulit yang tersembunyi di balik pinggang celananya.
"Aku mengerti, Ibu," sahut Eriza pendek. Ketegasan dalam suaranya meluruhkan atmosfer tegang di ruangan itu. Dia mengambil tas ransel kainnya yang usang dari atas kursi, mengisinya dengan beberapa buku catatan biasa, menyembunyikan sisi gelapnya jauh di lubuk hati yang paling dalam.
Malam itu, setelah sesi latihan selesai, Eriza kembali ke kamarnya yang terletak di lantai atas rumah persembunyian mereka yang menyamar sebagai toko barang antik di pinggiran Jakarta. Kamar Eriza sangat sederhana, berbanding terbalik dengan kemewahan yang mungkin dinikmati oleh anak-anak mafia di luar sana. Tidak ada lampu gantung kristal atau seprai sutra. Hanya ada sebuah tempat tidur kayu tunggal, meja belajar kecil, dan jendela yang menghadap ke arah gang sempit yang basah oleh sisa hujan.
Eriza duduk di tepi ranjangnya, menatap seragam putih-abu-abu khas SMA Garuda Bangsa yang tergantung kaku di pintu lemari. Seragam itu tampak begitu suci, begitu bersih sebuah kontras yang ironis bagi seseorang yang tangannya kerap kali berlumuran minyak senjata dan bau mesiu.
Dia membuka laptop tuanya yang telah dimodifikasi dengan jaringan VPN berlapis. Dia mencoba mengakses kembali pelayan data SMA Garuda Bangsa, mencoba mencari celah pada enam dokumen misterius yang sempat ditunjukkan ayahnya tadi. Namun, layar laptopnya hanya menampilkan simbol peringatan berwarna merah darah.
ACCESS DENIED. ENCRYPTION PROTOCOL LEVEL 9.
Eriza menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin. Dia memejamkan mata perlahan, membiarkan keheningan malam menyelimuti pikirannya. Di luar sana, di bawah langit Jakarta yang sama, ada lima gadis lain yang mungkin sedang melakukan hal yang persis sama dengannya menatap layar komputer, menganalisis data yang tidak bisa dibuka, dan bersiap untuk mengenakan topeng terbaik mereka demi hari esok.
Eriza tahu, SMA Garuda Bangsa tidak akan menjadi tempat pendidikan yang membosankan. Tempat itu akan menjadi labirin penuh kaca, di mana setiap orang saling mengawasi, namun tidak ada yang berani menunjukkan wajah asli mereka. Dan bagi Eriza, permainan ini adalah tentang siapa yang bisa bertahan menjadi bayangan paling gelap di antara gemerlapnya cahaya lampu sekolah elit tersebut. Dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya, Eriza mematikan lampu kamarnya, membiarkan kegelapan malam menelan seluruh rencana yang mulai tersusun di kepalanya.