Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tepat pukul sembilan malam, Dokter pria paruh baya yang sudah lama menangani hal-hal rahasia bagi Marco dan anak buahnya, masuk dengan tas medis di tangan, diikuti Gagak dan Onta yang menutup dan mengunci pintu rapat-rapat.
Ruangan itu hanya diterangi lampu gantung dengan cahaya redup, karena lampu neon yang biasanya Marco gunakan untuk bekerja sudah dimatikan, menambah suasana dingin dan horor.
"Silakan duduk, Dok," ucap Marco yang tidak merubah posisi duduknya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Terima kasih," jawab dokter meletakkan tas kemudian duduk berhadapan dengan mafia yang sudah dia sandang selama tujuh tahun tapi kerahasiaan tetap terjaga.
"Anda sudah tahu untuk apa saya memanggil ke markas?" Lanjutnya formal.
"Sudah mendengar dari Onta dan Gagak, tapi saya ingin tahu sendiri, siapa yang akan dikhitan?" Dokter bingung karena di markas ini tidak ada anak kecil.
Marco menggerakkan tangan ke arah Onta dan Gagak agar meninggalkan ruangan karena tidak ingin rahasianya mereka ketahui. Dua preman itu membungkuk sebelum membuka pintu.
"Saya sendiri, tapi tolong rahasiakan," jawab Marco, setelah memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar.
"Tentu saja," jawab dokter yang sudah bekerja puluhan tahun dan bisa menjaga semua rahasia pasiennya.
"Jelaskan semuanya. Prosedurnya seperti apa, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih, dan seberapa besar rasa sakitnya," perintahnya.
Dokter itu mengangguk, tapi dalam hatinya tertawa. Pria sekejam Marco tapi takut disunat sungguh di luar nalar. Namun, dokter itu mengangguk saja.
"Secara umum untuk orang dewasa, prosedurnya berlangsung sekitar tiga puluh hingga empat puluh lima menit. Akan diberikan bius lokal di area tersebut, jadi saat proses berlangsung Tuan tidak akan merasakan sakit."
"Lalu apa alat yang digunakan?" Marco merasa ngeri membayangkan.
Dokter itupun lagi-lagi menahan tawa, dalam hatinya menjawab, "Menggunakan salah satu senjata yang Anda koleksi di markas ini."
"Metode yang bisa dipilih ada beberapa Tuan, saat ini semua sudah canggih. Teknik gunting dan laser. Mulai dari cara konvensional hingga yang menggunakan alat khusus dengan jahitan yang lebih rapi dan pendarahan minim," papar dokter panjang lebar.
Kali ini Marco hanya mendengarkan, sudah cukup jelas pertanyaan di atas.
"Namun, setelah efek bius hilang sekitar dua hingga tiga jam kemudian, rasa nyeri akan mulai terasa. Bagi orang dewasa, rasa sakitnya terbilang cukup menyengat selama tiga hari pertama, terutama saat bergerak, buang air kecil, atau jika terjadi ereksi yang tidak disengaja. Itu yang paling sering membuat rasa sakit bertambah hebat. Bisa berlangsung seperti rasa perih dan kencang yang terus-menerus."
Marco seketika menatap dokter dengan ekspresi terkejut.
"Tapi tenang saja Tuan... bisa diredakan dengan obat pereda nyeri," dokter sebenarnya tidak tega menjelaskan, tapi inilah permintaan Marco, jika ia menutup-nutupi dan saat pelaksanaan merasa tidak nyaman, Marco pasti akan protes.
"Lalu berapa lama rasa sakitnya?" Marco rupanya masih ingin tahu lebih banyak.
"Untuk penyembuhan luka luarnya biasanya memakan waktu sekitar satu hingga dua minggu agar kering dan menutup sempurna. Tapi untuk pulih sepenuhnya, kembali normal dan bisa beraktivitas berat atau berhubungan badan kembali, dibutuhkan waktu paling tidak empat hingga enam minggu. Selama masa itu pasien disarankan menjaga kebersihan, menghindari benturan, dan membatasi gerak."
Marco pun akhirnya diam, selama itu tidak bertemu Yasmin dan anak-anaknya betapa tersiksanya dia.
***************
Pagi hari setelah subuh, Yasmin sudah berada di warung sayur bu Parmi, selain belanja juga melunasi hutang.
"Kan sudah saya bilang tidak usah dibayar Yas, Ibu ikhlas loh," tolak bu Parmi tulus.
"Alhamdulillah... saya sudah gajian, Bu," Yasmin tetap meletakkan uang di atas meja. Janjinya hutang tetap harus ia bayar. Yasmin tahu, bu Parmi hanya pedagang kecil tentu tidak mungkin tega minta-minta.
"Kalau gitu, saya terima Yas, semoga rezeki kamu lancar," doa bu Parmi.
"Aamiin..." ucap Yasmin sekaligus pamit karena pagi ini akan pindah ke resident.
"Alhamdulillah... kamu pindah ke perumahan elite itu Yas? Luar biasa," bu Parmi mengusap pundak Yasmin.
Yasmin tersenyum. "Bukan punya saya, Bu... saya hanya menempati untuk sementara," jujur Yasmin.
Setelah selesai ia pulang membuat sarapan. Pagi itu ia pamit bu Endang kontrakan sebelah dan juga tetangga lainnya.
"Nanti aku boleh main ke sana kan Yas?" Tanya bu Endang, ia pasti akan kehilangan tetangga sebaik Yasmin.
"Boleh ibu, kapan saja."
"Yasmin, ibu perhatikan pria bule yang sering datang ke kontrakan ini, sayang sekali pada anak-anak kamu, dan juga sayang kepadamu. Jika ibu boleh memberi saran, terima Dia demi anak-anak."
"Ibu ini ada-ada saja," Yasmin hanya merespons dengan senyuman lalu ke rumah bu Retno.
Dadanya deg-degan ketika menginjak teras rumah di sebelah kontrakan, walau tidak mewah tapi kediaman bu Retno memang besar. Ia mengucapkan salam, tapi bukan bu Retno sendiri yang menyambut, melainkan Anjar dengan kata-kata pedas.
"Selama diteror preman-preman suruhan kamu, Ibu memilih tinggal di rumah kakak saya Yas," jawab Anjar seolah menyalahkan Yasmin.
"Sudah saya katakan berapa kali Bang? Saya tidak pernah menyuruh siapapun untuk mengganggu bu Retno. Tetapi jika keluarga ini tetap menuduh saya seperti itu, hanya Allah yang tahu. Tolong sampaikan permintaan maaf saya dan anak-anak pada bu Retno," kata Yasmin, lalu meninggalkan Anjar yang hanya diam membisu.
Yasmin kembali ke kontrakan, dari ruang tamu suara si kembar terdengar ramai.
"Lihat Kak, boneka aku dari Om Marco ternyata banyak."
"Sama Dek, mainan aku juga banyak."
Yasmin masuk ke kamar menatap si kembar sedang semangat menata mainan di dalam kardus. Mobil-mobilan, dan mainan laki-laki lainnya, di tambah boneka milik Fathia berikut masak-masakkan rupanya banyak juga hingga satu kardus. Belum lagi pakaian bertiga ternyata banyak juga.
"Anak-anak bunda memang pintar..." puji Yasmin.
"Sudah siap semuaaa... Tinggal tunggu Om Marco terus kita berangkat, Bun," seru Fathia.
"Kalau gitu kita sarapan dulu yuk..." Yasmin ke dapur membawa sarapan ke atas tikar lalu sarapan bersama. Hingga sarapan selesai waktu sudah jam delapan pagi mereka menunggu Marco padahal janjinya jam tujuh, tapi belum juga datang.
"Kita berangkat sendiri saja sayang..." ujar Yasmin karena anak-anaknya sudah keluar masuk tidak sabar.
"Tunggu Om dulu, Bun... kalau jalan bagaimana kita mau bawa cobaa..." Protes Fathia.
"Adik benar Bun, nanti kita berat loh," imbuh Fatir padahal hanya karena ingin naik mobil.
"Ya sudah..." Yasmin mengalah walau sebenarnya barang-barang ini bisa ia bawa bolak balik tidak mau bergantung kepada orang lain yang bukan siapa-siapa.
Hingga waktu jam 10 pagi anak-anak sudah mulai ribut, antara ingin cepat tiba di rumah baru dan naik mobil Marco membuat mereka uring-uringan.
"Dasar pria tidak tepat waktu! Dia yang janji tapi kenapa tidak ditepati?" Yasmin bergumam kesal.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau