NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Jatuh Kepelukan Om

Netha menatap nanar ke langit. Biru, tapi mendung. Sama seperti hatinya sekarang. Berat, gelap, dan rasanya mau pecah kapan saja.

Kemarin, setelah sampai di lokasi syuting, ponselnya bunyi. Notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal. Dan isi chat-nya... menghancurkan hidupnya.

088103648XXX: Hai Netha... sahabatku tersayang, bagaimana kabarmu?

088103648XXX: Masih ingat kan sama aku? Kalau pun udah lupa, aku ingetin lagi deh. Aku Clara Adellia.. wanita yang sempat kamu rusak wajahnya dan sekarang sudah datang kembali.. bahkan sebentar lagi akan menjadi madumu hahaha

088103648XXX: Sampai jumpa kembali nanti ya Kimmy Janetha, sahabatku tersayang. hahaha

Tangan Netha gemetar. Napasnya tercekat. Wanita yang dulu hampir ngerusak rumah tangganya, sekarang bilang mau jadi madunya.

Marah. Kecewa. Sedih. Sakit. Semua numpuk jadi satu. Sejak itu, ia nggak fokus syuting. Salah terus. Disemprot sutradara. Disorot kru. Tapi pikirannya cuma ke satu hal: beneran nggak sih Keenan nikah sama Clara?

Ia coba telpon Keenan. Nggak aktif. Di luar jangkauan. Sejak bilang ada "job luar kota" ke Surabaya, Keenan nggak ngasih kabar sama sekali.

"Sebenarnya kamu kemana sih, Mas? Kenapa nomor kamu nggak bisa dihubungi?" lirih Netha. Air matanya jatuh. "Apa bener kamu tega ngekhianatin pernikahan kita lagi? Apa bener kepergian kamu ada kaitannya sama nikah sama wanita itu? Kenapa kamu tega lakuin ini ke aku dan Queen, Mas..."

Isakannya pecah. Nggak bisa ditahan lagi.

Sekarang Netha ada di cafe outdoor. Meja kayu, kursi rotan, pemandangan pepohonan. Tapi ia nggak nikmatin sama sekali.

Pesawatnya gagal berangkat. Dibatalkan sepihak. Nggak jelas siapa yang batalin. Ia pasrah. Keluar dari bandara dengan perasaan hampa dan hancur, sambil gendong Queen yang ketiduran karena kecapekan.

"Hiks... hiks..."

Tiba-tiba ada tangan kekar ngulurin sapu tangan biru muda di sampingnya.

Netha nggak noleh. Ia ambil sapu tangan itu. Langsung usap mata dan hidungnya yang udah beleber.

"Srottt... hiks... srottt..."

Pria di sampingnya memandang geli. Tapi sorot matanya iba.

"Jahat kamu, Mas... jahat banget sama aku," rancau Netha di sela tangis. "Kamu bahkan nggak mikirin perasaan Queen, putri kamu sendiri... hiks... huhu..."

Arsen jadi makin iba. Wanita yang selalu perfeksionis di layar kaca, sekarang nangis tersedu-sedu sambil gendong anaknya.

Arsen geser kursi. Duduk di depan Netha. Sebelumnya ia udah nyuruh Dimas booking cafe ini. Tutup sementara. Biar privasi Netha aman. Nggak ada media yang bisa sorot aktrisnya dalam kondisi kayak gini.

Tapi Netha masih nggak sadar. Ia masih lanjut drama melownya.

Sampai akhirnya ada tangan hangat ngusap pipinya pelan.

Netha langsung kaget. Matanya yang sembab langsung membulat.

"Om... Arsen..." suaranya terbata.

Arsen nggak jawab. Ia cuma menatap dalam ke mata coklat Netha. Jempolnya terus ngusap air mata yang jatuh di pipi Netha.

"A... apa yang Om lakukan...?!" protes Netha. Suaranya serak. Ia mau bangun, tapi Arsen lebih cepat nahan lengannya.

"Tunggu," cegah Arsen.

"Lepasin aku, Om! Jangan seenaknya ya pegang-pegang tangan aku!" sentak Netha. Matanya menusuk, nggak terima.

"Duduklah," balas Arsen. Tetap tenang, tapi tegas.

Netha masih mematung, sambil gendong Queen.

"Duduk!" titah Arsen sekali lagi.

Tanpa sadar, Netha nurut. Ia duduk lagi.

"Kenapa Om natap aku kayak gitu?" ketusnya. Ia berusaha pasang wajah biasa aja. Nyembunyiin sedihnya.

Arsen tetap natap. Nggak berkedip. "Gimana rasanya? Apa... sesakit itu?"

"Maksud Om apa bicara kayak gitu?" tanya Netha serak.

Arsen senyum tipis. "Gimana rasanya ditinggal nikah suami kamu sama wanita yang selama ini jadi selingkuhannya?"

DEG

" Apa maksud Om bicara seperti itu? "Ketus Netha

Arsen Tetap menatap Dalam Netha. " Jawab Saja! " nada perintah

Mata Netha langsung melebar. "Dasar Om nggak punya perasaan! " Lantas Netha balas dengan senyum sinis. "Apa pertanyaan Anda yang nggak berbobot itu perlu saya jawab?"

"Oh jelas. Tentu saja," jawab Arsen singkat. Matanya tetap ngunci ke mata Netha.

"Ckkk... Dasar memang. Om sama keponakan sama-sama brengsek. Nggak punya hati," ketus Netha.

Langsung ia berdiri. Muter badan. Mau pergi dari situ.

Grepp.

Tiba-tiba lengannya ditarik. Tubuhnya masuk ke pelukan dada bidang Arsen.

Netha langsung memberontak. "Om... lepasin..."

Tapi Queen malah nyaman. Nggak bangun. Malah makin tidur nyenyak di bahu Arsen.

"Tenanglah..." bisik Arsen. Pelukannya malah makin erat.

"Lepasin aku, sialan! Aku nggak butuh dikasihani pria macam kalian... hiks... hiks..." Netha mukul pelan dada Arsen.

"Diamlah... dan menangislah sepuasnya sampai perasaan kamu lega," gumam Arsen. Matanya merem. Tanpa sadar bibirnya mengecup pucuk kepala Netha pelan.

Lama-lama pukulan Netha meluruh. Ia pasrah. Di pelukan hangat paman suaminya sendiri.

Entah kenapa, hatinya yang rapuh ini butuh sandaran. Dan anehnya, di pelukan Arsen Bagas Yudistira, ia ngerasa tenang.

---

Malamnya, di apartemen mewah Surabaya.

"Sayang... kamu kenapa melamun terus dari tadi?" tanya Clara. Ia merangkak naik ke ranjang king size dengan gerakan sensual. Jari-jarinya mulai main di dada Keenan yang telanjang.

Cup.

Cup.

Cup.

Clara nyium bibir Keenan penuh gairah.

Keenan senyum tipis. Kaku. "Lagi mikirin apa sih, sayang? Hmm? Aku kangen lhoh sama kamu. Adeknya juga minta ditengokin Papinya..."

"Maaf ya, Ra... aku malam ini capek banget," kata Keenan pelan. "Nggak apa-apa kan kalau malam pengantin pertama kita ditunda dulu?"

Wajah Clara langsung merengut. "Apa? Kok kamu gitu sih, Keen?"

"Maaf ya, Ra. Malem ini aku bener-bener capek banget. Please, ngertiin aku," jawab Keenan. Ia langsung muter badan, ngebelakangin Clara.

'Pasti kamu lagi mikirin istri tua kamu yang sialan itu,' batin Clara. 'Awas kamu, Keen. Aku nggak bakal biarin kamu terus-terusan mikirin dia.'

---

Kembali ke cafe.

Netha masih di pelukan Arsen. Beberapa menit berlalu. Tangisnya udah reda. Tapi ia nggak lepasin pelukan itu.

"Udah lega?" tanya Arsen pelan di telinga Netha.

Netha nggak jawab. Ia cuma angguk kecil di dada bidang Arsen.

Arsen melepas pelukannya pelan. Tapi tangannya masih di bahu Netha, kayak mastiin Netha nggak jatuh.

Netha angkat wajahnya. Matanya merah. Tapi ada ketenangan di sana.

"Makasih, Om," bisiknya.dengan suara lirih.

"Ngapain makasih," jawab Arsen datar. "Aku cuma nggak tega liat orang nangis sendirian."

Netha senyum kecut. "Padahal Om bisa aja kan diem. Bisa pura-pura nggak kenal aku."

"Aku bukan tipe yang bisa diem kalau ada ketidakadilan di depan mata," jawab Arsen jujur.

Deg

Netha langsung menunduk. "Jadi Om udah tahu semuanya, ya? Tentang Keenan dan Clara."

Arsen mengangguk. "Dimas yang laporin semuanya ke aku. Termasuk nikah siri mereka hari ini."

Jedar.

Meski udah ngira, tapi denger langsung dari Arsen tetep saja membuat Netha Sakit.

"Kenapa... kenapa dia lakuin ini, Om?" tanya Netha lirih. "Padahal kemarin dia minta aku berhenti kerja. Dia Bilang semua demi Queen. Demi keluarga.Tapi Ternyata...Dia....."

"Manusia emang rumit, Tha," kata Arsen. "Kadang mereka nggak tahu apa yang mereka mau. Sampai akhirnya nyakitin orang yang paling sayang sama mereka."

Netha ketawa kecil. Tapi getir. "Aku bodoh, ya, Om? Aku masih mau aja percaya sama dia. Masih mau bertahan buat pertahanin rumah tangga ini."

"Kamu nggak bodoh," potong Arsen cepat. "Kamu tulus. Dan ketulusan itu nggak salah. Yang salah orang yang nyia-nyiain ketulusan itu."

Netha menatap Arsen. Untuk pertama kalinya sejak kejadian ini, ada orang yang ngebelain dia tanpa pamrih.

"Om... kenapa kamu mau bantuin aku?" tanya Netha hati-hati. "Kita kan nggak ada hubungan apa-apa."

Arsen bersandar ke kursi. "Karena aku kenal kamu dari kamu masih baru di industri ini. Aku liat kamu kerja keras. Besarin nama sendiri. Besarin anak. Dan aku nggak suka liat orang kayak kamu diinjak-injak."suara Arsen serak dan berat

Deg

Netha mengusap pipinya. Sapu tangan Arsen masih di tangannya. "Aku malu, Om. Aku artis. Tapi rumah tanggaku hancur kayak gini."

"Artis juga manusia, Tha," kata Arsen. "Kamu berhak bahagia. Kamu berhak marah. Kamu berhak nangis."

Kalimat itu ngena banget. Netha langsung nutup muka pakai kedua tangan. Bahunya getar lagi.

Arsen nggak nyentuh. Ia cuma bilang, "Nangis aja. Di sini aman."

Dan Netha nangis lagi. Kali ini bukan karena Keenan. Tapi karena akhirnya ada yang ngerti dia.

---

Beberapa menit kemudian, Netha udah lebih tenang. Queen masih tidur nyenyak.

"Jadi sekarang mau gimana, Tha?" tanya Arsen.

Netha mikir. "Aku mau balik pulang ke rumah saja om. Aku mau cerai, Om. Aku nggak mau dimadu om. Aku nggak mau Queen tumbuh di keluarga yang kayak gini."lirih Netha

Arsen mengangguk. "Oke. Aku akan urus semuanya. Pengacara terbaik. Proses cepat. Hak asuh Queen kita perjuangin."

"Hak asuh?" Netha menatap Arsen. "Om yakin aku bisa menang?"

"100%," jawab Arsen yakin. "Kamu ibu kandung. Kamu kerja. Kamu stabil. Keenan? Dia selingkuh, nikah siri tanpa izin, dan punya niat nyembunyiin dari kamu. Pengadilan bakal liat itu."

Netha menghela napas lega. "Makasih, Om. Makasih udah mau bantuin aku."

"Udah dibilang jangan makasih," kata Arsen sambil senyum tipis. "Sekarang makan dulu. Kamu dari pagi belum makan, kan?"

Netha baru sadar perutnya keroncongan. Ia malu. "Iya..."

Arsen langsung manggil pelayan. "Mbak, pesenin makanan hangat. Bubur ayam sama teh tawar hangat. Satu lagi nasi ayam buat saya."

Pelayan datang cepat. Makanan dihidangkan.

Netha makan pelan. Suapan pertama aja udah bikin matanya berkaca-kaca lagi. Bukan karena sedih. Tapi karena udah lama nggak ada yang merhatiin hal sekecil ini.

"Pelan-pelan," kata Arsen. "Nggak ada yang rebutan."

Netha ketawa kecil. "Om ngomong kayak Papa aku aja"

Arsen diam. Tatapannya berubah. "Aku... nggak mau jadi Papa kamu, Tha. Aku cuma mau jadi... temen."

Netha menatap Arsen. "Temen?"

"Temen yang bisa kamu andalin," lanjut Arsen. "Temen yang nggak bakal ninggalin kamu pas kamu jatuh."

Deg

Netha nggak bisa ngomong. Ia cuma menganggu saja namun tiba tiba saja jantungnya.......

---

Jam 9 malam. Mereka sampai di hotel tempat Arsen nginep. Arsen udah pesenin 2 kamar. Satu buat Netha dan Queen. Satu buat dia.

"Ini kunci kamar kamu," kata Arsen sambil nyerahin kartu. "Istirahat. Besok pagi kita balik ke Kerumahmu. Udah malam udara malam nggak baik buat anak kecil. "

Netha nerima. "Om juga istirahat, ya. Makasih udah jagain aku hari ini."

Arsen angguk sambil mengukir senyum tipis. "Sama-sama."

Netha masuk kamar. Ia rebahin Queen di kasur. Selimutin. Lalu ia duduk di tepi ranjang.

Hari ini hari terberat dalam hidupnya. Tapi anehnya, ia nggak ngerasa sendirian.

Ia ngambil ponsel. Ada 1 pesan masuk. Dari nomor tak dikenal lagi.

088103648XXX: Gimana rasanya, Netha? Sakit, kan? Selamat ya, suami kamu sekarang suami aku juga. Hahaha.

Netha ngeblok nomor itu tanpa ragu. Lalu ia matiin ponsel.

"Udah, Clara," bisiknya. "Mulai sekarang, kamu nggak berhak ganggu hidup aku lagi."

Ia rebahan. Peluk Queen erat. Dan untuk pertama kalinya dalam 2 hari ini, ia bisa tidur tanpa mimpi buruk.

---

Di kamar sebelah, Arsen duduk di sofa. Ia buka laptop. Email dari Dimas masuk: data lengkap pernikahan siri Keenan-Clara, bukti chat, bukti transfer.

Arsen ngeklik satu file. Foto Keenan dan Clara ciuman di pelaminan.

Rahang Arsen mengeras. "Brengsek," desisnya pelan.

Ia tutup laptop. Berdiri. Jalan ke jendela. Liat kota Ibukota Jakarta dari atas.

'Seharusnya Kamu beruntung, Keen,' batin Arsen. 'Kamu punya wanita sebaik Netha... dan sekarang kamu malah buang dia.'

Ia ngepal tangan. Ada sesuatu di hatinya yang ia sendiri nggak ngerti.

Tapi satu hal yang pasti: ia nggak bakal biarin Netha jatuh sendirian lagi.

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!