Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Kebakaran
Pak Bandi tidak membuang waktu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di lapas pada pagi itu, dia langsung mengendarai mobil menuju Universitas Teknologi Nusantara, kampus tempat Faris bekerja sebagai petugas kebersihan sekaligus lokasi penangkapannya beberapa minggu lalu. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi penjelasan Faris malam sebelumnya. Semakin diingat, semakin banyak kejanggalan yang muncul. Seorang pemuda yang rela menyelinap ke kelas hanya demi belajar teknik tidak cocok dengan gambaran seorang pengedar narkoba.
Mobilnya berhenti di depan gerbang kampus menjelang pukul sembilan pagi. Aktivitas perkuliahan sedang berlangsung sehingga halaman terlihat ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Pak Bandi menarik napas panjang sebelum melangkah menuju gedung administrasi. Berkat kartu identitasnya sebagai insinyur yang bekerja sama dengan instansi pemerintah, dia cukup mudah memperoleh izin bertemu kepala bagian keamanan kampus.
Di dalam ruangan yang sederhana itu, seorang pria berkacamata menyambutnya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Pak Bandi mengangguk sopan. "Perkenalkan, saya Bandi. Saya sedang membantu mencari informasi mengenai seorang pemuda bernama Faris."
Raut wajah petugas keamanan langsung berubah.
"Faris... yang ditangkap polisi itu?"
"Iya."
"Bukankah kasusnya sudah selesai?"
Pak Bandi tersenyum tipis. "Justru saya merasa belum selesai."
Petugas itu terdiam beberapa saat sebelum bertanya, "Apa yang ingin Bapak ketahui?"
"Saya ingin melihat rekaman CCTV pada hari penangkapan Faris. Tepatnya beberapa saat sebelum polisi datang."
Permintaan itu membuat petugas terlihat ragu.
"Kalau soal itu... seharusnya tidak boleh sembarangan."
Pak Bandi mengeluarkan surat tugas dari lembaga pemasyarakatan yang menjelaskan bahwa ia sedang membantu penelusuran informasi terkait salah satu warga binaan. Surat itu memang bukan surat penyidikan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kedatangannya memiliki tujuan resmi.
Petugas membaca surat tersebut dengan teliti, lalu akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah. Saya akan membantu sebatas yang saya bisa."
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di ruang pengawas CCTV. Puluhan monitor berjajar di dinding, menampilkan berbagai sudut kampus. Seorang operator mulai membuka arsip rekaman pada tanggal yang dimaksud.
"Nah, ini area koridor kelas teknik."
Rekaman mulai diputar. Pak Bandi memperhatikan layar tanpa berkedip. Terlihat Faris sedang mengepel lantai seperti biasa. Sesekali pemuda itu berhenti sebentar untuk mengintip ke dalam kelas tempat dosen sedang mengajar. Beberapa mahasiswa keluar masuk ruangan, termasuk Yudi, Arman, dan Zaki.
"Itu mereka?" tanya Pak Bandi.
"Iya," jawab operator.
Rekaman terus berjalan. Faris tampak meletakkan tas lusuhnya di bangku belakang sebelum kembali bekerja.
"Berhenti sebentar."
Operator menghentikan video.
Pak Bandi memperhatikan posisi tas itu beberapa saat.
"Lanjut!"
Beberapa detik kemudian layar tiba-tiba berkedip. Gambar langsung melompat hampir enam menit ke depan.
Pak Bandi langsung mengernyit. "Tunggu."
Operator menghentikan video.
"Kenapa, Pak?"
"Tadi ada yang aneh."
Operator memutar ulang. Benar saja, setelah Faris meninggalkan kelas, rekaman langsung meloncat ke waktu yang berbeda.
Pak Bandi menunjuk angka waktu di pojok layar. "Jamnya berubah."
Operator ikut memperhatikan.
"Eh..."
Pak Bandi menatapnya. "Enam menit hilang."
Operator mulai terlihat gugup. "Mungkin... sistemnya error."
Pak Bandi menggeleng pelan. "Saya sudah puluhan tahun bekerja di proyek. Kalau CCTV rusak biasanya gambarnya pecah atau berhenti.Tapi ini..." Ia menunjuk garis waktu rekaman. "...rekamannya seperti dipotong."
Operator menelan ludah.
Pak Bandi meminta rekaman diputar beberapa kali lagi. Hasilnya tetap sama. Tepat ketika tas Faris ditinggalkan tanpa pengawasan, muncul jeda enam menit yang tidak dapat dijelaskan.
"Siapa yang punya akses menghapus rekaman?" tanya Pak Bandi.
Operator terlihat semakin tidak nyaman.
"Hanya bagian keamanan... dan administrator sistem."
"Apakah polisi pernah meminta rekaman ini?"
"Iya."
"Lalu?"
"Kami menyerahkannya."
Pak Bandi kembali menatap layar. Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa ada seseorang yang sengaja menghilangkan bagian paling penting dari rekaman tersebut.
Kalau memang Faris bersalah, mengapa harus ada potongan video yang hilang?
Di dalam hati Pak Bandi, keyakinannya semakin kuat. 'Anak itu memang dijebak.'
"Pak," katanya pelan kepada operator, "tolong salin rekaman yang masih ada ini."
Operator mengangguk. "Saya akan coba."
Pak Bandi kemudian mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Pak Adi.
"Adi."
"Iya, Pak?"
"Saya menemukan sesuatu."
"Apa?"
"Rekaman CCTV dipotong."
Suara Pak Adi langsung meninggi. "Serius?"
"Iya!"
"Berarti Faris memang..."
"Belum bisa dipastikan."
Pak Bandi memotong. "Tapi sekarang kita punya alasan untuk menggali lebih dalam."
Pada saat yang sama, di lembaga pemasyarakatan, aktivitas pembangunan kantor sipir kembali berjalan seperti biasa. Karena Pak Bandi sedang berada di luar, pengawasan lapangan diserahkan kepada salah seorang mandor senior.
Faris ikut membantu mengangkat besi tulangan bersama beberapa pekerja.
"Taruh di sini."
"Baik."
Meskipun statusnya masih narapidana, kini tidak ada lagi yang memandangnya sebelah mata. Para tukang bahkan mulai terbiasa meminta pendapatnya.
"Faris."
"Iya, Pak?"
"Kalau sambungan ini bagaimana?"
Faris memperhatikan rangka besi yang sedang dirakit. "Kalau boleh, jaraknya dirapatkan sedikit."
"Kenapa?"
"Supaya distribusi bebannya lebih merata."
Mandor itu mengangguk. "Coba kita ikuti."
Beberapa menit kemudian rangka baru selesai dipasang.
Mandor tersenyum puas. "Lebih pas."
Di dalam kepala Faris terdengar suara sistem.
[Ding!]
[Saran teknik diterima.]
[Poin +120.]
Faris tersenyum kecil. "Terima kasih."
[Sama-sama.]
"Aneh."
[Apa?]
"Kamu sekarang lebih murah hati."
[Sistem hanya memberi penghargaan sesuai kontribusi.]
"Baguslah."
Semangat Faris kembali membuncah. Ia berpindah ke bagian lain, membantu mengukur pondasi, mengecek posisi bekisting, hingga memastikan campuran beton sesuai kebutuhan. Hampir setiap kali memberikan solusi kecil, sistem menghadiahinya puluhan poin.
Siang itu semuanya berjalan sangat lancar. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kesalahan besar. Semua orang sibuk bekerja. Namun tepat ketika Faris sedang membantu memasang bekisting kayu, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari arah dalam lapas.
"KEBAKARAN!"
Semua orang spontan menoleh. Asap hitam membumbung tinggi dari arah dapur tahanan.
Beberapa detik kemudian terdengar teriakan lain.
"Api!"
"Api membesar!"
Para sipir langsung panik.
"Ambil APAR!"
"Hubungi mobil pemadam!"
"Cepat!"
Mandor proyek ikut menghentikan pekerjaan.
"Semua minggir!"
Asap semakin pekat. Dari kejauhan mulai terlihat lidah api menjilat atap bangunan dapur.
Faris mengernyit. "Aneh..."
Di dalam kepalanya sistem langsung aktif.
[Ding!]
[Situasi darurat terdeteksi.]
Namun kali ini Faris tidak langsung memikirkan api. Yang terlintas justru ucapan Doni semalam.
Faris memandang ke arah kepulan asap. "Jangan-jangan..."
Sistem langsung menanggapi.
[Hipotesis?]
"Apa mungkin kebakaran ini sengaja dibuat?"
Beberapa detik berlalu.
[Probabilitas tidak dapat dipastikan.]
Faris menggigit bibir bawahnya. "Tapi waktunya terlalu kebetulan."
Semua sipir kini berlarian menuju dapur. Gerbang penghubung antarblok mulai dibuka.
Petugas keamanan yang biasanya berjaga di beberapa titik juga ikut meninggalkan pos mereka demi membantu memadamkan api.
Melihat pemandangan itu, bulu kuduk Faris berdiri.
"Pos penjagaan jadi kosong."
Matanya langsung menyapu area sekitar. Beberapa narapidana mulai saling berpandangan.
Ada yang tampak panik. Namun ada pula yang justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat firasat Faris semakin buruk.
"Sistem."
[Ya.]
"Kalau aku Doni inilah saat yang kupilih."
Layar biru berkedip.
[Analisis pengguna masuk akal.]
Faris berdetak semakin cepat. Dia takut sesuatu hal buruk terjadi. Faris pun berdiri. Bukannya berlari menjauh dari sumber api, dia malah berlari ke arah api.