NovelToon NovelToon
Kau Yang Selalu Ada

Kau Yang Selalu Ada

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:324.7k
Nilai: 5
Nama Author: Evy erviyanti

Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.

Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part : 31 (Koma)

Seketika yang ada diruangan itu langsung syok. Terlebih Retta kini dia hampir jatuh, Satrio dengan sigap langsung berada dibelakangnya. Bu Utari histeris sambil memeluk Pak Hendra. Semuanya jadi terharu dengan keadaan Didi sekarang.

"Ma, sudah. Sabar, ya. Kita doakan saja biar Didi lekas sadar dari komanya." ucap Pak Hendra sambil memegang kepala istrinya.

"Iya, Pa. Tapi, anak kita, Pa. Mama nggak tahan kalau melihat Didi jadi seperti itu." ucap Bu Utari.

"Sekarang kita harus tetap berusaha dan berdoa buat kesembuhan Didi. Siska punya rekomendasi rumah sakit yang bagus buat penyembuhan Didi. Rumah sakit itu adanya di Australia. Coba kita konsultasikan dulu sama Dokter. Kalau memang keadaan memungkinkan, kita bawa langsung ke Australia saja." jelas Siska.

"Mama ngikut saja, Sis. Tapi, pernikahan kamu kurang sebulan lagi, gimana?" ucap Bu Utari.

"Itu gampang, Ma. Nanti pernikahan Siska sementara akad saja. Untuk resepsi ditunda sampai keadaan memungkinkan. Siska sudah menghubungi keluarga Mas Rudy, dan mereka menyetujui. Soal gedung dan cathering semuanya dicancel nggak apa-apa. Meskipun rugi, tapi mau gimana lagi. Namanya musibah kan nggak bisa diprediksi." jawab Siska sambil melangkah keluar guna mengkonsultasikan kembali soal kepindahan Didi keluar negeri.

"Ya sudah kalau gitu." jawab Mamanya.

Pak Hendra mendekati Retta yang masih dengan mata basah dia berdiri didekat Didi.

"Nak Retta, kamu sudah dengar apa yang dibilang Siska, kan. Kita akan membawa Didi ke Australia. Saya harap kamu bisa bersabar dengan kejadian ini." ucap Pak Hendra.

"Retta ngikut apa kata Pak Hendra saja. Selama itu untuk kesembuhan Didi, Retta nggak keberatan. Selama Didi dibawa ke Australia, biarkan Retta akan menunggu Didi disini." ucap Retta sambil meneteskan air matanya.

"Kamu yang sabar, ya Retta. Didi saat ini berjuang agar dia bisa mengingat dan pulih lagi. Biar nantinya bisa menikahi kamu" ucap Bu Utari dengan memeluk Retta erat.

Suasana kembali terharu dengan sikap Bu Utari kepada Retta. Mereka berdua lantas menangis sampai sesenggukan. Pak Hendra dan Satrio sampai berkaca-kaca juga melihat Retta yang menangis dipelukan Bu Utari.

Setelah dari rumah sakit, Retta berencana langsung pulang. Kini dia masih disitu sampai gimana keputusan Dokter yang merawat Didi. Tak lama kemudian Siska datang dengan seulas senyum meskipun sedikit.

"Pa, Ma. Ternyata boleh kita bawa Didi keluar negeri." ucap Siska.

"Baiklah, kita usahakan bawa kesana. Kamu yang urus, ya Siska. Biar Papa menyiapkan yang lainnya." sahut Pak Hendra.

"Baik, Pa."

"Pak Hendra, Bu Utari saya pulang dulu, ya. Besok kalau mau antar Didi biar saya kesini lagi." ucap Retta.

"Baiklah, Nak. Kamu istirahat dulu." jawab Pak Hendra.

"Iya, Retta. Kamu pulang saja. Besok kalau memang mau antar Didi ke Bandara, saya akan telpon kamu." sahut Bu Utari.

Akhirnya Retta dan Satrio pamit untuk meninggalkan ruangannya itu. Kini mereka berjalan gontai seolah kaki itu nggak mau melangkah. Retta sekarang bagaikan hidup yang nggak ada tujuan. Dia berjalan sambil melamun. Satrio yang mendapati Retta seperti itu langsung saja menegurnya.

"Ta, kamu jangan melamun gitu, nanti kesandung, lho!" seru Satrio.

"Eh, iya Mas. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu." jawabnya asal.

"Kamu ini ngomong apa, sih. Aku nanya apa, kamu jawab apa. Sudah-sudah jangan sedih lagi. Yang semangat, ya?" ucap Satrio sambil memegang pundak Retta.

"Maaf, Mas." ucapnya.

Satrio dan Retta sampai pelataran rumah sakit. Kemudian mereka masuk mobil dan meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan mereka tidak banyak ngomong karena mungkin situasinya yang nggak pas.

"Ta, kita cari makan dulu, yuk?" ajak Satrio.

"Aku nggak lapar, Mas." jawab Retta pelan.

"Ta, kamu jangan gitu. Kamu belum makan dari tadi sore, lho. Kamu kan harus jaga kesehatan juga." jawab Satrio.

Retta hanya menggeleng pelan sambil menyandarkan badannya disandaran kursi mobil. Satrio hanya menoleh kearah Retta yang masih pandangannya lurus kedepan. Ketika melewati sebuah warung nasi goreng, Satrio langsung membelokan mobilnya ke warung itu.

"Ayo, Ta. Kita turun." ucap Satrio.

"Lho, Mas! kita makan?" jawab Retta.

"Ayo makan, kita turun dulu." ajak Satrio lagi.

Akhirnya Retta menurut, dia mengikuti Satrio masuk dalam warung tersebut. Satrio kemudian memesan dua porsi nasi goreng special.

"Kamu minum apa.?"

"Aku teh panas, aja."

"Bu, Teh panas satu. Yang satunya kopi." ucap Satrio pada Ibu penjual itu.

Kebetulan warung itu tempat makannya dibuat lesehan. Jadi Retta bisa duduk dengan kaki yang diselonjorkan dan pungungnya bersandar pada tembok.

"Kamu capek, ya?" ucap Satrio sambil memandangi Retta yang kelihatannya lemas.

"Tiba-tiba badanku sakit semua, Mas. Lalu kepalaku sedikit pusing." ucapnya pelan.

"Kita kerumah sakit, sekarang!" seru Satrio.

"Jangan,! aku mungkin hanya masuk angin saja. Makanya aku tadi pesan teh panas." jawabnya.

"Beneran nggak usah? tapi, kalau ada apa-apa bilang lho, ya?" ucap Satrio.

Tak lama kemudian penjual itu mengantarkan pesanan mereka. Akhirnya mereka memakan nasi goreng tersebut. Tak butuh waktu lama akhirnya keduanya selesai makan. Satrio membayar lalu membantu Retta bangun untuk masuk kedalam mobil.

Sekitar dua puluh menit kudian medeka sampai di pertigaan mau masuk komplek perumahan mereka. Satrio melajukan mobilnya pelan menuju rumah Retta. Sesampainya didepan pagar, Satrio turun untuk membukanya. Karena sudah malam mungkin Bi Sila sudah tidur jadi nggak bisa membuka pintu pagar.

Mereka turun kemudian masuk rumah. Retta langsung masuk ke ruang tengah. Satrio mengikutinya dibelakang, kemudian duduk disamping Retta.

"Ta, kamu beneran sudah nggak apa-apa?" tanya Satrio.

"Nggak apa-apa, Mas." jawabnya singkat.

Tak lama kemudian Bi Sila keluar dari kamarnya. Dia mendekati Satrio dan Retta. "Non Retta kenapa, Mas?" tanya Bi Sila.

"Mungkin dia kecapekan saja. Masuk angin kali, Bi." jawab Satrio.

"Bibi buatin teh panas, ya Non?" tanya Bi Sila lagi.

"Nggak usah, Bi. Tadi habis minum teh panas, kok." jawab Retta lirih.

"Iya, Bi. Tadi sudah minum teh waktu makan nasi goreng." sahut Satrio.

"Oh ya sudah kalau gitu. Mendingan sekarang Non Retta langsung istirahat saja." ucap Bi Sila.

"Tolong, anterin Retta ke kamarnya, ya Bi." ucap Satrio.

"Ayo, Non. Nanti Bibi kerokin" ucap Bi Sila.

"Iya, Bi."

Bi Sila dan Retta kemudian masuk kamar. Satrio masih menunggu dikursi ruang tengah. Setelah menutup pintu kamar, Bi Sila lalu ngerokin Retta sambil ngobrol.

"Non Retta, kenapa bisa jadi seperti ini. Kayaknya telat makan." tanya Bi Sila.

"Iya, Bi. Retta hanya sedih saja sekarang Didi malah koma." ucap Retta.

"Ya ampun, Non. Kok malah koma?" seru Bi Sila.

"Aku juga nggak tahu, Bi. Bingung Retta." ucapnya sambil meringis sakit karena kerokan.

"Yang sabar, ya Non. Tetap berdoa dan berusaha buat kesembuhan Den Didi." jawab Bi Sila.

Tak terasa Bi Sila ngerokin Retta hampir satu jam karena sambil ngobrol. Dia melirik jam dinding yang ada dikamarnya, ternyata sudah menunjukan pukul sebelas malam.

"Bi, nggak terasa sudah jam sebelas. Oh iya Satrio tadi gimana. Aku sampai lupa, Bi." seloroh Retta sambil membetulkan bajunya.

Kini dia dan Bi Sila keluar kamar menuju ruang tengah. Saat dia mendapati Satrio ternyata ketiduran dikursi panjang yang ada diruang tengah. Retta memandangi Satrio tanpa kedip.

"Mas satrio kamu baik banget, kamu banyak membatuku. Tapi, aku minta maaf karena aku belum bisa menerima pernyataan cinta kamu." ucap Retta dalam hati.

----------Bersambung-----------

1
Andi Fitri
👍👍
Andi Fitri
jdi greget juga dgn satria sdh di blg sm istri jgn kasih hati malah semakin dekat..
Andi Fitri
semoga aja satria ga kesemsem sm dokter itu..jgn sampai terulang lgi sakit hati Retta..
Kasmawati S. Smaroni
heran sm retta,retta lebih mementingkan kerjaannya dari pd kesehatan suaminya.
Kasmawati S. Smaroni
reta dikit2 nangis,
Ersa
ternyata benar si Della. semua tokohnya terhubung pernah pacaran...
Ersa
bukan Della kan?
Ersa
sipelakor kah?
Windu Murti
semoga saat didi sadar, retta sudah hamil anak satrio
Windu Murti
thor, banyakin retta sama satrio ya🙏🙏
Musryanto Andhika
Satrio ternyata banditjuga memanfaatkan kondifi Didi, ku doaksn Satrio jadi psikopat sekalian.....biar makin jelas novel recehnya.....
Isabella
tak kasih vote Toer ceritamu bagus
Amrih Ledjaringtyas
mau dr didi
Amrih Ledjaringtyas
eettt dahhh konflikk mele...lagii...retta.
.retta

.
Amrih Ledjaringtyas
iya dong...enaaakkk
Amrih Ledjaringtyas
huuhuuyyy dpt brondong.....tangkap retta😛🤣
Liza Sastika
bagus
Liza Sastika: yes bagus
total 1 replies
baiknya didi.. semoga di dunia nyata jg bnyak org yg baik trhdp anak kecil, krna anak kecil tak salah
Nuri 73749473729
mantaab thorr..lanjud dong
Yanti Anin
gmn kbr mantan suami thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!