NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Perjalanan pulang dari rumah makan menuju rumah Yogyakarta berlangsung dalam keheningan yang mencekat.

Hanya terdengar deru halus mesin mobil dan sesekali klakson di jalanan malam kota Jogja.

Devan tertidur pulas di pangkuan Ferdinand, tidak menyadari ketegangan di antara orang-orang dewasa di sekitarnya.

Amira terus memikirkan tatapan penuh amarah dan dendam dari Daniel.

Bayangan rahang Daniel yang mengeras dan tuduhan keji pria itu terus berputar di benaknya.

Ia tahu, ketenangan hidupnya yang baru saja dibangun selama dua tahun di Belanda kini terancam runtuh.

Daniel bukan pria yang mudah melepaskan sesuatu jika sudah diselimuti dendam.

Setelah Devan ditidurkan di kamar oleh Mama, Amira mengumpulkan keberaniannya.

Ia tidak ingin terus-menerus membebani Ferdinand tanpa pria itu tahu badai apa yang sebenarnya sedang mengintai mereka.

Amira mengajak Ferdinand bicara empat mata di ruang tengah yang sunyi.

Dengan suara bergetar dan air mata yang mulai menetes, Amira membuka tabir masa lalunya.

Ia mengatakan kalau lelaki tadi adalah mantan suaminya dan ayah dari Devan.

"Maafkan aku, Ferdinand... Pria tadi... pria yang memandang kita dengan penuh amarah itu adalah Mas Daniel. Dia mantan suamiku," ucap Amira terbata-bata, menyembunyikan wajah di kedua telapak tangannya.

"Dan dia adalah ayah kandung Devan."

Ferdinand tertegun sejenak. Namun, sorot matanya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan rasa simpati yang mendalam melihat wanita di depannya begitu terguncang.

"Aku sudah menduganya sejak melihat reaksimu di restoran, Amira."

"Aku merasa sangat bersalah padamu, Fer," tangis Amira pecah. Amira merasa bersalah karena selama ini menyembunyikan identitas asli Daniel dari Ferdinand, serta takut bahwa kehadiran Daniel akan merusak kebaikan dan ketulusan yang telah Ferdinand berikan selama dua tahun ini.

"Aku takut.masa laluku yang rumit ini justru akan menyeretmu ke dalam masalah."

Bukannya marah atau kecewa, Ferdinand memeluk Amira dengan sangat erat, memberikan kehangatan dan rasa aman yang sangat dibutuhkan Amira saat itu.

Ia menarik tubuh Amira ke dalam dadanya, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh beban dan ketakutannya yang dipendam sendiri selama ini.

Ferdinand menolak membiarkan Amira merasa bersalah.

Ia mengusap punggung Amira dengan lembut, lalu sedikit merenggangkan pelukan untuk menatap lekat-lekat kedua mata Amira yang sembap.

"Aku ayah Devan, bukan dia."

Ferdinand menegaskan bahwa ayah bukanlah sekadar hubungan darah, melainkan siapa yang ada dan merawat Devan sejak di kandungan hingga hari ini.

"Aku yang mendengar detak jantungnya pertama kali lewat USG, Amira. Aku yang menemanimu saat berjuang di ruang bersalin, dan aku yang menggendongnya saat dia menangis di tengah malam. Lelaki itu tidak ada di sana," lanjut Ferdinand dengan suara baritonnya yang menenangkan namun sarat akan ketegasan.

"Jangan takut. Jika dia berani mengusikmu dan Devan, dia harus berhadapan denganku terlebih dahulu."

Untuk menenangkan pikiran Amira yang kalut, Ferdinand merogoh saku jasnya.

Ia memberikan tiket ke acara pameran lukis bergengsi yang sedang berlangsung di Yogyakarta.

Ferdinand tahu Amira butuh ruang untuk menyendiri dan menyegarkan pikirannya sebagai seorang penulis dan pencinta seni, tempat di mana ia bisa menemukan kembali ketenangannya yang sempat terusik.

Ferdinand menjelaskan dengan nada menyesal, "Aku tidak bisa menemani kamu karena aku ada rapat penting dengan klien besok pagi."

Amira menganggukkan kepalanya, tersenyum tulus.

Ia merasa sangat bersyukur atas kepekaan Ferdinand yang selalu tahu cara melindunginya dari stres tanpa pernah memaksa.

Baginya, tiket itu bukan sekadar akses ke pameran seni, melainkan sebuah ruang bernapas yang sangat ia butuhkan saat ini.

Kemudian Ferdinand mengajak Amira ke kamar untuk istirahat setelah itu Ferdinand ke kamar tamu.

Malam pun semakin larut, menyelimuti rumah di Yogyakarta itu dengan keheningan yang semu.

Tanpa sepengetahuan Amira dan Ferdinand, Daniel ternyata mulai menggerakkan anak buahnya untuk menyelidiki seluruh aktivitas Amira selama di Yogyakarta.

Laporan mengenai rencana Amira untuk esok hari sudah berada di tangan Daniel dalam hitungan jam.

Acara pameran lukis yang akan didatangi Amira besok justru menjadi awal dari rencana besar Daniel untuk menjebak dan membalas rasa sakit hatinya.

Daniel tersenyum sinis di kegelapan ruang hotelnya, siap menyusun jerat untuk wanita yang ia kira telah mengkhianatinya.

Pagi hari yang cerah di Yogyakarta. Sinar matahari menyelinap di antara pepohonan rindang, menyemprotkan cahaya keemasan yang hangat di sepanjang jalanan kota yang tenang.

Ferdinand menyetir mobil, mengantarkan Amira ke gedung pameran lukisan bergengsi.

Alunan musik instrumental yang diputar pelan mengisi kabin mobil, mencoba mengikis sisa-sisa ketegangan dari malam sebelumnya.

Di dalam mobil, Ferdinand kembali memastikan Amira bisa menikmati waktunya untuk menyegarkan pikiran.

"Jangan pikirkan apa pun untuk hari ini, Amira. Fokus saja pada dirimu, nikmati setiap karya seni di sana. Tulis ide-ide baru jika kamu mau. Biarkan Devan menjadi urusanku dan Mama hari ini," ucap Ferdinand, memecah keheningan dengan suaranya yang selalu meneduhkan.

Amira menoleh, menatap profil samping wajah Ferdinand dengan rasa haru.

"Terima kasih banyak, Fer. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi atas semua kebaikanmu."

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan lobi gedung pameran yang tampak mulai ramai dikunjungi para pencinta seni.

Sebelum turun, Ferdinand memiringkan tubuhnya, lalu mengusap kepala Amira dengan lembut dan mengecup keningnya, memberikan dukungan moril yang seketika mengalirkan rasa aman ke dalam dada Amira.

"Jaga dirimu baik-baik. Telepon aku jika terjadi sesuatu," bisik Ferdinand setelah menjauhkan wajahnya, menatap Amira dengan binar mata penuh kasih.

Ferdinand mengantarkan Amira ke tempat pameran lukisan, lalu berpamitan karena Ferdinand harus menuju cabang perusahaannya untuk rapat penting yang tidak bisa ditunda.

Amira melambaikan tangan, menatap kepergian mobil Ferdinand hingga kendaraan itu hilang di balik gerbang utama.

Amira menarik napas dalam-dalam, mencoba memantapkan langkahnya masuk ke dalam gedung, berharap goresan-goresan kuas di dalam sana bisa memulihkan jiwanya yang sempat guncang.

Namun, ketenangan itu hanyalah ilusi. Di sudut area parkir yang tersembunyi, di dalam mobil berkaca gelap, dari kejauhan Daniel melihat kemesraan mereka.

Tatapan matanya lurus mengunci ke arah lobi, menyaksikan setiap jengkal interaksi antara Amira dan Ferdinand.

Saat melihat kecupan lembut Ferdinand mendarat di kening Amira—kecupan yang dulu selalu ia berikan pada wanita itu—rahang Daniel mengeras, cengkeraman tangannya pada setir mengencang hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.

Dada Daniel naik-turun menahan pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis.

Amarah dan rasa cemburunya semakin

membakar tekadnya untuk melancarkan rencananya.

Rasa sakit hati karena merasa dikhianati kini telah membutakan akal sehat Daniel sepenuhnya.

Di matanya, senyuman tulus Amira untuk pria lain adalah bukti nyata bahwa wanita itu telah melupakannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Kamu terlihat sangat bahagia, Amira," desis Daniel dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.

Ia memakai kacamata hitamnya, lalu membuka pintu mobil.

"Mari kita lihat, seberapa lama kamu bisa mempertahankan senyuman itu setelah hari ini."

Dengan langkah tegap dan aura dingin yang mencekam, Daniel melangkah masuk ke dalam gedung pameran, siap memulai permainan yang telah ia susun untuk menjebak wanita yang pernah—dan mungkin masih—menguasai seluruh hatinya.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!