"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Takhta dan Kejatuhan Tirani
"Apakah kau sudah siap, Anna? Setelah pintu gerbang ini hancur, tidak ada lagi jalan untuk mundur."
Suara Aethan memecah kesunyian malam di depan gerbang belakang Istana. Angin malam berembus kencang, menerbangkan jubah hitamnya yang legam. Di bawah temaram sinar rembulan, zirah perang sang Pangeran dialiri petir perak yang berderik buas, memancarkan aura Dewa Perang yang siap mencabik-cabik mangsanya.
Anna menggenggam erat lencana kristal Florentia di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sudah dialiri benang-benang Mana merah anggur yang berpendar pekat. "Aku tidak pernah berniat untuk mundur, Tuan. Darah Florentia dan penderitaan leluhurku menuntut keadilan malam ini."
Aethan menarik sudut bibirnya, menampilkan seringai dingin. “Bagus.”
BLAAAAM!!!
Hanya dengan satu tebasan pedang raksasa Aethan, gerbang besi setebal setengah meter itu hancur lebur menjadi serpihan. Pasukan militer perbatasan yang setia di bawah pimpinan Leon langsung merangsek masuk bagai gelombang air bah, melumpuhkan penjaga luar dalam hitungan detik. Serangan mendadak ini membuat seluruh Istana Pusat tersentak kaget dalam kepanikan luar biasa.
Aethan dan Anna melangkah cepat membelah koridor utama menuju Aula Takhta. Namun, di tengah lorong luas berlapis marmer, langkah mereka dihadang oleh barisan ksatria elit yang dipimpin langsung oleh Ksatria Gideon. Wajah pria itu tampak berantakan, namun matanya berkilat penuh kegilaan saat menatap Anna.
"Kau kembali untuk mengantarkan nyawamu, Pangeran Terbuang!" teriak Gideon murka, menghunus pedang perak bangsawannya. "Dan kau, Nona manis ... kau seharusnya menjadi penjahit pribadiku, bukan pelacur politik pria ini!"
"Jaga mulutmu, bajingan Ibukota," desis Anna dingin. Ia melangkah maju ke depan Aethan, matanya berkilat. "Tuan Aethan, biarkan pengkhianat ini menjadi urusanku. Uruslah tikus utama di dalam Aula Takhta."
Aethan melirik Anna sekilas, merasakan lonjakan kekuatan Florentia yang teramat masif dari tubuh gadis itu. "Jangan terluka, Anna. Jiwamu adalah milikku."
Setelah membisikkan kata-kata posesif itu, Aethan melompat melewati barisan ksatria, petir peraknya menyambar dan membuka jalan lurus menuju pintu Aula Takhta, meninggalkan Gideon menghadapi Anna.
"Berani-beraninya rakyat jelata sepertimu menantangku!" Gideon menerjang maju, pedang bangsawannya memancarkan sihir angin yang tajam, siap memotong tubuh Anna.
ROAAARRR!
Mimi melompat dari belakang Anna, bertransformasi menjadi binatang mistis raksasa berbulu salju. Cakar magisnya menghantam bilah pedang Gideon hingga memercikkan api dan menahan pergerakan pria itu. Bersamaan dengan itu, Anna menghentakkan jemarinya.
"Aku bukan rakyat jelata, Gideon. Aku adalah Florentia!" ucap Anna lantang.
Ribuan benang Mana merah anggur melesat dari sepuluh jemari Anna bagai rajutan kilat yang mematikan. Benang-benang itu melilit pergelangan tangan dan kaki Gideon secara akurat, menembus zirah bajunya tanpa melukai kulitnya, melainkan langsung mengunci aliran saraf dan pusat Mana di dalam tubuh pria itu.
"A-Apa ini?! Kekuatan apa ini?!" Gideon menjerit panik saat merasakan seluruh energinya mendadak lumpuh dan terkuras habis.
PRAKK!
Dengan satu sentakan jari Anna, benang merah anggurnya mematahkan pedang perak Gideon menjadi dua. Gideon berlutut di lantai dengan napas terengah-engah, tubuhnya terikat erat tak berdaya oleh jaring magis Anna. Tatapan obsesinya kini berubah menjadi ketakutan yang teramat dalam. Anna melangkah melewatinya tanpa menoleh lagi, membiarkan Mimi menjaga pengkhianat yang telah kalah itu.
Sementara itu, di dalam Aula Takhta, pintu besar telah hancur total. Aethan berdiri di tengah ruangan, menatap dua sosok yang duduk gemetar di atas singgasana emas, meteka adalah Kaisar tua dan Permaisuri yang sudah kembali bangun dengan wajahnya pucat pasi. Ratusan penyihir hitam istana sudah bertumbangan di sekitar mereka, hangus oleh sambaran petir perak Aethan.
"Aethan ... anak haram! Dasar durhaka! Bagaimana kau bisa memiliki kekuatan sebesar ini?!" pekik Permaisuri dengan suara melengking ketakutan, tangannya meraba-raba mencari tongkat sihirnya.
"Sepuluh tahun aku merangkak di perbatasan yang dingin karena fitnah busukmu, Permaisuri," ucap Aethan, langkah kakinya terdengar beritme pelan, tangannya menyeret pedang besar yang memercikkan api di lantai. "Malam ini, aku kembali untuk mengambil kepala kalian berdua sebagai penebus dosa atas ibuku, dan atas pembantaian Keluarga Florentia puluhan tahun lalu."
"T-Tunggu! Pangeran Aethan!" Permaisuri mendadak melihat Anna melangkah masuk ke dalam aula. Wanita tua yang licik itu langsung menjatuhkan dirinya dari takhta, merangkak ke arah Anna dengan wajah memohon yang menjijikkan. "Nona Anna! Kau penyihir pemurni, bukan? Selamatkan aku! Aku tahu rahasia Florentia! Aku bisa memberikan semua harta Kekaisaran ini padamu, selamatkan aku dari monster ini!"
Anna menatap Permaisuri yang merangkak di dekat kakinya dengan pandangan yang sangat dingin dan marah, seolah melihat seonggok sampah. "Kau membantai seluruh keluargaku demi takhta dingin ini, dan sekarang kau memohon belas kasihan dari sisa darah yang kau tumpahkan?"
Permaisuri tertegun, matanya melebar horor menyadari identitas asli Anna.
"Kau tidak berhak atas pemurnian apa pun, Permaisuri," lanjut Anna dingin, melangkah mundur menjauh dari jangkauan wanita itu.
Aethan melesat bagai kilat. Sebelum Permaisuri sempat mengeluarkan jeritan berikutnya, bilah pedang besar berbalut petir perak telah menebas leher wanita keji itu tanpa ampun. Tubuh Permaisuri ambruk tak bernyawa di bawah undakan takhta. Kaisar tua yang melihat hal itu mendadak terkena serangan jantung melihat anaknya sendiri mendadak bengis, lalu terbatuk darah hitam, dan langsung mati mengenaskan di atas singgasananya sendiri akibat akumulasi racun kutukannya yang tak lagi terlindungi oleh sihir hitam Permaisuri.
Aula Takhta mendadak hening. Dinasti tirani yang telah berkuasa puluhan tahun runtuh sepenuhnya malam itu dalam lautan darah.
Aethan membalikkan tubuhnya tanpa ada belas kasian melihat ayahnya sendiri, menyeka noda darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Anna yang berdiri di tengah aula dengan napas yang perlahan teratur. Petir perak di tubuhnya mereda, menyisakan sepasang mata perak yang menatap wanitanya dengan kelembutan yang tersembunyi di balik kegelapan.
"Semuanya sudah berakhir, Anna-ku," bisik Aethan parau, melangkah mendekat dan langsung mendekap tubuh mungil itu ke dalam dada bidangnya yang hangat. "Keadilanmu, dan keadilanku ... telah lunas malam ini."
lanjut yaaaaa