Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : MEMBESARKAN SEORANG TIRANI
Kabar bahwa lebih dari seratus anggota faksi maritim terbantai dalam satu malam memicu keributan di dalam kediaman. Ketika fajar menyingsing, tidak ada satu pun pelayan atau pengawal yang berani bersuara di koridor. Mereka berjalan dengan kepala tertunduk, dicekam oleh ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan daripada malam kejatuhan Adrian.
Sang Putri Es bukan lagi sekadar julukan karena sikapnya yang kaku. Dia adalah kematian itu sendiri.
Di ruang kerja utama yang luas, suasana begitu hening. Elara telah berganti pakaian dengan gaun beludru hitam bercorak sulaman emas, rambutnya yang hitam legam dibiarkan tergerai.
Ia berdiri dengan tenang di depan meja besar ayahnya. Di belakangnya, Dante berdiri tegap, wajahnya datar namun sorot matanya penuh kewaspadaan.
Di sudut sofa, Julian Vance duduk menyilangkan kaki. Wajahnya yang memar dan hidungnya yang diperban akibat duel dengan Dante tempo hari sama sekali tidak mengurangi binar kegilaan di matanya.
Sepanjang pagi, pandangan Julian terus tertuju pada Elara, mengagumi bagaimana wanita itu bisa berdiri seanggun itu setelah merobek ratusan nyawa beberapa jam lalu.
Sang Ayah duduk di kursi kebesarannya, perlahan meletakkan tablet yang menampilkan rekaman pembersihan mayat-mayat di Dermaga 9.
Bukannya marah atas hancurnya satu faksi besar miliknya, pria tua yang memimpin organisasi mafia paling ditakuti itu justru menarik sudut bibirnya.
Sebuah senyuman lebar, bangga, dan sarat akan kegilaan yang mengerikan terukir di wajahnya yang penuh kerutan. Ia tertawa rendah, suara kekehan yang berat dan bergaung di ruangan tersebut.
"Seratus dua belas orang," ucap Sang Ayah, suaranya menggelegar penuh kepuasan. "Kau membantai seratus dua belas petarung maritim sendirian, Elara. Tanpa bantuan pasukannya Dante."
Sang Ayah berdiri, melangkah mendekati putri tunggalnya. Matanya menatap Elara dengan binar yang sama persis dengan mata Elara malam itu.
"Dua puluh empat tahun," gumam Sang Ayah, meletakkan kedua tangannya yang besar di pundak Elara. "Dua puluh empat tahun aku merawatmu. Aku membiarkanmu melihat darah sejak kau masih di dalam ayunan. Aku mengajarimu cara memegang pisau sebelum kau bisa menulis namamu sendiri. Dan malam ini... benih itu akhirnya tumbuh dengan sempurna."
Julian yang mendengarnya dari sudut ruangan sedikit menaikkan alisnya, sebuah seringai takjub melintas di wajahnya.
𝘈𝘩, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢, batin Julian, ia menyadari bahwa watak dingin Elara bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil rekayasa mental yang dirancang secara sadis oleh ayahnya sendiri sejak dini.
"Perintah ke dermaga malam itu bukan sekadar inspeksi, bukan?" Elara bertanya datar, menatap langsung mata ayahnya tanpa ada getaran rasa takut.
"Tentu saja tidak, Putriku," Sang Ayah menyeringai, menepuk pundak Elara dengan bangga. "Itu adalah ujian pertamamu. Aku sengaja membiarkan Marcus mengira kau lemah, membiarkan dia mengirim kecoak-kecoaknya untuk menyerangmu. Aku ingin melihat, seberapa lama topeng kecantikan yang kau pakai bisa menyembunyikan monster sejati di dalam dirimu."
Sang Ayah berbalik, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan seluruh wilayah kekuasaan kediaman mereka.
"Dan kau memperlihatkannya dengan sangat indah. Kau tidak hanya lulus ujian, Elara. Kau menghancurkan standarnya. Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun faksi atau tetua bangka di organisasi ini yang berani mempertanyakan siapa pewaris tunggal tahta Ouroboros."
Dante yang mendengar pengakuan itu perlahan menurunkan pandangannya ke lantai, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam mengepal pelan di sisi tubuhnya.
Ada rasa bangga yang luar biasa di dadanya, kewaspadaannya kian menajam. Posisi Elara yang semakin tinggi berarti bahaya yang mengintip juga akan semakin besar.
Elara memutar tubuhnya perlahan. Dia melirik sekilas ke arah Julian yang masih menatapnya dengan ketertarikan yang tidak lagi ditutupi, lalu kembali menatap ayahnya.
"Jika pertunjukannya sudah selesai, Ayah, aku ingin beristirahat," ucap Elara, suaranya datar seperti biasa, sama sekali tidak terbuai oleh pujian atau pengakuan yang baru saja diterimanya.
Bagi Elara, membunuh seratus orang atau menjadi pewaris hanyalah sebuah konsekuensi dari keberadaannya.
"Pergilah, Elara. Istirahatlah. Kau pantas mendapatkannya," jawab Sang Ayah dengan nada yang hampir terdengar lembut.
Elara melangkah pergi meninggalkan ruang kerja, diikuti oleh Dante yang melangkah di belakangnya.
Saat pintu ganda itu tertutup, Julian Vance bangkit dari duduknya, merapikan letak jasnya, dan menatap pemimpin tertinggi Ouroboros dengan senyuman miringnya yang khas. "Mahakarya yang menakjubkan, Tuan. Anda tidak sedang membesarkan seorang putri... Anda sedang menciptakan seorang penguasa tirani."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..